Pages

Monday, 27 January 2014

Upaya-Upaya Menggalang Persatuan Bangsa

Illustrasi proses pelaksanaan kongres pemuda, dan perumusan Sumpah Pemuda.



Gedung pelaksanaan kongres pemuda I dan II.



Para peserta kongres pemuda II.



Oleh : Ajisaka Lingga Bagaskara


A. PEMBENTUKAN PERMUFAKATAN PERHIMPUNAN-PERHIMPUNAN POLITIK KEBANGSAAN INDONESIA (PPPKI)

Di kalangan pemimpin pergerakan nasional akhirnya mulai  muncul gagasan untuk membentuk gabungan (fusi) dari partai-partai politik yang ada. Tujuannya untuk memperkuat dan mempersatukan tindakan-tindakan dalam menghadapi pemerintah kolonial. Usaha itu dirintis oleh Sarekat Islam, Muhammadiyah, Jong Islamiten Bond, Pasundan, Persatuan Minahasa, Sarekat Ambon, dan Sarekat Madura. Pada bulan September 1926 berhasil dibentuk suatu Komite Persatuan Indonesia. Akan tetapi, malangnya nasib, usaha tersebut tidak berhasil dengan baik sehingga tidak satu pun organisasi gabungan (fusi) yang dihasilkan.

Kegagalan di dalam membentuk fusi tidak mengendurkan semangat partai-partai politik untuk bersatu. Setahun kemudian, upaya tersebut dilakukan kembali. Kali ini diprakarsai oleh PNI.Upaya PNI itu ternyata membuahkan sebuah hasil. Pada tanggal 17-18 Desember 1927 diadakan sebuah sidang di Bandung yang dihadiri oleh wakil-wakil dari PNI, Algemeene Studieclub, PSI (Partai Sarekat Islam), Boedi Oetomo, Pasundan, Sarekat Sumatra, Kaum Betawi, dan Indinesische Studieclub. Sidang tersebut memutuskan untuk membentuk Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) dengan tujuan sebagai berikut.
a. Menyamakan arah aksi kebangsaan dan memperkuatnya dengan cara memperbaiki organisasi dan dengan bekerja sama antara anggota-anggotanya.
b. Menghindarkan perselisihan antara sesama anggotanya yang hanya bisa melemahkan aksi kebangsaan.

Sebagai suatu alat organisasi yang tetap dari federasi itu, dibentuklah dewan pertimbangan yang terdiri atas seorang ketua,  sekretaris, bendahara, dan wakil partai-partai yang tergabung. Pengurus hariannya dipegang oleh Dr. Soetomo dari Studieclub sebagai Ketua Majelis Pertimbangan dan Ir. Anwari dari PNI sebagai Sekretaris.

Ide persatuan yang diwujudkan dalam bentuk PPPKI sejak awal telah mengandung benih-benih kelemahan dan keretakan. Hal itu disebabkan adanya perbedaan gaya perjuangan antara organisasi yang tergabung dalam PPPKI sehingga lambat laun menciptakan suatu kesenjangan. Perjuangan PNI yang bersifat agitatif, yakni politik perlawanan terhadap kebijakan pemerintah kolonial yang dilakukan dengan memobilisasi dan memancing emosi massa secara besar-besaran, sehingga semakin memperuncing pertentangan dengan penguasa kolonial sehingga menciptakan ketegangan yang mengarah pada konfrontasi. Sementara itu, golongan Soetomo lebih memusatkan perhatian pada masalah-masalah sosial-ekonomi, khususnya pada perbaikan nasib kaum buruh.

Keretakan itu semakin meluas dan menjadi pertentangan antara golongan nasionalis dan golongan Islam, serta golongan radikal non-kooperatif dengan golongan moderat-kooperatif. Pada akhir tahun 1931, PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia) mengundurkan dirinya dari PPPKI. Pengunduran dirinya PSII menjadikan kekuatan PPPKI menurun. Soekarno dan M.H. Thamrin pada tahun 1932 pernah berupaya memulihkan keadaan di PPPKI, akan tetapi tidak berhasil. PNI baru tidak bersedia dudul dalam kepengurusan PPPKI.

B. GERAKAN PEMUDA

I. Gerakan Pemuda Kedaerahan

Trikoro Dharmo merupakan sebuah organisasi pemuda kedaerahan yang muncul pertama kali di Indonesia. Trikoro Dharmo didirikan di Gedung Stovia pada tanggal 7 Maret 1915 oleh para pemuda Jawa, seperti Satiman, Kadarman, Sumardi, Jaksodipuro (Wongsonegoro), Sarwono, dan Muwardi. Trikoro Dharmo berarti Tiga Tujuan Mulia, yaitu Sakti, Budi, dan Bhakti. Keanggotaan Trikoro Dharmo pada mulanya hanya terbatas pada kalangan pemuda dari Jawa dan Madura. Akan tetapi, kemudian diperluas dengan semboyannya Jawa Raya yang meliputi Jawa, Sunda, Bali, dan Lombok.

Berdirinya Trikoro Dharmo berpengaruh besar terhadap berdirinya organisasi kedaerahan sejenis di wilayah-wilayah lain di luar Jawa. Pada tanggal 9 Desember 1917 di Jakarta berdiri organisasi Jong Sumatranen Bond. Tokoh-tokoh nasional yang pernah menjadi anggota Jong Sumatranen Bond, antara lain Moh. Hatta, Moh. Yamin, M. Tamsil, Bahder Djohan, dan Abu Hanifah. Jong Minahasa berdiri juga pada tanggal 5 Januari 1918 di Manado dengan tokohnya A.J.H.W. Kawilarang dan V. Adam. Jong Celebes dengan tokoh-tokohnya Arnold Monomutu, Waworuntu, dan Magdalena Mokoginata. Jong Ambon berdiri pula pada tanggal 1 Juni 1923 di Jakarta.

