Pages

Monday, 9 December 2013

Partai Komunis Indonesia

Palu Arit merupakan simbol resmi dari Partai Komunis Indonesia.



Pengurus ISDV di Semarang, Sneevliet duduk di tengah bersama anggota-anggotanya. 

Semaun, ialah tokoh golongan kiri dalam Sarekat Islam.


Tan Malaka (atas) dan Abdul Muis. Kedua tokoh ini ditahan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda karena terlibat dalam aksi pemogokan besar-besaran tahun 1922.


 Musso ialah salah satu pendiri Partai Komunis Indonesia. Ia juga merupakan salah satu simpatisan Komintern.


Oleh : SS-Hauptsturmf├╝hrer Ajisaka Lingga Bagaskara

Benih-benih paham Marxisme datang dan ditanamkan di Indonesia pada masa sebelum meletusnya Perang Dunia I, yaitu saat datangnya seorang pemimpin buruh Belanda bernama H.J.F.M Sneevliet. Di Indonesia, beliau mula-mula bekerja sebagai anggota staf redaksi surat kabar Soerabajasch Handelsblad. Pada tahun 1913, beliau pindah ke Semarang dan menjadi sekretaris Semarangse Handelsvereniging. Bagi Sneevliet, menetap di Semarang lebih menguntungkan karena kota itu merupakan pusat dari Vereniging van Spoor en Tramweg Personeel (VSTP), serikat buruh tertua di Indonesia. Dalam waktu singkat, Sneevliet berhasil membawa VSTP ke arah yang lebih radikal.
Pada tanggal 9 Mei 1914, Sneevliet bersama dengan orang-orang sosialis lainnya, seperti J.A. Brandsteder, H.W, Dekker, dan P. Bergsma berhasil mendirikan Indische Sociaal-Demokratische Vereniging (ISDV). Sneevliet dan kawan-kawannya merasa ISDV lambat berkembang karena tidak mengakar dalam masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Oleh karena itu, mereka menganggap lebih efektif untuk bersekutu dengan gerakan yang lebih besar agar dapat menjadi sebuah penghubung kepada rakyat Indonesia. Pada mulanya, mereka bersekutu dengan Insulinde. Namun, karena tidak dapat memenuhi sasaran dan tujuan ISDV, setelah satu tahun kerja sama itu bubar.
Sasaran kemudian diarahkan kepada Sarekat Islam yang ketika itu telah memiliki anggota ratusan ribu orang dan merupakan gerakan raksasa dalam pergerakan nasional Indonesia. ISDV ternyata berhasil melakukan penyusupan (infiltrasi) ke dalam SI. Caranya yaitu dengan menjadikan anggota ISDV menjadi anggota SI dan juga sebaliknya. Dalam waktu satu tahun, Sneevliet dan kawan-kawan telah memiliki pengaruh yang kuat di kalangan anggota-anggota SI.Mereka memperkuat pengaruhnya dengan menggunakan momentum keadaan buruh akibat Perang Dunia I, panen padi yang buruk, dan ketidakpuasan buruh perkebunan karena upah yang rendah dan membumbungnya harga-harga.
Beberapa hal yang menyebabkan keberhasilan ISDV melakukan penyusupan ke dalam tubuh SI adalah berikut ini.
a. Central Sarekat Islam (CSI) sebagai badan koordinasi pusat SI masih sangat lemah kekuasaannya sehingga setiap cabang bertindak sendiri-sendiri secara bebas.
b. Kondisi kepartaian pada saat itu memungkinkan seseorang menjadi anggota lebih dari satu partai.
Langkah Sneevliet berikutnya adalah menjadikan beberapa pemimpin muda SI sebagai pemimpin ISDV, seperti Semaun dan Darsono. Pada tahun 1916, Semaun dan Darsono menjadi anggota SI cabang Surabaya yang ketika itu menjadi pusat dari SI (CSI). Tidak lama kemudian, Semaun pindahke Semarang yang telah mendapatkan pengaruh kuat dari ISDV. Karena orientasinya yang Marxis di bawah pengaruh ISDV, mereka berseberangan dengan CSI yang dipimpin oleh H.O.S Cokroaminoto.
Pada tahun 1917, ISDV mengerahkan serdadu-serdadu dan pelaut Belanda untuk aksi-aksi mereka. Dalam waktu 3 bulan, mereka berhasil mengumpulkan sekitar 3.000 orang ke dalam gerakannya. Kaum merah ini mengorganisasi demonstrasi-demonstrasi yang dilakukan oleh serdadu-serdadu dan para pelaut sehingga terjadi bentrokan dengan polisi setempat. Sementara itu, partai-partai moderat seperti Boedi Oetomo, Insulinde, dan Sarekat Islam mendesak kepada pemerintah kolonial Belanda untuk menggantikan Volksraad dengan parlemen pilihan rakyat.
Krisis November tersebut segera mereda setelah Gubernur Jenderal van Limburg Stirum menjanjikan akan mengadakan perubahan-perubahan yang luas. Akan tetapi, setelah suasana mulai terkendali pemerintah kolonial segera mengambil tindakan-tindakan keras. Anggota-anggota militer yang indisipliner dihukum berat, sedangkan pegawai negeri yang terlibat dimutasikan. Sneevliet diusir, sedangkan Darsono, Abdul Muis, dan beberapa pemimpin Indonesia lainnya ditangkap.
Selama tahun 1919 merupakan masa-masa sulit bagi para anggota golongan Eropa di dalam ISDV. Banyak di antara mereka yang dipenjara atau diusir dari Hindia Belanda sehingga peran golongan Eropa dalam ISDV menjadi sangat berkurang. Oleh karena itu, muncullah tokoh-tokoh bangsa Indonesia sebagai pemimpin ISDV, seperti Semaun dan Darsono. Di dalam SI pun, kedua tokoh itu semakin mendapatkan kedudukan yang sangat penting. Dalam kongres SI pada tahun 1918 sebelumnya, Darsono diangkat menjadi propagandis resmi SI dan Semaun diangkat sebagai Komisaris Wilayah Jawa Tengah. Pada tahun 1919, para pemimpin ISDV dari golongan bangsa Indonesia itu berupaya meningkatkan pengaruhnya terhadap SI agar menjadi lebih radikal.
