hwwIUKoDtacl9LXDEAIdxBVXLF8 JARINGAN PERDAGANGAN DAN PELAYARAN ANTARPULAU DI INDONESIA DAN HUBUNGANNYA DENGAN WILAYAH LAIN DI ASIA TENGGARA SAMPAI ABAD KE-18 ~ Indonesian Persons

Saturday, 15 December 2012

JARINGAN PERDAGANGAN DAN PELAYARAN ANTARPULAU DI INDONESIA DAN HUBUNGANNYA DENGAN WILAYAH LAIN DI ASIA TENGGARA SAMPAI ABAD KE-18


Oleh : SS-Hauptsturmführer Ajisaka Lingga Bagaskara


Aktivitas perdagangan dan pelayaran antarpulau di Nusantara telah berjalan baik, terutama pada masa kerajaan-kerajaan Islam. Di Nusantara muncul beberapa bandar penting yang berperan sebagai penghasil barang, pemasok barang bagi pelabuhan lain, atau sebagai pelabuhan transitio. Dalam tata jaringan pelayaran dan perdagangan Nusantara itu, Kesultanan Samudera Pasai tercatat sebagai bandar dagang penting yang berada di sekitar Selat Malaka. Peranan itu kemudian digantikan oleh Malaka. Namun, semenjak kejatuhan Malaka pada tahun 1511, timbullah perubahan pusat-pusat perdagangan dan kekuasaan di kepulauan Nusantara.

Jaringan perdagangan dan pelayaran antarpulau di Nusantara terbentuk karena antarpulau saling membutuhkan barang-barang yang tidak ada di tempatnya. Untuk menunjang terjadinya hubungan itu, para pedagang harus melengkapi diri dengan pengetahuan tentang angin, navigasi, pembuatan kapal, dan kemampuan diplomasi dagang. Dalam kondisi seperti itu, muncullah saudagar-saudagar dan syahbandar yang berperan melahirkan dan membangun pusat-pusat perdagangan di Nusantara.

A. POLA JARINGAN PERDAGANGAN DAN PELAYARAN ANTARPULAU DI INDONESIA DAN HUBUNGANNYA DENGAN WILAYAH LAIN DI ASIA TENGGARA SAMPAI JATUHNYA MALAKA TAHUN 1511

Nusantara merupakan negeri kepulauan (Archipelago). Kesuburan tanah dan sumber kekayaan alamnya pada setiap pulau amat bervariasi sehingga terdapat barang komoditas yang berbeda. Kekayaan alam itu diolah dan dimanfaatkan penduduk dengan tingkat kemampuan yang berbeda. Mereka saling membutuhkan barang yang tidak ada di tempatnya. Hal inilah yang menyebabkan timbulnya hubungan perdagangan antarpulau dan antarwilayah di Nusantara.

Hubungan perdagangan antarpulau di Indonesia telah berlangsung berabad-abad, terutama pada masa kerajaan-kerajaan Islam Nusantara. Salah satu factor yang menunjang kegiatan itu adalah pengetahuan mereka tentang angin. Dengan memanfaatkan pengetahuan tersebut, di sekitar bulan September-Oktober kapal-kapal yang berada di sebelah timur akan berlayar ke sebelah barat. Sebaliknya, pada sekitar bulan Maret-April kapal-kapal berlayar dari barat ke arah timur. Hal ini disebabkan kondisi geografis Kepulauan Nusantara yang memiliki iklim muson, yakni iklim yang ditandai pergantian arah angin selama enam bulan sekali.

Pelaut-pelaut Nusantara juga telah mengetahui beberapa rasi bintang. Ketika berlayar pada siang hari, mereka mencari pedoman arah pada pulau-pulau, gunung-gunung, tanjung-tanjung, atau letak kedudukan matahari di langit. Pada malam hari mereka memanfaatkan rasi bintang di langit yang cerah sebagai pedoman arahnya. Para pelaut mengetahui bahwa rasi bintang pari berguna sebagai pedoman mencari arah selatan dan rasi bintang biduk besar menjadi pedoman untuk menentukan arah utara. Hubungan perdagangan antarpulau di Indonesia sebelum tahun 1500 berpusat di beberapa wilayah, antara lain Samudera Pasai, Sriwijaya, Melayu, Pajajaran, Majapahit, Gowa-Tallo, Ternate, dan Tidore.

