Pages

Tuesday, 4 December 2012

JARINGAN PERDAGANGAN DAN PELAYARAN YANG MENGHUBUNGKAN ASIA-EROPA SAMPAI ABAD KE-18


Oleh : SS-Hauptsturmführer Ajisaka Lingga Bagaskara



Perdagangan merupakan sebuah proses kegiatan yang berhubungan dengan menjual dan membeli barang untuk memperoleh sebuah keuntungan. Kegiatan perjalanan mengarungi lautan dari satu tempat ke tempat lain disebut pelayaran. Perdagangan dan pelayaran menjadi kegiatan yang tidak terpisahkan dalam hubungan antarpusat perekonomian dan perdagangan, antarpulau dan antarnegara di masa kuno. Kegiatan perdagangan dan pelayaran tersebut telah membuka jaringan hubungan antar Nusantara dan dunia internasional, khususnya Asia dan Eropa.

A. ARTI PENTING AKTIVITAS PERDAGANGAN DAN PELAYARAN SEBAGAI MATA RANTAI PENGHUBUNG ANTAR ASIA DAN EROPA

Bangsa-bangsa di Asia dan di Eropa telah sejak lama mengembangkan kegiatan perdagangan dan pelayaran. Kegiatan tersebut didasari oleh adanya perasaan saling membutuhkan. Masing-masing bangsa di Asia dan di Eropa ini sendiri memiliki perbedaan sumber daya alam dan tingkat kemampuan penduduk. Dari rasa saling membutuhkan itu terciptalah jaringan hubungan antar Asia dan Eropa, baik melalui jalur darat maupun jalur laut.

1. Aktivitas Perdagangan dan Pelayaran Asia

Sejak awal tarikh Masehi telah tumbuh hubungan kegiatan perdagangan di Benua Asia, khususnya hubungan antara Cina dan India. Jalan yang ditempuh agar sampai ke tempat tujuan ialah jalan darat atau jalan laut. Jalan darat paling banyak digunakan sebagai jalur perdagangan. Jalur perdagangan darat biasa disebut jalan sutera. Hal ini disebabkan para pedagang yang melewati jalan darat banyak yang membawa kain sutera. Saat itu, komoditas kain sutera memang hanya dihasilkan oleh negeri Cina. Kebutuhan akan sutera sebagai barang mewah menyebabkan negeri Cina sering dikunjungi para kafilah dari berbagai negeri. Jalan sutera ini mulai dikenal sejak zaman pemerintahan Dinasti Han di bawah kekuasaan Han Wu Ti (140-87 SM).

Sejak dahulu orang-orang Cina telah mahir membuat kain sutera. Dengan kepandaian ini timbul anggapan hanya mereka sendiri yang mempunyai kebudayaan paling tinggi di dunia. Namun, setelah orang-orang Cina berhubungan dengan dunia luar, disadarilah bahwa ada bangsa lain yang juga memiliki kebudayaan sederajat. Bangsa Cina segera menjalin hubungan dan kerja sama dengan bangsa-bangsa lain tersebut terutama dalam bidang perdagangan. Mereka mengembangkan sayap hubungan ke dunia timur dan barat. Hubungan ke arah timur memanfaatkan jalur laut, hubungan ke arah barat menggunakan jalur darat. Melalui jalur jalan sutera negeri Cina dapat menjalin hubungan dan kerja sama dengan India, Persia, Romawi, dan negeri-negeri lainnya.

Marco Polo.

