Pages

Monday, 27 January 2014

Upaya-Upaya Menggalang Persatuan Bangsa

Illustrasi proses pelaksanaan kongres pemuda, dan perumusan Sumpah Pemuda.



Gedung pelaksanaan kongres pemuda I dan II.



Para peserta kongres pemuda II.



Oleh : Ajisaka Lingga Bagaskara


A. PEMBENTUKAN PERMUFAKATAN PERHIMPUNAN-PERHIMPUNAN POLITIK KEBANGSAAN INDONESIA (PPPKI)

Di kalangan pemimpin pergerakan nasional akhirnya mulai  muncul gagasan untuk membentuk gabungan (fusi) dari partai-partai politik yang ada. Tujuannya untuk memperkuat dan mempersatukan tindakan-tindakan dalam menghadapi pemerintah kolonial. Usaha itu dirintis oleh Sarekat Islam, Muhammadiyah, Jong Islamiten Bond, Pasundan, Persatuan Minahasa, Sarekat Ambon, dan Sarekat Madura. Pada bulan September 1926 berhasil dibentuk suatu Komite Persatuan Indonesia. Akan tetapi, malangnya nasib, usaha tersebut tidak berhasil dengan baik sehingga tidak satu pun organisasi gabungan (fusi) yang dihasilkan.

Kegagalan di dalam membentuk fusi tidak mengendurkan semangat partai-partai politik untuk bersatu. Setahun kemudian, upaya tersebut dilakukan kembali. Kali ini diprakarsai oleh PNI.Upaya PNI itu ternyata membuahkan sebuah hasil. Pada tanggal 17-18 Desember 1927 diadakan sebuah sidang di Bandung yang dihadiri oleh wakil-wakil dari PNI, Algemeene Studieclub, PSI (Partai Sarekat Islam), Boedi Oetomo, Pasundan, Sarekat Sumatra, Kaum Betawi, dan Indinesische Studieclub. Sidang tersebut memutuskan untuk membentuk Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) dengan tujuan sebagai berikut.
a. Menyamakan arah aksi kebangsaan dan memperkuatnya dengan cara memperbaiki organisasi dan dengan bekerja sama antara anggota-anggotanya.
b. Menghindarkan perselisihan antara sesama anggotanya yang hanya bisa melemahkan aksi kebangsaan.

Sebagai suatu alat organisasi yang tetap dari federasi itu, dibentuklah dewan pertimbangan yang terdiri atas seorang ketua,  sekretaris, bendahara, dan wakil partai-partai yang tergabung. Pengurus hariannya dipegang oleh Dr. Soetomo dari Studieclub sebagai Ketua Majelis Pertimbangan dan Ir. Anwari dari PNI sebagai Sekretaris.

Ide persatuan yang diwujudkan dalam bentuk PPPKI sejak awal telah mengandung benih-benih kelemahan dan keretakan. Hal itu disebabkan adanya perbedaan gaya perjuangan antara organisasi yang tergabung dalam PPPKI sehingga lambat laun menciptakan suatu kesenjangan. Perjuangan PNI yang bersifat agitatif, yakni politik perlawanan terhadap kebijakan pemerintah kolonial yang dilakukan dengan memobilisasi dan memancing emosi massa secara besar-besaran, sehingga semakin memperuncing pertentangan dengan penguasa kolonial sehingga menciptakan ketegangan yang mengarah pada konfrontasi. Sementara itu, golongan Soetomo lebih memusatkan perhatian pada masalah-masalah sosial-ekonomi, khususnya pada perbaikan nasib kaum buruh.

Keretakan itu semakin meluas dan menjadi pertentangan antara golongan nasionalis dan golongan Islam, serta golongan radikal non-kooperatif dengan golongan moderat-kooperatif. Pada akhir tahun 1931, PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia) mengundurkan dirinya dari PPPKI. Pengunduran dirinya PSII menjadikan kekuatan PPPKI menurun. Soekarno dan M.H. Thamrin pada tahun 1932 pernah berupaya memulihkan keadaan di PPPKI, akan tetapi tidak berhasil. PNI baru tidak bersedia dudul dalam kepengurusan PPPKI.

