hwwIUKoDtacl9LXDEAIdxBVXLF8 October 2012 ~ Indonesian Persons

Saturday, 27 October 2012

Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore

Bekas Istana Sementara Sultan Ternate.



Peta daerah kekuasaan Uli Lima dan Uli Siwa.



Oleh : SS-Hauptsturmführer Ajisaka Lingga Bagaskara

Pada abad ke-14 M di kawasan Maluku Utara telah berdiri empat kerajaan terkenal, yaitu Jailolo, Ternate, Tidore, dan Bacan. Masing-masing kerajaan dikepalai oleh seorang kolano. Menurut cerita rakyat Maluku, keempat kerajaan tersebut berasal dari satu keturunan, yaitu Jafar Sadik. Dalam perkembangan selanjutnya, Kerajaan Ternate peranannya lebih menonjol karena penduduknya bertambah banyak dan berhasil mengembangkan perdagangan rempah-rempah. Rempah-rempah adalah tanaman yang memiliki zat yang dapat digunakan untuk member bau atau rasa khusus kepada makanan (menjadi bumbu masak) dan dimanfaatkan untuk pengobatan serta dapat juga menghangatkan tubuh. Contoh rempah-rempah, yaitu cengkih dan lada. Pada saat itu, rempah-rempah umumnya diperlukan bangsa-bangsa Eropa sehingga harganya cukup tinggi dan telah membuat makmur rakyat di Maluku.

Kemajuan Kesultanan Ternate ternyata membuat cemburu kerajaan-kerajaan lain di Maluku. Beberapa kali Ternate dan Tidore, Bacan, dan Jailolo terlibat dalam peperangan memperebutkan hegemoni rempah-rempah. Akan tetapi, mereka mampu mengakhirinya di dalam perundingan di Pulau Motir. Dalam Persetujuan Motir ditetapkan Ternate menjadi kerajaan pertama, Jailolo kedua, Tidore ketiga, dan Bacan yang keempat.

Pada pertengahan abad ke-15 M kegiatan perdagangan rempah-rempah di Maluku semakin bertambah ramai. Banyak sekali pedagang Jawa, Melayu, Arab, Cina dan India yang dating ke Maluku untuk membeli rempah-rempah. Sebaliknya, mereka membawa beras, tenunan, gading, perak, manic-manik, dan piring mangkuk berwarna biru buatan Cina. Bangsa-bangsa di Maluku amat membutuhkan barang tersebut, terutama beras karena areal Maluku lebih banyak digunakan untuk penanaman rempah-rempah daripada penanaman beras. Kerajaan-kerajaan di Maluku sangat akrab dalam menjalin hubungan ekonomi dengan para pedagang dari Jawa semenjak zaman Kerajaan Majapahit. Bandar-bandar seperti Surabaya, Gresik, dan Tuban sering sekali dikunjungi para pedagang Maluku. Sebaliknya, pedagang-pedagang dari Jawa datang ke Maluku untuk membeli rempah-rempah. Hubungan kedua belah pihak ini sangat berpengaruh terhadap proses penyebaran agama Islam ke Maluku.

Di dalam kitab Sejarah Ternate diterangkan bahwa Raja Ternate yang pertama kali menganut agama Islam adalah Zainal Abidin (1465-1486 M). Sultan Zainal Abidin semasa belum masuk Islam bernama Gapi Buta dan setelah meninggal beliau disebut Sultan Marhum. Raja Tidore yang pertama kali masuk Islam adalah Cirililiyah yang kemudian berganti nama menjadi Sultan Jamaluddin.

Ketika Ternate di bawah kekuasaan Sultan Ben Acorala dan Tidore di bawah Sultan Almancor, keduanya berhasil mengangkat kerajaan menjadi negeri yang sangat makmur dan sangat kuat. Kedua bangsa ini memiliki ratusan  perahu kora-kora yang digunakan untuk berperang ataupun mengawasi lautan yang menjadi wilayah dagangnya.  Di ibukota Ternate, yaitu Sampalu banyak didirikan rumah-rumah di atas tiang yang tinggi-tinggi dan keratin yang dikelilingi pagar-pagar. Begitu juga kota di Tidore yang dikelilingi pagar tembok, parit, benteng, dan lubang perangkap sehingga sukar untuk ditembus musuh. Ternyata, kemajuan kedua kesultanan tersebut menjurus kepada perebutan pengaruh dan kekuasaan terhadap daerah di sekitarnya. Oleh karena itu, dalam abad ke-17 M muncullah dua buah persekutuan yang terkenal dengan sebutan Uli Lima danUli Siwa. Persekutuan Uli Lima dipimpin oleh Ternate dengan anggota Ambon, Bacan, Obi, dan Seram. Persekutuan Uli Siwa dipimpin oleh Tidore dengan anggota yang mencakup Makean, Halmahera, Kai, dan pulau-pulau lain hingga ke Papua bagian barat.

Kesultanan Ternate mencapai puncak kejayaan ketika dipimpin oleh Sultan Baabullah, sedangkan Kesultanan Tidore di bawah pimpinan Sultan Nuku. Persaingan di antara kedua kesultanan tersebut dimanfaatkan oleh bangsa-bangsa asing dari Eropa terutama Spanyol dan Portugis dengan cara mengadudombakannya. Tujuannya tidak lain adalah ingin memonopoli daerah rempah-rempah tersebut.

Sources -- > Buku “Kronik” Sejarah, terbitan Yudhistira.

Thursday, 18 October 2012

Kesultanan Goa-Tallo (Makassar)

Peta Daerah Kekuasaan Kesultanan Makassar.



Oleh : SS-Hauptsturmführer Ajisaka Lingga Bagaskara

Pada abad ke-15 M di Sulawesi Selatan telah berdiri beberapa kerajaan. Dari suku bangsa Makassar, yaitu Goa dan Tallo, sedangkan dari suku bangsa Bugis, yaitu Luwu, Bone, Soppeng, dan Wajo. Raja-raja suku bangsa Makassar bergelar Karaeng dan raja-raja suku bangsa Bugis bergelar Aru (Arung). Kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan itu selalu berusaha saling menaklukkan. Kerajaan Luwu memulai ekspansinya ke Kerajaan Sidenreng yang berlanjut ke Kerajaan Bone. Dalam pertempuran dengan Bone, Raja Luwu, yaitu Rajadewa tidak berkutik melawan Raja Arumpone. Rajadewa terpaksa menandatangani perjanjian yang disebut Polo Malelae di Unnyi. Sejak saat itu, kedudukan Luwu tergeser oleh Bone dalam percaturan politik di Sulawesi Selatan.

Kerajaan Bone terdiri dari tujuh negeri kecil, yaitu Ujung, Tibojong, Ta, Tanere Riattang, Tanete Riawang, Ponceng, dan Macege. Setiap negeri kecil dipimpin oleh seorang Matoa atau Daeng Kalula. Di bawah pemerintahan La Tenrisukki dan La Wulio Botee, beberapa kali Bone mendapat serangan dari Luwu, namun selalu dapat digagalkan berkat kerja sama dengan Kerajaan Goa-Tallo.

