Pages

Saturday, 15 February 2014

Peristiwa Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945

Perjuangan melawan penjajahan itu mencapai puncaknya dengan pernyataan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Dengan pernyataan itu, bangsa Indonesia menyatakan kebebasannya sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat. Kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Indonesia kemudian diwujudkan dengan pembentukan negara kebangsaan Indonesia.

A. PEMBENTUKAN BPUPKI

Dr. Kanjeng Raden Tumenggung (K.R.T) bukan KDRT!! K.R.T Radjiman Wedyodiningrat, ketua BPUPKI yang diangkat pada tanggal 29 April 1945.

Pada tahun 1944, Saipan jatuh ke tangan Sekutu, Amerika Serikat. Demikian juga dengan pasukan Jepang, Dai Nippon yang berada di Papua Nugini, Kepulauan Solomon, dan Kepulauan Marshall berhasil dipukul mundur oleh pasukan Sekutu. Dengan demikian, seluruh garis pertahanan Jepang di Pasifik-Oceania sudah mulai mengalami kehancuran dan baying-bayang kekalahan Jepang sudah mulai tampak. Selanjutnya, Jepang mengalami serangan udara di Ambon, Makassar, Manado, dan Surabaya. Bahkan, pasukan Sekutu telah mendarat di daerah-daerah penghasil minyak, seperti Tarakan dan Balikpapan.

Dalam situasi yang kritis tersebut, pada tanggal 1 Maret 1945 Letnan Jenderal Kumakici Harada, pemimpin pemerintahan pendudukan Jepang di Jawa, mengumumkan pembentukan Dokuritsu Junbi Cosakai (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Pembentukan badan ini bertujuan untuk menyelidiki hal-hal penting yang menyangkut pembentukan negara Indonesia merdeka. Pengangkatan pengurus BPUPKI diumumkan pada tanggal 29 April 1945. Dr. K.R.T. Radjiman Wedjodiningrat diangkat sebagai ketua (Kaico), sedangkan yang duduk sebagai ketua muda (Fuku Kaico) pertama adalah seorang Jepang bernama Ichibangase. R.P. Suroso diangkat sebagai kepala secretariat dengan dibantu oleh Toyohoto Masuda dan Mr. A.G. Pringgodigdo.

B. SIDANG-SIDANG BPUPKI

Pada tanggal 28 Mei 194 dilangsungkan upacara peresmian BPUPKI bertempat di Gedung Cuo Sangi In, Jalan Pejambon (sekarang Gedung Departemen Luar Negeri), Jakarta. Upacara peresmian itu dihadiri pula oleh dua pejabat militer Jepang, yaitu Jenderal Itagaki (Panglima Tentara Ke-7 yang bermarkas di Singapura) dan Letnan Jenderal Nagano (Panglima Tentara Ke-16 yang baru). Pada kesempatan itu dikibarkan bendera Jepang, Hinomaro, oleh Mr. A.G. Pringgodigdo yang kemudian disusul dengan pengibaran bendera Merah Putih oleh Toyohito Masuda. Peristiwa tersebut membangkitkan semangat para anggota dalam usaha mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.

I. Perumusan Dasar Negara Indonesia

Mr. Moh Yamin, dalam sidang BPUPKI ia mengemukakan lima asas dasar negara kebangsaan Republik Indonesia.

Persidangan BPUPKI untuk merumuskan undang-undang dasar diawali dengan pembahasan mengenai persoalan “dasar” bagi negara Indonesia merdeka. Untuk itulah pada kata pembukaannya, Ketua BPUPKI Dr. Radjiman Wedjodiningrat meminta pandangan para anggota mengenai dasar negara Indonesia merdeka tersebut. Tokoh yang pertama kali mendapatkan kesempatan untuk mengutarakan rumusan dasar negara Indonesia merdeka ialah Mr. Muh Yamin. Pada hari pertama persidangan pertama tanggal 29 Mei 1945, Mr. Muh Yamin mengemukakan lima “Asas Dasar Negara Kebangsaan Republik Indonesia” sebagai berikut.
1.) Peri Kebangsaan
2.) Peri Kemanusiaan
3.) Peri Ketuhanan
4.) Peri Kerakyatan
5.) Kesejahteraan Rakyat

Dua hari kemudian, pada tanggal 31 Mei 1945, Prof. Dr. Mr. Supomo mengajukan dasar negara Indonesia merdeka sebagai berikut.
1.) Persatuan
2.) Kekeluargaan
3.) Keseimbangan
4.) Musyawarah
5.) Keadilan Sosial

