Pages

Thursday, 27 December 2012

Divisi Gunung SS ke-13 'Handschar', Sukarelawan Muslim Terbesar Dalam Tubuh Waffen-SS!

Mufti Besar Yerusalem Sayid Amin Al-Husayni bertemu dengan Adolf Hitler di Berlin, 9 Desember 1941. Dalam pertemuan pertama tersebut Hitler begitu terkejut ketika mendapati "orang Arab" ini berkulit putih, berambut pirang dan bermata biru seperti layaknya orang Nordik!



 Unit artileri dari Divisi Gunung SS ke-13 'Handschar' sedang beraksi.



 Sampul majalah 'Wiener Muftrierte' terbitan tahun 1944 dengan judul "Der Grossmufti von Jerusalem bei den bosnischen Freiwilligen der Waffen-SS" yang artinya : Mufti Besar Yerusalem (Amin Al-Husayni) bersama dengan sukarelawan Waffen-SS asal Bosnia.



 Seragam prajurit Handschar. Jika dilihat dari seragamnya, dia berpangkat Sturmfuhrer (Letnan 2).



Para prajurit Handschar sedang bahu-membahu menarik entah apa (kebo?) di alam pegunungan wilayah Balkan yang menjadi daerah operasinya, Mei 1944.



 SS-Gruppenführer Artur Phleps, komandan Divisi Gunung Sukarelawan SS ke-8 'Prinz Eugen', sedang mencoba memakai tarbus khas Handschar, fez, dalam kunjungannya ke Zagreb di bulan Februari/Maret 1943.



 Ngefans sama divisi ini? Tinggal pasang wallpaper di atas di desktop kamu!




Oleh : Alif Rafik Khan

Dalam mencermati perjalanan sejarah, kita tentu harus menilainya dengan keadaan di masa itu sendiri. adalah fakta yang tidak terbantahkan bahwa Muslim Bosnia, dan juga banyak Muslim lainnya di masa Perang Dunia II bersekutu dengan Nazi Jerman. Jumlah pasukan Muslim yang bergabung dengan Nazi cukup banyak: sekitar 5.000 orang Arab, 2.000 Muslim India, 40.000 Muslim Bosnia dan Sandzak, 30.000 Muslim Albania, 75.000 Muslim Kaukasus Utara, 40.000 Muslim Tartar Volga, 180.000 Muslim Turki, 20.000 Muslim Tatar Krim, dan juga 200.000 Muslim Soviet dimana yang terakhir ini bertugas sebagai tenaga pembantu dalam berbagai pekerjaan kasar dalam Wermacht atau angkatan perang Nazi Jerman (baca: Legiun Muslim Hitler; N. Hidayat; Nilia Pustaka, 2007)

Bahkan ada juga orang Indonesia yang menjadi bagian dari tentara Nazi Jerman (meskipun tidak diketahui apakah dia muslim atau bukan). Walau sejarah Indonesia tidak banyak membuka diri terhadap jasa Nazi Jerman atas perang kemerdekaan Indonesia, namun jasa pasukannya Adolf Hitler ini bagaimana pun ada. Ini fakta : Salah satu instruktur pertama badan intelijen resmi Indonesia adalah seorang perwira U-Boat Nazi Jerman yang mendarat di Jawa. Kolonel Zulkifli Lubis, bapak intelijen Indonesia, dilatih olehnya.

Bukan itu saja, di Indonesia pun pernah berdiri partai yang mengekor partai Nazi, walau tidak mendapat sambutan meriah kala itu (baca: Orang Nazi dan Partai Nazi di Indonesia: Kaum Pergerakan Menyambut Fasisme; Wilson; Komunitas Bambu, 2008)

Dalam Jihad Afghan, para Mujahidin pun juga bersekutu dengan CIA bukan? Bahkan Ahmad Shah Masood pun ternyata pernah menjadi kaki-tangan dari CIA, seperti halnya Gulbuddin Hekmatyar, Rassul Sayyaf, dan lainnya. Dan seorang Usamah bin Laden pun pernah dipelihara CIA. Beberapa bulan sebelum kejadian 911, Usamah sakit dan dirawat di Pakistan. Kepala CIA Timur Jauh dan Kepala Intelijen Pakistan menjenguknya. Ini merupakan salah satu fakta jika peristiwa 911-WTC merupakan insider job.

Dalam Perang Dunia II, Mufti Palestina AlHusayni memang bersekutu dengan Nazi dan kawan baik dari Adolf Hitler. Mereka di kala itu saling memanfaatkan. Sejarah sekarang, dengan berbagai dokumennya yang telah dideclassified-kan, telah membongkar fakta jika segala 'kebuasan' Nazi Jerman dalam Perang Dunia II ternyata didukung penuh dengan dana amat besar dari Rockefeller dan kakek George Walker Bush, dua keluarga berpengaruh Yahudi Dunia. Al-Husayni tentu saat itu, sepertinya, tidak tahu akan fakta jika Hitler pun tengah diperalat Yahudi!

Dan tentang permusuhan Yahudi terhadap umat Islam, itu bersifat abadi hingga akhir zaman. Jadi, bukan karena Muslim Bosnia sekutu Nazi Jerman yang menyebabkan itu, tapi karena Yahudi adalah tentaranya Dajjal dan Muslim adalah tentaranya Muhammad SAW.

Dalam hubungannya dengan Nazi, puluhan ribu Muslim Bosnia direkrut Hitler dan dikelompokkan ke dalam Brigade Handjar atau yang resminya bernama 13. Waffen Gebirgs Division de SS ‘Handschar’ (kroatische Nr.1). Ini legiun Muslim Bosnia pertama yang direkrut di akhir tahun 1943.

Pada Juli 1944, dibentuk Legiun Muslim Bosnia kedua bernama 23. Waffen Gebirgs Division der SS ‘Kama’ (kroatische Nr.2) atau Brigade Kama. Kedua legiun atau brigade ini akhirnya digabungkan Himmler menjadi satu kesatuan yakni IX. Waffen-Gebirgs Korps der SS (kroatisches). Pasukan ini menderita kekalahan mengikuti kekalahan pasukan induknya, Nazi-Jerman, dan menyerah kepada pasukan Inggris di Saint Veit de Glan di Austria, 12 Mei 1945.

Siapakah Imam Al-Husayni? Dia adalah seorang Mufti Besar Palestina sejak 1921 hingga 1948. Keturunan Klan Husayni ini sangat keras menentang rencana perpindahan kaum Yahudi yang terserak di seluruh dunia ke Palestina, sebagaimana mandat dari Kongres Zionis Internasional I di Basel, Swiss, tahun 1897. Sebab itu, Inggris yang mendukung penuh rencana Zionis Yahudi itu memburunya. Pada tahun 1941 Husayni bertemu empat mata dengan Adolf Hitler. Hitler terkagum-kagum padanya.

Seperti yang sudah disinggung banyak literatur. Adolf Hitler dengan keyakinan rasialnya meyakini jika bangsa Aryan merupakan jenis manusia unggul yang berasal dari ras Romawi kuno yang perkasa, tinggi besar, berkulit putih, rambut jagung, dan mata yang biru bersinar. Melihat sosok Husayni yang tinggi besar, berkulit putih, berambut jagung, dengan mata yang biru bercahaya, Hitler terpesona dan menduga kuat jika Husayni masih satu keturunan dengan bangsa Romawi, nenek moyang ras Aryan.

Sebab itu Adolf Hitler sangat menghormati Husayni. Apalagi kepentingan politik keduanya dalam hal permasalahan Yahudi dunia sama. Husayni memusuhi Yahudi karena ingin mempertahankan tanah suci Palestina, sedangkan Hitler memusuhi Yahudi karena dendam sejarah dan juga pandangan politik rasialnya. Keduanya pun bersekutu.