Seperti halnya Bone, Kerajaan Goa semula terdiri atas Sembilan negeri kecil, yaitu Tombolo, Lakiung, Parang-Parang, Data, Agangjene, Saumata, Bissei, Sero, dan Kalli. Ketika Goa diperintah Tumaparisi-Kallonna, Goa disatukan dengan Kerajaan Tallo yang diperintah Tunipasuruk pada pertengahan abda ke-15 M. Kedua kerajaan saling melengkapi kelebihan masing-masing untuk membesarkan kerajaan. Goa memberikan andil dengan kehebatan militernya, sedangkan Tallo memberikan sumbangan penguasaan administrasi pemerintahan dan kemampuan berhubungan dengan pedagang-pedagang asing. Kedua kerajaan kembar itu kemudian memilih Sombaopo sebagai ibukotanya. Kerajaan Goa-Tallo dikenal juga sebagai Kerajaan Makassar, padahal Makassar menunjukkan nama suku bangsa yang memerintah di dua kerajaan tersebut.

Kerajaan Goa-Tallo kemudian melancarkan politik ekspansi ke wilayah sekitarnya. Akibat ekspansi itu, Kerajaan Siang, Bone, Suppa, Sawitno, dan lain-lain dapat ditaklukkan. Namun, Kerajaan Bone bangkit kembali menentang kekuasaan Goa-Tallo. Pada tahun 1528 M Bone membuat persekutuan bersama Kerajaan Wajo dan Soppeng saudara dengan nama Tellumpocco (tiga kekuasaan) yang diikrarkan di Desa Burune. Dalam persekutuan itu, Bone diakui sebagai saudara tua, Wajo saudara tengah, dan Soppeng saudara bungsu. Tujuan pemberontakkan Tellumpocco adalah untuk menghadang usaha perluasan kekuasaannya yang dilakukan Kerajaan Goa-Tallo.

Sejak abad ke-16 para pedagang muslim telah berdagang ke Sulawesi Selatan. Beberapa ulama Sumatera Barat, seperti Datok ri Bandang, Datok Sulaeman, dan Datok ri Tiro tiba juga di Sulawesi Selatan untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Pada tahun 1605 M Penguasa Goa-Tallo memeluk agama Islam. Setelah masuk Islam, Daeng Manrabbia (Raja Goa) mendapat gelar Sultan Alauddin, sedangkan Karaeng Matoaya (Raja Tallo yang merangkap Mangkubumi Goa) memperoleh gelar Sultan Abdullah Awalul Islam. Dalam perkembangan selanjutnya, Kesultanan Goa-Tallo berusaha menyebarkan ajaran agama Islam ke kerajaan-kerajaan lainnya.

Upaya Kesultanan Goa-Tallo ternyata ditentang oleh persekutuan Tellumpocco. Persekutuan ini semula amat efektif dalam merintangi cita-cita Goa-Tallo meluaskan pengaruh Islam. Soppeng tunduk pada tahun 1609 M, Wajo tahun 1610 M, dan Bone tahun 1611 M. Kerajaan-kerajaan suku Bugis itu kemudian menganut Islam. Walaupun ketiga kerajaan itu telah dikalahkan, namun Kesultanan Goa-Tallo memberi keleluasaan kepada mereka untuk tetap mempertahankan keberadaan persekutuan Tellumpocco.

Setelah mengalahkan Tellumpocco, Kesultanan Goa-Tallo (Kesultanan Makassar) memperoleh kemajuan yang amat pesat, terutama di bidang perdagangan. Kemajuan di bidang perdagangan ini disebabkan hal berikut :
Banyak pedanag yang hijrah ke Makassar setelah Malaka jatuh ke tangan bangsa Portugis tahun 1511 M.
Orang-orang Makassar dan Bugis terkenal sebagai pelaut ulung yang dapat mengamankan wilayah lautnya.
Tersedianya rempah-rempah yang banyak didatangkan dari Maluku.

Kesultanan Makassar memiliki letak yang strategis di jalur lalu lintas laut Malaka-Maluku. Untuk menjamin dan mengatur perdagangan dan pelayaran di wilayahnya, Makassar mengeluarkan undang-undang dan hokum perdagangan yang disebut Ade Allopiloping Bacanna Pabalue. Undang-undang ini dimuat dalam buku Lontana Amanna Coppa. Kejayaan Makassar dicapai pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Said (1639-1653 M) dan Sultan Hasanuddin (1653-1669 M), Kedua Sultan ini telah membawa Makassar sebagai daerah dagang yang sangat maju dengan pesat. Selain itu, kekuasaan Makassar telah mencapai ke Pulau Solor di Nusa Tenggara.

Sources -- > Buku “Kronik” Sejarah, terbitan Yudhistira.

Kesultanan Banten

Masjid Agung Banten.



Oleh : SS-Hauptsturmführer Ajisaka Lingga Bagaskara

Dasar-dasar terbentuknya Kesultanan Banten mulai dirintis oleh Nurullah pada tahun 1525 M atas perintah dan kesepakatan dengan Sultan Demak. Nurullah adalah seorang tokoh yang saleh dan cakap dalam bidang politik hingga mampu menguasai Banten. Selain itu, beliau juga dipandang mampu menghalangi Portugis yang berambisi menguasai pelabuhan-pelabuhan di Jawa Barat.

Pada tahun 1522 M Portugis menandatangani perjanjian dengan Pajajaran untuk mendirikan benteng di Sunda Kelapa. Sebelum Portugis melaksanakan niatnya, Nurullah telah merebut Sunda Kelapa dari tangan Pajajaran pada tahun 1527 M. Atas kemenangan ini, Sultan Trenggana memberikan gelar kepadanya, yakni Fatahillah (kemenangan Allah).

Orang-orang Portugis yang tidak mengetahui Sunda Kelapa telah diduduki Banten segera mendirikan kantor dagang di sana. Kedatangan ini disambut dengan gemparan oleh laskar Banten. Akibatnya, Portugis terdesak dan terpaksa angkat kaki dari Sunda Kelapa.

Fatahillah memimpin Banten sampai tahun 1552 M. Tampuk pemerintahan Banten kemudian diserahkan kepada putera keduanya, yaitu Hasanuddin. Pada masa kekuasaan Hasanuddin, Banten dinyatakan lepas dari kekuasaan Demak dan berdiri sebagai sebuah negara. Karena itu, Hasanuddin (1552-1570 M) dianggap sebagai Sultan Banten pertama sebab beliau telah berani menyatakan lepas dari kekuasaan Demak, Beliau kemudian berusaha meluaskan wilayahnya. Lampung dan sekitarnya dijadikan daerah incaran pertama untuk melaksanakan ambisinya.

Kesultanan Banten ramai dikunjungi pedagang dari luar karena kesultanan ini terkenal sebagai pemasar lada. Untuk memasok kebutuhan lada, Banten harus menguasai daerah produsen lada. Lampung merupakan daerah yang banyak menghasilkan lada sehingga daerah itu dikuasainya.