Wilayah Nusantara menyimpan berbagai kekayaan di darat dan di laut. Sumber daya alam ini sejak dulu telah dimanfaatkan untuk keperluan sendiri dan diperdagangkan antarpulau atau antarnegara. Barang dagangan utama yang mendapat prioritas dalam perdagangan antarpulau, yaitu

a.lada, emas, kapur barus, kemenyan, sutera, damar madu, bawang putih, rotan, besi, katun (Sumatera);
b.beras, gula, kayu jati (Jawa);
c.emas, intan, kayu-kayuan (Kalimantan);
d.kayu cendana, kapur barus, beras, ternak, belerang (Nusa Tenggara);
e.emas, kelapa (Sulawesi); dan
f. perak, sagu, pala, cengkih, burung cenderawasih, perahu Kei (Maluku dan Papua).

Di antara sekian banyak barang komoditas tersebut, rempah-rempah menjadi primadona yang dibutuhkan para pedagang domestic maupun mancanegara. Daerah penghasil rempah-rempah utama di Nusantara ialah Ternate dan Tidore.

Rasi bintang biduk besar dan rasi bintang pari.

Pada saat ini cara perdagangan dilakukan melalui system barter (tukar menukar barang dengan barang). Sistem barter umumnya dilakukan oleh para pedagang daerah pedalaman. Hal ini disebabkan kegiatan komunikasi dengan daerah-daerah luar kurang lancer. Berbeda dengan di daerah pedalaman, masyarakat pesisir pantai telah menjalin hubungan yang sangat baik dengan pihak luar. Pengaruh budaya dari luar sangat mudah mempengaruhi penduduk di wilayah ini, termasuk penggunaan uang dalam kegiatan perdagangan.

=================================================================================
LACAK

Alat tukar yang paling banyak digunakan dalam kegiatan perdagangan antarpulau adalah emas dan Uang Cina. Beberapa macam mata uang yang telah beredar pada saat itu adalah

1.Drama (Dirham), mata uang emas dari Pedir dan Samudera Pasai;
2.Tanga, mata uang perak dari Pedir;
3.Ceiti, mata uang timah dari Pedir;
4.Cash (Caxa), mata uang emas di Banten;
5.Picis, mata uang kecil di Cirebon;
6.Dinara, mata uang emas dari Gowa-Tallo;
7.Kupa, mata uang emas kecil dari Gowa-Tallo;
8.Benggolo, mata uang timah dari Gowa-Tallo;
9.Tumdaya, mata uang emas di Pulau Jawa; dan
10.Mass, mata uang emas di Aceh Darussalam.

Mata uang asing yang telah digunakan dalam kegiatan perdagangan di Nusantara antara lain Real (Arab); Yuan dan Cash (Cina).
================================================================================

Kemajuan perdagangan dan pelayaran antarpulau juga ditunjang dengan pengetahuan tentang pembuatan kapal. Berdasarkan teknik pembuatannya, dikenal dua jenis perahu, yaitu perahu lesung dan perahu papan. Perahu Lesung adalah perahu yang dibuat dari batang pohon besar yang dikeruk bagian tengahnya hingga berbentuk seperti lesung. Perahu Papan adalah perahu yang dibuat dari beberapa buah batang papan yang disambung dengan pena kayu atau baut, sekrup, dan paku baja.

Perahu Lesung ada yang bercadik dan tidak bercadik. Cadik adalah bamboo atau kayu yang dipasang di kiri kanan perahu serupa sayap sebagai alat pengatur keseimbangan agar tidak mudah terbalik. Perahu lesung dijalankan dengan tenaga manusia dan dorongan angin. Perahu yang menggunakan tenaga angina mempunyai tiang satu atau lebih untuk memasang layarnya. Perahu papan memiliki bentuk dan ukuran yang beragam. Semakin tinggi pengetahuan pembuat kapal, semakin baik dan indah perahunya. Jenis perahu ini sangat tepat digunakan sebagai alat hubungan lalu lintas perdagangan antarpulau. Jenis kapal ini memiliki daya muat yang baik untuk membawa barang dalam jumlah yang besar.