Dalam perang hal tersebut sangat dimungkinkan. Kepentingan bersama bisa menyatukan dua kelompok yang sepertinya tidak mungkin disatukan. Mungkin lebih kurang sama seperti fakta politik di negeri ini sekarang, dimana kelompok Islam Liberal dan NeoLib (plus kelompok kuffar palangis) ternyata bisa didukung “kelompok Islam literal berjenggot”. Semua itu bisa dimungkinkan karena kesamaan kepentingan yang bernama: Kekuasaan. Kita tahu jika yang namanya “Kekuasaan” sekarang ini memiliki arti sebagai “Boleh merampok uang umat sebanyak mungkin dengan resmi dan legal”. Itu saja.


Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2009/10/divisi-gunung-ss-ke-13-handschar.html
www.eramuslim.com
www.forum.axishistory.com
www.muslim-x.livejournal.com
www.upload.wikimedia.org
www.waffen-ss-combattants.fr
www.ausairpower.net

Para Veteran Nazi Yang Membantu Mesir Dan CIA Setelah Perang Dunia II!

Generalmajor Reinhard Gehlen (tengah) yang menggalang veteran Nazi untuk bekerja demi CIA. Dia adalah perwira intelijen kepercayaan Hitler, dan jasanya begitu dihargai, sehingga Gehlen dianugerahi Kriegsverdienstkreuz (War Merit Crosss) kelas pertama, noh tuh yang nongol di dadanya!



 SS-Standartenführer Otto Skorzeny, orang di balik keberhasilan pasukan komando Jerman dalam Perang Dunia II. Amerika Serikat sampai merengek dan mengancam demi bisa mendapatkan jasanya setelah berakhirnya perang!





Oleh : Alif Rafik Khan

Sumber-sumber terpercaya di Palestina mengungkapkan bahwa dinas intelijen AS, CIA, memberikan perangkat mata-mata canggih kepada pemerintahan Fatah. Tujuan utama pemberian peralatan mata-mata tersebut adalah untuk mengawasi gerak-gerik komandan brigadir Izzudin Al Qassam. Alat tersebut juga dipergunakan untuk menyadap pembicaraan dari sang komandan melalui telepon. Dalam sebuah dokumen, terungkap bahwa tindakan tersebut dilakukan sebelum pejuang Hamas memutuskan untuk membersihkan Gaza dari para pengkhianat.

Dalam sebuah sambungan telepon khusus dengan situs Al Qassam, menanggapi soal penemuan dokumen tersebut, Abu Obaida mengatakan, “Ini bukan pertama kalinya kami menemukan dokumen yang berisi hal-hal seperti itu, pemerintahan Abbas memang memiliki agenda pengkhianatan, mereka juga memata-matai para mujahidin dan mengejar lalu menangkap para pejuang Islam atas perintah dari penjajah Zionis.”

“Kami sama sekali tidak terkejut mengenai aktivitas mata-mata yang dilakukan pemerintahan Abbas, karena kami sudah tahu benar seperti apa agenda mereka. Sungguh memuakkan, mereka berkomplot dengan agen-agen asing untuk membantai orang-orang Palestina sendiri yang seharusnya masih saudara mereka.”

Mengenai aktivitas mata-mata terhadap Mohammed Ad-Deif, buronan yang paling dicari oleh pasukan Zionis, Abu Obaida membenarkan pemberitaan yang beredar bahwa pengejaran Ad-Deif oleh pasukan keamanan Palestina ada di bawah kendali dan pengawasan CIA.

“Kami memiliki sejumlah dokumen lain yang ingin kami tunjukkan pada saat yang tepat,” tambahnya.

Mengenai upaya pembunuhan terhadap Ad-Deif, dia mengamini bahwa upaya pembunuhan terhadap Ad-Deif adalah bukti betapa kuatnya hubungan antara pemerintahan Fatah dengan CIA.

Abu Obaida mengakhiri kata-katanya dengan ucapan, “Mereka (pasukan keamanan Palestina) telah melakukan sebuah pengkhianatan besar bagi rakyat Palestina.”

Keterlibatan CIA dalam permasalahan Timur Tengah memang sudah banyak menjadi perbincangan kalangan masyarakat.

Banyak orang yang meyakini bahwa terciptanya Israel adalah karena dukungan kuat dari AS. Pada tahun 1947, pemerintahan AS memberikan suara di dalam tubuh PBB untuk memisahkan Palestina menjadi sebuah negara Yahudi dan sebuah negara Arab. Namun demikian, departemen luar negeri AS tampak “menentang” terbentuknya negara Yahudi. Presiden Truman memerintahkan perwakilan AS di PBB untuk mendukung pembagian Palestina. Hal tersebut ada hubungannya dengan pidato berapi-api dari Andrei Gromyko dari Uni Soviet di hadapan Majelis Umum PBB yang mendukung berdirinya negara Yahudi. Pidato tersebut menghilangkan pilihan politik AS, karena AS tidak ingin terlihat kurang memusuhi Nazi dibandingkan dengan Soviet.

Pakar sejarah Christopher Simpson membuat dokumentasi dengan dasar materi yang diperoleh melalui Freedom of Information Act, segera setelah tahun 1945, pemerintah AS secara diam-diam mulai merekrut Nazi dalam jumlah besar, termasuk di dalamnya sejumlah besar penjahat perang Nazi. Perekrutan tersebut dilakukan untuk membangun dinas rahasia AS. Harian Washington Post menuliskan ulasannya mengenai buku yang ditulis Simpson, “Tidak penting lagi – atau tidak mungkin lagi – untuk menyangkal fakta bahwa pemerintahan AS secara sengaja dan secara sistematis merekrut puluhan ribu orang Nazi yang masih aktif.”

Frank wisner adalah salah satu arsitek utama perekrutan Nazi untuk membentuk CIA. Menyusul kekalahan Mesir pada perang tahun 1948, Simpson menjelaskan, “Frank Wisner telah mengirimkan orang kepercayaannya ke Timur Tengah, Kermit (Kim) roosevelt, ke Kairo pada awal tahun 1951 untuk membuka negosiasi rahasia dengan kolonel Gamal Abdel Nasser dan para pemberontak yang tengah bersiap-siap untuk melancarkan kudeta di negara tersebut.

Kormit Roosevelt melaporkan kepada para atasannya bahwa memang benar ada persetujuan dengan Nasser. Nasser meminta Roosevelt untuk membantu membangun kekuatan intelijen militer Mesir dan pasukan keamanan nasional, kekurangan Mesir yang terlihat dengan kekalahan mereka dari Yahudi Israel membuat direktur CIA kala itu, Allen Dulles, memerintahkan (Reinhard) Gehlen pada tahun 1953 untuk membantu Mesir.

Reinhard Gehlen mengepalai upaya perekrutan Nazi untuk membentuk kekuatan CIA, sesuatu yang tidak terlalu mengherankan karena Gehlen adalah seorang petugas intelijen militer paling senior yang dipercaya oleh Hitler.

“Gehlen memperoleh banyak informasi dari peranannya dalam sebuah kejahatan perang yang mengerikan: penyiksaan, interogasi, dan pembunuhan pelan-pelan melalui rasa lapar terhadap 4 juta orang tahanan Soviet. Para tahanan yang menolak untuk bekerjasama seringkali disiksa hingga akhirnya ditembak mati. Banyak tahanan yang dieksekusi bahkan setelah mereka memberikan informasi yang diminta, dan sejumlah besar tahanan lainnya dibiarkan kelaparan hingga menemui ajal,” tulis Simpson dalam bukunya.

Ketika pemerintah AS merekrut Gehlen setelah perang, mereka memintanya untuk menciptakan kembali infrastruktur intelijen Nazi, dan hal ini dikenal dengan sebutan ‘Gehlen Org,’ yang bnerpusat di Pullach, Jerman Barat.