Situasi dan kondisi kota-kota di jalur sutera digambarkan oleh Marco Polo, seorang pengelana dari Venesia (Italia). Dalam catatan perjalanan Marco Polo melukiskan, bahwa pada masa pemerintahan Kubilai Khan (1260-1294 M), jalan darat melalui Asia Tengah keadaannya aman. Para pedagang dari India, Persia, dan negeri-negeri Asia Barat melewati jalan darat di Asia Tengah ini. Diceritakan pula, bahwa kota-kota yang dilaluinya keadaannya makmur. Penduduk telah menganut beberapa agama ataupun kepercayaan. Ada kebiasaan menyembah berhala, ada penganut Islam, ada juga pengikut Kristen dari aliran Nestorian. Dengan adanya lalu lintas perdagangan, timbullah percampuran agama atau kepercayaan dari ras dari bangsa-bangsa tersebut. Catatan perjalanan Marco Polo ini dibukukan dengan judul Imago Mundi (Anggapan tentang dunia).

Pusat-pusat perdagangan yang dihubungkan oleh jalan sutera di antaranya Kanton, Nanking, Kaifeng, Kasygar, Tashken, Samarkhan, dan Bukhara. Beberapa negeri sangatlah aktif dalam kegiatan perdagangan di jalur sutera dengan membawa barang-barang, seperti :
a. sutera, porselen, kertas, dan batu giok (Cina);
b. tenunan halus, arca, gading, dan ukir-ukiran (India);
c. permadani, emas, dan wol (Persia); serta
d. barang-barang kristal, senjata besi, anggur, emas, dan perak (Romawi).

Porselen dari Cina.

Alat angkut yang digunakan pada saat itu masihlah sangat terbatas dan sederhana, yaitu berupa pedati yang ditarik oleh kuda, unta, keledai, ataupun gajah. Dengan menggunakan alat angkut yang sederhana tersebut, para kafilah berani menempuh perjalanan yang sangat jauh. Kegiatan menempuh perjalanan melalui jalur sutera ternyata banyak sekali hambatannya. Hambatan-hambatan tersebut diantaranya adalah:
a. gangguan dari para perampok atau penyamun di wilayah Pas Kaibar (lembah sempit di barat laut Pegunungan Hindu Kush, India);
b. jalur jalan sutera sebagian besar merupakan daerah yang tandus, gersang, banyak tebing, jurang, dan batu terjal, serta adanya berbagai serangan binatang buas.

Meskipun jalan jalur sutera banyak sekali hambatannya, para kafilah tetap saja menggunakan jalur darat tersebut. Namun, semenjak sering terjadi peperangan di kawasan Asia Tengah dan semakin banyak gangguan dari perampok, maka para pedagang mulai memanfaatkan jalur laut. Perkembangan kegiatan dagang di jalur laut didorong oleh timbulnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pelayaran yang antara lain dikembangkan oleh bangsa Arab. Dengan demikian, jaringan lalu lintas laut di antara Asia Barat, Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Asia Timur mulai tampak keramaiannya.

Beberapa kota dagang yang ramai dikunjungi pada masa itu ialah Cambay, malaka, Kanton, dan Ormuz. Cambay merupakan sebuah kota pelabuhan besar yang ada di India. Di kota ini hidup para pedagang tangguh dan ulet dari suku bangsa Gujarat. Mereka amat berperan dalam penyebaran ajaran agama Islam di Nusantara. Malaka dikenal sebagai kota dagang yang banyak memamerkan barang-barang dari negeri di sebelah barat atau timur wilayahnya. Malaka muncul sebagai kota dagang utama di Asia Tenggara setelah mundurnya Kerajaan Sriwijaya dan Samudera Pasai. Kanton sejak dulu telah berperan sebagai daerah yang menghubungkan para pedagang dari Asia Tenggara ke Asia Timur. Ormuz merupakan pelabuhan dagang yang berperan mempertemukan tiga jalur perdagangan, yaitu para pedagang dari Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Asia Timur, para pedagang yang melewati Sungai Eufrat dan Tigris, dan para pedagang yang melewati Laut Merah.

