Pages

Wednesday, 24 July 2013

Al-Hallaj, Sufi yang Disalib dan Dibakar

Al-Hallaj



Oleh : SS-Hauptsturmführer Ajisaka Lingga Bagaskara

Seperti Socrates – ahli ilmu filsafat Yunani sekian abad sebelum masehi yang harus mati minum racun, Al-Hallaj juga tokoh besar dan ahli filsafat yang dihukum mati karena mempertahankan pendapat dan ajarannya. Mereka sama-sama meninggalkan banyak legenda yang masih dibicarakan orang hingga kini. Lebih penting lagi ialah pemikiran dan gagasan-gagasannya yang brilian. Sudah ratusan buku yang membahas kedua tokoh ini.

Dalam dunia sufi, Al-Hallaj mempunyai kisah tersendiri. Pemikirannya tentang Wahdatul Wujud, yaitu paham yang meyakini bahwa seseorang mampu meleburkan diri ke dalam Dzat Allah, meninggalkan banyak kontroversi. Bahkan sampai sekarangpun perdebatan tentang hal itu belum juga reda.

Selain itu Al-Hallaj juga sangat piawai dalam mengemukakan pengalaman spiritualya. Beliau bahkan cenderung berpikiran ekstrim. Jargonnya yang terkenal; Ana al-Haq (aku adalah Tuhan), masih terus menjadi bahan perbincangan yang tiada habis sampai sekarang.

Beliau lahir dengan nama Abu Al-Mugis Al-Husain Ibnu Mansur al-Baidlawi pada tahun 858 M/244 H di Baida, di Provinsi Fars, Iran. Masa remajanya dihabiskan di Kota Tustar, belajar pada Sahal ibnu Abdullah At-Tustari, sufi besar yang terkenal di Tustar. Ketika usianya menginjak 18 tahun, beliau pergi ke Basrah, lalu ke Baghdad, beliau berguru kepada beberapa guru spiritual terkenal, seperti Syekh Abdul Husain al-Nurim, Syekh Junaid Al-Bagdadi, dan Syekh Amru ibn Usman Al-Makki.

Ketika berguru kepada Al-Makki itulah beliau mulai mendapat pemahaman tentang Wahdatul Wujud, dan sejak saat itu beliau banyak melontarkan ucapan-ucapan yang cukup kontroversial. Padahal beberapa gurunya sudah berkali-kali melarangnya. Tapi sia-sia. Itu sebabnya beliau lebih memilih meninggalkan perguruannya di Basrah dan kembali ke Baghdad.

Di ibukota Irak ini beliau masuk kembali ke perguruan milik Syekh Junaid Al-Baghdadi. Tapi di sini beliau malah melontarkan ucapan-ucapan yang mengungkapkan rahasia ke-Tuhan-an, walaupun sudah dilarang oleh gurunya.

Meski bagi banyak orang dianggap bertentangan, Al-Hallaj juga berdakwah. Bahkan beliau tidak tanggung-tanggung dalam berdakwah. Misalnya berdakwah sambil mengembara, dari Ahwaz, Khurasan, Turkistan, keluar dari Irak, sampai ke India. Hebatnya dimanapun beliau berada selalu dielu-elukan karena ilmu agamanya yang sangat tinggi. Kepiawaiannya inilah yang menjadikannya mempunyai banyak pengikut yang belakangan disebut kelompok al-Hallajiyah. Mereka memandang Al-Hallaj sebagai waliyullah yang memiliki kekeramatan.

Dalam beberapa catatan sejarah disebutkan, Al-Hallaj adalah seorang sufi yang sangat tekun beribadah. Dalam ibadahnya yang khusyu’ beliau sering mengungkapkan rasa Syathahat, yaitu ungkapan-ungkapan yang kedengarannya ganjil. Hal itu terjadi ketika beliau tenggelam dalam Fana, suatu tingkatan kerohanian ketika kesadaran tentang segala sesuatu sirna kecuali hanya kesadaran tentang Allah SWT.