Keesokan harinya, pada tanggal 1 Juni 1945, berlangsunglah rapat terakhir sidang pertama. Pada kesempatan itu, Ir. Soekarno mengemukakan pidatonya yang kemudian dikenal sebagai “Lahirnya Pancasila”. Keistimewaan pidato Ir. Soekarno selain berisi pandangan mengenai dasar negara Indonesia merdeka, juga berisi usulan mengenai nama bagi dasar negara, yaitu Pancasila, Trisila, atau Ekasila. Selanjutnya, sidang memilih nama Pancasila sebagai nama dasar negara. Lima dasar negara yang diusulkan oleh Ir. Soekarno adalah sebagai berikut.
1.) Kebangsaan Indonesia
2.) Internasionalisme atau Perikemanusiaan
3.) Mufakat atau Demokrasi
4.) Kesejahteraan Sosial
5.) Ketuhanan Yang Maha Esa

Persidangan pertama BPUPKI berakhir pada tanggal 1 Juni 1945. Sidang tersebut belum menghasilkan keputusan akhir mengenai dasar negara Indonesia merdeka. Selanjutnya diadakan masa reses selama satu bulan lebih.

Pada tanggal 22 Juni 1945, BPUPKI membentuk Panitia Kecil yang beranggotakan 9 orang. Oleh karena itu, panitia ini juga disebut sebagai Panitia Sembilan. Anggota-anggotanya adalah:
1. Ir. Soekarno
2. Drs. Moh. Hatta
3. Mr. Muh Yamin
4. Mr. Ahmad Subardjo
5. Mr. A.A. Maramis
6. Abdulkadir Muzakkir
7. K.H. Wachid Hasyim
8. K.H. Agus Salim
9. Abikusno Tjokrosujoso

Musyawarah Panitia Sembilan menghasilkan suatu rumusan yang menggambarkan maksud dan tujuan pembentukkan negara Indonesia merdeka. Oleh Mr. Muh. Yamin rumusan itu diberi nama Jakarta Charter atau Piagam Jakarta. Rumusan rancangan dasar negara Indonesia merdeka itu adalah sebagai berikut.
1. Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya,
2. (menurut) dasar Kemanusiaan yang adil dan beradab,
3. persatuan Indonesia,
4. (dan) kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan,
5. (serta dengan mewujudkan suatu) keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.

II. Rancangan Undang-Undang Dasar

Pada tanggal 10 Juli 1945 dibahas Rencana Undang-Undang Dasar, termasuk soal pembukaan atau preambule-nya oleh sebuah Panitia Perancang Undang-Undang Dasar yang diketuai oleh Ir. Soekarno dan beranggotakan 21 orang. Pada tanggal 11 Juli 194, Panitia Perancang Undang-Undang Dasar dengan suara bulat menyetujui isi preambule (pembukaan) yang diambil dari Piagam Jakarta.

Selanjutnya panitia tersebut membentuk Panitia Kecil Perancang Undang-Undang Dasar yang diketuai oleh Prof. Dr. Mr. Supomo dengan anggotanya Mr. Wongsonegoro, Mr. Ahmad Subardjo, Mr. A.A. Maramis, Mr. R.P. Singgih, H. Agus Salim, dan Sukiman. Hasil perumusan panitia kecil ini kemudian disempurnakan bahasanya oleh Panitia Penghalus Bahasa yang terdiri dari Husein Djajadiningrat, Agus Salim, dan Supomo.

Persidangan kedua BPUPKI yang dilaksanakan pada tanggal 14 Juli 1945, dengan Ir. Soekarno sebagai ketua panitia perancang Undang-Undang Dasar melaporkan tiga hasil, yaitu sebagai berikut:
1.) Pernyataan Indonesia Merdeka,
2.) Pembukaan Undang-Undang Dasar, dan
3.) Undang-Undang Dasar (batang tubuh).

C. AKTIVITAS GOLONGAN MUDA

Sebelum BPUPKI dibentuk, pada tanggal 16 Mei 1945 di Bandung telah diadakan Kongres Pemuda Seluruh Jawa yang diprakarsai oleh Angkatan Moeda Indonesia. Organisasi tersebut sebenarnya dibentuk atas inisiatif Jepang pada pertengahan tahun 1944. Akan tetapi kemudian berkembang menjadi suatu pergerakkan pemuda yang sangat anti terhadap Jepang. Kongres pemuda ini dihadiri oleh sekitar 100 orang lebih utusan pemuda, pelajar, dan mahasiswa dari seluruh tanah Jawa di antaranya Djalam Ali, Chairul Saleh, Anwar Tjokroaminoto, Harsono Tjokroamiinoto serta sejumlah mahasiswa yang berasal dari Sekolah Tinggi Kedokteran (Ika Daigaku) yang berada di Jakarta. Kongres ini menghimbau para pemuda di Jawa hendaknya bersatu dan mempersiapkan diri untuk melaksanakan proklamasi kemerdekaan yang bukan merupakan hadiah dari tangan Jepang. Setelah tiga hari berlangsung kongres akhirnya diputuskan dua buah resolusi, yaitu sebagai berikut.
a. Semua golongan Indonesia, terutama golongan pemuda dipersatukan dan dibulatkan di bawah satu pimpinan nasional.
b.Dipercepatnya pelaksanaan pernyataan kemerdekaan Indonesia.