Barang dagangan utama yang diperjualbelikan di kota-kota pelabuhan Asia diantaranya adalah sebagai berikut.
a. Getah pohon untuk wewangian, tekstil, batu karang, mutiara, emas, alat hias dari kaca berwarna, batu permata (Asia Barat).
b. Kerajinan ukir-ukiran, kain tenun halus, kerajinan gading gajah, arca (Asia Selatan).
c. Rempah-rempah, kapur barus, beras, kemenyan, kayu cendana, kayu gaharu (Asia Tenggara).
d. Sutera, keramik, porselen, batu giok (Asia Timur).


2. Aktivitas Perdagangan dan Pelayaran di Sekitar Laut Tengah

Laut Tengah merupakan wilayah laut yang berada di dekat Eropa bagian selatan, Asia Barat, dan Afrika Utara. Sejak dulu wilayah ini selalu ramai dengan kegiatan pelayaran dan perdagangan. Oleh karena itu, wilayah ini seringkali dijadikan arena perebutan bagi bangsa yang berambisi menguasainya.

Negara yang sejak semula berperan dalam kegiatan perdagangan dan pelayaran di sekitar Laut Tengah ialah Yunani dan Romawi. Yunan maju dalam bidang perdagangan karena kondisi geografisnya memungkinkan untuk berperan. Tampilnya Iskandar Zulkarnaen (356-323 SM) semakin mengangkat Yunani menjadi negara yang maju. Apalagi setelah ia berhasil membangun kota Iskandariah (Alexandria). Kerajaan Romawi memperoleh kemajuan perdagangan setelah berhasil menumbangkan kekuasaan Kartago (Carthage) di Afrika Utara. Kemajuan itu lebih terlihat saat Romawi dipimpin Kaisar Oktavianus Augustus (31 SM-14 M) dan Konstantin Agung (303-337 M). Untuk mengembalikan kejayaan Romawi, Konstantin Agung memindahkan ibu kota dari Byzantium ke wilayah dekat pantai Selat Bosporus. Ibukota baru tersebut diberi nama Konstantinopel.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
PERSONA

Iskandar Zulkarnaen (356-323 SM)

Iskandar Zulkarnaen yang dikenal pula sebagai Alexander the Great adalah Raja Macedonia, panglima perang Macedonia, dan penakluk terbesar pada zaman kuno. Beliau adalah putra dari Raja Philips II. Ketika berusi 13 tahun beliau menjadi murid pribadi Aristoteles. Lewat gurunya inilah Iskandar Zulkarnaen memiliki pengetahuan yang sangat mendalam.

Iskandar Zulkarnaen menaklukkan Kerajaan Persia pada 334 SM. Selanjutnya, beliau juga menaklukkn Kerajaan Mesir Kuno. Pada puncak kekuasaannya, kerajaannya membentang dari Laut Ionia sampai ke sebelah utara India.

Pada 13 Juni 323 SM beliau meninggal dunia. Sebelum meninggal beliau tidak menunjuk penggantinya, sehingga Kerajaan Alexander dibagi menjadi empat kerajaan. Jenazahnya yang tersimpan dalam peti mati terbuat dari emas di bawa ke Memphis (Mesir) dan selanjutnya ke Iskandariah. Di kota inilah beliau dimakamkan.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Pada sekitar abad ke-15 kegiatan perdagangan di sekitar Laut Tengah mengalami kemajuan yang amat sangat pesat. Di wilayah ini para pedagang amat giat berusaha. Atas keberhasilannya tersebut, kedudukan mereka menjadi sangat penting di samping para raja, kaum bangsawan, dan kaum gereja. Mereka bahkan mampu melahirkan kota-kota dagang besar, seperti Venesia, Genoa, Konstantinopel, Iskandariah, dan Allepo. Kapal-kapal dagang dari berbagai negara banyak berdatangan ke kota-kota ini. Barang dagangan utama yang diperjualbelikan meliputi rempah-rempah, sutera, kain tenun, barang pecah belah, barang-barang kerajinan, peralatan kapal laut, dan sebagainya.