Semenjak saat itu, semangat kedaerahan semakin mendominasi. Dengan semangat kedaerahannya itu, pada kongres Trikoro Dharmo di Solo yang pada tanggal 12 Juni 1918 nama Trikoro Dharmo berganti nama menjadi Jong Java. Kegiatan Jong Java masih tetap bergerak di bidang sosial dan budaya. Pada kongres ke-5 di bulan Mei 1922 di Solo dan kongres luar biasa pada bulan Desember 1922 ditetapkan bahwa Jong Java tidak akan mencampuri masalah politik. Diskusi-diskusi mengenai masalah sosial dan politik dilakukan untuk menambah pengetahuan para anggotanya. Anggota Jong Java hanya diperbolehkan terjun dalam dunia politik setelah mereka tamat belajar.

Dalam perkembangannya, Jong Java tidak mampu bertahan sebagai organisasi yang berpandangan kesukuan. Hal itu disebabkan semakin meluasnya paham Indonesia Raya. Pada kongres Jong Java tanggal 27-31 Desember 1926 di Solo, dengan suara bulat tujuan Jong Java berubah menjadi “Memajukan rasa persatuan para anggota dengan semua golongan bangsa Indonesia dan bekerja sama dengan perkumpulan-perkumpulan pemuda Indonesia lainnya ikut serta dalam menyebarkan dan memperkuat paham Indonesia bersatu”. Semangat satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa yang menyala di berbagai tempat semakin mendorong Jong Java untuk melakukan suatu penggabungan (fusi). Secara prinsip, Jong Java menyatakan bahwa sudah saatnya membuktikan dengan suatu tindakan nyata bahwa “Perkumpulannya dapat mengorbankan dirinya” demi persatuan bangsa.

II. Kongres Pemuda Indonesia

a.) Kongres Pemuda I

Keinginan untuk bersatu seperti yang didengung-dengungkan oleh Perhimpunan Indonesia (PI) dan PerhimpunanPelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) telah lama tertanam di dalam hati dan sanubari pemuda-pemuda Indonesia. Untuk itu, pada tanggal 30 April-2 Mei 1926 di Jakarta diadakan Kongres Pemuda Indonesia yang pertama. Kongres itu diikuti oleh semua perkumpulan pemuda yang bersifat kedaerahan.

Dalam kongres tersebut dilakukan beberapa kali pidato tentang pentingnya Indonesia bersatu. Disampaikan pula tentang upaya-upaya memperkuat rasa persatuan yang harus tumbuh di atas kepentingan golongan, bahasa, dan agama. Selanjutnya juga dibicarakan tentang kemungkinan bahasa dan kesusastraan Indonesia kelak di kemudian hari.

Para mahasiswa Jakarta dalam kongres tersebut juga membicarakan tentang upaya mempersatukan perkumpulan-perkumpulan pemuda menjadi satu badan gabungan (fusi). Walaupun pembicaraan mengenai fusi ini tidak membuahkan suatu hasil yang memuaskan, kongres itu telah memperkuat cita-cita Indonesia bersatu.

b.) Kongres Pemuda II

Kongres Pemuda II diadakan dua tahun setelah Kongres Pemuda I, tepatnya pada tanggal 27-28 Oktober 1928. Kongres tersebut dihadiri oleh wakil-wakil dari perkumpulan pemuda ketika itu, antara lain Pemuda Sumatera, Pemuda Indonesia, Jong Bataksche Bond, Sekar Rukun, Pemuda Kaum  Betawi, Jong Islamiten Bond, Jong Java, Jong Ambon, dan Jong Celebes. PPPI yang memimpin kongres ini sengaja mengarahkan kongres pada terjadinya fusi organisasi-organisasi pemuda.

Sedangkan, untuk susunan panitia Kongres Pemuda II yang sudah terbentuk sejak bulan Juni 1928 adalah sebagai berikut.

Ketua              : Sugondo Joyopuspito dari PPPI
Wakil Ketua    : Joko Marsaid dari Jong Java
Sekretaris        : Moh. Yamin dari Jong Sumatranen Bond
Bendahara       : Amir Syarifuddin dari Jong Bataksche Bond
Pembantu I      : Johan Moh. Cai dari Jong Islaminten Bond
Pembantu II    : Koco Sungkono dari Pemuda Indonesia
Pembantu III   : Senduk dari Jong Celebes
Pembantu IV   : J. Leimena dari Jong Ambon
Pembantu V    : Rohyani dari Pemuda Kaum Betawi

Kongres Pemuda II ini dilaksanakan selama dua hari, pada tanggal 27-28 Oktober 1928. Persidangan yang dilaksanakan sebanyak tiga kali di antaranya membahas persatuan dan kebangsaan Indonesia, pendidikan, serta pergerakan kepanduan. Kongres tersebut berhasil mengambil suatu keputusan yang hingga saat ini dikenal dengan Sumpah Pemuda sebagai berikut.