Meskipun demikian, kongres akhirnya menyatakan dukungan sepenuhnya dan kerja sama yang sangat erat dengan Jepang dalam usaha mencapai kemerdekaan.

Pernyataan tersebut tidak memuaskan beberapa tokoh pemuda yang hadir. Mereka bertekad untuk menyiapkan suatu gerakan pemuda yang lebih radikal. Untuk itulah pada tanggan 3 Juni 1945 diadakanlah suatu pertemuan rahasia di Jakarta untuk membentuk suatu panitia khusus yang diketuai oleh B.M. Diah, dengan anggotanya Sukarni, Sudiro, Sjarif Thajeb, Harsono Tjokroaminoto, Wikana, Chairul Saleh, P. Gultom, Supeno, dan Asmara Hadi, yang kemudian disebut dengan istilah Kelompok Sepuluh.

Hasil kerja kelompok tersebut dilaporkan pada rapat tanggal 15 Juni 1945. Pada rapat itu berhasil dibentuk Gerakan Angkatan Baroe Indonesia. Kegiatan-kegiatan gerakan ini banyak dikendalikan oleh para pemuda dari Asrama Menteng 31. Tujuan dari gerakan ini menunjukkan sifat gerakan yang lebih radikan, yakni antara lain sebagai berikut.
a. Mencapai persatuan yang kompak di antara seluruh golongan masyarakat Indonesia.
b. Menanamkan semangat revolusioner massa atas dasar kesadaran mereka sebagat rakyat yang berdaulat.
c. Membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.
d. Mempersatukan Indonesia dengan bahu-membahu dengan Jepang tetapi gerakan sebenarnya bermaksud untuk mencapai kemerdekaan dengan kekuatannya sendiri.

D. PEMBENTUKAN PPKI

Pada tanggal 7 Agustus 1945, BPUPKI dibubarkan. Sebagai gantinya, pemerintah pendudukan Jepang membentuk Dokuritsu Junbi Inkai atau Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Sebanyak 21 anggota PPKI yang terpilih tidak hanya terbatas pada wakil-wakil dari Jawa yang berada di bawah pemerintahan Tentara Jepang Ke-16, tetapi juga dari berbagai pulau, yaitu 12 wakil dari Jawa, 3 wakil dari Sumatra, 2 wakil dari Sulawesi, seorang wakil dari Kalimantan, seorang wakil dari Sunda Kecil (Nusa Tenggara), seorang dari Maluku, dan seorang lagi dari golongan penduduk Cina. Ir. Soekarno ditunjuk sebagai ketua PPKI dan Drs. Moh. Hatta ditunjuk sebagai wakil ketuanya, sedangkan Mr. Ahmad Subardjo ditunjuk sebagai penasihatnya. Namun, seiring dengan harusnya keterlibatan akan sepengetahuan Jepang, maka anggota PPKI ditambah 6 orang lagi, sehingga menjadi 27 orang.

Sedangkan untuk anggota-anggota PPKI itu sendiri, sudah saya pribadi cantumkan di sini, antara lain sebagai berikut.
1. Ir. Sukarno. (Ketua)
2. Drs. Muhammad Hatta. (Wakil Ketua)
3. Anang Abdul Hamidan
4. Andi Pangeran Pettarani
5. Bandoro Pangeran Hario Purubojo.
6. Bendoro Kanjeng Pangeran Ario Suryohamijoyo.
7. Dr. G.S.S.J. Ratulangie.
8. Dr. Kanjeng Raden Tumenggung Rajiman Wedyodiningrat.
9. Dr. M. Amir.
10. Drs. Yap Tjwan Bing
11. Haji Abdul Wahid Hasyim.
12. Haji Teuku Mohammad Hasan
13. Ki Bagus Hadikusumo.
14. Ki Hajar Dewantara.
15. Mas Sutarjo Kartohadikusumo.   
16. Mr. Abdul Abbas.
17. Mr. I Gusti Ketut Puja.
18. Mr. Raden Ahmad Subarjo.
19. Mr. Raden Iwa Kusuma Sumantri.
20. Mr. Raden Kasman Singodimejo
21. Mr. Yohanes Latuharhary.
22. Muhammad Ibnu Sayuti Melik.
23. Prof. Dr. Mr. Raden Supomo.     
24. Raden Abdul Kadir.
25. Raden Adipati Wiranatakusuma.
26. Raden Oto Iskandardinata.
27. Raden Panji Suroso.