3. Hubungan Aktivitas Perdagangan dan Pelayaran di Asia dengan Eropa

Jauh sebelum tarikh Masehi, bangsa-bangsa Eropa banyak membutuhkan barang-barang yang berasal dari Asia, terutama rempah-rempah. Untuk mendapatkan barang-barang dari Asia, bangsa-bangsa Eropa harus mengeluarkan biaya besar. Meskipun demikian, mereka terus melakukannya karena barang-barang tersebut tidak ada di Eropa dan sulit mendapatkannya.

Sebelum majunya teknologi transportasi, jarak antara negeri-negeri Eropa dan Asia terasa cukup jauh sehingga mereka belum dapat menjalankan sistem perdagangan langsung. Pada umumnya barang-barang dibawa para kafilah dari satu tempat ke tempat lain secara beranting atau berpindah-pindah tangan. Barang dagangan dibawa dari satu pedagang ke pedagang lain dan dari satu kota ke kota lain hingga ke tangan pembeli. Jadi, tidak mengherankan bila barang-barang dari produsen terakhir yang sampai ke konsumen harganya menjadi mahal.

Patung Octavianus Augustus.

Sistem perdagangan yang beranting di antara negeri-negeri Asia dan Eropa dapat berlangsung dengan baik berkat adanya peranan para pedagang Gujarat, Arab, dan Persia. Sejak dahulu orang-orang dari bangsa ini terkenal sebagai orang-orang yang suka berdagang. Keinginan untuk maju dalam bidang perdagangan membuat mereka tidak segan-segan untuk bertualang dari satu wilayah ke wilayah lain, atau bahkan dari satu negeri ke negeri lain. Mereka membawa bermacam-macam barang komoditas dari Asia, terutama rempah-rempah. Mereka kemudian memperdagangankannya di kota Konstantinopel dan Iskandariah. Dari dua pusat perdagangan tersebut, barang-barang dari Asia berpindah tangan lagi kepada bangsa Venesia dan Mesir. Mereka membawa dan mengedarkannya ke kota-kota dagang di sekitar Laut Tengah dan Eropa. Oleh karena itu, pusat perdagangan di Konstantinopel dan Iskandariah semakin ramai karena menjadi pintu gerbang yang menghubungkan mata rantai kegiatan perdagangan dan pelayaran Asia-Eropa.

Kapal Bangsa Fenisia (Phoenicia).


B. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BERKEMBANGNYA PERDAGANGAN DAN PELAYARAN ANTARA ASIA-EROPA SAMPAI ABAD KE-18


Teleskop Kuno.

Perdagangan dan pelyaran merupakan kegiatan yang tak terpisahkan satu sama lain di dalam hubungan antarpulau maupun antarnegara sebelum berkembangnya teknologi perhubungan udara, darat, dan laut. Hubungan antarbangsa dalam bidang perdagangan dan pelayaran tersebut telah berlangsung berabad-abad, termasuk antara Benua Asia dan Benua Eropa sampai abad ke-18 M. Meskipun jarak tempuh kedua kawasan terbilang jauh, namun lalu lintas hubungan di antara kedua benua itu berlangsung lancar dan berkembang karena terdapat faktor-faktor yang mendukung dan mempengaruhi kegiatan tersebut.

Faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya perdagangan dan pelayaran antara Asia-Eropa sampai abad ke-18 M adalah sebagai berikut.

1. Perbedaan Sumber Daya Alam
Setiap tempat di muka bumi diciptakan Tuhan dengan karakteristik masing-masing. Tempat-tempat tersebut berbeda tingkat kesuburannya, kekayaan alamnya, dan jenis tumbuhan, hewan, serta mineral dan tambangnya. Oleh karena perbedaan sumber daya alam itu, manusia kemudian berhubungan dengan manusia lain atas dasar saling membutuhkan, dan akhirnya timbul ketergantungan satu sama lain.