Hasanuddin wafat pada tahun 1570 M. Beliau digantikan putranya, yaitu Panembahan Yusuf atau Maulana Yusuf (1570-1580 M). Pada tahun 1579 M Maulana Yusuf menyerang Kerajaan Pajajaran. Dengan bantuan penduduk Kerajaan Pajajaran sendiri, yang telah beragama Islam, akhirnya Pajajaran dapat ditaklukkan. Raja Pajajaran beserta keluarganya segera menyingkir dari kerajaan. Sejak saat itu, banyak bangsawan dan penduduk Pajajaran yang masuk ke dalam agama Islam. Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan kerajaan Hindu di Jawa Barat.

Sources -- > Buku “Kronik” Sejarah, terbitan Yudhistira.

Kesultanan Cirebon

Keraton Kesultanan Cirebon.



Makam Sunan Gunung Jati.



Oleh : SS-Hauptsturmführer Ajisaka Lingga Bagaskara

Cirebon berasal dari kata caruban yang artinya campuran. Diperkirakan masyarakat Cirebon merupakan campuran dari kelompok pedagang pribumi dengan keluarga-keluarga Cina yang telah menganut Islam. Menurut buku Sadjarah Banten, satu rombongan keluarga Cina telah mendarat dan menetap di Gresik. Keluarga Cina itu kemudian masuk Islam. Seorang yang paling terkemuka ialah Cu-cu yang juga disebut Arya Sumangsang atau Prabu Anom. Keluarga Cu-cu ternyata dapat mencapai kedudukan dan kehormatan tinggi di Kesultanan Demak sehingga mendapat kepercayaan pemerintah untuk mendirikan perkampungan di daerah barat. Atas kesungguhan dan ketekunan mereka bekerja, maka berdirilah sebuah perkampungan yang disebut Cirebon. Dalam perkembangannya, Cirebon selalu menjalin hubungan erat dengan Demak, terutama dalam bidang perdagangan.

Kapan dan siapa pendiri Kesultanan Cirebon hingga kini masih belum jelas. Menurut sumber-sumber Portugis, pendiri Kesultanan Cirebon adalah Fatahillah atau Faletehan. Sebelumnya Fatahillah lebih dikenal sebagai Nurullah yang pergi ke Kesultanan Demak setelah daerahnya, yaitu Pasai dikuasai Portugis. Dengan seizing Sultan Demak, beliau pergi ke Banten untuk menyebarkan ajaran agama Islam kepada masyarakat Banten dan sekitarnya. Selain itu, beliau juga berusaha untuk membangun sebuah masyarakat muslim di sana. Setelah menetap di Banten untuk beberapa waktu, beliau kemudian berhasil mendirikan Kesultanan Cirebon pada tahun 1552 M. Fatahillah menikah dengan puteri Demak dan juga puteri Cirebon, yakni anak Sultan Gunung Jati. Beliau wafat pada tahun 1570 M dan dimakamkan di Gunung Sembung. Dalam Babad Cirebon, Fatahillah dikenal sebagai Wong Agung Sabrang (pembesar berasal dari luar Jawa) dan Ratu Bagus Pase (orang terhormat dari Pasai).

Berdasarkan Tjarita Tjaruban, Kesultanan Cirebon didirikan oleh Syarif Hidayatullah, cucu Raja Pakuan Pjajaran. Beliau naik tahta pada tahun 1482 M sekembalinya dari Mekah. Sebagai cucu raja ia memang berhak mendapat kekuasaan. Daerah Cirebonlah yang diberikan kepadanya. Dalam perkembangannya, Cirebon mengalami kemajuan yang cukup pesat. Selain sebagai penguasa kerajaan, Syarif Hidayatullah adalah seorang wali. Beliau mendapat persetujuan dari Walisanga, terutama Sunan Ampel untuk menyebarkan ajaran agama Islam di Jawa bagian barat dengan pusatnya di Cirebon. Munculnya Cirebon sebagai pusat kegiatan ekonomi dan agama Islam telah menyurutkan Kerajaan Pajajaran yang Hindu. Namun, Kerajaan Pajajaran tidak pernah berkonfrontasi dengan Cirebon, karena masih ada hubungan kekerabatan di antara keduanya.

Syarif Hidayatullah wafat di Cirebon dan dimakamkan di Bukit Gunung Sembung yang letaknya berdampingan dengan bukit Gunung Jati. Gunung Jati pernah berperan sebagai tempat kegiatan keagamaan dan perdagangan.

Hingga saat ini beberapa ahli sejarah berbeda pendapat mengenai tokoh Fatahillah dan Sunan Gunung Jati. Pendapat pertama, menyatakan Fatahillah sama dengan Gunung Jati. Artinya, orang satu tetapi mempunyai beberapa nama. Pendapat kedua mengatakan Fatahillah dan Sunan Gunung Jati adalah dua nama dari dua orang yang berbeda pula. Jadi, bagaimana komentar Anda ???

Sources --> Buku “Kronik” Sejarah, terbitan Yudhistira.

Wednesday, 17 October 2012

Kesultanan Mataram


Bendera milik Kesultanan Mataram. Lihatlah lambang Bulan dan Keris tersebut yang berarti perpaduan antara kebudayaan Jawa yang berpadu dengan kebudayaan Islam. Warna merah itu sendiri mencirikan akan keberanian yang dimiliki oleh prajurit-prajurit Kesultanan Mataram bahkan rakyat nya sekalipun.


Oleh : SS-Hauptsturmführer Ajisaka Lingga Bagaskara

Kemunculan wilayah Mataram tidak lepas dari Ki Ageng Pamanahan. Hal ini dikarenakan beliau telah amat sangat berjasa dalam membantu Adiwijaya menaklukkan Arya Penangsang. Daerah Mataram sendiri merupakan hadiah yang diberikan Adiwijaya sebagai balas jasa dan kesetiaan Ki Ageng Pamanahan. Di bawah kepemimpinan Ki Ageng Pamanahan, Mataram menjadi daerah yang cukup maju. Namun, belum sempat menikmati hasil kemajuannya, beliau meninggal pada tahun 1575 M. Usaha memajukan Mataram dilanjutkan puteranya, Sutawijaya.

Sutawijaya diangkat Sultan Adiwijaya menjadi Adipati Mataram pada tahun 1575 M. Beliau diberi gelar Senopati ing Alaga Sayidiu Panatagama yang bermakna panglima perang dan pembela agama. Sutawijaya tidak begitu puas dengan kedudukan sebagai adipati. Beliau berharap suatu saat bisa menjadikan Mataram sebagai kesultanan tersendiri, terpisah dari Kesultanan Pajang. Oleh karena itu, Sutawijaya memperkuat kedudukan di Mataram dengan membangun benteng di sekeliling istananya. Ketika Kesultanan Pajang diperintah Arya Pangiri, Sutawijaya sengaja mengabaikan kewajiban terhadap Sultan dengan tidak menghadiri pertemuan tahunan. Beliau juga berhasil membujuk penguasa Kedu dan Bagelen untuk tidak membayar upeti kepada Pajang. Tindakan pembangkangan ini memaksa Sultan Pajang menggunakan cara kekerasan terhadap Mataram. Namun, Sutawijaya yang jauh-jauh hari telah menyiapkan serangan merebut Pajang berhasil menjalin hubungan kerja sama dengan Pangeran Benawa sehingga Arya Pangiri dapat dikalahkan pada tahun 1586 M.