Sebagian dari para Nazi yang direkrut AS bukan berasal dari ‘Gehlen Org’ karena mereka berasal dari imigran yang pindah ke AS, bahkan sebagian Nazi imigran tersebut ada yang menjadi bagian dari tentara AS, sebagian lainnya dipergunakan sebagai aset CIA di berbagai belahan dunia yang lain.

Christopher Simpson menuliskan bahwa setidaknya setengah lusin – atau mungkin lebih – dari jajaran staf pertamanya, yang terdiri dari 50 orang, adalah mantan anggota SS (Schutzstaffel, polisi khusus pelindung Adolf Hitler) atau SD (Sicherheitsdienst, pasukan intelijen Nazi), termasuk Obersturmführer (sebuah pangkat yang diberikan kepada petinggi militer Nazi dari pasukan SS) Hans Sommer.Pendukung Fatah memberi penghormatan selayaknya Nazi.

Menyusul kekalahan Mesir, AS meminta bantuan Gehlen untuk membantu meningkatkan kekuatan militer dan intelijen Mesir. Gehlen sendiri memerintahkan Otto Skorzeny.

Skorzeny adalah seorang Nazi “murni” – sesuai dengan penggambaran fisik sosok bangsa Arya yang tinggi dan berambut emas, yang sangat disukai oleh der führer, Adolf Hitler – Hitler sendiri berbadan pendek dan berambut coklat. Skorzeny disebut-sebut sebagai komandan favorit Hitler. Dia adalah seorang pakar sabotase, pembunuhan, dan sejumlah misi-misi sulit lainnya dalam agenda penyusupan.

Gehlen menginginkan Otto Skorzeny untuk melatih pasukan Mesir. Skorzeny sendiri mengatakan bahwa dirinya segan melakukan itu, sehingga pemerintah AS sampai harus merengek memohon kepada Skorzeny secara pribadi, dia dijanjikan gaji yang besar dan seluruh biaya operasional intelijennya. Skorzeny tidak bergeming, sampai akhirnya Gehlen menekan ayah mertua Skorzeny, Hjalmar Schacht, untuk meyakinkannya.

Skorzeny kemudian menggunakan dana dari CIA untuk merekrut sekitar 100 orang penasihat Jerman untuk membimbing pasukan intelijem Mesir, kebanyakan dari orang Jerman yang direkrut berasal dari organisasi neo-Nazi.

Pelatihan pasukan militer dan intelijen Mesir bukanlah satu-satunya peranan Nazi (suruhan CIA) di Timur Tengah. Gerakan Fatah juga diciptakan di Kairo.

Pemimpin Fatah dan presiden pemerintahan Palestina, Mahmoud Abbas, dikabarkan juga mendapatkan pelatihan Nazi, karena Abu Mazen (panggilan Abbas) adalah salah satu pendiri Fatah.


Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2009/08/para-veteran-nazi-yang-membantu-mesir.html
www.suaramedia.com
www.deviantart.com
www.eaglesandlions.com

SS-Standartenführer Wilhelm Harun El-Raschid Hintersatz (1886-1963), Perwira Waffen-SS Mualaf!

Surat Tugas SS (Tagesbefehl) Wilhelm Hintersatz.



 Wilhelm Harun El-Raschid Hintersatz dalam balutan seragam Ottoman Turki, lengkap dengan penutup kepala (fez) nya yang khas.




Oleh : Alif Rafik Khan

Wilhelm Hintersatz dilahirkan tanggal 26 Mei 1886 dari keluarga yang beragama Katolik. Dia bertugas di Kaiserliche dan Königliche Armee selama berlangsungnya Perang Dunia Pertama, dan atas jasa-jasanya dalam pertempuran, Hintersatz dianugerahi Eiserne Kreuz kelas ke-1 dan ke-2, plus Wound's Badge in Silver. Dia kemudian mendapat penugasan ke Turki dan menjadi ajudan Jerman dari jenderal Turki Enver Pasha. Rupanya disinilah timbul minatnya untuk mempelajari agama Islam, dan tak lama kemudian Hintersatz sudah beralih agama dari Katolik ke Muslim, dan merubah namanya menjadi Harun El-Raschid Bey.

Setelah Perang berakhir, Hintersatz balik kembali ke kesatuannya di Austria, meniti karir sampai meraih pangkat Kolonel (Oberst). Ketika Jerman dibawah Hitler menganeksasi Austria tanggal 16 Maret 1938, Hintersatz adalah salah satu pendukungnya yang paling ekstrim. Oleh karena itulah, Himmler memasukkannya menjadi anggota SS (Schutzstaffel) tanggal 1 Oktober 1944 dengan nomor keanggotaan 496147 dan pangkat Standartenführer (setara dengan pangkat Kolonel dalam jenjang tentara biasa).

Hintersatz menjadi komandan Osttürkischer Waffen-Verband der SS dari tanggal 20 Oktober 1944 sampai dengan bulan Februari tahun 1945 menggantikan Andreas Meyer-Marder. Unit ini dibentuk dari tiga batalion Wehrmacht nomor 450, 480, dan Batalion ke-1 Infanterieregiment 94, dengan komandan pertamanya adalah mantan Mayor Angkatan Darat (Heer), Andreas Meyer-Marder. Unit ini kemudian dimasukkan sebagai bagian dari Waffen-SS pada awal tahun 1944. Bagian dari unit ini adalah Waffengruppe Aserbeidschan, Waffen-Gebirgs-Brigade der SS (Tatarische Nr.1) di bawah pimpinan Willy Fortenbacher, pemegang penghargaan The Cross of Honour 1914-1918. Osttürkischer Waffen-Verband der SS sendiri menjadi bagian dari Waffengruppe Krim.

Unit Hintersatz bertempur di wilayah pegunungan Ural dan Asia Tengah melawan Komunis Rusia dari tahun 1944-1945, dan mendapatkan simpati yang luar biasa dari masyarakat lokal yang kebanyakan beragama Islam, karena kesamaan pandangan dalam hal anti-komunis dan juga unit ini mengakomodir umat Muslim untuk bergabung, apalagi komandannya juga seorang mualaf!

Ada yang berkata bahwa Hintersatz diberhentikan dari tugasnya tak lama setelah peristiwa desersi dari I./W-Grp. d. SS "Turkestan“, dan digantikan oleh Hauptsturmführer Franz-Josef Fürst (beberapa sumber menyebutkan namanya sebagai Georg Fürst). Yang jelas, Hintersatz tetap setia bersama unitnya tersebut sampai berakhirnya perang, tetap berjuang walaupun tahu bahwa pihaknya berada di pihak yang kalah. Dalam hampir semua sumber disebutkan bahwa Fürst (nanti pangkatnya naik menjadi Sturmbannführer) menggantikan Hintersatz di bulan Februari 1945 sampai dengan berakhirnya perang. Hal ini tidak sepenuhnya benar meskipun tidak pula sepenuhnya salah (bingung?). Intinya, Fürst memang menjadi komandan dari SEBAGIAN unit Osttürkischer Waffen-Verband der SS yang bermarkas di Slovakia. Sturmbannführer Fürst sendiri dilaporkan MIA (missing in action) pada akhir bulan April 1945 di wilayah Karlsbad.

Seperti yang dijelaskan oleh Profesor Kurt Tauber dalam dua volume bukunya 'Beyond Eagle And Swastika' (diterbitkan tahun 1967) yang membahas mengenai fenomena nasionalisme anti-demokrasi Jerman pasca Perang Dunia II, Wilhelm Harun El-Raschid Bey Hintersatz kemudian menulis buku yang berisi pengalam pribadinya selama Perang Dunia Pertama dan Kedua : Orient Und Occident, Ein Mosaik Aus Buntem Erleben (Dari Orient dan Occident, Mosaik Pengalaman Berwarna-Warni) yang dipubikasikan tahun 1954.

Hintersatz menghembuskan nafas terakhirnya tanggal 29 Maret 1963.