2. Perbedaan Sumber Daya Manusia
Adanya perbedaan sumber daya alam ternyata diikuti pula oleh perbedaan sumber daya manusianya. Suatu bangsa yang tinggal di daerah yang kurang subur, penduduknya akan tertempa untuk berpikir menaklukkan alam. Karena itulah setiap bangsa kemudian berbeda kemampuan dalam mengembangkan sumber daya alamnya. Bangsa yang berhasil menguasai dan mengolah alam, akhirnya akan banyak dikunjungi oleh bangsa lain yang membutuhkannya.

3 Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Untuk dapat berhubungan dengan bangsa lain di tempat yang jauh, baik melalui darat maupun laut, perlu ditopang oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang memadai. Penemuan kompas, sistem navigasi, jenis dan bentuk kapal laut, dan mesiu sungguh amat membantu dalam kegiatan pelayaran. Sekitar tahun 3200 SM bangsa Mesir telah berhasil melengkapi kapal laut dengan layar. Kemudian sekitar tahun 650 SM orang-orang Yunani dan Romawi berhasil menyempurnakan kapal dengan layar yang lebih besar dan banyak, juga pendayung yang ditempatkan dalam dua tingkat agar perahu melaju dengan cepat. Berkat penemuan mesiu tujuh abad yang lalu, para pedagang dan pelayar dapat mengamankan dirinya dari gangguan perompak di lautan. Akan tetapi, mesiu pun kadang disalahgunakan untuk menguasai kegiatan perdagangan dengan paksa (monopoli perdagangan).


4. Pengaruh Angin dan Astronomi
Para petualang, saudagar-saudagar, dan penjelajah samudera yang melakukan hubungan perdagangan melalui jalur laut dituntut memiliki pengetahuan tentang angin. Jalur laut yang menghubungkan Asia dan Eropa sebagian besar berada di sekitar garis khatulistiwa. Di garis khayal khatulistiwa bertiup angin muson yang selalu berganti arah setiap enam bulan sekali. Dengan memanfaatkan pengetahuan angin muson, mereka dapat menentukan dengan tepat kapan berangkat dan pulang dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan. Pengetahuan tentang astronomis pun diketahui, terutama akan berguna dalam perjalanan di malam hari atau untuk mengetahui baik-baik cuaca agar perjalanan tidak membahayakan.

5. Peranan Pedagang Beranting
Bangsa Arab, Persia, dan Gujarat amat berperan sebagai pedagang beranting di sekitar Asia. Bangsa Venisia, Mesir, Romawi, dan Viking merupakan pelaut-pelaut tangguh di sekitar Laut Tengah atau Eropa. Merekalah yang turut meramaikan kegiatan pelayaran dan perdagangan di Asia-Eropa. Bangsa-bangsa bahari itu pula yang ikut mendistribusikan barang dari satu tempat ke tempat lain hingga sampai ke konsumen.

6, Jatuhnya Konstantinopel dan Penutupan Bandar Lisabon di Portugis
Sejak jatuhnya bandar dagang Konstantinopel ke tangan Turki Usmani tahun 1453 M dan tertutupnya bandar Lisabon bagi Belanda, bangsa-bangsa Eropa berlalu lalang ke Asia mencoba mencari barang-barang yang dibutuhkannya, terutama rempah-rempah. Kehadiran mereka di bandar-bandar Asia telah menghidupkan suasana aktivitas perdagangan dan pelayaran. Dengan menguasai bandar-bandar dagang Asia, bangsa-bangsa Eropa memperoleh keuntungan yang berlipat-lipat dan memperkaya negerinya. Akan tetapi, bangsa-bangsa Asia menjadi korban pemerahan sumber daya alamnya akibat kolonialisme dan imperialisme bangsa-bangsa Eropa tersebut.