Kepada para anggota PPKI, Gunseikan Mayor Jenderal Yamamoto menegaskan bahwa para anggota PPKI bukan hanya dipilih oleh pejabat di lingkungan Tentara Jepang Ke-16, melainkan juga dipilih oleh Jenderal Besar Terauchi yang menjadi penguasa perang tertinggi di seluruh wilayah Asia Tenggara.

Dalam rangka pengangkatan itu, Jenderal Besar Terauchi memanggil tiga tokoh pergerakan nasional, yaitu Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Dr. Radjiman Wedjodiningrat. Pada tanggal 9 Agustus 1945, mereka berangkat menuju markas besar Terauchi di Dalat, Vietnam Selatan. Dalam pertemuan di Dalat tersebut pada tanggal 12 Agustus 1945, Jenderal Besar Terauchi menyampaikan kepada ketiga tokoh itu bahwa Kekaisaran Jepang telah memutuskan untuk memberikan suatu kemerdekaan kepada Indonesia. Pelaksanaannya dapat dilakukan segera setelah segala persiapannya selesai oleh PPKI. Wilayah Indonesia akan meliputi seluruh bekas wilayah Hindia-Belanda.

Ketika ketiga tokoh itu pulang kembali menuju Jakarta pada tanggal 14 Agustus 1945, Jepang telah dijatuhi bom atom oleh Sekutu di kota Hiroshima dan kota Nagasaki. Bahkan, Uni Soviet mengingkari janjinya dan menyatakan perang terhadap Jepang serta melakukan penyerbuan ke Manchuria. Dengan demikian, dapat diramalkan bahwa kekalahan Jepang akan segera terjadi. Keesokan harinya, pada tanggal 15 Agustus 1945, Soekarno-Hatta tiba kembali di tanah air. Dengan bangganya Ir. Soekarno berkata, “Sewaktu-waktu kita dapat merdeka; soalnya hanya tergantung kepada saya dan kemauan rakyat memperbarui tekadnya meneruskan perang suci Dai Tao ini. Kalau dahulu saya berkata ‘Sebelum jagung berbuah, Indonesia akan merdeka sekarang saya dapat memastikan Indonesia akan merdeka, sebelum jagung berbuah.” Perkataan itu menunjukkan bahwa Ir. Soekarno pada saat itu belum mengetahui bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu.

E. PERBEDAAN PENDAPAT ANTARA GOLONGAN TUA DAN GOLONGAN MUDA

Chairul Saleh, adalah tokoh golongan muda yang memimpin rapat di Pegangsaan, Jakarta pada 15 Agustus 1945.

Berita tentang kekalahan Jepang diketahui oleh sebagian golongan muda melalui radio siaran luar negeri. Pada malam harinya, Sutan Syahrir menyampaikan berita tersebut kepada Moh. Hatta. Syahrir juga menanyakan mengenai kemerdekaan Indonesia sehubungan dengan peristiwa tersebut. Moh. Hatta berjanji akan menanyakan hal itu kepada Gunseikanbu. Setelah yakin bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu, Moh. Hatta segera mengambil keputusan untuk dengan cepat mengundang para anggota PPKI.

Selanjutnya golongan muda mengadakan rapat di salah satu ruangan Lembaga Bakteriologi di Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta. Rapat dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 1945, pukul 20.30 waktu Jawa. Rapat yang dipimpin oleh Chairul Saleh itu menghasilkan keputusan “kemerdekaan Indonesia adalah hak dan soal rakyat Indonesia sendiri, tak dapat digantungkan pada orang dan negara lain. Segala ikatan dan hubungan dengan janji kemerdekaan dari Jepang harus segera diputuskan dan sebaliknya diharapkan diadakan perundingan dengan golongan muda agat mereka juga diikutsertakan dalam pernyataan proklamasi kemerdekaan.”

Keputusan rapat itu disampaikan oleh Wikana dan Darwis pada pukul 22.30 waktu Jawa kepada Ir. Soekarno di rumahnya, Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Kedua utusan tersebut segera menyampaikan keputusan golongan muda agar Ir. Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa menunggu hadiah dari Jepang. Tuntutan Wikana yang disertai dengan suatu ancaman bahwa akan terjadi pertumpahan darah apabila Ir. Soekarno tidak menyatakan proklamasi keesokan harinya telah menimbulkan ketegangan. Kemudian, Ir. Soekarno marah dan berkata “Ini leher saya, seretlah saya ke pojok itu dan sudahilah nyawa saya mala mini juga, jangan menunggu sampai besok. Saya tidak bisa melepaskan tanggung jawab saya sebagai ketua PPKI. Karena itu saya tanyakan kepada wakil-wakil PPKI besok.” Ketegangan itu juga disaksikan oleh golongan tua lainnya, seperti Drs. Moh. Hatta, Dr. Buntara, Dr. Samsi, Mr. Ahmad Subardjo, dan Iwa Kusumasumantri.

