Pages

Monday, 20 January 2014

Partai Nasional Indonesia



Suasana pada salah satu rapat PNI.


 Gubernur Jenderal de Graff, penguasa Hindia Belanda yang melaksanakan penangkapan terhadap tokoh-tokoh PNI di tahun 1929.


 Ir. Soekarno dan kawan-kawan yang pembelanya di depan pengadilan kolonial di Bandung tahun 1930.


Oleh : Ajisaka Lingga Bagaskara

Partai Nasional Indonesia (PNI) dibentuk di Bandung padatanggal 4 Juli 1927 dengan tokoh-tokohnya Ir. Soekarno, Iskaq, Budiarto, Cipto Mangunkusumo,Tilaar, Soedjadi, dan Sunaryo. Dalam pengurus besar PNI, Ir. Soekarno ditunjuk sebagai ketua, Iskaq sebagai sekretaris sekaligus merangkap sebagai Bendhara, dan Dr. Samsi sebagai komisaris partai. Sementara itu, dalam perekrutan anggota disebutkan bahwa mantan anggota PKI tidak diperkenankan menjadi anggota PNI, juga pegawai negeri yang memungkinkan berperan sebagai mata-mata pemerintah kolonial Hindia-Belanda.

Dalam anggaran dasarnya dinyatakan bahwa tujuan PNI adalah hendak bekerja untuk kemerdekaan Indonesia. Tujuan tersebut hendak dicapai dengan asas “percaya pada diri sendiri.” Artinya, memperbaiki keadaan politik, ekonomi, dan sosial dengan kekuatan dan kebiasaan sendiri. Sikapnya yang non-kooperatif diwujudkan antara lain dengan tidak ikut dalam dewan-dewan yang dibentuk oleh pemerintah kolonial.

Cabang-cabang pertama PNI didirikan di Bandung, Surabaya, dan Batavia. Menyusul kemudian pada tahun 1928 berdiri cabang lainnya, seperti di Yogyakarta, Semarang, Pekalongan, Palembang, Makassar dan Manado. Pada akhir tahun 1928, anggota PNI mengalami kenaikan yang pesat hingga mencapai 3860 orang. Kenaikan tersebut merupakan hasil dari propaganda yang sangat aktif dilakukan. Jelas sekali bahwa popularitas rapat-rapat umum yang diselenggarakan oleh PNI itu disebabkan pengaruh Ir. Soekarno dengan pidato-pidatonya yang sangat khas dan mamu menarik perhatian dan simpati dari masyarakat banyak.

Ada dua macam cara yang dilakukan oleh PNI untuk memperkuat diri dan pengaruhnya di dalam masyarakat.
a. Usaha ke dalam, yaitu usaha-usaha terhadap lingkungan sendiri, antara lain mengadakan kursu-kursus, mendirikan sekolah-sekolah, dan bank-bank.
b. Usaha ke luar dengan memperkuat opini publik terhadap tujuan PNI, antara lain melalui rapat-rapat umum dan menerbitkan surat kabar Banteng Priangan di Bandung dan Persatuan Indonesia di Batavia.

Kegiatan PNI yang dengan cepat dapat menarik massa yang sangat banyak membuat suatu kecemasan dan kekhawatiran tersendiri di kalangan pemerintahan kolonial Hindia-Belanda. Gubernur Jenderal yang berkuasa pada saat itu dalam pembukaan sidang Volksraad pada tanggal 15 Mei 1928 mengharapkan kesadaran rakyat terhadap nasionalisme yang ekstrem. Dikemukakan juga bahwa sikap non-kooperatif yang dijalankan oleh PNI bersifat bermusuhan terhadap pemerintah. Meskipun ada peringatan halus tersebut, cabang-cabang PNI malah bermunculan di berbagai wilayah Indonesia. Hingga pada akhir tahun 1929, kandidiat anggota PNI berjumlah sekitar 10.000 orang, di antaranya 6000 orang di daerah Priangan, Bandung.

Propaganda PNI menimbulkan suatu dorongan baru dalam pikiran dan perasaan orang Indonesia. Propaganda itu dirancang oleh Perhimpunan Indonesia dan dilaksanakan oleh PNI. Dalam melaksanakan kegiatannya, PNI juga banyak dibantu oleh tokoh-tokoh mantan anggota Perhimpunan Indonesia. Apabila dibandingkan dengan jumlah anggota Sarekat Islam, jumlah anggota PNI memang jauh lebih kecil. Akan tetapi, pengaruh Ir. Soekarno sebagai seorang pemimpin PNI dan pemimpin Indonesia telah meluas dan meresap di lakangan masyarakat luas Indonesia.

Sukses yang dicapati oleh PNI tidak lepas dari paham yang dianutnya, yaitu Marhaenisme. Kata Marhaen menurut Soekarno adalah nama seorang petani kecil yang dijumpainya dan menurutnya mewakili kelas sosial yang rendah (dapat dibandingkan juga sebagai golongan Proletar atau golongan Plebians seperti di zaman Romawi kuno). Di dalam perjuangan nasional, nasib kaum Marhaen harus ditingkatkan. Hal itu dapat dilakukan dengan gerakan massa menuntut kemerdekaan sebagai syarat terciptanya kondisi hidup yang lebih baik bagi kaum Marhaen.