Ketika partai Social Democratische Arbeiderspartij (SDAP) di Belanda pada tahun 1918 mengumumkan dirinya menjadi Partai Komunis Belanda (CPN), para anggota ISDV dari golongan Eropa mengusulkan untuk mengikuti jejak tersebut. Oleh karena itu, pada tanggal 23 Mei 1920 ISDV mengubah namanya menjadi Partai Komunis Hindia, kemudian pada bulan Desember 1920 diubah lagi menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).Di dalam susunan pengurus yang baru terbentuk tertera antara lain Semaun sebagai ketua, Darsoso sebagai wakil ketua, Bergsma sebagai sekretaris, Dekker sebagai bendahara, serta Baars dan Sugono sebagai anggota pengurus.
Ketika Komintern (Komunis Internasional) dibentuk pada tahun 1919, pengaruhnya telah terasa di Indonesia. Karena banyaknya kegagalan dalam merencanakan program komunis di Asia, Vladimir Lenin kemudian menyatakan bahwa untuk Asia garis politik Komintern harus mendekari dan bekerja sama dengan kaum Borjouis nasional (kaum terpelajar yang menjadi pemimpin pergerakan nasional) dan mempergunakan organisasi nasional rakyat terjajah.
Sementara itu, di dalam tubuh SI mulah terjadi perpecahan karena adanya perbedaan tujuan dan taktik perjuangan antara golongan kiri dan golongan kanan. Di antara pemimpin golongan kiri itu ialah Semaun, Alimin dan Darsono. Adapun yang berhaluan kanan berpusat di Yogyakarta dan dipimpin oleh Abdul Muis, Agus Salim, dan Suryopranoto. Golongan kiri kemudian mendirikan Revolutionnaire Vak-Centrale (RVC) dan berkedudukan di Semarang.
Dalam kongres SI tanggal 6-10 Oktober 1921, pertentangan itu semakin memuncak. Agus Salim dan Abdul Muis mendesak agar ditetapkan aturan tentang disiplin partai yang melarang keanggotaan rangkap. Terhadap usulan itu, Tan Malaka meminta agar disiplin partai itu diadakan pengecualian terhadap PKI karena perjuangan Islam itu sejak awal sudah bersama-sama dengan Komunis. Disiplin partai akhirnya diterima oleh kongres dengan suara mayoritas sehingga langkah pertama untuk mengakhiri infiltrasi PKI ke dalam tubuh SI berhasil.
Sebagai akibat keterlibatan SI dan PKI pada pemogokan besar-besaran pada tahun 1922, Abdul Muis, Tan Malaka, dan Bergsma ditangkap dan diasingkan sehingga timbul kekosongan kepemimpinan PKI. Tidak lama kemudian, Semaun datang dan segera mengambil alih pimpinan PKI. Ia berusaha memperbaiki hubungan dengan kubu SI. Akan tetapi, usaha itu mengalami kegagalan karena pada kongres bulan Februari 1923 di Madiun, Cokroaminoto semakin mempertegas tentang ketentuan disiplin partai.
PKI kemudian menggerakkan SI-Merah untuk menandingi SI-Cokroaminoto (SI-Putih). Pada kongres PKI bulan Maret 1923 diambil keputusan untuk mendirikan SI-Merah di tempat-tempat yang terdapat SI-Putih. Untuk membedakan dengan lawannya, golongan kiri dalam SI itu mengganti namanya menjadi Sarekat Rakyat pada bulan April 1924 dan berada di bawah komando PKI. Mulai saat itu, pendidikan ideologi komunis dilakukan secara intensif.
PKI tumbuh menjadi partai politik dengan jumlah massa yang sangat besar. Akan tetapi karena jumlah anggota intinya sangat kecil, partai itu kurang dapat mengontrol dan menanamkan disiplin kepada anggotanya. Akibatnya, pada akhir tahun 1924 beberapa cabang Sarekat Rakyat mengambil inisiatif sendiri-sendiri untuk menjalankan aksi teror. Hal itu menyebabkan timbulnya gerakan-gerakan anti komunis di kalangan masyarakat Islam dan juga menimbulkan tindakan tegas dari pemerintah kolonial. Oleh karena itu, pada kongres bulan Desember 1924 di Kota Gede, Yogyakarta, para pemimpin PKI mengambil inisiatif untuk melebur ke Sarekat Rakyat ke dalam PKI.
Setelah berhasil menempatkan dirinya sebagai partai besar, PKI merasa sudah kuat untuk melakukan pemberontakan pada tahun 1926. Pemberontakan itu dirancang antara lain oleh Sarjono, Budi Sucitro, dan Sugono. Tokoh-tokoh PKI lainnya seperti Tan Malaka dan beberapa cabang sebenarnya tidak menyetujui pemberontakan tersebut. Namun, Alimin dan kawan-kawannya tetap meneruskan persiapan-persiapan ke arah pemberontakan.
Pemberontakan meletus pada tanggal 13 November 1926 di Batavia, disusul dengan tindakan-tindakan kekerasan di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Namun, dalam kurun waktu satu hari pemberontakan di Batavia dapat ditumpas oleh serdadu-serdadu lokal Belanda dan dalam kurun waktu satu minggu pemberontakan di seluruh Jawa dapat dipadamkan. Di Sumatera, pemberontakan PKI terjadi pada tanggal 1 Januari 1927, tetapi dalam waktu tiga hari dapat ditumpas dengan mudah. Puluhan ribu pengikut PKI ditangkap dan dipenjarakan. Ada pula yang dibuang ke Tanah Merah, Digul Atas, Papua. Sejak peristiwa tersebut, organisasi pergerakan nasional Indonesia lainnya juga merasakan akibatnya. Mereka mengalami penindasan dari pemerintah kolonial sehingga sama sekali tidak dapat bergerak.