Karir kemiliteran Hintersatz :
- Major Wehrmacht (1939-1944)
- Bergabung dengan Waffen-SS (496147)
- SS-Sturmbannführer (3 Agustus 1944)
- SS-Obersturmbannführer (1 September 1944)
- SS-Standartenführer (1 Oktober 1944)
- Komandan Osttürkischer Waffen Verband der SS (20 Oktober 1944 - Mei 1945).

Penghargaan yang telah diraih oleh Hintersatz:
- Preussische Rettungsmedaille,
- EK-II (septembre 1914),
- EK-I (1915),
- Komturkreuz der Orden von d. Weissen Rose Finnlands,
- Österreichische MVK 3. kl mit KD,
- Lippisches-Detmold KVK,
- Hamburgisches Hanseatenkreuz,
- Herzoglich Sächsen Ernestinischer Hausorden Ritterkreuz 2. kl mit Schwertern (7 avril 1917),
- Georgien Orden d. Heiligen Tamara,
- Türkischer Eiserner Halbmond,
- Türkischer Silberne Liakat Medaille mit Schwertern Spange,
- Türkische Medjidie Orden 2. kl mit Schwertern,
- Türkische Silberne Roten Sichelförmige Medaille,
- Verwundeten Abzeichen in Silber.
- Ehrenkreuz des Weltkrieges 1914-1918 mit Schwertern,
- Wehrmacht Dienstauszeichnung 18 jahr.

Daftar buku karya Hintersatz :
– Marschall Liman von Sanders Pascha und sein Werk. R. Eisenschmidt. Berlin. 1932.
– Schwarz oder Weiß? Joh. Kasper & Co. Berlin. 1940. 289 S.
– Achtung! Erdstrahlen sind Gefahr für Mensch, Tier und Pflanzenhaltung! Die Wünschelrute warnt! Eisenschmidt. Wiesbaden. Berlin. 1952. 32 S.
– Aus Orient und Occident – Ein Mosaik aus buntem Erleben. Deutscher Heimat-Verlag. Bielefeld. 1954. 267 S.

Sumber :  
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2009/08/ss-standartenfuhrer-wilhelm-harun-el.html
www.forum.axishistory.com

Abdul Aziz Myatt, Neo-Nazi Yang Menjadi Pemeluk Islam!

David Myatt alias Abdul Aziz Myatt.



 Abdul Aziz Myatt dengan baju gamis khas muslim.




Oleh : Alif Rafik Khan

Sebagai seorang aktivis kelompok sayap kanan dan pendukung Neo-Nazi, lelaki asal Inggris ini menempuh perjalanan panjang dan berliku sebelum akhirnya memutuskan untuk memeluk agama Islam. Ego sebagai bagian dari masyarakat Barat yang modern dan maju, menghalanginya untuk menemukan cahaya Islam. Namun ia yakin Allah swt telah membimbing dan memberikannya hidayah, hingga ia masuk ke sebuah masjid, mengucapkan dua kalimat syahadat dan menjadi seorang Muslim dengan nama Abdul Aziz Myatt.

Perkenalan Myatt dengan Islam berawal ketika ia berlibur ke Mesir. Di negeri Piramida itu ia berkunjung ke sebuah masjid dan hatinya tersentuh dengan keindahan suara adzan yang dilantunkan dari masjid itu meski ia belum mengerti apa itu adzan. Sejak itu, Myatt mulai ingin tahu tentang Islam dan setiap berlibur ke Mesir, ia mencari kesempatan untuk berbincang-bincang dengan Muslim Mesir dan menanyakan tentang agama mereka.

Myatt juga membeli sebuah al-Quran, membacanya sedikit demi sedikit hingga ia berkesimpulan ajaran al-Quran adalah ajaran yang masuk akal dan makin membuatnya kagum dengan Islam dan umat Islam. "Semakin banyak saya bertemu dengan Muslim, saya semakin mengagumi mereka," kata Myatt.

Ketika itu, Myatt tidak langsung berpikiran untuk masuk Islam. Ia masih dikuasai oleh egonya, cara hidupnya sebagai orang Barat dan dua hal yang membuatnya menahan diri untuk tidak mengapresiasi Islam secara penuh dan mempelajarinya lebih jauh lagi.

Dua hal itu adalah, pertama, karena keyakinannya yang tertanam sejak lama pada alam semesta. Keyakinan bahwa umat manusia adalah milik dari seorang "ibu" yaitu "bumi". Kedua, karena budaya bangsanya yang membuatnya merasa lebih mulia dan superior dibandingkan bangsa lainnya. Selama puluhan tahu, Myatt terombang-ambing dalam keyakinan itu, yang ia pikir sebagai sumber dari zat yang suci. Belum lagi posisinya sebagai aktivis kelompok sayap kiri dan Neo-Nazi yang membuat banyak orang termasuk para wartawan yang menilainya sebagai politisi yang jahat.

"Ketika itu saya masih bersikap arogan, yang hanya percaya dengan keyakinan saya sendiri dan dalam memahami apa yang telah saya raih," imbuh Myatt.

Hatinya tergerak kembali untuk mulai serius mempelajari Islam ketika ia beralih profesi, mengelola sebuah peternakan. Ia bisa bekerja selama berjam-jam seorang diri. Kedekatannya dengan alam, mengetuk jiwa dan rasa kemanusiaannya. Ia mulai menyadari kesatuan alam semesta dan bagaimana ia menjadi bagian dari semua itu yang ciptakan oleh Tuhan.

Jauh di dasar hatinya, Myatt mengakui bahwa alam semesta ini tidak terjadi secara kebetulan tapi memang diciptakan. Terkadang keyakinan dan ego lamanya muncul. Ia merasakannya seperti berperang dengan godaan setan. Namun ia makin meyakini di dalam hatinya tentang satu-satunya Sang Maha Pencipta.

"Untuk pertama kalinya saya merasa diri saya begitu kecil. Kemudian tanpa sengaja saya mengambil al-Quran dari rak buku, al-Quran yang saya beli waktu berkunjung ke Mesir. Saya mulai membacanya dengan seksama. Sebelumnya, saya hanya membolak-balik lembarannya dan membaca sepintas lalu beberapa ayat," tutur Myatt.

"Apa yang saya temukan di al-Quran adalah hal-hal yang logis, alasan, kebenaran, keadilan, kemanusiaan dan keindahan," sambungnya.

Myatt makin tertarik untuk lebih mendalami agama Islam. Ia pun mencari informasi tentang Islam lewat internet dan membaca banyak artikel tentang agama Islam di situs-situs Islam. Dengan melepaskan semua prasangka dan arogansinya, Myatt harus mengakui kalau agama Islam adalah agama yang mulia.

"Saya merasakan menemukan ajaran tentang kemuliaan, rasa hormat, rasa saling percaya, keadilan, kebenaran, kemasyarakatan, mengingat Tuhan setiap hari, disiplin diri, penyikapan terhadap materi dari sisi spiritual dan pengakuan bahwa kita adalah hamba yang harus mengabdi pada Tuhan," papar Myatt.

Ia juga mempelajari sosok Nabi Muhammad saw dan kehidupannya. Bagaimana Rasulullah menyebarkan agama Islam dan membentuk sebuah peradaban manusia, yang membuat Myatt terkagum-kagum. "Bagi saya, ia (Rasulullah) adalah manusia sempurna dan contoh sempurna yang harus kita tiru," tukas Myatt.

Ia melanjutkan, "Semakin banyak saya tahu tentang Islam, semakin banyak keraguan dan pertanyaan dalam diri saya yang terjawab selama hampir 13 tahun belakangan ini. Saya benar-benar merasa bahwa saya akhirnya 'pulang ke rumah', menemukan jati diri saya. Rasanya seperti ketika saya pertama kali tiba di Mesir dan berkeliling kota Kairo dengan menara-menara masjid dan suara adzannya."

Myatt merasa bahwa hijrahnya ke agama Islam bukan sebuah pertanyaan lagi, tapi sebuah tugas yang harus dilakukan. Karena saya telah menemukan kebenaran bahwa Tiada Tuhan Selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusanNYa.