Dalam diskusi antara Darwis dan Wikana, Moh. Hatta berkata, “Dan kami pun tak dapat ditarik-tarik atau didesak supaya mesti juga mengumumkan proklamasi itu. Kecuali jika saudara-saudara memang sudah siap dan sanggung memproklamasikan. Cobalah! Saya pun ingin melihat kesanggupan Saudara-saudara!” Utusan itu pun menjawab “Kalau begitu pendirian Saudara-saudara berdua, baiklah! Dan kami pemuda-pemuda tidak dapat menanggung sesuatu, jika besok siang proklamasi belum juga diumumkan. Kami pemuda-pemuda akan bertindak dan menunjukkan kesanggupan yang saudara kehendaki itu!

F. PERISTIWA RENGASDENGKLOK

Rumah tempat tinggal Ir. Soekarno dan Moh. Hatta ketika dijauhkan oleh para pemuda (golongan muda) dari pengaruh Jepang.



Ahmad Subardjo merupakan tokoh dari golongan tua yang berperan dalam menengahi perbedaan pendapat antara golongan tua dan golongan muda mengenai masalah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Sekitar pukul 24.00, kedua utusan, Wikana dan Darwis meninggalkan halaman rumah Ir. Soekarno dengan diliputi perasaan kesal memikirkan sikap dan perkataan Soekarno-Hatta. Sesampainya mereka di tempat rapat, mereka melaporkan semuanya. Menanggapi hal itu, golongan muda kembali mengadakan rapat pada dini hari tanggal 16 Agustus 1945 di Asrama Baperpi, Jalan Cikini 71 Jakarta. Selain dihadiri oleh para pemuda yang mengikuti rapat sebelumnya, rapat ini juga dihadiri oleh Sukarni, Yusuf Kunto, Dr. Muwardi dari Barisan Pelopor, dan Syudanco Singgih dari Daidan PETA Jakarta Syu. Rapat ini memutuskan untuk “menyingkirkan Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta ke luar kota dengan tujuan untuk menjauhkan mereka dari segala mepgaruh Jepang”. Untuk menghindari kecurigaan dari pihak tentara Jepang, Syudanco Singgih yang diberi kepercayaan untuk melaksanakan rencana tersebut dibantu oleh Sukarni dan Jusuf Kunto.

Rencana ini berjalan lancer karena mendapat dukungan dan perlengkapan tentara PETA dari Syudanco Latief Hendraningrat yang pada saat itu sedang menggantikan Daidanco Kasman Singodimedjo yang sedang bertugas ke Bandung. Oleh karena itu, pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.30 waktu Jawa, sekelompok pemuda membawa Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta ke luar kota menuju Rengasdengklok, sebuah kota kawedanaan di pantai utara Kabupaten Karawang. Alasan yang mereka kemukakan, bahwa keadaan di kota sangat genting sehingga keamanan Soekarno-Hatta di dalam kota sangat terancam. Tempat yang dituju merupakan kedudukan sebuah Syudan (Kompi) tentara PETA Rengasdengklok dengan Komandannya Syudanco Subeno.

Sehari penuh Ir. Soekarno dan Hatta berada di Rengasdengklok. Kewibawaan yang besar dari kedua tokoh ini membuat para pemuda segan untuk melakukan penekanan lebih jauh. Namun, dalam suatu pembicaraan berdua dengan Ir. Soekarno, Syudanco Singgih beranggapan Ir. Soekarno bersedia untuk menyatakan proklamasi segera setelah kembali ke Jakarta. Oleh karena itu, para tengah hari Singgih kembali ke Jakarta untuk menyampaikan rencana proklamasi kepada kawan-kawannya.

Sementara itu di Jakarta para anggota PPKI yang diundang rapat pada tanggal 16 Agustus memenuhi undangannya dan berkumpul di Gedung Pejambon 2. Akan tetapi, rapat ini tidak dihadiri oleh pengundangnya Soekarno-Hatta yang sedang berada di Rengasdengklok. Mereka pun merasa heran. Satu-satunya jalan untuk mengetahui keadaan Soekarno dan Hatta adalah melalui Wikana, salah satu utusan yang bersitegang dengan Soekarno-Hatta malam harinya. Oleh karena itu, Mr. Ahmad Subardjo mendekati Wikana. Selanjutnya antara kedua tokoh golongan tua dan golongan muda itu tercapai kesepakatan bahwa proklamasi kemerdekaan harus dilaksanakan di Jakarta. Karena adanya kesepakatan tersebut, Yusuf Kunto dari golongan muda bersedia mengantar Mr. Ahmad Subardjo bersama sekretarisnya, Sudiro (Mbah) ke Rengasdengklok. Rombongan mereka ini tiba pada pukul 18.00 waktu Jawa. Selanjutnya, Ahmad Subardjo memberikan jaminan dengan taruhan nyawa bahwa proklamasi kemerdekaan akan diumumkan pada keesokan harinya, yakni pada tanggal 17 Agustus 1945 selambat-lambatnya pukul 12.00. Dengan adanya jaminan tersebut, komandan kompi PETA Rengasdengklok Syudanco Subeno bersedia melepaskan Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta untuk pergi kembali ke Jakarta.