Pertama          : Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.
Kedua              : Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia.
Ketiga              : Kami putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Rumusan tersebut dibuat oleh sekretaris panitia, Moh. Yamin, dan dibacakan oleh ketua kongres, Sugondo Joyopuspito, secara hikmat di depan kongres. Selanjutnya diperdengarkan lagu Indonesia Raya yang diciptakan dan dibawakan oleh Wage Rudolf Supratman dengan gesekan biola. Peristiwa bersejarah itu merupakan hasil kerja keras para pemuda pelajar Indonesia. Walaupun organisasi peserta kongres masih merupakan organisasi pemuda kedaerahan, mereka secara ikhlas hati melepaskan sifat kedaerahannya masing-masing. Dengan tiga butir Sumpah Pemuda itu, setiap organisasi pemuda kedaerahan secara konsekuen dan konsisten meleburkan diri ke dalam satu wadah yang telah disepakati secara bersama, yakni Indonesia Muda.

Sources -->
*Mustopo, Prof. Dr. M. Habib (2011). "Sejarah 2 SMA Kelas XI Program IPA". Penerbit Yudhistira
*Azulle.wordpress.com
*Ahmadalbin2.blogspot.com
*strategi-militer.blogspot.com

Kearifan Suksesi Khas Aceh – Perjuangan Rakyat Aceh

Illustrasi suasana wilayah Kesultanan Aceh Darussalam.



Teuku Umar.



Cut Nyak Dien.



Panglima Polim.


Oleh : Ajisaka Lingga Bagaskara

Kita sudah pernah membahas, mengenai Kesultanan Aceh Darussalam pada Link Kesultanan Aceh, dan kali ini akan kita bahas mengenai kesuksesan suksesi Aceh, atau perjuangan Aceh dalam menghadapi penjajah Eropa.

Pada tanggal 28 September 1571, Sultan Alauddin wafat. Ketegangan suksesi pun terjadi, hingga kemudian seorang ulama tua bernama Sayyid Al-Mukammil disepakati menjadi raja. Ali Riayatsyah menggantikan Al Mukammil. Dan beberapa waktu kemudian, Aceh diserbu oleh bangsa Portugis. Raja meninggal dunia dalam serbuan tersebut. Iskandar Muda, keponakan yang tengah di penjara oleh raja, bangkit memimpin perlawanan dan mampu mengusir Portugis. Di dalam kitab Bustanus-Salatin menyebutkan bahwa Iskandar Muda dinobatkan menjadi raja pada tanggal 6 Dzulkhijjah 1015 H, atau pada awal April 1607.

Para bangsawan kerajaan dikontrol dengan keras oleh Iskandar Muda. Mereka diharuskan ikut jaga malam di istana setiap tiga hari sekali tanpa membawa senjata. Setelah semua terkontrol, Iskandar Muda memegang kendali terhadap produksi beras. Di masanya, Kesultanan Aceh Darussalam mengekspor beras keluar wilayah. Ia juga memperketat pajak kelautan bagi kapal-kapal asing, mengatur kembali pajak perniagaan, bahkan juga mengenai harta untuk kapal karam.

Untuk bidang militer, Iskandar Muda membangun angkatan perang yang sangat kuat. Seorang dari negeri asing, kemungkinan besar Perancis, bernama Beaulieu mencatat jumlah pasukan darat Kesultanan Aceh sekitar 40 ribu orang. Untuk armada laut, diperkirakan Aceh memiliki 100-200 kapal perang, di antaranya kapal selebar 30 meter dengan awak 600-800 orang yang dilengkapi dengan tiga buah meriam. Ia juga mempekerjakan seorang penjajah sebagai penasihat militer yang mengenalkan teknik perang bangsa penjajah asing, yakni Perancis. Akibatnya, Kesultanan Aceh meraih banyak sekali kesuksesan dalam mengekspansi kesultanannya hingga ke luar wilayah. Seperti, dijebolnya Benteng Deli, dan penaklukkan beberapa kerajaan kecil, seperti contohnya Johor (1613), Pahang (1618), Kedah (1619), serta Tuah (1620).

Puncak Kejayaan Kesultanan Aceh terjadi ketika Kesultanan Aceh mengalami masa keemasan pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Pada masa kepemimpinannya ini, Aceh telah berhasil memukul mundur kekuatan militer bangsa Portugis dari selat Malaka. Kejadian ini bahkan dilukiskan dalam La Grand Encyclopedie bahwa pada tahun 1582, bangsa Aceh sudah meluaskan pengaruhnya atas pulau-pulau Sumatera, Jawa dan Borneo serta atas sebagian tanah Semenanjung Melayu. Selain itu Aceh juga melakukan hubungan diplomatik dengan semua bangsa yang melayari Lautan Hindia. Tahun 1586, kesultanan Aceh sudah pernah mencoba untuk melakukan penyerangan terhadap bangsa Portugis di Malaka dengan armada yang terdiri dari 500 buah kapal perang dan 60 ribu tentara angkatan laut. Serangan ini dilakukan dalam rangka memperluas dominasi Aceh atas Selat Malaka dan semenanjung Melayu. Walaupun Aceh telah berhasil mengepung Malaka dari segala penjuru, namun penyerangan ini berakhir dengan sebuah kegagalan yang besar dikarenakan adanya sebuah persekongkolan antara bangsa Portugis dengan kesultanan Pahang.