Myatt kemudian mendatangi sebuah masjid dan menyatakan ingin menjadi seorang Muslim. Ia diterima oleh jamaah masjid dengan hangat dan penuh rasa persaudaraan, yang membuatnya terharu dan meneteskan air mata. Ia bersyukur Allah swt telah menunjukannya jalan yang benar.


Sumber :  
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2009/04/abdul-aziz-myatt-neo-nazi-yang-menjadi.html
www.mualaf.com

Partai Fascist Indonesia (PFI) Dan Sejarah Fasisme Di Nusantara

Pemimpin NSB (partai Nazi ala Belanda) Anton Mussert mengeluarkan salam khas 'Houzee'-nya sebelum bertolak untuk mengadakan kunjungan ke Hindia-Belanda (1935).



 Penguburan Muhammad Husni Thamrin, 15 Januari 1941. Tampak di depan pemimpin Parindra, Woerjaningrat Soekardjo Wirjopranoto, dengan dikelilingi oleh kelompok Pemuda Parindra yang memberikan salam kebesaran Hitler.



 Para aktivis NSP di dalam kamp interniran di Pulau Onrust, Mei 1940.




Oleh : Alif Rafik Khan

Awal tahun 1933, berdiri Nederlandsche Indische Fascisten Organisatie (NIFO) di Batavia. Organisasi ini berkiblat pada organisasi fasis di Jerman dan mengklaim diri sebagai bagian dari Nationaal Socialistische Beweging (NSB) yang didirikan oleh Ir Mussert dua tahun sebelumnya. Seperti halnya kaum Fasis di Jerman, NIFO juga memiliki sayap pemuda militan, Barisan Pemuda, Sebuah pasukan yang mendapat latihan ketentaraan dan berseragam hitam. Sayangnya, tidak semua anggota NIFO setuju dengan pembentukan pasukan ini, dengan alasan akan menimbulkan pertentangan antar golongan di tanah Hindia. Mereka, melalui vergadering dan kursus-kursus politik, gencar menyebarluaskan ajaran fasis.

Awalnya gerakan ini tidak pernah dihiraukan di Hindia. Pemerintah kolonial lebih memfokuskan diri memonitor kaum pergerakan pribumi. NIFO bukan sesuatu yang mengkhawatirkan. Ketika kaum NAZI berhasil merebut kekuasaan, Januari 1933, sekelompok warga Jerman di tanah Hindia menyambut dengan antusias dengan menghimpun 1000 tanda tangan orang Jerman di Hindia untuk mendukung pemerintahan Adolf Hitler. Meski tidak seluruh orang Jerman tidak bisa memberikan tanda tangannya, dipastikan hampir seluruh warga Jerman di Hindia mendukung Pemerintahan baru Hitler di Jerman!

Simpati terhadap NAZI Jerman juga ditemui pada sekelompok pemuda Belanda yang berbaris di taman-taman atau jalanan. Mereka mengenakan kemeja krem dengan celana atau rok coklat tua. Setiap berpapasan, mereka saling memberikan Heil Führer atau Heil Hitler (hormat ala kaum NAZI). Ini bukanlah bentuk keberpihakan sepenuhnya pemuda Belanda tadi, melainkan sekedar mode yang musiman saja pada saat itu di kalangan pemuda Indo.

Selama dalam pembuangan di pulau Banda, Sutan Sjahrir melihat suksesnya propaganda fasis. Istri seorang dokter dipulau itu sering menyapa kawan-kawannya dengan Heil Hitler. Istri dokter itu hanya menganggap salam itu bagus dan terkesan modern tanpa mengerti lebih jauh apa itu Fasis!

Setelah propaganda kaum fasis Hindia mulai mempertanyakan “ keabsahan “ pemerintah, pemerintah kolonial berkesimpulan bahwa gerakan fasis akan mengganggu ketertiban umum dan akan mempengaruhi wibawa pemerintah dimata kalangan bumi putra. Polisi kolonial-pun mulai bertindak terhadap kaum fasis ini. Sebuah pertemuan NIFO di Bandung dibubarkan dengan paksa setelah pemimpin NIFO disana menganjurkan agar Hindia lepas dari Negeri Belanda. Kaum fasis yang semakin radikal ini membuat kesal pemerintah kolonial.

Antara anggota NIFO pernah terlibat konflik. Suatu kali Rhemrev, van Huut dan Ten Holder dalam sebuah rapat tertutup mengancam akan mundur dari NIFO bila Ocherse, Gouwenberg dan Kankeler masuk sebagai dewan pimpinan NIFO. Alasan penolakan itu berkisar pada propaganda fasis, untuk kaum Indo Eropa atau untuk seluruh rakyat Hindia.

Setelah sempat keluar dalam waktu yang tidak lama, Rhemrev, van Huut dan Ten Holder masuk kembali dalam NIFO setelah ada pengumuman bahwa Ocherse, Gouwenberg dan Kankeler tidak akan dimasukan dalam daftar anggota dewan pimpinan. Dalam "Adil" edisi 29 Juni 1933, Rhemrev menyangkal bahwa dirinya telah keluar dari NIFO.

Masalah apakah NIFO hanya diperuntukan bagi kaum Eropa dan Indo Eropa atau bagi seluruh Hindia menimbulkan perpecahan di waktu yang akan datang. Di kemudian hari anggota yang memandang perlunya fasisme bagi seluruh rakyat Hindia mendirikan Fascistische Unie. Dalam anggaran dasarnya, Fascistische Unie disebutkan:

1.Kerajaan Nederlansche terdiri atas Hindia Timur dengan Hindia Barat;
2.Kerajaan ini harus dibawah Koninghuis Orange;
3.Penduduk baik individual maupun dengan cara bergolong-golong boleh mendapat staats burgerschap dengan berpegang pada adapt golongan masing-masing;
4.Memajukan samenwerking antara golongan antara golongan pendudukberdasar kegunaannya pada staat;
5.Kaum majikan dan kaum buruh, dengan ttidak memandang bangsa akan dianggap sama harganya pentingnya untuk kemajuan staat;
6.Akhir sekali staat dirubah menjadi satu staat yang berdasar syndico-corporatieven grondslag;
7.Mengakui kegunaan agama bagi seseorang dan semua agama harus dimajukan dan paham yang tidak mengakui adanya tuhan dibantah.

Agenda politik organisasi ini menyebut, Negeri Belanda harus diubah menjadi pemerintahan fasis. Kaum pribumi Hindia tidak lepas untuk difasiskan agar bisa menerima Fascistische Staatvorm Negeri Belanda.

Sebuah usaha menyatukan kaum fasis Hindia dilakukan dengan mengumpulkan para wakil dari IEV, VC juga NIFO pada Juli 1933 untuk merumuskan program bersama. Kerjasama ketiga organ itu lebih didasarkan pada tiga program pokok: pembelaan keras untuk kekuasaan (gezeg); membezuinig sehabis-habisnya sehingga bergrooting menjadi klop; menunjang pemutusan hak tanah (grond-rechten) buat kaum Indo Eropa. Hal ini menunjuikan pengaruh VC dan IEV sangat besar pada masa itu. VC sangat memusuhi kaum pergerakan. EIV kesal lantaran tuntutan hak tanahnya ditolak pemerintah atas desakan anggota volksraad pribumi Husni Thamrin. Hingga VC dan IEV menjadi pendukung NIFO dalam mengusung fasisme sebagai bagian dari NSB.
Berdirinya cabang NSB di Indonesia pada tahun 1934, bermula dari kembalinya Mr. Hamer—tokoh VC—dari Negeri Belanda. Hamer mengaku dirinya angggota dan wakil NSB di Hindia Belanda. Banyak pejabat dan pengusaha yang menjadi anggota NSB walau bukan anggota tetap. Sudah pasti mereka tidak akan mau ambil resiko dan terkesan membatasi diri dalam perannya di organisasi. Mereka sering membari bantuan dana bagi para NSB. Bila di Negeri Belanda pegawai sektor public (pegawai negeri) dilarang menjadi anggota NSB, maka anggota NSB Hindia adalah para guru, pegawai dan sarjana!