B. GERAKAN PEMUDA

I. Gerakan Pemuda Kedaerahan

Trikoro Dharmo merupakan sebuah organisasi pemuda kedaerahan yang muncul pertama kali di Indonesia. Trikoro Dharmo didirikan di Gedung Stovia pada tanggal 7 Maret 1915 oleh para pemuda Jawa, seperti Satiman, Kadarman, Sumardi, Jaksodipuro (Wongsonegoro), Sarwono, dan Muwardi. Trikoro Dharmo berarti Tiga Tujuan Mulia, yaitu Sakti, Budi, dan Bhakti. Keanggotaan Trikoro Dharmo pada mulanya hanya terbatas pada kalangan pemuda dari Jawa dan Madura. Akan tetapi, kemudian diperluas dengan semboyannya Jawa Raya yang meliputi Jawa, Sunda, Bali, dan Lombok.

Berdirinya Trikoro Dharmo berpengaruh besar terhadap berdirinya organisasi kedaerahan sejenis di wilayah-wilayah lain di luar Jawa. Pada tanggal 9 Desember 1917 di Jakarta berdiri organisasi Jong Sumatranen Bond. Tokoh-tokoh nasional yang pernah menjadi anggota Jong Sumatranen Bond, antara lain Moh. Hatta, Moh. Yamin, M. Tamsil, Bahder Djohan, dan Abu Hanifah. Jong Minahasa berdiri juga pada tanggal 5 Januari 1918 di Manado dengan tokohnya A.J.H.W. Kawilarang dan V. Adam. Jong Celebes dengan tokoh-tokohnya Arnold Monomutu, Waworuntu, dan Magdalena Mokoginata. Jong Ambon berdiri pula pada tanggal 1 Juni 1923 di Jakarta.

Semenjak saat itu, semangat kedaerahan semakin mendominasi. Dengan semangat kedaerahannya itu, pada kongres Trikoro Dharmo di Solo yang pada tanggal 12 Juni 1918 nama Trikoro Dharmo berganti nama menjadi Jong Java. Kegiatan Jong Java masih tetap bergerak di bidang sosial dan budaya. Pada kongres ke-5 di bulan Mei 1922 di Solo dan kongres luar biasa pada bulan Desember 1922 ditetapkan bahwa Jong Java tidak akan mencampuri masalah politik. Diskusi-diskusi mengenai masalah sosial dan politik dilakukan untuk menambah pengetahuan para anggotanya. Anggota Jong Java hanya diperbolehkan terjun dalam dunia politik setelah mereka tamat belajar.

Dalam perkembangannya, Jong Java tidak mampu bertahan sebagai organisasi yang berpandangan kesukuan. Hal itu disebabkan semakin meluasnya paham Indonesia Raya. Pada kongres Jong Java tanggal 27-31 Desember 1926 di Solo, dengan suara bulat tujuan Jong Java berubah menjadi “Memajukan rasa persatuan para anggota dengan semua golongan bangsa Indonesia dan bekerja sama dengan perkumpulan-perkumpulan pemuda Indonesia lainnya ikut serta dalam menyebarkan dan memperkuat paham Indonesia bersatu”. Semangat satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa yang menyala di berbagai tempat semakin mendorong Jong Java untuk melakukan suatu penggabungan (fusi). Secara prinsip, Jong Java menyatakan bahwa sudah saatnya membuktikan dengan suatu tindakan nyata bahwa “Perkumpulannya dapat mengorbankan dirinya” demi persatuan bangsa.

II. Kongres Pemuda Indonesia

a.) Kongres Pemuda I

Keinginan untuk bersatu seperti yang didengung-dengungkan oleh Perhimpunan Indonesia (PI) dan PerhimpunanPelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) telah lama tertanam di dalam hati dan sanubari pemuda-pemuda Indonesia. Untuk itu, pada tanggal 30 April-2 Mei 1926 di Jakarta diadakan Kongres Pemuda Indonesia yang pertama. Kongres itu diikuti oleh semua perkumpulan pemuda yang bersifat kedaerahan.