Dalam lapangan pembinaan kesusastraan dan ilmu keagamaan, Aceh telah melahirkan beberapa ulama ternama, yang mana karangan mereka menjadi rujukan utama dalam bidang masing-masing, seperti Hamzah Fansuri dalam kitabnya Tabyan Fi Ma’rifati al AdyanSyamsuddin al Sumatrani dalam kitabnya Mi’raj al Muhakikin al ImanNuruddin ar Raniry dalam kitabnya Sirat al Mustaqim, dan Syekh Abdul Rauf Singkel dalam kitabnya Mi’raj al Tulabb Fi Fashil.

Iskandar Muda meninggal dunia pada tanggan 29 Rajab 1046 H, atau 27 Desember 1636. Beliau digantikan oleh menantunya, Sultan Iskandar Tsani yang lembut. Tidak bertangan besi seperti mertuanya, Iskandar Tsani lebih menitikberatkan pada masalah keagamaan ketimbang kekuasaan. Begitu pula dengan istrinya, Sultan Taju al Alam Syafiatuddin Syah (1641-1675) setelah Sultan Iskandar Tsani meninggal dunia. Setelah itu, tiga perempuan memegang kendali atas kerajaan Aceh. Mereka adalah Sultanah Nurul Alam Zakiatuddin Syah (1675-1677), Ratu Inayat Zakiatuddin Syah(1677-1688) dan Ratu Kamalat (1688-1699). Pada tahun 1631-1641 Kesultanan Aceh pernah dipimpin oleh menantu dari Sultan Iskandar Muda, yang bernama Sultan Iskandar Tsani. Ada beberapa kalangan yang tidak menyetujui pengangkatan Sultan Iskandar Tsani dikarenakan beliau berasal dari Pahang, Semenanjung Malaka. Beliau diangkat berdasarkan wasiat Sultan Iskandar Muda agar hubungan antara Aceh dan daerah bawahannya di Semenanjung Malaka tetap terjaga dengan baik. Pada masa Iskandar Tsani ada seorang ulama yang berasaldari tanah Gujarat, yaitu Syekh Nurrudin ar Raniri. Ulama ini menulis kitab as-Sirat al Mustayim mengenai ibadah-ibadah dalam Islam, dan atas permintaan sultan beliau pun menulis kitab Bustah as-Salatin.

Setelah Sultan Iskandar Tsani wafat, Kesultanan Aceh secara berturut-turut diperintah oleh empat sultan wanita. Yang pertama adalah Sultanah Safiatuddin Tajul Alam, seperti yang sudah kita bahas tadi, putri Iskandar Muda dan janda Iskandar Tsani, yang memerintah pada tahun 1641-1675. Pada awal pemerintahannya, kegemilangan Aceh di bidang politik, ekonomi, dan militer mulai mengalami suatu penurunan karena adanya ketidakseganan dari sebagian orang kepada pemimpin wanita, dan karena meningkatnya kekuasaan para hulubalang. Urusan yang memerlukan wali haki atau imam shalat sepenuhnya diserahkan kepada Qadi Malik al ‘Adil atau hakim agung sultan.

Di masanya ar Raniri meninggalkan Aceh. Akan tetapi, tak lama kemudian kedudukannya sebagai ulama besar kerajaan digantikan oleh Abdur Rauf Singkel. Ulama ini dikenal dalam sejarah Aceh sebagai Tungku Syiah Kuala. Atas permintaan ratu, Abdur Rauf Singkel menulis kitab “Mir’at at-Tullab fi Tahsil Ma’rifat Ahmad asy Syar’iyyah li al Malik al Wahhab” panjang bener nih, ini artinya biar tidak bingung yaa (Cermin bagi Mereka yang Menuntut Ilmu Fikih pada Memudahkan Mengenal Segala Hukum Syara’ Allah) pada tahun 1663. Ratu juga menggalakkan pendidikan agama Islam melalui Jamiah Baiturrahman di Banda Aceh, dan mengirim kitab-kitab karangan ulama Aceh dan Al-Quran kepada raja-raja Ternate, Tidore, dan Bacan di Maluku di samping guru-guru agama dan ulama. Dapat ditegaskan kembali, bahwa sultan berikutnya adalah Sri Ratu Naqiyatuddin Nurul Alam, kemudian Inayat Syah, dan terakhir Kamalat Syah. Pemerintahan sultanan (sultan wanita) akhirnya tidak diteruskan dikarenakan adanya fatwa dari Mekkah bahwa hukum Syariat Islam melarang wanita untuk memerintah negara (1699). Kesultanan Aceh pada permulaan abad ke-18 Masehi mengalami serangkaian perebutan tahta. Beberapa sultan yang saling bersaing adalah golongan Sayid, turunan Fatimah binti Muhammad SAW, yang lahir di Aceh. Dari Sayid yang menjadi sultan di antaranya adalah Jamalul Alam Badrul Munir, yang memerintah pada tahun 1703-1726. Sultan ini dijatuhkan pada tahun 1726, dan setelah itu melancarkan perlawanan terhadap sultan-sultan sesudahnya, termasuk Sultan Ahmad Syah (1727-1735) dan putranya, Sultan Johan (1735-1760). Jamalul Alam akhirnya meninggal dalam sebuah pertempuranmelawan Sultan Johan. Pada masa Sultan Juhauti, pada tahun 1740 seorang ulama bernama Syekh Muhammad Kamaluddin bin Kadi Khatib Tursani (coba kalau pas mengisi lembar jawab Ujian, pasti keblinger dah…), beliau menulis sebuah kitab yang berjudul Safinat al Hukkam fi Takhlis al Khassam (Bahtera Segala Hukum untuk Menyelesaikan Segala Orang yang Berkesumat). Tahun 1816 Sultan Syaiful Alam itu bertikai dengan Jauharul Alam Aminuddin yang telah disebutkan, dan akhirnya dapat memenangkan ketegangan suksesi dan menjadi sultan Aceh dengan bantuan bangsa Inggris. Setelah itu Aceh mengikat perjanjian dengan Inggris yang diwakili oleh Sir. Thomas Stamford Raffles untuk memberikan kesempatan berniaga bagi Inggris di Kesultanan Aceh, dan Inggris memberikan jaminan keamanan dan perlindungan bagi Aceh. Perjanjian ini dibuat pada tanggal 22 April 1818.