Untuk merndukung propaganda-nya, NSB memiliki media sendiri, surat kabat Het Licht. Kemenangan kaum Fasis terhadap kaum komunis selalu menghiasi headline surat kabar Fasis itu. Sikap anti pergerakan diperlihatkan kaum fasis dengan memposisikan kaum komunis sebagai kaum yang berbahaya seperti dalam pemberontakannya pada tahun 1926-1927. Kaum pribumi, dimata orang Eropa yang terpengaruh Fasis tidak berbeda dengan kaum komunis, orang Eropa merasa orang pribumi selau memata-matai dan menunggu lengah lalu menikam dari belakang seperti dalam pemberontakan PKI. Apa yang dilakukan kaum fasis tadi, dimata kaum pergerakan sama saja dengan apa yang dilakukan pemerintah colonial, mematikan kaum pergerakan. Sejak dulu setiap kekuatan yang menetang pemerintah selalu dicap ‘komunis’ (merah).

Pengaruh Fasis diterima dengan baik oleh beberapa orang pribumi. Pada bulan Agustus 1933 di Bandung, Dr Notonindito mendirikan Partai Fascist Indonesia (PFI). Partai ini mengusung fasisme demi romantisme sejarah kejayaan budaya dimasa lampau, seperti halnya romantisme Mussolini pada kejayaan Romawi, Italia La Prima. Berbeda dengan fasis Eropa dan Indo yang bisa jadi dilator belakangi oleh kepentingan ekonomi. Pada dasarnya PFI ingin membangun kejayaan kerajaan Indonesia purba macam Sriwijaya atau Majapahit. Gagasan dan cita-cita ini juga mengejutkan kaum pergerakan nasional waktu itu. Notonindito yang pernah tinggal di Jerman rupanya tidak ingin mengikuti fasisme Jerman pada tahun 1924, sebagai orang Jawa dirinya lebih mengakar pada kebudayaan Jawa saja. Ia bukan bermaksud mendirikan Negara korporasi, melainkan sebuah Negara yang dipimpin oleh seorang raja seperti pada masa lampau. Seperti dikutip dalam Adil: “mendapatkan kemerdekaan Djawa dan nanti diangkat raja yang tunduk pada grondwet dan raja ini adalah turunan dari Penembahan Senopati; akan mebangunkan kembali statenbond (Perserikatan Negeri-negeri) dari kerajaan-kerajaan di Indonesia yang merdeka, dimana terhitung juga tanah-tanah raja (Vorstenlanden.
Kaum pergerakan dalam Pemandangan memberikan reaksi kepada PFI. Dengan didahului dengan beberapa tulisannya, diambil kesimpulan bahwa PFI merupakan kelajutan dari cita-cita Soetatmo, juga seorang nasionalis Jawa. Ketika Notonindito di Jerman, 1924, Soetatmo meninggal dunia karena sakit. Surat kabar Adil edisi 26 Juni 1933, mengecam PFI sebagai ‘perkakas politik’ untuk memecah pergerakan nasional. Fasisme dipandang juga sebagai bibit dari sikap provinsialisme yang merugikan. Lebih lanjut dibahas nasionalisme yang dibutuhkan kaum pergerakan untuk rakyat Hindia adalah nasionalisme kerakyatan bukan nasionalisme yang dilandasi jiwa priyayi Jawa dan stelsel kapitalisme. Panji Timoer menuduh, kaum fasis Hindia tidak ubahnya kaum fasis di Eropa, mereka telah ‘membunuh aliran revolusioner’.

Notonindito sendiri adalah putra Raden Pandji Notomidjojo, bekas patih kabupaten Rembang. Pada 1918 ia menamatkan MULO, kemudian melanjutkan pelajarannya di Telefoon Dienst. Pada 1921, ia berangkat ke Belanda untuk mempelajari ekonomi perdagangan. Pada 1923 ia lulus dan meraih gelar adjunc accountant dan bekerja pada kantor akuntan di Amsterdam. Pada pertengahan 1924 ia menuju Berlin (Jerman) untuk melanjutkan studi ekonominya. Pada November 1924 ia meraih gelar Doktor dalam ilmu ekonomi dengan tesis "Sedjarah Pendek Tentang Perniagaan, Pelajaran Dan Indoestri Boemipoetra Di Poelau Djawa". Sepulangnya ke Indonesia, ia membuka kantor di Pekalongan sambil merangkap sebagai anggota PNI. Ia kemudian pindah ke Bandung dan menghilang dari panggung pergerakan. Ketika Partai Nazi memenangkan pemilu di Jerman pada tahun 1933, Notonindito muncul kembali di panggung pergerakan dengan idenya tentang Partai Fascist Indonesia

Akibat serbuan Jerman ke penjuru Eropa, banyak terjadi perubahan atas Hinjdia Belanda. Di Ternate, tempat Didi Kartasasmita Bertugas sebagai Letnan KNIL. Didi melihat, orang-orang Jerman umunya berprofesi sebagai pedagang hasil bumi atau sebagai pekerja di Zending. Setelah penyerbuan itu, orang-orang Jerman itu diasingkan. Biasanya jika serdadu KNIL bangsa Belanda bertemu orang-orang Jerman, mereka akan membuat pesta. Setelah keluar aturan pengasingan bagi orang-orang Jerman, justru orang-orang Belanda KNIL itulah yang menangkapnya. Serdadu-serdadu pribumi justru tidak dilibatkan dalam penangkapan itu.
Pernah Didi mendengar pemisahan Negeri Belanda dengan Hindia Belanda. Banyak orang-orang Belanda Indo mendukung hal ini, orang-orang Belanda totok justru tidak menginginkannya.


Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2009/08/partai-fascist-indonesia-pfi-dan.html
Buku "Orang Dan Partai Nazi Di Indonesia" karya Wilson terbitan Komunitas Bambu
www.backpackerindie.blogspot.com
www.axishistory.com

Hauptmann Dr.jur. Hellmuth Schreiber Volkening (1911-1942), Penerima Ritterkreuz Kelahiran Indonesia!

Hellmuth Schreiber Volkening sebagai Oberleutnant .



Sang penerima Ritterkreuz kelahiran Sumatera. BTW, foto ini aslinya sebelum dia menerima Ritterkreuz, dan dengan menggunakan teknik fotografi jadul (sebelum Photoshop ada), ditambahlah Ritterkreuz "jadi-jadian" di lehernya!



 Hellmuth Schreiber Volkening bersama para Ritterkreuzträger (peraih Ritterkreuz) dari Resimen Infanteri ke-16, yang merupakan bagian dari Divisi Infanteri Jerman ke-22. Ini adalah acara pemberian Ritterkreuz yang diserahkan langsung oleh Reichsmarschall Hermann Göring dan bertempat di Rotterdam, tanggal 29 Mei 1940. Dari kiri ke kanan : Oberleutnant Hermann-Albert Schrader (pangkat terakhir : Hauptmann), Oberstleutnant Dietrich von Choltitz (pangkat terakhir : General der Infanterie), Oberst Hans Kreysing (pangkat terakhir : General der Gebirgstruppe), Feldwebel August Grauting (pangkat terakhir : Oberleutnant), dan Oberleutnant Hellmuth Schreiber Volkening (pangkat terakhir : Hauptmann).




