Pages

Monday, 27 January 2014

Kearifan Suksesi Khas Aceh – Perjuangan Rakyat Aceh

Illustrasi suasana wilayah Kesultanan Aceh Darussalam.



Teuku Umar.



Cut Nyak Dien.



Panglima Polim.


Oleh : Ajisaka Lingga Bagaskara

Kita sudah pernah membahas, mengenai Kesultanan Aceh Darussalam pada Link Kesultanan Aceh, dan kali ini akan kita bahas mengenai kesuksesan suksesi Aceh, atau perjuangan Aceh dalam menghadapi penjajah Eropa.

Pada tanggal 28 September 1571, Sultan Alauddin wafat. Ketegangan suksesi pun terjadi, hingga kemudian seorang ulama tua bernama Sayyid Al-Mukammil disepakati menjadi raja. Ali Riayatsyah menggantikan Al Mukammil. Dan beberapa waktu kemudian, Aceh diserbu oleh bangsa Portugis. Raja meninggal dunia dalam serbuan tersebut. Iskandar Muda, keponakan yang tengah di penjara oleh raja, bangkit memimpin perlawanan dan mampu mengusir Portugis. Di dalam kitab Bustanus-Salatin menyebutkan bahwa Iskandar Muda dinobatkan menjadi raja pada tanggal 6 Dzulkhijjah 1015 H, atau pada awal April 1607.

Para bangsawan kerajaan dikontrol dengan keras oleh Iskandar Muda. Mereka diharuskan ikut jaga malam di istana setiap tiga hari sekali tanpa membawa senjata. Setelah semua terkontrol, Iskandar Muda memegang kendali terhadap produksi beras. Di masanya, Kesultanan Aceh Darussalam mengekspor beras keluar wilayah. Ia juga memperketat pajak kelautan bagi kapal-kapal asing, mengatur kembali pajak perniagaan, bahkan juga mengenai harta untuk kapal karam.

Untuk bidang militer, Iskandar Muda membangun angkatan perang yang sangat kuat. Seorang dari negeri asing, kemungkinan besar Perancis, bernama Beaulieu mencatat jumlah pasukan darat Kesultanan Aceh sekitar 40 ribu orang. Untuk armada laut, diperkirakan Aceh memiliki 100-200 kapal perang, di antaranya kapal selebar 30 meter dengan awak 600-800 orang yang dilengkapi dengan tiga buah meriam. Ia juga mempekerjakan seorang penjajah sebagai penasihat militer yang mengenalkan teknik perang bangsa penjajah asing, yakni Perancis. Akibatnya, Kesultanan Aceh meraih banyak sekali kesuksesan dalam mengekspansi kesultanannya hingga ke luar wilayah. Seperti, dijebolnya Benteng Deli, dan penaklukkan beberapa kerajaan kecil, seperti contohnya Johor (1613), Pahang (1618), Kedah (1619), serta Tuah (1620).

Puncak Kejayaan Kesultanan Aceh terjadi ketika Kesultanan Aceh mengalami masa keemasan pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Pada masa kepemimpinannya ini, Aceh telah berhasil memukul mundur kekuatan militer bangsa Portugis dari selat Malaka. Kejadian ini bahkan dilukiskan dalam La Grand Encyclopedie bahwa pada tahun 1582, bangsa Aceh sudah meluaskan pengaruhnya atas pulau-pulau Sumatera, Jawa dan Borneo serta atas sebagian tanah Semenanjung Melayu. Selain itu Aceh juga melakukan hubungan diplomatik dengan semua bangsa yang melayari Lautan Hindia. Tahun 1586, kesultanan Aceh sudah pernah mencoba untuk melakukan penyerangan terhadap bangsa Portugis di Malaka dengan armada yang terdiri dari 500 buah kapal perang dan 60 ribu tentara angkatan laut. Serangan ini dilakukan dalam rangka memperluas dominasi Aceh atas Selat Malaka dan semenanjung Melayu. Walaupun Aceh telah berhasil mengepung Malaka dari segala penjuru, namun penyerangan ini berakhir dengan sebuah kegagalan yang besar dikarenakan adanya sebuah persekongkolan antara bangsa Portugis dengan kesultanan Pahang.

Dalam lapangan pembinaan kesusastraan dan ilmu keagamaan, Aceh telah melahirkan beberapa ulama ternama, yang mana karangan mereka menjadi rujukan utama dalam bidang masing-masing, seperti Hamzah Fansuri dalam kitabnya Tabyan Fi Ma’rifati al AdyanSyamsuddin al Sumatrani dalam kitabnya Mi’raj al Muhakikin al ImanNuruddin ar Raniry dalam kitabnya Sirat al Mustaqim, dan Syekh Abdul Rauf Singkel dalam kitabnya Mi’raj al Tulabb Fi Fashil.