Masa pemerintahan Panembahan Senopati di Kesultanan Mataram (1586-1601 M) dipenuhi dengan konflik dan bentrokan. Hal ini disebabkan Senopati telah mengangkat dirinya sebagai Sultan Mataram. Padahal pengangkatan dan pengesahan sebagai sultan di wilayah Jawa biasanya dilakukan oleh wali. Senopati juga menjalankan politik ekspansi yang bertujuan menguasai seluruh wilayah di Pulau Jawa. Surabaya merupakan salah satu daerah yang menentang pengangkatan Senopati. Akibatnya, pertempuran terjadi pada tahun 1586 M. Pertempuran sengit ini dapat dihentikan berkat bantuan Sunan Giri. Surabaya tidak berhasil ditaklukkan meskipun akhirnya daerah ini mengakui kekuasaan Senopati.

Senopati juga menghadapi perlawanan yang hebat dari Madiun dan Ponorogo. Berkat kecakapan dan strategi yang jitu kedua daerah tersebut dapat ditaklukkan. Senopati menggempur pula Pasuruan, Panarukan, dan Blambangan pada tahun 1587 M. Perlawanan Pasuruan dan Panarukan dapat dipatahkan, tetapi daerah Blambangan tidak dapat dikuasai. Hal ini dikarenakan Blambangan selalu mendapat bantuan dari Kerajaan Bali. Akhirnya, tentara Mataram ditarik mundur.

Perhatian Senopati beralih ke wilayah Jawa Barat. Pada tahun 1595 M beliau berhasil memaksa Cirebon dan Priangan sampai Sungai Citarum untuk tunduk kepada Mataram. Hanya Kesultanan Banten yang tidak mau mengakui kekuasaan Mataram. Banten tetap dapat mempertahankan diri sebagai negara yang berdaulat di wilayah Jawa bagian barat. Ketika Senopati meninggal pada tahun 1601 M hampir seluruh wilayah Pulau Jawa sudah menjadi kekuasaan Mataram, bahkan termasuk Blambangan (Jawa Timur) yang sebelumnya bersikeras tidak mau tunduk kepada Mataram. Meskipun Senopati mencapai kesuksesan dalam perluasan wilayah, ternyata beliau tidak berhasil mendapat pengakuan dari raja-raja Jawa lain sebagai raja yang sejajar dengan mereka.

Mas Jolang (1601-1613 M) naik ke tahta Mataram menggantikan Senopati. Beliau mendapat gelar Panembahan Seda Krapyak. Pada masa kekuasaannya timbul pemberontakan dari Pangeran Puger di Demak (1602-1605 M) dan Pangeran Jayaraga di Ponorogo (1608 M). Kedua wilayah tersebut dapat dilumpuhkan, namun pemberontakkan di Surabaya (1612 M) belum dapat dipadamkan sampai beliau wafat di tahun 1613 M.

Pengganti Mas Jolang adalah Mas Rangsang (1613-1645 M) yang bergelar Sultan Agung Senopati ing Alaga Ngabdar Rachman. Sultan Agung segera melanjutkan cita-cita leluhurnya untuk menciptakan kekuasaan Mataram meliputi seluruh Jawa. Sejak tahun 1614 M, Sultan Agung mulai bergerak menaklukkan kembali daerah-daerah di pesisir utara Jawa. Balatentara Mataram berhasil menaklukkan Lumajang, Pasuruan, Kediri, Tuban, Pajang, Lasem, Madura, Surabaya, dan Sukadana. Semenjak menaklukkan Surabaya, seluruh Jawa bagian tengah dan timur serta Sukadana di Kalimantan menjadi bagian wilayah kekuasaan Mataram. Di Pulau Jawa, hanya tinggal Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten yang belum berhasil dikuasai. Sultan Agung beranggapan kedua kesultanan tersebut merupakan bagian dari Demak, maka Mataram yang menjadi penerus Demak berhak atas wilayah itu. Jadi, tinggal Batavia (Jakarta) yang harus ditaklukkan. Pada tahun 1628 M dan 1629 M Mataram menyerang Batavia, namun tidak memperoleh hasil yang diharapkan.

Setelah gagal menundukkan Batavia, Sultan Agung mengalihkan perhatian terhadap bidang budaya. Pada tahun 1633 M Sultan Agung menciptakan tarikh Jawa-Islam yang dimulai 1 Muharam 1043 Hijriah. Beliau juga menelurkan karya Sastra Gending yang berisi ajaran filsafat-filsafat mengenai kesucian jiwa. Kemudian beliau membuat buku undang-undang hokum pidana dan perdata yang diberi nama Surya Alam. Sultan Agung wafat pada tahun 1645 M dan beliau dikenang sebagai sultan yang berjasa membawa Mataram ke puncak kejayaan.

Sources -- > Buku “Kronik” Sejarah, terbitan Yudhistira.

Kesultanan Pajang


Oleh : SS-Hauptsturmführer Ajisaka Lingga Bagaskara

Pendiri Kesultanan Pajang ialah Adiwijaya (1568-1582 M). Beliau menduduki tahta Pajang dengan memindahkan mahkota dan segala kebesaran Kesultanan Demak. Demak sendiri hanya dijadikan sebagai daerah kadipaten yang dipimpin oleh seorang adipati. Sultan Adiwijaya menunjuk putera Pangeran Prawoto, yaitu Arya Pangiri sebagai Adipati Demak. Sebagai penguasa Pajang, Adiwijaya mendapat pengakuan dari Sunan Giri dan para adipati di seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Pada tahun 1582 M Sultan Adiwijaya meninggal dunia. Seharusnya Pangeran Benawa yang berhak menduduki tahta Pajang. Akan tetapi, beliau disingkirkan oleh Arya Pangiri. Pangeran Benawa hanya dijadikan sebagai adipati di Jipang. Arya Pangiri (1582-1586 M) banyak melakukan tindakan yang meresahkan rakyat. Ia memberikan sepertiga dari sawah-sawah rakyat untuk pengikutnya di Demak.

Tindakan Arya Pangiri memunculkan upaya-upaya perlawanan. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Pangeran Benawa untuk segera menghimpunnya. Bagi Pangeran Benawa, hal ini merupakan kesempatan emas untuk merebut kembali tahta Pajang. Beliau segera menjalin kerja sama dengan Mataram yang dipimpin oleh Sutawijaya. Arya Pangiri diserang dari dua jurusan. Namun, dalam menghadapi serangan ini Arya Pangiri tidak memiliki banyak tentara. Rupanya, pengikutnya hanya terdiri dari masyarakat Demak. Oleh karena itu, Arya Pangiri dapat dikalahkan dengan mudah oleh persekutuan Sutawijaya dan Pangeran Benawa pada tahun 1586 M. Setelah dijatuhkan dari kedudukannya, Arya Pangiri tidak dibunuh. Ia disuruh kembali ke Demak.