Oleh : Alif Rafik Khan
Ketika saya sedang asyik surfing di internet mencari artikel tentang hubungan antara Maria Ozawa dengan Adolf Hitler (wtf?), saya terkejut ketika mendapati bahwa dari 7.366 penerima Ritterkreuz (Knight’s Cross/Salib Ksatria), medali paling bergengsi yang dipunyai Jerman, setidaknya satu di antaranya berasal dari Indonesia, yaitu Hellmuth Schreiber Volkening! Ini dilihat dari tempat kelahirannya, dan bukan keturunannya. Dan untuk ini pun saya belum berani berkesimpulan bahwa dia satu-satunya yang berasal dari Indonesia, karena mungkin saja ada peraih Ritterkreuz lainnya, yang saya belum ketahui, yang mempunyai hubungan yang sama dengan tanah air tercinta!
Untuk biografinya sendiri, baru ini yang saya dapatkan. Silakan dicicipi!
Hellmuth Schreiber Volkening dilahirkan di pulau Sumatera tanggal 22 November 1911 sebagai anak dari dokter Jerman yang bertugas di Hindia Belanda. Saya belum mendapatkan keterangan lengkap tentang tempat persis lahirnya atau bagaimana kehidupan dia selama di Indonesia, yang jelas kemungkinan besar dia hanya sebentar saja disini, untuk kemudian pindah mengikuti orangtuanya yang meneruskan praktik dokter di Jerman.
Setelah menamatkan sekolahnya , Schreiber Volkening mempelajari hukum di Königsberg dan Münich, dilanjutkan dengan mengambil gelar doktoratnya, sehingga di depan namanya ada embel-embel Dr.jur.
Tahun 1932 dia memutuskan untuk mendaftar ke Angkatan Darat (Reichsheer) dan tahun 1934 telah menjadi kadet di Resimen Infanteri ke-16. tanggal 1 April 1936 dia telah dipromosikan menjadi Leutnant, dan memperdalam pengetahuannya akan bahasa Inggris dan Prancis. Promosi menjadi Oberleutnant terjadi di tahun 1939, dan ketika Perang Dunia II pecah, Schreiber Volkening terdaftar sebagai komandan kompi 9 di Resimen Infanteri ke-16 yang merupakan bagian dari Divisi Infanteri ke-22. Dalam penyerbuan Jerman ke Negara-Negara Bawah dan Prancis, dia memperlihatkan kapasitas terbaiknya sebagai seorang perwira, sehingga dianugerahi Ritterkreuz pada tanggal 29 Mei 1940.
Tahun 1941 Schreiber Volkening ditempatkan di Sekolah Militer Potsdam, dan tahun 1942 dia diangkat sebagai Hauptmann (Kapten). Sayangnya, tokoh kita kali ini tidak sempat mencicipi akhir dari peperangan, karena tanggal 9 Agustus 1942 dia telah gugur dalam pertempuran di Reschew, Russia, sebagai staff dari sebuah divisi lapis baja.
Untuk ini saya kutipkan berita dari “Oldenburger Nachrichten” no.224 terbitan 17 Agustus 1942 :
“Tanggal 9 Agustus telah gugur Dr. Hellmuth Schreiber Volkening, seorang Kapten dari sebuah divisi lapis baja, dalam pertempuran defensif yang berat di wilayah tengah dari Front Timur. Dengan kepergiannya, maka Gauhaupt dan kota perbatasan Oldenburg telah kehilangan salah satu putra terbaiknya sekaligus peraih Ritterkreuz, yang namanya berhubungan erat dengan pertempuran gilang gemilang dari resimen kita dalam merebut jembatan-jembatan di Rotterdam, sehingga dengannya pasukan Jerman dapat saling berhubungan di bulan Mei tahun 1940. Dalam pertempuran yang dahsyat ini, dia telah menggantikan para komandan sebelumnya yang telah gugur terlebih dahulu, yaitu Hauptmann Hermann Schrader dan Oberleutnant August Grauting, dan kemudian membawa pasukannya menyerbu jembatan-jembatan yang belum diduduki di Benteng Belanda. Jerih payahnya yang tak kenal lelah dalam bertempur habis-habisan siang dan malam telah membuatnya dianugerahi Ritterkreuz, yang diserahkan langsung dari tangan Reichsmarschall (Hermann Göring).”
“Beberapa bulan setelah penghargaan tersebut, dia ditugaskan ke Sekolah Pelatihan Komando di Potsdam, untuk menurunkan pengalaman bertempurnya yang berharga sebagai guru dan pelatih. Setelah mengikuti sekolah lanjutan di Akademi Militer dan dinaikkan pangkatnya menjadi Hauptmann, dia meminta untuk ditugaskan kembali di front depan pertempuran. Permintaannya dikabulkan, dan dia ditempatkan pertama-tama di artileri, lalu dipindahkan ke divisi panzer. Di saat yang ditakdirkan sebagai hari kematiannya, dia telah menjalani kewajibannya sebagai seorang komandan militer dengan sebaik-baiknya.”
“Kepergiannya ditangisi oleh para kameradnya yang berada di resimen yang sama, yang telah mengenalnya sebagai seorang prajurit yang berdedikasi, seorang teman yang setia, dan seorang pemberi nasihat yang berharga. Sebagai salah seorang penulis artikel rutin di koran resimen kita “Der Waffenträger”, dia telah banyak memberikan buah pikirannya untuk kemajuan resimen, dan tulisan-tulisannya yang tak terhitung tetap dapat kita pelajari sampai saat ini. Dia akan tetap hidup di hati kita sebagaimana dia di mata para prajurit yang telah bertugas di bawah kepemimpinannya. Hanya ada kata-kata sederhana bagi dia, dari keperwiraannya di hari-hari Rotterdam yang panas sampai saat kematiannya : seorang lelaki yang sederhana, rekan seperjuangan yang baik, dan prajurit pemberani. HE.”
Saya sertakan pula kata-kata aslinya yang berbahasa Jerman, kalau-kalau terjemahannya dirasa kurang tepat bagi yang mengerti :
“Am 9 August fiel bei den schweren Abwehrkämpfen im mittleren Abschnitt der Ostfront Dr. Hellmut Schreiber-Volkening, Hauptmann in einer Panzerdivision. Mit ihm verliert die Gauhaupt- und Garnisonstadt Oldenburg einen ihrer Ritterkreuzträger, deren Namen mit den ruhmvollen Kämpfen unseres Regiments um die Brücken von Rotterdam im Mai 1940 unlösbar verknüpft sind. Er folgte seinen Kameraden Oberleutnant August Grauting und Hauptmann Hermann Schrader in den Tod, die mit ihm jene Brücken zur Festung Holland stürmten, im härtesten Ringen durch Tage und Nächte hielten und mit ihm aus der Hand des Reichsmarschalls das Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes für diese entscheidende Waffentat empfingen.”

“Wenige Monate nach dieser Bewährung führte ihn ein Kommando zur Kriegsschule in Potsdam, wo er bis vor kurzem sein reiches militärisches Wissen als Lehrer und Ausbilder verwerten durfte. Ausersehen zum Besuch der Kriegsakademie und zum Hauptmann befördert, suchte er weitere Fronterfahrung – zunächst bei der Artillerie, später in einer Panzerdivision. Am Tage der Beendigung dieses Frontkommandos erfüllte sich sein soldatisches Schicksal.”

“Mit den Kameraden seines Regiments und allen, die ihn als Mensch und Soldaten kannten und schätzten, trauern auch wir um einen unserer treuesten Freunde und Berater. Als Mitarbeiter unserer Beilage „Der Waffenträger“ stellte er unserer Zeitung sein Wissen und seine glänzende Gabe zu schreiben in unzähligen Artikeln zur Verfügung. Er wird uns so unvergessen bleiben wie er in den Herzen seiner Soldaten, die mit ihm die heißen Tage von Rotterdam durchkämpften, weiterleben wird: Ein schlichter Mensch, ein guter Kamerad und ein tapferer Soldat.”
Sumber : 
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2009/11/hauptmann-drjur-hellmuth-schreiber.html
www.historic.de

Ratusan Orang Tentara Belanda Yang Memerangi Republik Indonesia Dalam Perang Kemerdekaan Indonesia Adalah Veteran Waffen-SS!