Dalam kongres tersebut dilakukan beberapa kali pidato tentang pentingnya Indonesia bersatu. Disampaikan pula tentang upaya-upaya memperkuat rasa persatuan yang harus tumbuh di atas kepentingan golongan, bahasa, dan agama. Selanjutnya juga dibicarakan tentang kemungkinan bahasa dan kesusastraan Indonesia kelak di kemudian hari.

Para mahasiswa Jakarta dalam kongres tersebut juga membicarakan tentang upaya mempersatukan perkumpulan-perkumpulan pemuda menjadi satu badan gabungan (fusi). Walaupun pembicaraan mengenai fusi ini tidak membuahkan suatu hasil yang memuaskan, kongres itu telah memperkuat cita-cita Indonesia bersatu.

b.) Kongres Pemuda II

Kongres Pemuda II diadakan dua tahun setelah Kongres Pemuda I, tepatnya pada tanggal 27-28 Oktober 1928. Kongres tersebut dihadiri oleh wakil-wakil dari perkumpulan pemuda ketika itu, antara lain Pemuda Sumatera, Pemuda Indonesia, Jong Bataksche Bond, Sekar Rukun, Pemuda Kaum  Betawi, Jong Islamiten Bond, Jong Java, Jong Ambon, dan Jong Celebes. PPPI yang memimpin kongres ini sengaja mengarahkan kongres pada terjadinya fusi organisasi-organisasi pemuda.

Sedangkan, untuk susunan panitia Kongres Pemuda II yang sudah terbentuk sejak bulan Juni 1928 adalah sebagai berikut.

Ketua              : Sugondo Joyopuspito dari PPPI
Wakil Ketua    : Joko Marsaid dari Jong Java
Sekretaris        : Moh. Yamin dari Jong Sumatranen Bond
Bendahara       : Amir Syarifuddin dari Jong Bataksche Bond
Pembantu I      : Johan Moh. Cai dari Jong Islaminten Bond
Pembantu II    : Koco Sungkono dari Pemuda Indonesia
Pembantu III   : Senduk dari Jong Celebes
Pembantu IV   : J. Leimena dari Jong Ambon
Pembantu V    : Rohyani dari Pemuda Kaum Betawi

Kongres Pemuda II ini dilaksanakan selama dua hari, pada tanggal 27-28 Oktober 1928. Persidangan yang dilaksanakan sebanyak tiga kali di antaranya membahas persatuan dan kebangsaan Indonesia, pendidikan, serta pergerakan kepanduan. Kongres tersebut berhasil mengambil suatu keputusan yang hingga saat ini dikenal dengan Sumpah Pemuda sebagai berikut.

Pertama          : Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.
Kedua              : Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia.
Ketiga              : Kami putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Rumusan tersebut dibuat oleh sekretaris panitia, Moh. Yamin, dan dibacakan oleh ketua kongres, Sugondo Joyopuspito, secara hikmat di depan kongres. Selanjutnya diperdengarkan lagu Indonesia Raya yang diciptakan dan dibawakan oleh Wage Rudolf Supratman dengan gesekan biola. Peristiwa bersejarah itu merupakan hasil kerja keras para pemuda pelajar Indonesia. Walaupun organisasi peserta kongres masih merupakan organisasi pemuda kedaerahan, mereka secara ikhlas hati melepaskan sifat kedaerahannya masing-masing. Dengan tiga butir Sumpah Pemuda itu, setiap organisasi pemuda kedaerahan secara konsekuen dan konsisten meleburkan diri ke dalam satu wadah yang telah disepakati secara bersama, yakni Indonesia Muda.

Sources -->
*Mustopo, Prof. Dr. M. Habib (2011). "Sejarah 2 SMA Kelas XI Program IPA". Penerbit Yudhistira
*Azulle.wordpress.com
*Ahmadalbin2.blogspot.com
*strategi-militer.blogspot.com

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.