Pada tanggal 17 Maret 1824 Inggris dan koloni Belanda membuat sebuah perjanjian di London yang antara lain berisi penghormatan kedaulatan Aceh oleh pihak koloni Belanda. Pada tanggal 2 November 1871 dibuat perjanjian baru, Traktat Sumatra, antara koloni Belanda dan Inggris dengan membatalkan Perjanjian London. Perjanjian baru ini memberi kebebasan Inggris yang sangat luas untuk mengembangkan kekuasaan barunya di Malaya, dan bagi koloni Belanda untuk memperluas kekuasaannya di Sumatra.

Kesultanan Aceh dituduh oleh koloni Belanda telah melindungi para bajak laut dan perdagangan budak, dan mengancam keselamatan saudagar-saudagar asing dari luar yang ingin membeli lada di pesisir Aceh, dan juga armada Aceh sering kali menyerang negeri-negeri tetangga. Kesultanan Aceh terus berjalan, akan tetapi pamornyaterus menyurut. Pertikaian internal terus berlangsung. Sementara pusat kegiatan ekonomi dan politik bergeser ke wilayah selatan Riau-Johor-Malaka. Aceh akhirnya baru muncul kembali dua abad kemudian, yakni akhir abad ke-19, ketika koloni Bbelanda berusaha menguasai wilayah tersebut secara penuh. Pemberontakan oleh para bangsawan Aceh terjadi. Sekali lagi, sejarah Aceh akan kepemimpinan perempuan yakni perlawanan Cut Nya Dien, sekalipun harus berjuang sendiri tanpa Teuku Umar dan Panglima Polim. Kepemimpinan sosok perempuan di Aceh terwujud dengan perjuangan Cut Nya Dien melawan para koloni Belanda.

Dengan alasan ini penjajah melanggar kedaulatan Aceh dengan menyerbu ibu kota Kesultanan Aceh pada tahun 1873, menduduki Banda Aceh dan kota-kota pantai lainnya. Bulan Januari 1874, istana Kesultanan Aceh akhirnya dapat direbut oleh koloni Belanda, akan tetapu Sultan Mahmud Syah, dapat meloloskan diri bersama Panglima Polim. Sultan kemudian meninggal karena sakit dan perjuangan melawan koloni Belanda diteruskan oleh panglima-panglimanya dan rakyat Aceh hingga tahun 1903. Tahun 1874, koloni Belanda menyatakan Aceh dan daerah bawahannya menjadi kepunyaan pemerintah Hindia Belanda. Sekalipun Kesultanan Aceh dihapuskan, rakyat Aceh setelah itu masih memiliki seorang sultan, yaitu Sultan Muhammad Daud Syah, yang dinobatkan di Masjid Indapuri pada tahun 1875. Namun ia ditangkap pada tahun 1903, dan kemudian dibuang ke Ambon pada tahun 1907, dan meninggal dunia pada tahun 1939. Pada akhirnya, kemerdekaan Aceh dapat direbut kembali melalui perjuangan diplomatik secara nasional yang kemenangannya diproklamasikan di Jakarta, pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Ir. Soekarno.

Sources --> 
*Buku “The Golden History”, oleh Nurul Awaluddin, terbitan “elmatera-publishing”
*desra88.blogspot.com
*acehtourismagency.blogspot.com

Monday, 20 January 2014

Partai Nasional Indonesia



Suasana pada salah satu rapat PNI.


 Gubernur Jenderal de Graff, penguasa Hindia Belanda yang melaksanakan penangkapan terhadap tokoh-tokoh PNI di tahun 1929.


 Ir. Soekarno dan kawan-kawan yang pembelanya di depan pengadilan kolonial di Bandung tahun 1930.


Oleh : Ajisaka Lingga Bagaskara

Partai Nasional Indonesia (PNI) dibentuk di Bandung padatanggal 4 Juli 1927 dengan tokoh-tokohnya Ir. Soekarno, Iskaq, Budiarto, Cipto Mangunkusumo,Tilaar, Soedjadi, dan Sunaryo. Dalam pengurus besar PNI, Ir. Soekarno ditunjuk sebagai ketua, Iskaq sebagai sekretaris sekaligus merangkap sebagai Bendhara, dan Dr. Samsi sebagai komisaris partai. Sementara itu, dalam perekrutan anggota disebutkan bahwa mantan anggota PKI tidak diperkenankan menjadi anggota PNI, juga pegawai negeri yang memungkinkan berperan sebagai mata-mata pemerintah kolonial Hindia-Belanda.