Setelah Arya Pangiri ditumbangkan, Pangeran Benawa yang sebenarnya berhak atas tahta Pajang justru menyerahkan tampuk kekuasaan Pajang kepada Sutawijaya. Pangeran Benawa bertindak demikian karena merasa tidak cukup cakap untuk memimpin Kesultanan Pajang yang begitu luas. Selain itu, Pangeran Benawa tidak sanggup bersaing dengan sahabatnya yang gagah berani dan mahir di dalam berperang. Sutawijaya menerima tawaran sahabatnya itu. Segeralah segala tanda kebesaran Kesultanan Pajang dipindahkan ke Mataram sehingga berakhirlah kekuasaan Pajang.

Sources -- > Buku “Kronik” Sejarah, terbitan Yudhistira.

Sunday, 14 October 2012

Kesultanan Demak

Peta daerah kekuasaan Kesultanan Demak. Warna biru adalah wilayah original Demak, sedangkan peta yang diarsir adalah kekuasaan taklukkan Demak. Sedangkan warna putih adalah Negara yang tidak dikuasai sama sekali.



 Meriam peninggalan Bangsa Portugis yang di tinggalkan di wilayah Kesultanan Demak. Lihatlah bentuk tangan menggenggam dengan ibu jari yang diselipkan di jari lainnya, yang konon jika suatu pasangan duduk di meriam ini maka kelak akan memiliki kesuburan yang tinggi. Anda Percaya ???




Oleh : SS-Hauptsturmführer Ajisaka Lingga Bagaskara

Kesultanan Demak adalah kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kesultanan Demak didirikan oleh Raden Patah pada sekitar 1500 M setelah memutuskan hubungan dengan Kerajaan Majapahit. Lahirnya Kesultanan Demak mendapat dukungan dari ulama dan para pembesar di Jawa Timur, seperti Tuban, Gresik, Jepara dan tempat-tempat lain di pantai utara Pulau Jawa. Peranan Kesultanan Demak semakin besar di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur setelah Kesultanan Malaka ditaklukkan oleh Portugis pada tahun 1511 M. Banyak pedagang yang memutuskan untuk tidak berdagang lagi ke Malaka setelah kejatuhannya. Kebanyakan mereka pergi ke Demak atau Banten sebagai penggantinya. Sejak surutnya Malaka, Demak tampil menggantikan sebagai pusat perdagangan dan pusat penyebaran agama Islam di Nusantara.

Perluasan kekuasaan wilayah Portugis memang telah menimbulkan banyak kekhawatiran, tidak terkecuali Demak. Sebagai kerajaan Islam, Demak khawatir Portugis akan meluaskan kekuasaannya ke Pulau Jawa. Oleh karena itu, sebelum Portugis menyerang daerah-daerah di tanah Jawa, Demak berencana melakukan serangan terlebih dahulu. Pada 1513 M armada Demak yang dipimpin oleh putera Raden Patah, yaitu Pati Unus melancarkan sebuah serangan terhadap kedudukan Portugis di Malaka. Namun, upaya ini menemui kegagalan sebab jarak serangan yang dilakukan terhadap Portugis terlalu jauh. Selain itu, persenjataan yang dimiliki Demak amat kurang. Penyerangan memang mengalami kegagalan, tetapi hal ini tidak membuat penghargaan terhadap Pati Unus dibatalkan. Pati Unus tetap diberi gelar Pangeran Sabrang Lor, yang bermakna pangeran yang pernah menyeberangi lautan di sebelah utara Kesultanan Demak.

Pada tahun 1518 M Pati Unus menduduki tahta Kesultanan Demak sepeninggalan Raden Patah. Namun, Pati Unus menjadi sultan tidak lama (1518-1521 M). Beliau hanya tiga tahun memerintah. Setelah itu beliau digantikan oleh Trenggana (1521-1546 M). Sebagai sultan, Trenggana memperkokoh singgasana Demak dan menegakkan tiang-tiang ajaran agama Islam. Dengan masih bercokolnya Portugis di Malaka, Demak merasakan ancaman dan bahaya yang membayangi. Akan tetapi, Trenggana tidak mengirimkan pasukan ke Malaka untuk mengusir Portugis. Beliau lebih memilih untuk membendung Portugis dalam upaya menguasai Pulau Jawa daripada menyerang kekuatannya.

Kedatangan seorang ulama Pasai, Nurullah yang melarikan diri dari serangan Portugis telah membuat gembira Sultan Trenggana. Hal ini disebabkan ulama Pasai tersebut ternyata memiliki kecakaoan yang dapat digunakan oleh Trenggana dalam mewujudkan cita-citanya. Berkat kerja sama keduanya, Portugis gagal merebut pelabuhan-pelabuhan penting di Jawa Barat, seperti Banten, Cirebon, dan Sunda Kelapa. Bahkan gempuran-gempuran hebat pasukan Demak telah memaksa Portugis meninggalkan pantai Jawa Barat dengan tangan hampa dan penuh rasa malu.

Seusai mengusir Portugis, Trenggana berhasil menaklukkan sisa-sisa kekuatan Mataram Kuno (Jawa Tengah) dan Singasari (Jawa Timur). Namun, wilayah Pasuruan dan Panarukan luput dari upaya penaklukkan Demak. Demikian pula Blambangan yang tetap menjadi bagian dari Kerajaan Bali. Sultan Trenggana gugur setelah berusaha menaklukkan Pasuruan pada tahun 1546 M.

Gugurnya Sultan Trenggana menimbulkan pertikaian di antara kerabat-kerabat kerajaan, terutama antara Pangeran Sekar Seda ing Lepen (adik Trenggana) dengan Pangeran Prawoto (anak Trenggana). Pangeran Sekar Seda ing Lepen terbunuh di dekat jembatan sungai atas perintah Pangeran Prawoto. Alasan pembunuhan tersebut mudah diduga, yaitu menjadi Sultan Demak sebab pamannya itu merupakan calon pengganti Sultan Trenggana. Anak Pangeran Sekar Seda ing Lepen, Arya Panangsang yang menganggap dirinya sebagai orang yang paling berhak atas tahta Demak kemudian membinasakan Pangeran Prawoto dan juga keluarganya. Hal ini dilakukan sebagai balas dendam atas kematian ayahnya. Arya Panangsang (1546-1568 M) kemudian tampil menjadi Sultan Demak yang ke-4.

Masa pemerintahan Arya Panangsang dipenuhi berbagai kekacauan dan pembunuhan. Banyak orang yang tidak suka serta membenci Arya Panangsang. Ia terkenal kejam. Adipati Jepara, Pangeran Hadiri dibunuh karena dianggap merintangi kekuasaannya. Tindakan ini menyulut kemarahan para adipati. Issteri Pangeran Hadiri yang bernama Ratu Kali Nyamat segera mengangat senjata untuk membalas kematian suaminya. Beberapa adipati yang sepaham dengannya diajak pula untuk menghancurkan kekuasaan Arya Panangsang.

Seorang di antaranya adalah Adipati Pajang, Adiwijaya yang terkenal dengan sebutan Jaka Tingkir atau Mas Karebet. Beliau berhasil membinasakan Arya Panangsang pada tahun 1568 M sehingga mahkota dan segala kebesaran Demak berpindah ke tangannya.