C. PERAN PUSAT PERDAGANGAN DI LAUT TENGAH DALAM JALUR HUBUNGAN PERDAGANGAN DAN PELAYARAN ASIA-EROPA SAMPAI DENGAN TAHUN 1453 M


Pusat-pusat perdagangan di Laut Tengah merupakan salah satu bagian kawasan yang memiliki tingkat kesibukan dan keramaian yang tinggi dalam kegiatan perdagangan dan pelayaran kuno dunia. Di kawasan ini terdapat beberapa kota dan pelabuhan dagang utama, seperti Konstantinopel, (Iskandariah) Alexandria, Venisia, Genoa, dan Allepo.

Konstantinopel yang terletak di tepi pantai Laut Marmara di dekat Selat Bosporus merupakan kota transit rempah-rempah pertama di sekitar Laut Tengah yang mengenal barang-barang antara Eropa-Asia. Alexandriah yang berada di Mesir terkenal sebagai kota transit rempah-rempah kedua di Laut Tengah.Venisia dan Genoa adalah dua kota dagang yang terletak di pantai Laut Adriatik dan Laut Liguria. Kedua kota tersebut berperan sebagai tempat berlabuhnya kapal-kapal dari Eropa yang akan berlayar ke Konstantinopel atau ke Alexandria untuk membeli rempah-rempah. Sementara itu Allepo sebagai sebuah kota dagang yang terletak di Syria berfungsi sebagai persinggahan sementara bagi pedagang-pedagang Asia yang akan menuju Konstantinopel.

Kota-kota dagang di sekitar Laut Tengah pada umumnya merupakan kota otonom, artinya kota yang memperoleh banyak keleluasaan untuk mengatur dirinya sendiri dalam bidang politik, ekonomi, pemerintahan dan lain-lain. Di kota-kota itu biasanya terdapat banyak saudagar kaya dan kaum bangsawan yang berupaya menghidupkan dan mendukung kegiatan ekonomi. Para raja dan kaum gereja pun tidak ketinggalan menciptakan pola kerja sama dengan para saudagar dan bangsawan dalam melahirkan dan memajukan kota.  Selain itu, banyaknya pedagang luar yang singgah di pelabuhan turut pula meramaikan dan memajukan kota. Tidak mengherankan apabila masyarakat pedesaan berbondong-bondong melakukan urbanisasi ke kota-kota dagang di sekitar Laut Tengah ini dengan tujuan memperbaiki kesejahteraan hidupnya.

Kemajuan yang diperoleh kota-kota dagang di sekitar Laut Tengah rupanya tidak terlepas dari kota-kota dagang lain di sekitarnya. Kota-kota dagang utama di Eropa bagian selatan mempunyai jalinan ekonomi dengan kota-kota pelabuhan dagang di Eropa bagian utara atau kota-kota pedalaman Eropa. Para pedagang besar seperti dari Inggris dan Belanda sering mendatangi pusat-pusat perdagangan di Eropa selatan dengan maksud mendapatkan barang-barang yang dibutuhkannya. Tidak jarang pula negeri-negeri tersebut mendatangi langsung pusat rempah-rempah di Laut Tengah, yaitu Konstantinopel. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa peran pusat-pusat perdagangan di Laut Tengah adalah sebagai berikut.
1. Pintu gerbang penghubung kegiatan perdagangan dan pelayaran kuno Asia-Eropa;
2. Pengumpul, penyedia, dan pemasok barang-barang kebutuhan bangsa-bangsa Eropa, terutama rempah-rempah;
3. Sebagai kota transit bagi para pedagang yang akan melakukan perjalanan lebih lanjut; dan
4. Pemberi sarana tumbuhnya hubungan persahabatan dan kerja sama antarkota-kota dagang.