Dalam anggaran dasarnya dinyatakan bahwa tujuan PNI adalah hendak bekerja untuk kemerdekaan Indonesia. Tujuan tersebut hendak dicapai dengan asas “percaya pada diri sendiri.” Artinya, memperbaiki keadaan politik, ekonomi, dan sosial dengan kekuatan dan kebiasaan sendiri. Sikapnya yang non-kooperatif diwujudkan antara lain dengan tidak ikut dalam dewan-dewan yang dibentuk oleh pemerintah kolonial.

Cabang-cabang pertama PNI didirikan di Bandung, Surabaya, dan Batavia. Menyusul kemudian pada tahun 1928 berdiri cabang lainnya, seperti di Yogyakarta, Semarang, Pekalongan, Palembang, Makassar dan Manado. Pada akhir tahun 1928, anggota PNI mengalami kenaikan yang pesat hingga mencapai 3860 orang. Kenaikan tersebut merupakan hasil dari propaganda yang sangat aktif dilakukan. Jelas sekali bahwa popularitas rapat-rapat umum yang diselenggarakan oleh PNI itu disebabkan pengaruh Ir. Soekarno dengan pidato-pidatonya yang sangat khas dan mamu menarik perhatian dan simpati dari masyarakat banyak.

Ada dua macam cara yang dilakukan oleh PNI untuk memperkuat diri dan pengaruhnya di dalam masyarakat.
a. Usaha ke dalam, yaitu usaha-usaha terhadap lingkungan sendiri, antara lain mengadakan kursu-kursus, mendirikan sekolah-sekolah, dan bank-bank.
b. Usaha ke luar dengan memperkuat opini publik terhadap tujuan PNI, antara lain melalui rapat-rapat umum dan menerbitkan surat kabar Banteng Priangan di Bandung dan Persatuan Indonesia di Batavia.

Kegiatan PNI yang dengan cepat dapat menarik massa yang sangat banyak membuat suatu kecemasan dan kekhawatiran tersendiri di kalangan pemerintahan kolonial Hindia-Belanda. Gubernur Jenderal yang berkuasa pada saat itu dalam pembukaan sidang Volksraad pada tanggal 15 Mei 1928 mengharapkan kesadaran rakyat terhadap nasionalisme yang ekstrem. Dikemukakan juga bahwa sikap non-kooperatif yang dijalankan oleh PNI bersifat bermusuhan terhadap pemerintah. Meskipun ada peringatan halus tersebut, cabang-cabang PNI malah bermunculan di berbagai wilayah Indonesia. Hingga pada akhir tahun 1929, kandidiat anggota PNI berjumlah sekitar 10.000 orang, di antaranya 6000 orang di daerah Priangan, Bandung.

Propaganda PNI menimbulkan suatu dorongan baru dalam pikiran dan perasaan orang Indonesia. Propaganda itu dirancang oleh Perhimpunan Indonesia dan dilaksanakan oleh PNI. Dalam melaksanakan kegiatannya, PNI juga banyak dibantu oleh tokoh-tokoh mantan anggota Perhimpunan Indonesia. Apabila dibandingkan dengan jumlah anggota Sarekat Islam, jumlah anggota PNI memang jauh lebih kecil. Akan tetapi, pengaruh Ir. Soekarno sebagai seorang pemimpin PNI dan pemimpin Indonesia telah meluas dan meresap di lakangan masyarakat luas Indonesia.

Sukses yang dicapati oleh PNI tidak lepas dari paham yang dianutnya, yaitu Marhaenisme. Kata Marhaen menurut Soekarno adalah nama seorang petani kecil yang dijumpainya dan menurutnya mewakili kelas sosial yang rendah (dapat dibandingkan juga sebagai golongan Proletar atau golongan Plebians seperti di zaman Romawi kuno). Di dalam perjuangan nasional, nasib kaum Marhaen harus ditingkatkan. Hal itu dapat dilakukan dengan gerakan massa menuntut kemerdekaan sebagai syarat terciptanya kondisi hidup yang lebih baik bagi kaum Marhaen.

Tindakan progresif PNI dilakukan dengan mengadakan rapat-rapat umum yang selalu dibanjiri massa. Hal itu tidak terlepas dari peran Ir. Soekarno sebagai seorang orator ulung dengan menggunakan bahasa-bahasa yang mudah dimengerti oleh rakyat. Gerakan-gerakan massa yang dipelopori oleh PNI menimbulkan kecurigaan dan kegelisahan pemerintah kolonial. Selain itu, ada pula kecurigaan bahwa PNI memiliki suatu hubungan erat dengan Perhimpunan Indonesia serta kaum Komunis. Oleh karena itu, pemerintah kolonial menganggap tindakan-tindakan PNI itu sebagai hasutan terhadap rakyat, bahkan dianggap sebagai serangan kaum Komunis kedua setelah pemberontakan PKI di tahun 1926.

Kemajuan yang dicapai oleh PNI juga telah mengkhawatirkan orang-orang reaksioner Belanda di Indonesia. Mereka kemudian membentuk Vanderlandsche Club pada tahun 1929. Organisasi itu kemudian mendesak kepada pemerintah kolonial agar segera mengambil suatu tindakan tegas terhadap PNI. Demikian juga banyak surat kabar Belanda yang mengadakan kampanye aktif melawan propaganda PNI.

Para pejabat kolonial di daerah-daerah juga menjalankan sebuah aturan yang sangat ketat, antara lain melarang pegawai negeri dan militer menjadi anggota PNI, memperketat perizinan untuk mengadakan rapat-rapat, dan memperkeras pengawasan. Sementara itu, para pemuka PNI dari cabang-cabang semakin tidak dapat mengendalikan semangatnya untuk mengadakan pergerakan-pergerakan massa.