Sources -- > Buku “Kronik” Sejarah, terbitan Yudhistira.

Saturday, 13 October 2012

Kesultanan Aceh Darussalam

Makam Sultan Ali Mughayat Syah.



Manuskrip kitab Bustanus Sulatin karya Nuruddin Ar Raniri.


Oleh : SS-Hauptsturmführer Ajisaka Lingga Bagaskara

Daerah yang menjadi inti dari Kesultanan Aceh Darussalam terletak di Aceh Rajeuk. Pusat kekuasaannya berada di Ramni, kemudian dipindahkan ke Darul Kamal. Kesultanan Aceh Darussalam sebenarnya telah berdiri sejak tahun 1204 M di bawah pemerintahan Sultan Jihan Syah, namun belum berdaulat karena berada di bawah pengaruh kekuasaan Kesultanan Pedir.

Kesultanan Aceh baru berdaulat semenjak tampilnya Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1528 M). Pada masa pemerintahannya, Aceh berhasil memperluas kekuasaannya dengan menyatukan kerajaan-kerajaan di sekitarnya, seperti Kesultanan Samudera Pasai, Perlak, Lamuri, Benua Temiang, dan Indera Jaya. Kesultanan Pedir yang menguasainya pun dapat ditaklukkan meskipun Pedir bersekutu dengan Bangsa Portugis.

Kesultanan Aceh Darussalam ternyata berambisi memperluas kekuasaannya ke pesisir timur Sumatera. Keberanian Aceh muncul disebabkan di wilayah itu sudah tidak ada lagi kerajaan besar. Aceh telah memiliki sejumlah senjata Portugis ketika menaklukkan Pedir dan sudah terjalin hubungan dengan Kesultanan Turki (Ottoman Empire).

Upaya penaklukkan daerah Sumatera Timur berlangsung lama karena wilayahnya amat luas. Di samping itu, Aceh mendapat tantangan keras dari Kerajaan Aru. Dalam sebuah peperangan, Kerajaan Aru dapat dikalahkan akhirnya. Untuk mengatur wilayah yang baru dikuasainya itu, Sultan Aceh mengirim panglima perang Gocah Pahlawan yang kelak menurunkan Sultan-Sultan Deri dan Serdang.

Munculnya Kesultanan Aceh Darussalam sebagai sebuah kerajaan besar diperkuat juga oleh peristiwa jatuhnya Kesultanan Malaka ke tangan Portugis pada tahun 1511 M. Akibat jatuhnya Malaka banyak orang Melayu yang pindah ke Aceh. Para pedagang muslim di Nusantara pun umumnya mengalihkan aktivitas perdagangannya ke Aceh melalui pantai barat Sumatera. Oleh karena itu, Kesultanan Aceh Darussalam menjadi kerajaan dagang yang amat maju. Hal ini tentu saja merugikan kedudukan ekonomis Bangsa Portugis di Malaka. Beberapa kali angkatan perang Bangsa Portugis berusaha menghancurkan dengan menngempur Aceh, namun Aceh senantiasa berjaya dan menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi Bangsa Portugis itu sendiri. Sultan Ali Mughayat Syah berhasil membebaskan seluruh bumi Aceh dari upaya penjajahan Bangsa Portugis.

Setelah Sultan Ali Mughayat Syah meninggal dunia, beliau digantikan oleh puteranya yang bernama Sultan Salahuddin (1528-1537 M). Pemerintahan Salahuddin amat lemah dan bahkan selalu memberikan peluang kerja sama kepada Portugis. Akibatnya, Salahuddin dijatuhkan oleh saudara kandungnya sendiri, Raja Ali. Raja Ali naik tahta Kesultanan Aceh Darussalam dengan nama Sultan Alauddin Syah (1537-1568 M). Dalam masa pemerintahannya, Kesultanan Aceh terus berusaha mengusir Portugis yang selalu berkeinginan menguasai wilayahnya. Aceh cukup berani menyerang Johor yang bersekutu dengan Bangsa Portugis. Sultan Johor pun dapat ditawan, tetapi Johor masih tetap berdiri sebagai sebuah kerajaan. Usaha membangun kebesaran Aceh lainnya adalah menjalin sebuah hubungan dengan Kesultanan Turki-Ottoman, Kesultanan Persia, India, dan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Aceh pun terus mengembangkan dakwah Islamnya di negeri sendiri dan ke tempat lain.

Kesultanan Aceh Darussalam mencapai puncak kejayaan di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M). Pada masa kekuasaannya, wilayah Aceh semakin luas, yaitu membentang dari pesisir barat Sumatera sampai Bengkulen, pesisir timur Sumatera sampai Siak, Johor, Pahang, dan Patani. Di bidang perekonomian, Sultan Iskandar Muda mengembangkan tanaman lada yang amat dibutuhkan oleh bangsa-bangsa Eropa dan Asia. Di bidang kebudayaan, muncul ahli-ahli sastra, seperti Nuruddin Ar Raniri dan Hamzah Fansuri. Banyak pula ahli di bidang ilmu pengetahuan dan agama yang mengunjungi Aceh, seperti ahli fisika dari Mesir dan ahli fikih dari Syria. Sultan Iskandar Muda memperhatikan pula kegiatan keagamaan, seperti membangun Masjid Raya Baiturrahman. Suasana kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh yang bernuansa Islam telah melahirkan sebuah julukan bagi Aceh itu sendiri, yakni Serambi Mekah.

Sultan-sultan Aceh amat menaruh perhatian dan kecintaan terhadap kehidupan agama Islam. Rakyat dan para pejabat negeri diperintahkan menjalani hidup sesuai dengan syariat Islam. Rakyat diajak pula meramaikan masjid dengan shalat berjamaah. Tujuannya, memperkuat keimanan dan ketaqwaan, memerkokoh persatuan umat, serta membina kehidupan demokrasi.

Sultan Iskandar Muda kemudian digantikan oleh Sultan Iskandar Thani (1636-1641 M). Pada saat itu Aceh masih dapat mempertahankan kebesarannya. Setelah Iskandar Thani meninggal dunia yang bersamaan waktunya dengan jatuhnya Malaka ke tangan VOC, Aceh mulai mengalami masa-masa kemunduran. Di bawah kekuasaan Sultan Safiatuddin (1641-1675 M) banyak daerah yang melepaskan diri dari Aceh, karena Bangsa Belanda berhasil mempraktikkan politik Devide et Impera.

Sources -- > Buku “Kronik” Sejarah, terbitan Yudhistira

Tuesday, 2 October 2012

Kesultanan Samudera Pasai

Peta daerah kekuasaan Kesultanan Samudera Pasai.



Oleh : SS-Hauptsturmführer Ajisaka Lingga Bagaskara

Kesultanan Samudera Pasai yang terletak di Aceh Utara dianggap sebagai kerajaan Islam yang pertama muncul di Indonesia. Kesultanan ini merupakan gabungan dari dua kerajaan yang bersebelahan, yaitu Kerajaan Samudera dan Kerajaan Pasai. Penggabungan dua kerajaan itu dilakukan oleh Meurah Silu. Setelah berhasil menggabungkan keduanya, beliau berganti nama menjadi Sultan Malik al-Shaleh (1290-1297 M).

