Pages

Monday, 2 December 2013

Boedi Oetomo

Dr. Soetomo dan Wahidin Soedirohoesodo dan Soetomo. Dua tokoh nasional perintis organisasi Boedi Oetomo.



Gedung STOVIA yang sekarang menjadi Gedung Kebangkitan Nasional.



Suasana kongres Boedi Oetomo di Yogyakarta. Dalam kongres tersebut Tirtokusumo terpilih sebagai ketua Boedi Oetomo.



Suasana dalam salah satu persidangan Volksraad. Para golongan sosialis mengkritik kebijakan pemerintahan kolonial di Indonesia.



Oleh : SS-Hauptsturmf├╝hrer Ajisaka Lingga Bagaskara
  

Dengan semangat hendak meningkatkan martabat rakyat, Mas Ngabehi Wahidin Soedirohusodo, seorang dokter Jawa priayi sekaligus dokter Jawa pada tahun 1906-1907 melakukan kampanye di kalangan priayi di Pulau Jawa. Pada akhir tahun 1907, Wahidin bertemu dengan Soetomo, pelajar STOVIA di Batavia. Pertemuan tersebut berhasil mendorong didirikannya organisasi yang diberi nama Boedi Oetomo pada hari Rabu tanggal 20 Mei 1908 di Batavia. Soetomo kemudian ditunjuk sebagai ketuanya. Tanggal berdirinya Boedi Oetomo hingga saat ini diperingati oleh bangsa Indonesia sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Pada awal berdirinya hingga Oktober 1908, Boedi Oetomo merupakan sebuah organisasi pelajar dengan pelajar STOVIA sebagai anggota intinya. Tujuan Boedi Oetomo dituliskan secara samar-samar, yaitu “kemajuan bagi Hindia”. Ruang geraknya masih terbatas di Jawa dan Madura dengan tidak membedakan keturunan, jenis kelamin, dan agama.

Hingga menjelang kongres pertama terdapat 8 cabang Boedi Oetomo, yaitu di Batavia, Bogor, Bandung, Yogyakarta I, Yogyakarta II, Magelang, Surabaya, dan Probolinggo. Setelah cita-cita Boedi Oetomo mendapat dukungan yang luas dari kalangan cendekiawan Jawa, kaum pelajar mulai menyingkir dari barisan depan. Sebagian besar dari mereka menginginkan agar yang lebih tualah yang memegang perang bagi gerakan tersebut.

Ketika kongres Boedi Oetomo berlangsung di Yogyakarta, pimpinan beralih ke generasi yang lebih tua, terutama dari kalangan priayi rendahan. Kongres tersebut mengangkat Tirtokusumo, Bupati Karanganyar, sebagai ketua baru dan Yogyakarta sebagai pusatnya. Setelah melalui perdebatan yang cukup panjang, kongres memutuskan bahwa Boedi Oetomo tidak berpolitik dan jangkauan pergerakannya hanya terbatas di Pulau Jawa dan Madura. Namun, dalam perkembangannya Tirtokusumo sebagai ketua yang baru lebih cenderung memperhatikan reaksi dari pemerintah kolonial daripada reaksi penduduk pribumi sendiri.

Karena kebanyakan pendukungnya berasal dari golongan priayi rendahan, Boedi Oetomo menganggap perlu meluaskan pendidikan Barat di kalangan priayi. Pengetahuan bahasa Belanda mendapat prioritas utama karena tanpa pengetahuan bahasa Belanda, seseorang tidak dapat diharapkan mendapatkan kedudukan yang layak dalam jenjang kepegawaian di pemerintah kolonial. Hal itu menunjukan pengaruh golongan tua dan golongan priayi yang lebih mengutamakan jabatannya.

Reaksi dari golongan di luar kelompok tersebut terwujud dengan pembentukan organisasi-organisasi sejenis yang hanya mewakili golongan masing-masing, seperti Jong Sumatera, Jong Ambon, Jong Minahasa, Paguyuban Pasundan, dan Sarekat Islam.

Setelah persetujuan dari pemerintah kolonial sebagai badan hukum diberikan, diharapkan organisasi Boedi Oetomo akan lebih melancarkan kegiatannya secara luas. Akan tetapi, yang terjadi malah sebaliknya, Boedi Oetomo menjadi lamban. Hal ini disebabkan adanya kesulitan keuangan dan banyak bupati yang sebelumnya menjadi anggota Boedi Oetomo mendirikan organisasi sendiri. Selain itu, banyak pula pelajar STOVIA dan golongan muda lainnya berhenti sebagai anggota. Hingga akhir tahun 1909, jumlah anggota Boedi Oetomo sekitar 10.000 orang.