Tindakan progresif PNI dilakukan dengan mengadakan rapat-rapat umum yang selalu dibanjiri massa. Hal itu tidak terlepas dari peran Ir. Soekarno sebagai seorang orator ulung dengan menggunakan bahasa-bahasa yang mudah dimengerti oleh rakyat. Gerakan-gerakan massa yang dipelopori oleh PNI menimbulkan kecurigaan dan kegelisahan pemerintah kolonial. Selain itu, ada pula kecurigaan bahwa PNI memiliki suatu hubungan erat dengan Perhimpunan Indonesia serta kaum Komunis. Oleh karena itu, pemerintah kolonial menganggap tindakan-tindakan PNI itu sebagai hasutan terhadap rakyat, bahkan dianggap sebagai serangan kaum Komunis kedua setelah pemberontakan PKI di tahun 1926.

Kemajuan yang dicapai oleh PNI juga telah mengkhawatirkan orang-orang reaksioner Belanda di Indonesia. Mereka kemudian membentuk Vanderlandsche Club pada tahun 1929. Organisasi itu kemudian mendesak kepada pemerintah kolonial agar segera mengambil suatu tindakan tegas terhadap PNI. Demikian juga banyak surat kabar Belanda yang mengadakan kampanye aktif melawan propaganda PNI.

Para pejabat kolonial di daerah-daerah juga menjalankan sebuah aturan yang sangat ketat, antara lain melarang pegawai negeri dan militer menjadi anggota PNI, memperketat perizinan untuk mengadakan rapat-rapat, dan memperkeras pengawasan. Sementara itu, para pemuka PNI dari cabang-cabang semakin tidak dapat mengendalikan semangatnya untuk mengadakan pergerakan-pergerakan massa.

Peningkatan kegiatan rapat-rapat umum di cabang-cabang sejak bulan Mei 1929 menimbulkan suasana yang tegang. Pemerintah kolonial Belanda lebih banyak melakukan pengawasan secara tegas terhadap kegiatan-kegiatan PNI yang dianggap membahayakan keamanan dan ketertiban. Sering kali polisi menghentikan pidato karena ucapan-ucapan dalam pidato tersebut sangat menghasut rakyat. Akhirnya, pemerintahan HindiaBelanda beranggapan bahwa tiba saatnya untuk melakukan suatu tindakan terhadap PNI. Bahkan, Gubernur Jenderal de Graeff telah mendapatkan tekanan dari golongan konservatif Belanda yang tergabung juga dalam Vanderlansche Club untuk bertindak tegas karena mereka berkeyakinan bahwa PNI melanjutkan taktik PKI.

Pemerintah kolonial Hindia-Belanda kemudian melakukan penangkapan dan penggeledahan di banyak tempat. Pada tanggan 29 Desember 1929, Ir. Soekarno (Ketua PNI), R. Gatot Mangkupraja (Sekretaris II PB PNI), Maskoen Sumadireja (Sekretaris II Pengurus PNI cabang Bandung), dan Supriadinata (anggota PNI cabang Bandung) ditangkap oleh polisi Belanda di Yogyakarta. Selain itu, di Batavia dilakukan penggeledahan dan penangkapan, di Bandung 41 penangkapan, di Cirebon 24 penangkapan, di Pekalongan 42 penangkapan, di Sukabumi dan Cianjur 31 penangkapan, Surakarta 11 penangkapan, di Medan 25 penangkapan, serta di tempat-tempat lain di Indonesia yang jumlah semuanya lebih dari 400 penangkapan. Kaum pergerakan nasional melakukan protes keras, demikian halnya Perhimpunan Indonesia, Partai Buruh dan Partai Komunis di negeri Belanda itu sendiri.

Empat tokoh PNI yang ditangkap tersebut kemudian diajukan ke pengadilan di Bandung. Sidang pengadilan itu dilakukan pada tanggal 18 Agustus hingga 29 September 1930. Dalam sidang tersebut, Ir. Soekarno membacakan sebuah pidato pembelaan yang berjudul Indonesia Menggugat. Dalam pidato pembelaannya itu, Ir. Soekarno menandaskan “Kini telah jelas bahwa pergerakan nasional di Indonesia bukanlah bikinan kaum intelektual dan kaum komunis saja, tetapi merupakan reaksi umum yang wajar dari rakyat jajahan yang dalam batinya telah merdeka. Revolusi Industri adalah revolusinya zaman sekarang, bukan revolusinya sekelompok-kelompok rakyat kecil kaum intelektual, tetapi revolusinya bagian terbesar rakyat di dunia yang terbelakang dan diperbodoh.” Pada tanggal 22 Desember 1930, para pemimpin PNI tersebut dijatuhi hukuman penjara di Sukamiskin, Bandung.

Sources -- > Buku Sejarah 2 SMA Kelas XI Program IPA, oleh M. Habib Mustopo dkk, terbitan Yudhistira.

1 comments:

Powered by Blogger.