G. PERUMUSAN TEKS PROKLAMASI

Gedung Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Jalan Imam Bonjol No. 1 di gedung yang pada tahun 1945 merupakan tempat kediaman Laksamana Maeda, tempat di mana naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia dirumuskan. Dari tampak bangunan luarnya saja, dapat dipastikan bahwa sisi bangunan bagian dalamnya angket... Merinding gan....



Ini dia, sosok penghuni bangunan tersebut, Laksamana Maeda yang merupakan seorang perwira angkatan laut Jepang yang menaruh simpati terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tempat tinggalnya digunakan sebagai tempat perumusan naskah Proklamasi. Baik pisan euy...?



Ini dia, gambar nomor 1 adalah sebuah diorama (patung lilin kecil rekaan) Sayuti Melik ketika sedang mengetik naskah Proklamasi. Sedangkan gambar nomor 2 adalah hasil ketikan Sayuti Melik, berupa Naskah Proklamasi yang sudah diperbarui oleh para penasihat bahasa. Sedangkan gambar nomor 3 nih, konon mesin ketik yang digunakan oleh Sayuti Melik yang dipakai adalah mesin ketik milik kapal selam U-Boot, yang tidak lain adalah Kapal Selam AL Nazi Jerman gan!! Percaya atau tidak?? Dapat dilihat di Blogspot Alifrafikkhan gan....

Rombongan Ir. Sokarno tiba kembali di Jakarta pada pukul 23.30 waktu Jawa. Setelah rombongan Ir. Soekarno dan Moh. Hatta singgah di rumah masing-masing, rombongan kemudian menuju ke rumah Laksamana Tadashi Maeda di jalan Imam Bonjol No.1, Jakarta. Hal itu disebabkan Laksamana Tadashi Maeda telah menyampaikan kepada Ahmad Subardjo bahwa ia menjamin keselamatan mereka selama berada di rumahnya.

Sebelum mereka memulai merumuskan naskah proklamasi terlebih dahulu Ir. Soekarno dan Moh. Hatta menemui Somubuco (Kepala Pemerintahan Umum) Mayor Jenderal Nishimura untuk menjajaki sikapnya mengenai proklamasi kemerdekaan. Mereka ditemani oleh Laksamana Maeda, Shigetada Nishijima, Tomogero Yoshizumi, dan Miyoshi sebagai penerjemah. Pertemuan itu belum mencapai suatu kesepakatan. Nishimura menegaskan bahwa garis kebijakan Panglima Tentara Jepang Ke-16 di Jawa adalah “dengan menyerahnya Jepang kepada Sekutu berlaku ketentuan bahwa tentara Jepang tidak diperbolehkan lagi mengubah status quo (status politik Indonesia). Sejak tengah hati sebelumnya, tentara Jepang semata-mata sudah merupakan alat Sekutu dan diharuskan tunduk kepada Sekutu”. Berdasarkan garis kebijakan itu, Nishimura melarang Soekarno-Hatta untuk mengadakan rapat PPKI dalam rangka proklamasi kemerdekaan.

Sampailah Soekarno-Hatta pada kesimpulan bahwa tidak ada gunanya lagi membicarakan kemerdekaan Indonesoa dengan pihak Jepang. Akhirnya, mereka hanya mengharapkan pihak Jepang tidak menghalangi pelaksanaan proklamasi yang akan dilaksanakan oleh rakyat Indonesia sendiri. Mereka kemudian kembali ke rumah Laksamanan Maeda. Sebagai tuan rumah, Maeda mengundurkan diri ke lantai dua, sedangkan di ruang makan, naskah proklamasi dirumuskan oleh tiga tokoh golongan tua, yaitu Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Mr. Ahmad Subardjo. Peristiwa itu disaksikan oleh Miyoshi sebagai orang kepercayaan Nishimura, bersama dengan tiga orang tokoh pemuda yaitu Sukarni, Mbah Diro, dan B.M. Diah. Sementara itu, tokoh-tokoh lainnya, baik dari golongan muda maupun golongan tua menunggu di serambi depan rumah.