Hampir sepuluh tahun kemudian, Komintern mengirimkan seorang tokoh komunis kembali ke Indonesia. Tokoh tersebut ialah Musso yang pada bulan April 1935 mendarat di Surabaya. Dengan bantuan Joko Sujono, Pamuji, dan Achmad Sumadi, ia membentuk organisasi yang bernama Pki Illegal. Musso dikirim ke Indonesia untuk menjalankan suatu kebijakan baru dari Komintern yang dikenal dengan nama Doktrin Dimitrov. Georgi Dimitrov merupakan Sekretaris Jenderal Komintern pada tahun 1935-1945. Isi doktrin tersebut adalah gerakan komunis harus bekerja sama dengankekuatan mana pun juga, termasuk kaum imperialis, asal saja untuk menghadapi kaum fasis. Sehubungan dengan doktrin tersebut, Musso dan kawan-kawan beranggapan bahwa pemerintah kolonial Belanda akan melunakkan sikapnya terhadap kaum komunis di Indonesia. Akan tetapi, harapan tersebut tidak juga muncul sampai dengan masuknya Jepang ke Indonesia. Bahkan, pada tahun 1936 Musso sudah meninggalkan Indonesia lagi. Kegiatan utama kaum komunis kemudian disalurkan melalui Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) dengan tokoh utamanya Amir Syarifudin.

Sources -> 
*Buku Sejarah 2 Untuk Kelas XI Program IPA, oleh M. Habib Mustopo, dkk, Penerbit Yudhistira
*Wikipedia

2 comments:

  1. I certainly agree to some points that you have discussed on this post. I appreciate that you have shared some reliable tips on this review.

    ReplyDelete
  2. very informative post for me as I am always looking for new content that can help me and my knowledge grow better.

    ReplyDelete

Powered by Blogger.