Iskandar Muda meninggal dunia pada tanggan 29 Rajab 1046 H, atau 27 Desember 1636. Beliau digantikan oleh menantunya, Sultan Iskandar Tsani yang lembut. Tidak bertangan besi seperti mertuanya, Iskandar Tsani lebih menitikberatkan pada masalah keagamaan ketimbang kekuasaan. Begitu pula dengan istrinya, Sultan Taju al Alam Syafiatuddin Syah (1641-1675) setelah Sultan Iskandar Tsani meninggal dunia. Setelah itu, tiga perempuan memegang kendali atas kerajaan Aceh. Mereka adalah Sultanah Nurul Alam Zakiatuddin Syah (1675-1677), Ratu Inayat Zakiatuddin Syah(1677-1688) dan Ratu Kamalat (1688-1699). Pada tahun 1631-1641 Kesultanan Aceh pernah dipimpin oleh menantu dari Sultan Iskandar Muda, yang bernama Sultan Iskandar Tsani. Ada beberapa kalangan yang tidak menyetujui pengangkatan Sultan Iskandar Tsani dikarenakan beliau berasal dari Pahang, Semenanjung Malaka. Beliau diangkat berdasarkan wasiat Sultan Iskandar Muda agar hubungan antara Aceh dan daerah bawahannya di Semenanjung Malaka tetap terjaga dengan baik. Pada masa Iskandar Tsani ada seorang ulama yang berasaldari tanah Gujarat, yaitu Syekh Nurrudin ar Raniri. Ulama ini menulis kitab as-Sirat al Mustayim mengenai ibadah-ibadah dalam Islam, dan atas permintaan sultan beliau pun menulis kitab Bustah as-Salatin.

Setelah Sultan Iskandar Tsani wafat, Kesultanan Aceh secara berturut-turut diperintah oleh empat sultan wanita. Yang pertama adalah Sultanah Safiatuddin Tajul Alam, seperti yang sudah kita bahas tadi, putri Iskandar Muda dan janda Iskandar Tsani, yang memerintah pada tahun 1641-1675. Pada awal pemerintahannya, kegemilangan Aceh di bidang politik, ekonomi, dan militer mulai mengalami suatu penurunan karena adanya ketidakseganan dari sebagian orang kepada pemimpin wanita, dan karena meningkatnya kekuasaan para hulubalang. Urusan yang memerlukan wali haki atau imam shalat sepenuhnya diserahkan kepada Qadi Malik al ‘Adil atau hakim agung sultan.

Di masanya ar Raniri meninggalkan Aceh. Akan tetapi, tak lama kemudian kedudukannya sebagai ulama besar kerajaan digantikan oleh Abdur Rauf Singkel. Ulama ini dikenal dalam sejarah Aceh sebagai Tungku Syiah Kuala. Atas permintaan ratu, Abdur Rauf Singkel menulis kitab “Mir’at at-Tullab fi Tahsil Ma’rifat Ahmad asy Syar’iyyah li al Malik al Wahhab” panjang bener nih, ini artinya biar tidak bingung yaa (Cermin bagi Mereka yang Menuntut Ilmu Fikih pada Memudahkan Mengenal Segala Hukum Syara’ Allah) pada tahun 1663. Ratu juga menggalakkan pendidikan agama Islam melalui Jamiah Baiturrahman di Banda Aceh, dan mengirim kitab-kitab karangan ulama Aceh dan Al-Quran kepada raja-raja Ternate, Tidore, dan Bacan di Maluku di samping guru-guru agama dan ulama. Dapat ditegaskan kembali, bahwa sultan berikutnya adalah Sri Ratu Naqiyatuddin Nurul Alam, kemudian Inayat Syah, dan terakhir Kamalat Syah. Pemerintahan sultanan (sultan wanita) akhirnya tidak diteruskan dikarenakan adanya fatwa dari Mekkah bahwa hukum Syariat Islam melarang wanita untuk memerintah negara (1699). Kesultanan Aceh pada permulaan abad ke-18 Masehi mengalami serangkaian perebutan tahta. Beberapa sultan yang saling bersaing adalah golongan Sayid, turunan Fatimah binti Muhammad SAW, yang lahir di Aceh. Dari Sayid yang menjadi sultan di antaranya adalah Jamalul Alam Badrul Munir, yang memerintah pada tahun 1703-1726. Sultan ini dijatuhkan pada tahun 1726, dan setelah itu melancarkan perlawanan terhadap sultan-sultan sesudahnya, termasuk Sultan Ahmad Syah (1727-1735) dan putranya, Sultan Johan (1735-1760). Jamalul Alam akhirnya meninggal dalam sebuah pertempuranmelawan Sultan Johan. Pada masa Sultan Juhauti, pada tahun 1740 seorang ulama bernama Syekh Muhammad Kamaluddin bin Kadi Khatib Tursani (coba kalau pas mengisi lembar jawab Ujian, pasti keblinger dah…), beliau menulis sebuah kitab yang berjudul Safinat al Hukkam fi Takhlis al Khassam (Bahtera Segala Hukum untuk Menyelesaikan Segala Orang yang Berkesumat). Tahun 1816 Sultan Syaiful Alam itu bertikai dengan Jauharul Alam Aminuddin yang telah disebutkan, dan akhirnya dapat memenangkan ketegangan suksesi dan menjadi sultan Aceh dengan bantuan bangsa Inggris. Setelah itu Aceh mengikat perjanjian dengan Inggris yang diwakili oleh Sir. Thomas Stamford Raffles untuk memberikan kesempatan berniaga bagi Inggris di Kesultanan Aceh, dan Inggris memberikan jaminan keamanan dan perlindungan bagi Aceh. Perjanjian ini dibuat pada tanggal 22 April 1818.