Kesultanan Samudera Pasai pernah dikunjungi oleh Marco Polo, seorang saudagar dan penjelajah termashyur di dunia yang berasal dari Negeri Venesia (Italia). Pada tahun 1292 M beliau mendatangi Perlak dan tempat-tempat lain di bagian utara Aceh. Menurutnya, masyarakat Perlak telah menganut agama Islam, sedangkan penduduk di sekitar Perlak dan tempat-tempat di pedalaman masih menyembah berhala. Beliau juga mengatakan bahwa Perlak merupakan sebuah pusat perdagangan dan perniagaan yang sangat maju dan banyak para pedagang muslim yang giat-giat nya menyebarkan ajaran agama Islam.

Perlak merupakan kota pelabuhan yang amat maju dan ramai yang dimiliki Kesultanan Samudera Pasai. Sebelumnya, Perlak adalah sebuah kerajaan berdaulat yang menurut beberapa ahli diduga berdiri sekitar abad ke-9 M. Raja pertamanya ialah Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Aziz Shah. Sultan Perlak mampu mengangkat negerinya menjadi pusat pancaran sinar Islam di Nusantara. Kesultanan Perlak kemudian disatukan dengan Kesultanan Samudera Pasai pada tahun 1292 M.


xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx
LACAK

Pada tahun 1297 M Sultan Malik al-Shaleh diganti oleh puteranya yang bernama Muhammad Malik az-Zahir (1297-1326 M). Penggantinya berturut-turut adalah Mahmud Malik az-Zahir (1326-1345 M), Mansur Malik az-Zahir (1345-1346 M), Ahmad Malik az-Zahir (1346-1383 M), Zaid al-Abidin Malik az-Zahir (1383-1405 M), Nahrasiyah (1405-1412 M), Sallah ao-Din (1412-XXXX M), Abu Zaid Malik az-Zahir (XXXX-1455 M), Mahmud Malik az-Zahir II (1455-1477 M), Zain al-Abidin (1477-1500 M), Abdullah Malik az-Zahir (1501-1513 M), Zain al-Abidin (1513-1524 M).
xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx


Pada tahun 1345 seorang pengelana dari Negeri Maroko, Ibnu Battuta mengunjungi Kesultanan Samudera Pasai. Ibnu Battuta menceritakan bahwa Sultan sangat baik terhadap para ulama dan rakyatnya. Keraton dikelilingi oleh benteng-benteng yang tinggi. Kerajaannya sangat makmur dan menggunakan mata uang emas yang disebut deureuham. Selain itu, Ibnu Battuta mengatakan bahwa Kesultanan Samudera Pasai adalah kerajaan dagang yang amat maju. Di tempat ini beliau bertemu dengan para pedagang dari India, Cina, dan pedagang dari tanah Jawa. Banyak kapal yang singgah di pelabuhan karena Kesultanan Samudera Pasai merupakan tempat pengumpulan rempah-rempah, penjualan emas, dan barang-barang lain. Keberadaan Kesultanan Samudera Pasai di tepi Selat Malaka telah membuat kesultanan tersebut memperoleh kemajuan yang sangat pesat. Hal ini disebabkan Kesultanan Samudera Pasai menjadi pintu gerbang lalu lintas perdagangan internasional antara India dan Cina.

Pada abad ke-14 M Kesultanan Samudera Pasai berhasil mengangkat diri sebagai salah satu pusat studi agama Islam. Di Kesultanan Samudera Pasai berkumpul ulama-ulama dari berbagai negeri Islam untuk berdiskusi tentang masalah keduniawian dan keagamaan. Berkat perannya itu, Kesultanan Samudera Pasai dapat mengembangkan penyiaran agama Islam ke wilayah-wilayah lain, seperti Minangkabau, Jambi, Malaka, Jawa, dan bahkan Patani di Thailand. Akan tetapi, menjelang akhir abad ke-14 M Kesultanan Samudera Pasai diliputi suasana kekacauan dan perebutan kekuasaan. Setelah tahun 1524 M Kesultanan Samudera Pasai berada di bawah pengaruh Kesultanan Aceh Darussalam.

Sources -- > Buku “Kronik” Sejarah, terbitan Yudhistira

Monday, 1 October 2012

Kerajaan Bali

Kelompok Candi Padas di Gunung Kawi (Tampaksiring).




Oleh : SS-Hauptsturmführer Ajisaka Lingga Bagaskara

Nama Bali ternyata telah dikenal pada masa kekuasaan Dinasti Tang di Cina. Mereka menyebut Bali dengan Po-li atau Dwa-pa-tan, yakni sebuah negeri yang terletak di sebelah timur Kerajaan Holing. Masyarakat Dwa-pa-tan mempunyai adat istiadat yang hampir sama dengan di Ho-ling. Pada saat itu penduduk telah pandai menulis di atas daun lontar. Mereka telah dapat menanam padi dengan baik. Setiap penduduk yang meninggal, mayatnya diberi perhiasan emas yang dimasukan ke dalam mulutnya, kemudian dibakar dengan bau-bauan yang harum.

Berita tertua mengenai Bali yang sumbernya berasal dari Bali sendiri, yakni berupa beberapa buah cap kecil dari tanah liat yang berukuran sekitar2,5 cm yang ditemukan di Pejeng. Cap-cap ini ditulisi mantra-mantra agama Buddha dalam bahasa Sansekerta yang diduga dibuat sekitar abad ke-8 M. Adapun prasasti tertua di Bali yang berangka tahun 882 M memberitakan perintah membuat pertapaan dan persanggrahan di Bukit Cintamani. Di dalam prasasti tersebut tidak tertulis nama raja yang memerintah pada waktu itu. Demikian pula prasasti yang berangka tahun 911 M, hanya menjelaskan pemberian izin kepada penduduk Desa Turunan untuk membangun tempat suci bagi pemujaan Bhatara Da Tonta.

Munculnya Kerajaan Bali dapat diketahui dari tiga prasasti yang ditemukan di Belonjong (Sanur), Panempahan, dan Maletgede yang berangka tahun 913 M. Prasasti-prasasti tersebut ditulis dengan huruf Nagari dan Kawi, sedangkan bahasanya ialah Bali kuno dan Sansekerta. Dari prasasti-prasasti tersebut tertulis Raja Bali yang bernama Kesariwarmadewa. Beliau bertahta di Istana Singhadwala (pintu istana negara Singha). Beliau adalah raja yang mendirikan Dinasti Warmadewa di Bali. Dua tahun kemudian Kesariwarmadewa diganti oleh Ugrasena. Raja Ugrasena yang bertahta di Istana Singhamandawa memerintah kerajaan hingga tahun 942 M. Masa pemerintahannya sezaman dengan pemerintahan Mpu Sindok di Kerajaan Mataram. Selama tujuh tahun berikutnya tidak diketahui penerus Raja Ugrasena. Setelah itu, muncul Raja Bali bernama Aji Tabenendra Warmadewa (955-967 M).


xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx
LACAK

Para ahli berpendapat bahwa Tabenendra pada akhir masa kekuasannya dikalahkan oleh Candrabhayasingha. Hal yang penting diketahui, Raja Candrabhayasingha berhasil membuat pemandian suci Tirta Empul yang letaknya di dekat Tampaksiring sekarang.
xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx


Di tengah-tengah masapemerintahan Tabenendra, pada tahun 960 M muncul Raja Bali lain, yaitu Indra Jayasingha Warmadewa (Candrabhayasingha Warmadewa). Pengganti Candrabhayasingha, yaitu Janasadhu Warmadewa (975-983 M), kemudian Wijaya Mahadewi (983-989 M). Setelah itu muncul Raja Bali yang bernama Udayana (989-1011 M) dan bergelar Sri Dharmoyana Warmadewa. Udayana memerintah Kerajaan Bali bersama-sama dengan permaisurinya, Gunapriya Dharmapatni yang dikenal dengan nama Mahendradarta. Dari perkawinan Udayana dengan Mahendradarta lahir tiga orang putra, yaitu AirlanggaMarakatapangkajaAnak Wungsu, Airlangga menjadi putra mahkota yang ternyata tidak pernah memerintah di Kerajaan Bali, sebab beliau pergi ke Jawa Timur dan menikah dengan putri Dharmawangsa, Raja Mataram. Oleh karena itu, pewaris tahta di Kerajaan Bali jatuh kepada Marakatapangkaja (1011-1022 M). Beliau dianggap sebagai kebenaran hukum yang selalu melindungi rakyatnya. Beliau juga memperhatikan kehidupan rakyat sehingga disegani dan ditaati. Masa pemerintahan Marakatapangkaja sezaman dengan Airlangga di Jawa Timur. Dari tahun 1022 sampai tahun 1049 tidak didapatkan berita mengenai raja-raja yang memerintah di Kerajaan Bali.

Anak Wungsu (1049-1077 M) kemudian melanjutkan kekuasaan Marakatapangkaja. Beliau dikenal raja yang penuh belas kasihan terhadap rakyatnya. Beliau pun senantiasa memikirkan kesempurnaan dunia yang dikuasainya. Selama masa kekuasaannya, beliau telah berhasil mewujudkan negara yang aman, damai, dan sejahtera. Penganut agama Hindu dapat hidup berdampingan dengan agama Buddha. Anak Wungsu sempat pula membangun sebuah kompleks percandian di Gunung Kawi (sebelah selatan Tampaksiring) yang merupakan peninggalan terbesar di Kerajaan Bali. Atas perannya yang gemilang itu, Anak Wungsu kemudian dianggap rakyatnya sebagai penjelmaan Dewa Hari (Dewa Kebaikan).


xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx
LACAK

Semenjak pemerintahan Anak Wungsu, masyarakat Bali dibagi ke dalam dua kelompok besar, yaitu Golongan Caturwana dan golongan para budak yang disebut Jaba. Kelompok Jaba tidak mau dianggap sebagai golongan yang paling rendah dan merasa sangat terhina apabila disebut Sudra. Oleh karena itu, Golongan Jaba mendirikan suatu organisasi sendiri dengan nama Suryakanta pada tahun 1925 M. Di lain pihak, Kelompok Caturwana (Caturwangsa) mendirikan Bali Adnyana pada tahun 1926 M.
xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx


Anak Wungsu tidak meninggalkan seorang putra pun. Raja yang memerintah sesudah Anak Wungsu adalah Walaprabhu dan Bhatara Mahaguru Dharmotungga Warmadewa. Setelah itu tidak ada lagi raja yang berkuasa dari Dinasti Warmadewa. Raja dari dinasti lain yang muncul ialah Sri Jayasakti (1133-1150 M). Masa pemerintahan Sri Jayasakti sezaman dengan Raja Jayabaya di Kerajaan Kediri. Pada saat ini agama Buddha, Siwaisme, dan Waisnawa berkembang dengan baik. Sri Jayasakti disebut sebagai penjelmaan Dewa Wisnu. Sebagai raja yang bijaksana, beliau memerintah kerajaan berdasarkan pedoman hukum yang didasari rasa keadilan dan kemanusiaan. Kita undand-undang yang berlaku ialah Uttara-widhi-balawan dan Rajawacana.

Raja Bali yang terkenal lainnya adalaj Jayapangus (1177-1181 M). Di dalam kitab Usana Bali disebutkan bahwa Jayapangus memerintah setelah Jayakusunu. Dari 43 prasasti yang ditinggalkannya, Jayapangus banyak menyebut dua orang permaisurinya, yaitu Arkajalancana dan SasangkajacihnaArkaja bermakna putri matahari, sedangkan Sasangka berarti putri bulan. Dengan demikian, perkawinan raja melambangkan perpaduan antara matahari dan bulan. Setelah Jayapangus meninggal, Raja-Raja Bali yang memerintah tidak begitu terkenal, karena sumber sejarahnya tidak begitu diketahui.

Masyarakat Kerajaan Bali menerima pengaruh Hindu-Buddha melalui daerah Jawa Timur. Hal ini dapat diketahui karena Bali pernah dikuasai kerajaan-kerajaan di Jawa Timur, yaitu pada abad ke-10 oleh Kerajaan Singasari dan abad ke-14 oleh Kerajaan Majapahit. Selain itu, ketika Majapahit runtuh banyak penduduk yang tidak mau beragama Islam lantas menyeberang ke Bali. Dalam perkembangan kerajaan-kerajaan di Bali, ternyata jumlah pedanda (pendeta) agama Siwa yang bergelar Dang Acaryya lebih banyak daripada pedanda Buddha yang bergelar Dang Upadhyaya. Hal ini menunjukkan bahwa agama Hindu pengaruhnya lebih besar daripada agama Buddha. Namun, afama Hindu yang berkembang di Bali telah bercampur dengan adat istiadat setempat sehingga Hindu khas Bali saat ini disebut Hindu Dharma.

Dari keterangan prasasti-prasasti di Bali, diketahui bahwa umumnya masyarakat Bali telah dapat bercocok tanam di sawah, parlak (sawah kering), gaga (ladang), kebwan (kebun), dan mmal (ladang daerah pegunungan). Jenis tanaman yang sudah dikenal antara lain padi gaga, kelapa, bambu, enau, kemiri, bawang merah, jahe, wortel, dan lain-lain. Selain itu, rakyat telah mampu beternak itik, kambing, sapi, kerbau, anjing, kuda, ayam, babi, dan burung. Rupanya, binatang yang paling berharga pada saat itu adalah kuda. Kuda merupakan binatang yang paling cocok untuk membawa barang dagangan yang melintasi daerah pegunungan. Kegiatan perdagangan pun sudah sangat maju. Di beberapa desa terdapat golongan saudagar yang disebut wanigrama (saudagar laki-laki) dan wanigrami (saudagar perempuan). Mereka memiliki kepala atau pejabat yang mengurus kegiatan perdagangan yang disebut banigrama atau banigrami. Setiap kegiatan penduduk telah dikenakan semacam pajak atau iuran yang digunakan untuk penyelenggaraan pemerintahan di Kerajaan Bali.

Sources --- > Buku “Kronik” Sejarah, terbitan Yudhistira
Powered by Blogger.