Ir. Soekarno yang menuliskan konsep naskah proklamasi, sedangkan Drs. Moh. Hatta dan Mr. Ahmad Subardjo menyumbangkan pikiran secara lisan. Kalimat pertama dari naskah proklamasi merupakan saran dari Mr. Ahmad Subardjo yang diambil dari rumusan di BPUPKI, sedangkan kalimat terakhir merupakan sumbangan pikiran dari Drs. Moh. Hatta. Hal ini disebabkan menurut beliau perlu adanya tambahan pernyataan pengalihan kekuasaan (Transfer of Sovereignty).

Pada pukul 04.30 waktu Jawa, konsep naskah proklamasi telah selesai disusun. Selanjutnya, mereka menuju ke serambi depan menemui para hadirin yang menunggu. Ir. Soekarno memulai membuka pertemuan dengan membacakan naskah proklamasi yang masih konsep tersebut. Ir. Soekarno meminta kepada semua hadirin untuk menandatangani naskah proklamasi selaku wakil-wakil bangsa Indonesia. Pendapat itu diperkuat oleh Moh. Hatta dengan mengambil contoh naskah Declaration of Independence dari Amerika Serikat. Usulan tersebut namun ditentang oleh tokoh-tokoh pemuda. Karena mereka beranggapan bahwa sebagian tokoh-tokoh tua yang hadir adalah “kepanjangan tangan” dari Jepang. Selanjutnya, Sukarni, salah satu seorang tokoh golongan muda, mengusulkan agar yang menandatangani naskah proklamasi cukup Ir. Soekarno dan Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia.

Setelah usulan Sukarni itu disetujui, Ir. Soekarno meminta kepada Sayuti Melik untuk mengetik naskah tulisan tangan Ir. Soekarno tersebut dengan disertai perubahan-perubahan yang telah disepakati. Ada tiga perubahan yang terdapat pada naskah ketikan Sayuti Melik, yaitu kata “tempoh” diganti menjadi “tempo”, sedangkan kata “wakil-wakil bangsa Indonesia” diganti menjadi “Atas nama bangsa Indonesia”. Perubahan juga dilakukan dalam cara menuliskan tanggal, yaitu “Djakarta, 17-8-05” diubah menjadi “Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen ‘05”. Kemudian, timbul persoalan mengenai tempat proklamasi akan diselenggarakan. Sukarni mengusulkan bahwa Lapangan Ikada (yang sekarang adalah bagian tenggara lapangan Monumen Nasional) telah dipersiapkan bagi kumpulnya masyarakat Jakarta untuk mendengarkan pembacaan naskah proklamasi. Akan tetapi, Ir. Soekarno menganggap Lapangan Ikada adalah salah satu lapangan umum yang dapat menimbulkan bentrokan antara rakyat dengan pihak militer Jepang. Oleh karena itu, Bung Karno mengusulkan agar upacara proklamasi dilaksanakan di rumahnya, Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta, dan disetujui oleh para hadirin.

H. PELAKSANAAN PROKLAMASI KEMERDEKAAN

Persiapan menjelang pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.



Proses pembacaan naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, oleh Bung Karno. Dengan suara yang mantap dan berwibawa, sehingga rakyat yakin bahwa Indonesia sudah sepenuhnya merdeka dari penjajah!



Proses pelaksanaan Proklamsi yang juga diikuti oleh pengibaran bendera Merah Putih. Bendera Merah Putih ini sebelumnya telah dijahit dan disiapkan oleh Ibunda Fatmawati.

Pada pukul 05.00 waktu Jawa tanggal 17 Agustus 1945, para pemimpin Indonesia dari golongan tua dan golongan muda keluar dari rumah Laksamana Maeda. Mereka pulang ke rumah masing-masing setelah berhasil merumuskan naskah proklamasi. Mereka telah sepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan pada pukul 10.30 waktu Jawa (pukul 10.00 WIB sekarang). Sebelum pulang, Bung Hatta berpesan kepada para pemuda yang bekerja di kantor berita dan pers, terutama B.M. Diah untuk memperbanyak teks proklamasi dan menyiarkannya ke seluruh Indonesia bahkan seluruh dunia.

Pagi hari itu, rumah Ir. Soekarno dipadati oleh massa yang berbaris dengan tertib. Untuk menjaga keamanan upacara pembacaan proklamasi, Dr. Muwardi (Kepala Keamanan Ir. Soekarno) meminta kepada Syudanco Latief Hendraningrat untuk menugaskan anak buahnya berjaga-jaga di sekitar rumah Ir. Soekarno, sedangkan Wakil Walikota Suwirjo memerintahkan kepada Mr. Wilopo untuk mempersiapkan pengeras suara. Mr. Wilopo dan Nyonopranowo kemudian pergi ke rumah Gunawan, pemilik took radio Satria di jalan Salemba Tengah 24, untuk meminjam mikropon dan pengeras suara. Sudiro yang pada waktu itu juga merangkap sebagai sekretaris Ir. Soekarno memerintahkan kepada S. Suhud (Komandan Pengawal Rumah Ir. Soekarno) untuk menyiapkan tiang bendera. Suhud kemudian mencari sebatang bamboo di belakang rumah. Bendera yang akan dikibarkan telah dipersiapkan oleh Ibu Fatmawati.