Setiap daerah di Nusantara mempunyai beragam bentuk dan nama perahu. Belang dan Orembai (Maluku), serta Pencalang (Palembang) digunakan sebagai upacara kebesaran dan kenegaraan. Perahu untuk menangkap ikan, yaitu Cemplon (Jawa Tengah), Jung (Demak), Londe (Sulawesi Utara), Roh Talor (Nusa Tenggara). Juanga, Lakafufu, Kalulus, Camanomi (Maluku), Belungkang (Sumatera), Cunia (Madura), Tambangan (Banjarmasin) adalah perahu pengangkut muatan. Perahu yang dimanfaatkan sebagai alat perang disebut Kora-Kora (Maluku).

Dengan berbekal pengetahuan angina, navigasi, dan teknologi perkapalan, para pedagang dan pusat-pusat perdagangan Nusantara tidak saja menjalin hubungan atarpulau di negeri sendiri, tetapi juga hubungan antarbangsa, terutama dengan bandar-bandar di kawasan Asia Tenggara. Para pedagang Nusantara, baik dari Jawa, Sumatera, Sulawesi, Maluku, maupun pulau-pulau lain telah berjasil menjalin hubungan dagang bandar-bandar, seperti Malaka dan Johor di Semenanjung Malaka; Pattani, dan Kra di Thailand; Pegu di Myanmar (Birma); Campa di Kamboja; Manila di Filipina; Brunei dan bandar-bandar lain.


Perahu yang dipakai dalam pelayaran di masa lalu.


B. PERAN KEPULAUAN INDONESIA DALAM PERDAGANGAN DAN PELAYARAN DI ASIA TENGGARA SAMPAI ABAD KE-18

Di antara abad ke-7 sampai 15 di kawasan Nusantara telah muncul beberapa pusat perdagangan. Pusat-pusat perdagangan Nusantara saling dikunjungi para pedagang asing, terutama Cina, India, dan negeri-negeri di kawasan Asia Tenggara. Munculnya pusat-pusat perdagangan Nusantara disebabkan adanya kemampuan sebagai tempat berikut ini.

1.Pemberi bekal untuk berlayar dari suatu tempat ke tempat lain.
2.Pemberi tempat istirahat bagi kapal-kapal yang singgah di Nusantara.
3.Pengumpul barang komoditas yang diperlukan bangsa lain.
4.Penyedia tempat pemasaran bagi barang-barang asing yang siap disebarkan keseluruh Nusantara.

Pusat-pusat perdagangan Nusantara yang ramai dikunjungi bangsa asing dan para pedagang local tersebut dimiliki kerajaan-kerajaan Nusantara yang wilayahnya menjangkau pantai.

=================================================================================
LACAK

Pusat-pusat perdagangan Nusantara yang terkenal sampai abad ke-17 antara lain sebagai berikut.
1.Sriwijaya pada abad ke-7 sampai abad ke-14.
2.Pajajaran pada abad ke-8 sampai abad ke-16.
3.Majapahit pada abad ke-13 sampai abad ke-15.
4.Samudera Pasai abad ke-13.
5.Gowa-Tallo pada abad ke-16.
6.Ternate dan Tidore pada abad ke-17.
================================================================================

Hubungan di antara pusat-pusat perdagangan Nusantara dan Asia Tenggara ternyata telah berjalan aktif semenjak zaman prasejarah. Berdasarkan penelitian F. Heger diketahui telah ada aktivitas perdagangan atau tukar menukar jenis nekara perunggu.

Tipe-tipe nekara perunggu yang ditemukan di Nusantara memperlihatkan jenis barang yang dibuat bangsa sendiri dan bangsaa asing, misalnya nekara dari Bascon-Hoabinh di Vietnam. Penemuan benda-benda bersejarah itu menandai telah ada hubungan dagang dan budaya di antara semua negeri di kawasan Asia Tenggara.