Peningkatan kegiatan rapat-rapat umum di cabang-cabang sejak bulan Mei 1929 menimbulkan suasana yang tegang. Pemerintah kolonial Belanda lebih banyak melakukan pengawasan secara tegas terhadap kegiatan-kegiatan PNI yang dianggap membahayakan keamanan dan ketertiban. Sering kali polisi menghentikan pidato karena ucapan-ucapan dalam pidato tersebut sangat menghasut rakyat. Akhirnya, pemerintahan HindiaBelanda beranggapan bahwa tiba saatnya untuk melakukan suatu tindakan terhadap PNI. Bahkan, Gubernur Jenderal de Graeff telah mendapatkan tekanan dari golongan konservatif Belanda yang tergabung juga dalam Vanderlansche Club untuk bertindak tegas karena mereka berkeyakinan bahwa PNI melanjutkan taktik PKI.

Pemerintah kolonial Hindia-Belanda kemudian melakukan penangkapan dan penggeledahan di banyak tempat. Pada tanggan 29 Desember 1929, Ir. Soekarno (Ketua PNI), R. Gatot Mangkupraja (Sekretaris II PB PNI), Maskoen Sumadireja (Sekretaris II Pengurus PNI cabang Bandung), dan Supriadinata (anggota PNI cabang Bandung) ditangkap oleh polisi Belanda di Yogyakarta. Selain itu, di Batavia dilakukan penggeledahan dan penangkapan, di Bandung 41 penangkapan, di Cirebon 24 penangkapan, di Pekalongan 42 penangkapan, di Sukabumi dan Cianjur 31 penangkapan, Surakarta 11 penangkapan, di Medan 25 penangkapan, serta di tempat-tempat lain di Indonesia yang jumlah semuanya lebih dari 400 penangkapan. Kaum pergerakan nasional melakukan protes keras, demikian halnya Perhimpunan Indonesia, Partai Buruh dan Partai Komunis di negeri Belanda itu sendiri.

Empat tokoh PNI yang ditangkap tersebut kemudian diajukan ke pengadilan di Bandung. Sidang pengadilan itu dilakukan pada tanggal 18 Agustus hingga 29 September 1930. Dalam sidang tersebut, Ir. Soekarno membacakan sebuah pidato pembelaan yang berjudul Indonesia Menggugat. Dalam pidato pembelaannya itu, Ir. Soekarno menandaskan “Kini telah jelas bahwa pergerakan nasional di Indonesia bukanlah bikinan kaum intelektual dan kaum komunis saja, tetapi merupakan reaksi umum yang wajar dari rakyat jajahan yang dalam batinya telah merdeka. Revolusi Industri adalah revolusinya zaman sekarang, bukan revolusinya sekelompok-kelompok rakyat kecil kaum intelektual, tetapi revolusinya bagian terbesar rakyat di dunia yang terbelakang dan diperbodoh.” Pada tanggal 22 Desember 1930, para pemimpin PNI tersebut dijatuhi hukuman penjara di Sukamiskin, Bandung.

Sources -- > Buku Sejarah 2 SMA Kelas XI Program IPA, oleh M. Habib Mustopo dkk, terbitan Yudhistira.

The Golden History - The World’s Great Philosopher




Written by : Ajisaka Lingga Bagaskara
Greeks became a country that produced many great philosopher that affected many modern thought. Socrates (469-399 BCE), Plato (427-347 BCE), and Aristotles (384-322 BCE) were some of the world’s great philosopher. Socrates was a brilliant philosopher that was reputed to be “the Father of Western Philosopher”. Socrates believe that humans live for a purpose and the terms of “right” or “false” were on the important role on deciding the relationship between humans and it’s environtment or human with the other human. His theory said that the purpose of an ideal government was for creating many wise individual that would lead for the goodness of it’s citizen.
Plato, in the other hands, wrote the book “The Republic”. In this books Plato was thingking about “a perfect country where an ethic, a wisdom anda reason stood in the balance.” Plato was more struggling on the founding of a wiseful rather than receiving a dogmatism.
Also Aristitoles, a philosopher that also learned a physician science and applying a systematics methods to studying the relationship between human and the other aspect in the world arround us. Aristotles was the teacher of Alexander the Great. The thingking of Aristotles then were united with the Thomas Acquinas’s thought (1225-1274). 

SOCRATES


Socrates 470/469 BC–399 BC was a classical Greek (Athenian) philosopher. Credited as one of the founders of Western philosophy, he is an enigmatic figure known chiefly through the accounts of later classical writers, especially the writings of his students Plato and Xenophon and the plays of his contemporary Aristophanes. Many would claim that Plato's dialogues are the most comprehensive accounts of Socrates to survive from antiquity.

Through his portrayal in Plato's dialogues, Socrates has become renowned for his contribution to the field of ethics, and it is this Platonic Socrates who lends his name to the concepts of Socratic irony and the Socratic method, or elenchus. The latter remains a commonly used tool in a wide range of discussions, and is a type of pedagogy in which a series of questions is asked not only to draw individual answers, but also to encourage fundamental insight into the issue at hand. Plato's Socrates also made important and lasting contributions to the field of epistemology, and the influence of his ideas and approach remains a strong foundation for much western philosophy that followed.