Peran pusat-pusat perdagangan di Laut Tengah kemudian berubah ketika Kota Konstantinopel dikuasai oleh bangsa Turki Usmani pada tahun 1453 M. Sejak saat itu, bangsa-bangsa Eropa merasa kesulitan memperoleh barang-barang kebutuhan yang biasanya dipasok Konstantinopel. Bangsa Turki mempersulit masuknya bangsa-bangsa Eropa ke kota tersebut dengan cara mengeluarkan peraturan-peraturan dagang. Akibatnya, mata rantai perdagangan Asia-Eropa melalui Konstantinopel mengalami pemutusan. bangsa-bangsa Eropa kemudian berusaha mencari jalan sendiri menuju kota-kota dagang di dunia timur, terutama kota penghasil rempah-rempah.


D. PETA JALUR PERDAGANGAN DAN PELAYARAN ASIA-EROPA SAMPAI ABAD KE-18 M

Aktivitas perdagangan di Eropa dan Asia berjalan dengan baik sejak awal tarikh Masehi sehingga memunculkan kota-kota dagang penting, baik yang dapat dihubungkan melalui jalur darat maupun jalur laut.

1. Peta Jalur Sutera
Jalur Jalan Sutera merupakan rute perjalanan darat yang banyak dilalui para pedagang yang berlalu-lalang dari Asia Timur ke Asia Barat atau sebaliknya. Jalur Jalan Sutera mempunyai dua cabang perjalanan. Seandainya perjalanan itu dimulai dari Cina akan diperoleh rute perjalanan sebagai berikut.
a. Dari Cina menuju jalur utara Lembah Tarim melewati Komul, Almalik, dan sampai ke Tashken.
b. Dari Cina menuju jalur selatan Lembah Tarim melewati Cercen, Chotan, Yarkend, Kasygar, hingga Tashken.

2. Peta Jalur Laut di Asia dan Pusat-Pusat Perdagangannya
Pusat-pusat perdagangan di Asia yang dilewati para pedagang dari berbagai negeri yang menggunakan jalur laut antara lain sebagai berikut.
a. Asia Barat        :  Aden, Maskate, Sokotta, Basrah, Ormuz, Alexandria, Allepo.
b. Asia Selatan     :  Cambay, Goa, Calicut, Negapatam, dan Benggala.
c. Asia Tenggara  :  Chittagong, Pegu, Kra, Pattani, Malaka, Samudera Pasai, Johor, Brunei, Manila, Ternate Tidore.
d. Asia Timur       :  Kanton, Fuchow, Hangow, Hantseng, Nagasaki, Osaka, Yedo.

Perhatikan dengan seksama rute perdagangan dan pelayaran kuno di Asia baik melalui jalur sutera maupun jalur laut!
Rute perdagangan dan pelayaran kuno di Asia melalui jalur sutera dan jalur laut.

3. Peta Pusat-Pusat Perdagangan di Sekitar Laut Tengah dan Eropa
Pusat-pusat perdagangan paling penting di sekitar Laut Tengah, yaitu Lisabon, Barcelona, Genoa, Roma, Napoli, Venisia, Konstantinopel, Allepo, Alexandria (Iskandariah), dan Kartago (Carthage). Ada dua jalur yang sering digunakan para pedagang yang berhubungan dari Asia ke Eropa, yaitu
a. Asia - Laut Arab - Teluk Persia - Allepo - Konstantinopel.
b. Asia - Laut Merah - Alexandria.
Setelah memperhatikan rute tersebut, dapat disimpulkan bahwa pintu gerbang hubungan perdagangan dan pelayaran Asia-Eropa, yaitu Konstantinoprl dan Alexandria. Agar lebih jelas, perhatikan peta di bawah ini!
Peta pusat-pusat perdagangan di sekitar Laut Tengah dan Eropa.

sources ---> Buku "Kronik" Sejarah, terbitan Yudhistira.

2 comments:

  1. lengkap banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih!

      Jika ada saran, kritik, atau bahkan ingin menambahkan artikel yang lebih lengkap lagi, bisa layangkan kiriman anda ke alamat email yang sudah tertera di sebelah kanan atas. :-)

      Delete

Powered by Blogger.