Dari sinilah muncul ungkapan Ana al-Haq – yang oleh Al-Hallaj ditafsirkan bahwa “Aku berada di dalam Dzat Allah SWT.” Banyak ahli tasawuf menafsirkan, ungkapan itu sebenarnya tidak dimaksudkan bahwa dirinya adalah Tuhan. Hal itu tampak dalam sebuah pernyataan, “Aku adalah rahasia Yang Maha Benar, bukanlah Yang Maha Benar itu Aku. Aku hanyalah satu dari yang benar. Maka bedakanlah antara aku dan Dia.”

Beliau menulis sejumlah kitab dan bait-bait puisi. Dalam legenda Muslim, beliau adalah prototype pecinta yang mabuk kepayang kepada Allah SWT. Beliau memulai pengembaraannya pada usia 18 tahun. Setelah itu beliau pergi ke Bashrah dan bergabung dengan Amr ibnu Ustman, sampai delapan belas bulan bersamanya. Beliau menikah dengan putri Ya’qub Al-Aqta’. Karena pernikahannya dengan Putri Ya’qub itulah membuat Amr ibnu Ustman menjadi tidak senang terhadap Al-Hallaj.

Karena itulah Al-Hallaj pergi meninggalkan Bashrah menuju Baghdad. Di sana beliau menemui Junaid. Junaid memberikan syarat kepada Al-Hallaj, bahwa beliau harus diam dan mengasingkan diri.

Setelah beberapa lama beliau bersama Junaid, beliau melanjutkan perjalanannya menuju Hijaz. Beliau tinggal di Mekah selama satu tahun. Setelah itu beliau kembali lagi ke Baghdad. Bersama sekelompok sufi beliau sering menghadiri majelis Junaid dan sering mengajukan pertanyaan kepada Junaid, namun Junaid sering kali tidak menjawabnya.

Ketika Junaid menolak menjawab pertanyaan-pertanyaannya, Al-Hallaj merasa kesal dan tanpa pamit beliau pergi menuju Tustar. Di sana beliau tinggal selama satu tahun dan diterima dengan hangat oleh masyarakat, namun karena beliau sering merendahkan doktrin yang berlaku di tengah masyarakat saat itu, para ulama-ulama pun akhirnya merasa jengkel lalu menentangnya.

Al-Hallaj pun sebenarnya sudah jemu dengan tempat itu. Beliau lalu mencoba menanggalkan jubbah sufinya, dan mengenakan jubbah orang kebanyakan, dan menghabiskan hari-harinya bersama orang-orang kebanyakan (duniawi).

Namun upaya ini tidak membawa perubahan apa-apa bagi dirinya. Setelah itu beliau menghilang selama lima tahun. Sebagian beliau habiskan waktunya di Khurasan, dan Transoxiana, sebagian lagi di Sistan. Al-Hallaj kemudian kembali lagi ke Ahwaz. Di sana khotbah-khotbahnya mendapat dukungan dari kaum elite dan masyarakat kebanyakan. Beliau sering berkhotbah tentang rahasia-rahasia manusia, sehingga beliau dijuluki sebagai “Al Hallaj Sang Rahasia.”

Menjadi Tahanan Allah SWT

Setelah masa itulah beliau mengenakan jubbah Darwis yang compang-camping lagi dan pergi menuju ke tanah Haram, bersama sekelompok orang dengan pakaian yang serupa. Saat beliau tiba di Mekah, Ya’qub Al-Nahrajuri menuduhnya sebagai tukang sihir. Karena tuduhannya itulah beliau kembali lagi ke Bashrah, lalu ke Ahwaz.

“Sekarang aku akan pergi ke negeri-negeri kaum Polities, untuk menyeru manusia kepada Allah,” tuturnya.