PLATO


Plato 424/423 BC–348/347 BC was a philosopher in Classical Greece. He was also a mathematician, student of Socrates, writer of philosophical dialogues, and founder of the Academy in Athens, the first institution of higher learning in the Western world. Along with his mentor, Socrates, and his most-famous student, Aristotle, Plato helped to lay the foundations of Western philosophy and science. Alfred North Whitehead once noted: "the safest general characterization of the European philosophical tradition is that it consists of a series of footnotes to Plato."

Plato's sophistication as a writer is evident in his Socratic dialogues; thirty-six dialogues and thirteen letters have been ascribed to him, although 15–18 of them have been contested. Plato's writings have been published in several fashions; this has led to several conventions regarding the naming and referencing of Plato's texts. Plato's dialogues have been used to teach a range of subjects, including philosophy, logic, ethics, rhetoric, religion and mathematics. Plato is one of the most important founding figures in Western philosophy. His writings related to the Theory of Forms, or Platonic ideals, are basis for Platonism. 

ARISTOTLES


 
Aristotle 384–322 BCE was a Greek philosopher born in Stagirus in 384 BCE. His father, Nicomachus, died when Aristotle was a child and he lived under a guardian's care. At the age of eighteen, he joined Plato’s Academy in Athens and remained until the age of thirty-seven, around 347 BCE. His writings cover many subjects, including physics, metaphysics, poetry, theater, music, logic, rhetoric, linguistics, politics, government, ethics, biology, and zoology. Aristotle's writings were the first to create a comprehensive system of Western philosophy, encompassing ethics, aesthetics, logic, science, politics, and metaphysics. Shortly after Plato died Aristotle left Athens, and at the request of Philip of Macedonia he became a tutor for Alexander in 356–323 BCE. According to the Encyclopædia Britannica, “Aristotle was the first genuine scientist in history. . . . Every scientist is in his debt.”

Aristotle achieved merit through teaching Alexander the Great. This distinction allowed him many opportunities, including an abundance of supplies. He established a library in the Lyceum which aided in the production of many of his hundreds of books. The fact that Aristotle was a pupil of Plato contributed to his former views of Platonism, but following Plato’s death, Aristotle immersed himself in empirical studies and shifted from Platonism to empiricism . He believed all peoples' concepts and all of their knowledge was ultimately based on perception. Aristotle’s views on natural sciences, including philosophy of the mind, body, sensory experience, memory, and biology represent the groundwork underlying many of his works.

Aristotle's views on the physical sciences profoundly shaped medieval scholarship, and their influence extended well into the Renaissance, although they were ultimately replaced by Newtonian physics. In the zoological sciences, some of his observations were confirmed to be accurate only in the 19th century. His works contain the earliest known formal study of logic, which was incorporated in the late 19th century into modern formal logic.

In metaphysics, Aristotelianism had a profound influence on philosophical and theological thinking in the Islamic and Jewish traditions in the Middle Ages, and it continues to influence Christian theology, especially the scholastic tradition of the Catholic Church. Aristotle was well known among medieval Muslim intellectuals and revered as 'المعلم الأول' – "The First Teacher".

His ethics, though always influential, gained renewed interest with the modern advent of virtue ethics. All aspects of Aristotle's philosophy continue to be the object of active academic study today. Though Aristotle wrote many elegant treatises and dialogues (Cicero described his literary style as "a river of gold"), it is thought that the majority of his writings are now lost and only about one-third of the original works have survived.


HIPPOCRATES

The same one with the other philosophy that was made above the foundation that created by Socrates, Plato, and Aristotles, the world of medicinery also born from the golden age of Greeks. Hippocrates (460-377 BCE) was a Greeks doctor that made a concept that when someone cure the others, a persons should “consider the nature characteristic of a human in the general, and from one individu and all of the sickness’s character.” In other words, a doctor should learning the relationship between all human’s body mechanism structure rather than only focus on specific symptom.
Hippocrates 460–370 BCE, was an ancient Greek physician of the Age of Pericles (Classical Greece), and is considered one of the most outstanding figures in the history of medicine. He is referred to as the father of western medicine in recognition of his lasting contributions to the field as the founder of the Hippocratic School of Medicine. This intellectual school revolutionized medicine in ancient Greece, establishing it as a discipline distinct from other fields that it had traditionally been associated with (notably theurgy and philosophy), thus establishing medicine as a profession.

However, the achievements of the writers of the Corpus, the practitioners of Hippocratic medicine, and the actions of Hippocrates himself were often commingled; thus very little is known about what Hippocrates actually thought, wrote, and did. Hippocrates is commonly portrayed as the paragon of the ancient physician, credited with coining the Hippocratic Oath, still relevant and in use today. He is also credited with greatly advancing the systematic study of clinical medicine, summing up the medical knowledge of previous schools, and prescribing practices for physicians through the Hippocratic Corpus and other works.
The Hippocrates thought were one step ahead than on it’s epoch. In that periods the health problem were handled by shaman, an indigenous medical pratitioner, and a paranormal. Hippocrates wrote some medical ethics rule. Hippocrates realized that the broken parts should be unified again to make a normal healing. Scientifically, the Hippocrates work were very limited. However, Hippocrates left many inventation that should be continued in the next generation. The Hippocrates oath, that was written on his book, still became a base foundation of relationship between and doctor and it’s patient, the doctors duty to it’s patient, and the doctors duty to cure anyone, without seeing his status in social.

Sources -->
*An Indonesians books, “The Golden History” written by Nurul Awaluddin, published by elmatera-publishing.
*Wikipedia, the free encyclopedia.
Powered by Blogger.