Menjelang pukul 10.30, para pemimpin bangsa Indonesia telah berdatangan ke Jalan Pegangsaan Timur, antara lain Mr. A.A. Maramis, Ki Hajar Dewantara, Sm Ratulangi, K.H. Mas Mansur, Mr. Sartono, M. Tabrani, dan A.G. Pringgodigdo. Adapun susunan acara yang telah dipersiapkan adalah sebagai berikut.
a. Pembacaan Proklamasi.
b. Pengibaran Bendera Merah Putih.
c. Sambutan Walikota Suwirjo dan Muwardi.

Lima menit sebelum acara dimulai, Bung Hatta datang dengan berpakaian putih-putih. Setelah semuanya siap, Latief Hendraningrat memberikan aba-aba kepada seluruh barisan pemuda dan mereka pun kemudian berdiri tegak dengan sikap sempurna. Selanjutnya, Latief mempersilahkan kepara Ir. Soekarno dan Moh. Hatta. Dengan suara yang mantap, Bung Karno mengucapkan pidato pendahuluan singkat yang dilanjutkan dengan pembacaan teks proklamasi.

Acara dilanjutkan dengan pengibaran bendera Merah Putih. S. Suhud mengambil bendera dari atas baki yang telah disediakan dan mengikatkannya pada tali dengan bantuan Syudanco Latief Hendraningrat. Bendera dinaikkan perlahan-lahan. Tanpa dikomando, para hadirin spontan menyanyikan Lagu Indonesia Raya. Acara selanjutnya adalah sambutan dari Walikota Suwirjo dan Dr. Muwardi.

Berita proklamai yang sudah meluas di seluruh Jakarta disebarkan ke seluruh Indonesia. Pagi hari itu juga, teks proklamasi telah sampai di tangan Kepala Bagian Radio dari Kantor Berita Domei, Waidan B. Palenewen. Ia segera memerintahkan F. Wuz untuk menyiarkan tiga kali berturut-turut. Baru dua kali F. Wuz menyiarkan berita itu, tiba-tiba tanpa diundang masuklah orang Jepang ke ruangan radio. Dengan marah-marah kagak jelas, orang Jepang itu memerintahkan agar penyiaran berita itu dihentikan, siapa kamu?? Hehehe… Tetapi Waidan memerintahkan F. Wuz untuk tetap menyiarkannya. Bahkan berita itu kemudian diulang setiap setengah jam sampai pukul 16.00 saat siaran radio itu berhenti. Akibatnya pucuk pimpinan Tentara Jepang di Jawa memerintahkan untuk meralat berita itu. Pada hari Senin tanggal 20 Agustus 1945, pemancar itu kemudian disegel dan pegawainya dilarang masuk.

Walaupun demikian, para tokoh pemuda tidak kehilangan akal. Mereka membuat pemancar baru dengan bantuan beberapa orang teknisi radio, seperti Sukiman, Sutamto, Susalahardja, dan Suhandar. Alat-alat pemancar mereka ambil bagian demi bagian dari Kantor Berita Domei kemudian dibawa ke Jalan Menteng 31 sehingga tercipta pemancar baru. Di sanalah seterusnya berita proklamasi disiarkan.

Berita proklamasi juga disiarkan melalui pers dan surat selebaran. Hampir seluruh harian di Jawa dalam penerbitannya tanggal 20 Agustus 1945 memuat berita proklamasi dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia, seperti surat kabar Soeara Asia di Surabaya dan harian Tjahaja di Bandung.

Sources -->
*Mustopo, Prof. Dr. M. Habib (2011). "Sejarah 2 SMA Kelas XI Program IPA". Penerbit Yudhistira
*Wikipedia.com
*tamasyajokedja.com
*khawajadinanggroe.weebly.com
*Jakarta.go.id
*Rumahmimpi.net
*indokliping.wordpress.com
*ilhamindonesia.blogspot.com
*www.streetdirectory.com

*akbaralamsyah.blogspot.com
*javiercreation.blogspot.com

6 comments:

  1. proklamasi adalah tonggak berdirinya negara Indonesia

    ReplyDelete
  2. Proklamasi adalah tonggak berdirinya negara Indonesia

    ReplyDelete
  3. Berdirinya negara RI adalah babak awal perjuangan bangsa Indonesia selanjutnya, komentar balasan ya ke blog saya www.goocap.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, atas supportnya terhadap situs saya.. :)

      Delete
  4. Danke schön
    Terima kasih, atas informasinya

    ReplyDelete

Powered by Blogger.