Perkembangan selanjutnya merupakan periode yang paling lamban bagi Boedi Oetomo. Aktivitasnya hanya terbatas pada penerbitan majalah bulanan Goeroe Desa dan beberapa petisi kepada pemerintah agar meningkatkan mutu sekolah menengah pertama. Pemerintah kolonial yang mengawasi perkembangan Boedi Oetomo sejak berdirinya dengan penuh perhatian akhirnya berkesimpulan bahwa pengaruh Boedi Oetomo terhadap penduduk pribumi tidak begitu besar. Keberadaan Boedi Oetomo semakin tidak berari dengan kemunculan organisasi-organisasi pergerakan nasional lainnya, terutama Sarekat Islam dan Indische Partij.

Ketika Perang Dunia I mulai meletus pada tahun 1914, ada usaha untuk mengembalikan kekuatan Boedi Oetomo. Adanya bahwa intervensi pihak asing ke wilayah Indonesia menjadi alas an bagi Boedi Oetomo untuk mengajukan usul tentang perlunya wajib militer bagi kaum pribumi. Kemudian dikirim misi ke Belanda oleh komite Indie Weerbaar (Hindia yang Berketahanan. Periode tahun 1916-1917 merupakan masa yang amat berhasil bagi Boedi Oetomo. Dwidjosewoyo sebagai wakil Boedi Oetomo dalam misi tersebut berhasil melakukan pendekatan dengan pemimpin-pemimpin Belanda. Namun, usulan tentang wajib militer ternyata gagal. Sebagai gantinya dikeluarkan undang-undang tentang pembentuka Volksraad (Dewan Rakyat) yang disahkan pada bulan Desember 1916.
Di dalam siding Volksraad, wakil-wakil Boedi Oetomo masih bertindak hati-hati dalam melancarkan kritik terhadao pemerintah kolonial. Sebaliknya para anggota pribumi lain yang lebih radikal dan anggota kaum sosialis Belanda di dalam Volksraad melakukan kritik tajam terhadap pemerintah kolonial. Saat terjadi krisis pada bulan November 1918 di Negeri Belanda, mereka menuntut perubahan bagi Volksraad dan kebijakan pemerintah kolonial pada umumnya. Oleh karena itu,  pada tahun 1919 dibentuk suatu komisi untuk mengadakan penyelidikan perlunya perbaikan ketatanegaraan.

Akhirnya Boedi Oetomo menyadari tentang perlunya suatu gerakan politik dan menggalang dukungan massa sehingga unsure-unsur radikal dalam tubuh Boedi Oetomo pun mulai besar pengaruhnya. Akan tetapi, segera setelah kebijakan politik yang lebih keras dilakukan oleh Gubernur Jenderal Mr. D. Fock dan anggaran pendidikan dikurangi secara drastis. Akibatnya, terjadi perpecahanan antara golongan moderat dan radikal di dalam Boedi Oetomo.

Pada tahun 1924, dr. Soetomo yang merasa tidak puas dengan Boedi Oetomo mendirikan Indonesische Studie Club di Surabaya yang kemudian berkembangan menjadi Persatuan Bangsa Indonesia (PBI). Sebab utama dari pembentukan Indonesische Studie Club adalah karena dr. Soetomo dan juga pemimpin nasionalis lainnya menganggap asas “Kebangsaan Jawa” dari Boedi Oetomo sudah tidak sesuai lagi. Boedi Oetomo terbuka bagi penduduk seluruh Indonesia sesudah kongres pada bulan Desember 1930. Perpecahan  Boedi Oetomo berakhit kertika Boedi Oetomo melakukan fusi (penggabungan) dengan Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) dan membentuk Parindra (Partai Indonesia Raya) pada tahun 1935.


Karena Boedi Oetomo tidak pernah lagi mendapat dukungan massa, kedudukannya secara politis kurang begitu penting. Namun, satu hal yang penting adalah dari dalam Boedi Oetomo telah muncul benih pertama semangat nasionalisme, yang kemudian disusul dengan Sarekat Islam dan Indische Partij.

Sources -> Buku Sejarah 2 Untuk Kelas XI Program IPA, oleh M. Habib Mustopo, dkk, Penerbit Yudhistira

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.