Pada tanggal 17 Maret 1824 Inggris dan koloni Belanda membuat sebuah perjanjian di London yang antara lain berisi penghormatan kedaulatan Aceh oleh pihak koloni Belanda. Pada tanggal 2 November 1871 dibuat perjanjian baru, Traktat Sumatra, antara koloni Belanda dan Inggris dengan membatalkan Perjanjian London. Perjanjian baru ini memberi kebebasan Inggris yang sangat luas untuk mengembangkan kekuasaan barunya di Malaya, dan bagi koloni Belanda untuk memperluas kekuasaannya di Sumatra.

Kesultanan Aceh dituduh oleh koloni Belanda telah melindungi para bajak laut dan perdagangan budak, dan mengancam keselamatan saudagar-saudagar asing dari luar yang ingin membeli lada di pesisir Aceh, dan juga armada Aceh sering kali menyerang negeri-negeri tetangga. Kesultanan Aceh terus berjalan, akan tetapi pamornyaterus menyurut. Pertikaian internal terus berlangsung. Sementara pusat kegiatan ekonomi dan politik bergeser ke wilayah selatan Riau-Johor-Malaka. Aceh akhirnya baru muncul kembali dua abad kemudian, yakni akhir abad ke-19, ketika koloni Bbelanda berusaha menguasai wilayah tersebut secara penuh. Pemberontakan oleh para bangsawan Aceh terjadi. Sekali lagi, sejarah Aceh akan kepemimpinan perempuan yakni perlawanan Cut Nya Dien, sekalipun harus berjuang sendiri tanpa Teuku Umar dan Panglima Polim. Kepemimpinan sosok perempuan di Aceh terwujud dengan perjuangan Cut Nya Dien melawan para koloni Belanda.

Dengan alasan ini penjajah melanggar kedaulatan Aceh dengan menyerbu ibu kota Kesultanan Aceh pada tahun 1873, menduduki Banda Aceh dan kota-kota pantai lainnya. Bulan Januari 1874, istana Kesultanan Aceh akhirnya dapat direbut oleh koloni Belanda, akan tetapu Sultan Mahmud Syah, dapat meloloskan diri bersama Panglima Polim. Sultan kemudian meninggal karena sakit dan perjuangan melawan koloni Belanda diteruskan oleh panglima-panglimanya dan rakyat Aceh hingga tahun 1903. Tahun 1874, koloni Belanda menyatakan Aceh dan daerah bawahannya menjadi kepunyaan pemerintah Hindia Belanda. Sekalipun Kesultanan Aceh dihapuskan, rakyat Aceh setelah itu masih memiliki seorang sultan, yaitu Sultan Muhammad Daud Syah, yang dinobatkan di Masjid Indapuri pada tahun 1875. Namun ia ditangkap pada tahun 1903, dan kemudian dibuang ke Ambon pada tahun 1907, dan meninggal dunia pada tahun 1939. Pada akhirnya, kemerdekaan Aceh dapat direbut kembali melalui perjuangan diplomatik secara nasional yang kemenangannya diproklamasikan di Jakarta, pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Ir. Soekarno.

Sources --> 
*Buku “The Golden History”, oleh Nurul Awaluddin, terbitan “elmatera-publishing”
*desra88.blogspot.com
*acehtourismagency.blogspot.com

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.