Beliau pun pergi ke India, Transoxiana, lalu ke Cina, menyeru manusia kepada Allah dan banyak menulis kitab untuk mereka. Saat beliau kembali dari pengembaraannya ke daerah-daerah itu, masyarakat di daerah-daerah tersebut menulis surat untuknya.

Orang-orang India memanggilnya Abul Mughis, masyarakat Cina menjulukinya Abul Mu’in, mereka yang ada di Khurasan mengenalnya sebagai Abul Muhr, orang-orang Parsi (Persia) juga memanggilnya Abu Abdullah, masyarakat Khusiztan menjulukinya Al-Hallaj, sang Rahasia, serta di Baghdad beliau dijuluki sebagai Mustalim, sedangkan di Bashrah beliau lebih dikenal sebagai Mukhabbar.

Sekembalinya dari Mekah yang kedua kalinya, keadaannya telah banyak berubah. Beliau adalah seorang “manusia baru”, menyeru manusia kepada kebenaran dengan menggunakan istilah-istilah yang sama sekali tidak dipahami oleh seorangpun. Karena itulah, diriwayatkan bahwa beliau telah diusir dari lima puluh kota.

Dalam keadaannya yang membingungkan seperti itulah, masyarakat terbelah menjadi dua kelompok berkaitan dengan Al-Hallaj, ada yang pro dengan pendapatnya, dan ada banyak juga yang menentangnya. Walaupun mereka banyak menyaksikan keajaiban-keajaiban yang dilakukan oleh Al-Hallaj.

“Katakanlah, Dialah kebenaran,” teriak mereka kepadanya.

“Ya, Dialah segalanya,” jawab Al-Hallaj. “Kalian mengatakan bahwa Dia hilang (tak dapat diindrai). Sebaliknya Husainlah (maksudnya dirinya) yang hilang (fana). Lautan tak akan surut ataupun lenyap.”

Masyarakat melapor kepada Syekh Junaid, “kata-kata Al-Hallaj mengandung makna esoteric.”

“Biarkan beliau dieksekusi,” jawab Junaid. “Sekarang ini bukanlah saat yang tepat bagi makna-makna esoteric!”

Beliau dipenjara oleh Khalifah selama satu tahun. Namun selama dalam tahanan itu, masyarakat sering menjenguk dan menemuinya untuk mengkonsultasikan masalah-masalah mereka. Akhirnya mereka dilarang untuk mengunjungi Al-Hallaj. Setelah itu selama lima bulan taka da seorangpun yang menemuinya, kecuali Ibnu Atha’ dan Ibnu Khafif.

Pada suatu kesempatan, Ibnu Atha’ mengirimkan pesan kepada Al-Hallaj. “Wahai Syekh, mintalah maaf atas segala ucapanmu agar engkau bisa bebas.”

Al-Hallaj menjawab, “Suruh ia yang mengatakan hal ini untuk meminta maaf.”

Ibnu Atha’ menangis saat mendengar jawaban ini. “Kita bahkan tidak memiliki sekecil pun derajat disbanding dengan Al-Hallaj.” Katanya.

Diriwayatkan, pada malam pertama beliau dipenjara, para sipir datang ke selnya, namun tidak menemukannya di sana. Mereka mencarinya ke seluruh sudut sel, namun beliau tetap tidak ditemukan.

Pada malam kedua, mereka juga tidak menemukan baik Al-Hallaj maupun selnya.

Pada malam ketiga, mereka menemukannya berada di dalam selnyaa.

Para sipir itu bertanya, “Dimana engkau pada malam pertama, dan dimana engkau bersama sel ini di malam kedua? Kini engkau di sel ini kembali, tanda-tanda apa ini?”

Beliau menjawab, “Di malam pertama, aku berada di dalam-Nya, karena itulah aku tidak berada di sini. Pada malam kedua, Dia berada di sini, maka aku dan sel ini pun tiada. Di malam ketiga, aku dikirim kembali, agar hokum dapat ditegakkan, ayo lakukan tugas kalian!”