Peta pusat-pusat perdagangan kuno Nusantara. Keterangan : I.Samudera Pasai; II.Sriwijaya; III.Pajajaran; IV.Majapahit; V.Gowa-Tallo; VI.Ternate Tidore.

Sejak abad ke-7 Kerajaan Sriwijaya mulai berusaha mengembangkan hubungan perdagangan dan pelayaran dengan negeri asing. Pada abad ke-9 kerajaan ini mampu menjadi salah satu pusat perdagangan di Asia Tenggara yang dapat menjalin hubungan dengan Malaka, Pattani, dan negeri-negeri lain di Asia Tenggara. Sriwijaya yang terletak di antara jalur lalu lintas perdagangan India-Cina sering dikunjungi oleh para pedagang dari Persia, Arab, Cina, dan negeri-negeri Asia Tenggara, seperti Campa, Siam, dan Birma. Kedatangan mereka ke Sriwijaya karena di negeri itu banyak barang-barang dagangan yang dibutuhka, diantaranya kapur barus, mutiara, kayu, rempah-rempah, gading, perak, emas, gula, dan sebagainya. Kemajuan bandar dagang Sriwijaya didukung pula oleh kemampuan melindungi kapal-kapal dagang yang berlabuh.

Peranan Sriwijaya sebagai salah satu pusat perdagangan dan pelayaran di Asia Tenggara umumnya dan Nusantara khususnya, kemudian digantikan oleh Kesultanan Samudera Pasai sejak abad ke-13. Sebagai pusat perdagangan yang baru, Samudera Pasai menjalin hubungan dengan Cina, Gujarat, Benggala, dan beberapa pelabuhan di pantai utara Jawa. Banyak kapal yang berlayar di sekitar Selat Malaka kemudian singgah di Samudera Pasai. Dengan demikian, Samudera Pasai berperan meramaikan dan memperlancar aktivitas perdagangan di Asia Tenggara.

Bandar Tuban dan Gresik merupakan pelabuhan-pelabuhan penting Kerajaan Majapahit. Dua bandar dagang ini menjadi pelabuhan transition rempah-rempah yang berasal dari Maluku. Dari bandar-bandar dagang itu, kapal-kapal dagang Majapahit membawa rempah-rempah, beras, dan bahan makanan lain ke Malaka atau bandar-bandar penting lain. Oleh karena itu, Majapahit dapat dikatakan sebagai negeri yang berperan memasarkan rempah-rempah dari Maluku ke Malaka.

Negeri-negeri Nusantara lain yang ikut meramaikan hubungan perdagangan di Asia Tenggara, antara lain Banjar yang berhubungan dengan Brunei Darussalam, Ternate dan Tidore yang berhubungan dengan Manila di Filipina, Makassar yang memiliki pelaut-pelaut ulung berhubungan dengan Gresik dan Malaka. Akan tetapi, dari semua hubungan dagang itu, pusat-pusat perdagangan di Nusantara paling sering dan banyak berhubungan dagang dengan Bandar Malaka.

Malaka dikenal sebagai kota dagang yang banyak memamerkan barang-barang dari negeri di sebelah barat atau timur wilayahnya. Malaka muncul sebagai kota dagang utama di Asia Tenggara setelah mundurnya Kerajaan Sriwijaya dan Samudera Pasai. Semula Malaka hanya dijadikan sebagai tempat peristirahatan kapal-kapal. Namun, lambat laun Malaka berubah menjadi kota pusat perdagangan. Hal ini disebabkan letak Malaka yang sangat strategis, yaitu pintu gerbang yang menghubungkan Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Kemajuan Malaka akhirnya surut setelah bangsa Portugis dating. Pada tahun 1511 bangsa Portugis menaklukkan Malaka di bawah pimpinan Alfonso d’Albuquerque.

Sources -- > Buku “Kronik” Sejarah, terbitan Yudhistira.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.