Saat Al-Hallaj masuk penjara itu, ada tiga ratus orang tahanan lain di sana. Malam itu beliau menyapa mereka, “Wahai para tahanan, maukah kalian aku bebaskan?”

“Mengapa tidak engkau bebaskan saja dirimu sendiri?” Tanya mereka.

“Aku adalah tahanan Allah, aku adalah pengawal keselamatan,” jawabnya. “Jika engkau mau, aku dapat melepaskan semua belenggu dengan satu isyarat.”

Al-Hallaj membuat satu isyarat dengan jari telunjuknya, dan semua belenggu mereka pun terbuka, hancur lebur.

“Sekarang bagaimana kita bisa pergi?” Tanya para tahanan itu. “Karena pintu sel terkunci.”

Al-Hallaj membuat satu isyarat lagi, dan tembok penjara pun jebol.

“Sekarang pergilah kalian,” pekiknya.

“Mengapa engkau sendiri tidak ikut keluar?” Tanya mereka.

“Tidak,” jawabnya. “Aku punya sebuah rahasia dengan-Nya yang hanya bisa diungkapkan di tiang gantungan.”

Keesokan harinya para sipir bertanya kepadanya, “Kemana petginya para tahanan lainnya?”

“Aku telah membebaskan mereka,” jawab Al-Hallaj dengan santainya.

“Mengapa engkau tidak ikut pergi?” Tanya mereka.

“Allah punya alas an untuk mencemohku, maka aku tidak pergi,” jawabnya.

Kejadian di penjara ini dilaporkan kepada Khalifah. “Akan ada kerusuhan,” pekik Khalifah.

“Bunuh dia, atau cambuk dia dengan tongkat sampai dia menarik kembali ucapannya.”

Mereka mencambuknya dengan tongkat sebanyak tiga ratus kali. Setiap kali cambuk mendera tubuhnya, sebuah suara ghaib berkata, “Jangan takut, wahai Ibnu Manshur!”

Kemudian mereka membawanya ke luar untuk disalib. Dengan tiga belas belenggu yang berat di tubuhnya, Al-Hallaj melangkah dengan tegap sepanjang jalan, sambil melambaikan tangannya seperti seorang pengembara.

“Mengapa engkau berjalan dengan begitu pongah?” Mereka bertanya.

“Karena aku tengah berjalan menuju penjagalan,” jawabnya.

Dieksekusi Mati

Saat mereka membawa Al-Hallaj ke tiang gantungan di Bab al-Taq, beliau mencium kayunya dan menaiki tangganya sendiri.

“Bagaimana perasaanmu?” Tanya mereka.

“Mi’rajnya seorang kesatria adalah di tiang gantungan,” jawabnya.

Beliau mengenakan celana sebatas pinggang dan mantel di bahunya. Sambil menghadap arah kiblat, beliau menengadahkan kedua tangannya dan mulai bercengkerama dengan Allah SWT.

“Apa yang diketahui-Nya, tak seorang pun mengetahuinya,” katanya. Lalu beliau pun naik ke tiang gantungan.

Sekelompok orang pengikutnya bertanya, “Bagaimana menurutmy, mengenai kami yang merupakan pengikutmu, dan mengenai mereka, yang hendak merajammu?”

“Mereka mendapat dua pahala, sedangkan kalian satu,” jawabnya. “Kalian hanya berprasangka baik padaku, sedangkan mereka digerakkan oleh kekuatan keimanan terhadap Allah SWT untuk menjaga kelurusan hokum-Nya.”

Kemudian As-Syibli mendekat dan berdiri di hadapannya sambil berkata, “Bukankah kami telah melarangmu (melindungi) manusia?” pekiknya.

Lalu ia bertanya, “Wahai Al-Hallaj, apa itu sufisme?”

Al-Hallaj dengan tersenyum menjawab, “Yang engkau lihat ini adalah derajat terendahnya.”

Referensi sumber (sources) --> Majalah Dwi Mingguan “Victory”, edisi 80/2013.

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.