Tipe para tentara KNIL dengan senjata 'jadul' mereka. Apakah di antaranya ada yang mantan Waffen-SS?



 Tipe salah satu kendaraan lapis baja yang dikerahkan Belanda dalam pendudukannya di Indonesia.




--> Oleh : Alif Rafik Khan


Di antara tentara-tentara Belanda yang datang ke Indonesia dan memerangi para pejuang kemerdekaan negara ini, ternyata sebagian di antaranya adalah mantan veteran Waffen-SS yang notabene menjadi ‘pengkhianat’ negaranya sendiri dalam Perang Dunia II yang berlangsung hanya beberapa tahun sebelumnya! Kebanyakan para prajurit yang telah banyak makan asam garam pertempuran di Front Timur ini berasal dari Divisi Grenadier Sukarelawan SS ke-34 ‘Landstorm Nederland’ (34. SS-Freiwilligen-Grenadier-Division Landstorm Nederland).


Fakta mengejutkan ini diungkapkan oleh mantan perwira intelijen Belanda Brine van Houten, yang berkata bahwa pemerintah Belanda terpaksa mengambil kebijakan ‘tidak populer’ tersebut karena memang saat itu sumber daya manusia yang siap dalam segi milter sangat terbatas disebabkan banyaknya yang telah tewas dalam perang, masih dalam penjara atau memang sudah tidak mau lagi mengurusi mesiu. Dikatakannya bahwa sebanyak 548 orang mantan Waffen-SS telah bertugas di Indonesia selama berlangsungnya Perang Kemerdekaan (1945-1949). Sebagian dari mereka bergabung sebagai bawahannya Raymond Westerling dan terlibat dalam pembantaian-pembantaian brutal yang dilakukannya terhadap rakyat sipil selama bertugas di Sulawesi. Sampai kematiannya, manusia durjana ini tidak pernah tersentuh oleh tangan hukum!


Sebenarnya, keterlibatan veteran Waffen-SS ini telah dipublikasikan untuk pertama kalinya oleh C. Van Esterik dalam artikelnya di NRC Handelsblad yang terbit pada tahun 1984. salah satu kutipannya berbunyi : “Salah satu perputaran sejarah yang menjadi ironi, ketika sebagian tentara yang bertugas di Indonesia demi membela tanah air mereka, hanya beberapa waktu sebelumnya ikut pula memerangi tanah tumpah darah mereka sendiri demi membela Adolf Hitler!” Seorang mantan perwira KNIL berkata bahwa tentara mantan sukarelawan Nazi itu dipercaya lebih berdisiplin dan tangguh dibandingkan dengan tentara Belanda biasa.


“Saya bertugas sebagai seorang perwira KNIL dari Brigade Infanteri Pertama di bawah Kolonel Thomson yang menjadi bagian dari Divisi ke-7 dan ikut dalam aksi-aksi ‘polisionil’ di Hindia. Bisa dibilang, prajurit-prajurit KNIL seperti kami adalah pasukan yang masih hijau dan belum pernah bertempur di Hindia sebelumnya. Karena itulah kami membutuhkan bantuan dari pasukan-pasukan mantan SS agar dapat menolong kami dalam menjelajahi alam Hindia yang masih asing.”


Sodara-sodara, keterangan selanjutnya dari si perwira KNIL ini benar-benar mengejutkan saya, karena dia bercerita bahwa dia pernah bertempur di Sukabumi (my beloved homeland), tepatnya di Cibadak! Kemungkinan besar peristiwa inilah yang kemudian terkenal sebagai Pertempuran Bojong Kokosan. Bayangkan, ada SS di Sukabumi! Mau makan mochi, Meneer? Inilah kutipannya :


“Dalam suatu aksi pertempuran, pasukan kami diturunkan ke Sukabumi di dekat Tjibadak dan mendapat perlawanan seru dari para ‘pemberontak’ (saya kutipkan seadanya apa yang dia katakan, termasuk yang menyakitkan hati sekalipun!). kami sendiri berada di bawah komando Baron Taets van Amerongen.”


“Suatu hari saya melihat salah seorang prajurit dari kompi kami yang sedang berolahraga pagi dengan hanya mengenakan celana pendek dan bertelanjang dada. Saya terkejut begitu melihat bahwa di bawah ketiaknya terdapat bekas jahitan luka yang sangat kasar seakan-akan dilakukan oleh orang yang tidak berpengalaman atau dalam keadaan terburu-buru. Jahitannya jarang-jarang, dan menimbulkan kesan mengerikan pada siapapun yang melihatnya.”


“Saya lalu bertanya pada si prajurit tersebut akan ‘luka’ yang dideritanya. Saya terkejut begitu tahu bahwa itu bukanlah luka yang didapatnya dari peperangan, melainkan akibat dari pengelupasan kulit secara sengaja dengan menggunakan pisau tajam! Tentu saja saya bertanya apa alasannya? Dia berkata bahwa dalam lapisan kulit tersebut telah tertera sebuah tato yang dia tidak ingin orang lain ada yang mengetahui atau melihatnya. Tato apakah itu? Tato yang sama yang disematkan pada setiap anggota Waffen-SS, yang menunjukkan dari mana dia berasal.”


“Saya tertegun. Saat itu hal tersebut adalah sesuatu yang benar-benar baru bagi saya, orang awam yang tidak mengerti politik. Yang saya tahu, orang-orang ini (warga negara Belanda yang menjadi sukarelawan Nazi) adalah orang-orang ‘hina’ yang telah memerangi kawan sebangsanya demi memenuhi keinginan bangsa asing, dan kini mereka berada dalam satu kesatuan dengan saya!”


Setiap anggota dari Waffen-SS memang berbeda dengan kesatuan Jerman lainnya dalam hal masing-masing mereka mendapat ‘cenderamata’ tato yang diletakkan di bawah ketiak, tato yang menerangkan golongan darah mereka. Gunanya adalah dalam waktu pertempuran dan mereka terluka, maka akan mudahlah bagi tim medis untuk memberikan transfusi darah yang diperlukan dengan hanya menyingkapkan ketiaknya dan mendapati golongan darah si prajurit tersebut tertera disana.


“Ketika saya tanyakan bagaimana dengan teman-teman dia lainnya yang juga merupakan veteran Waffen-SS yang direkrut ulang oleh Belanda, dia menjawab bahwa dia tidak tahu mengenai hal itu, karena mereka dipisah-pisahkan dalam unit lain. Ada yang tetap bertugas di Belanda, dan ada juga yang dikirim ke Indonesia.”


“Saya adalah keturunan Yahudi Belanda dan beberapa anggota keluarga saya telah ‘musnah’ di kamp konsentrasi Jerman. Kini saya memerangi orang Indonesia dengan dibantu oleh tentara-tentara yang pernah mengabdi pada Hitler! Apapun alasannya, saya tetap tidak bisa menerimanya. Saya langsung melaporkan hal tersebut ke atasan saya, Taets van Amerongen.”


“Ketika saya menceritakan kepadanya apa yang saya ketahui, tak disangka dia langsung begitu marahnya. ‘Kau tak punya hak apapun dalam hal ini!’ semprotnya, dan dia langsung menutup pintu. Aku tak menyerah, dan tetap melaporkan hal yang sama pada seorang sersan dari kesatuan Polisi Militer yang kebetulan lewat. Dia sama terkejutnya denganku, dan berjanji akan menceritakan hal ini pada staffnya yang berada di Buitenzorg (Bogor). Sekitar dua minggu kemudian datanglah seorang kapten dari Polisi Militer dan menyuruhku menghadap.”


“Dia berkata bahwa dia telah menyelidiki apa-apa yang telah kukatakan sebelumnya kepada si Sersan, dan mendapati bahwa hal itu adalah benar adanya. ‘Tapi kita tidak dapat melakukan apa-apa dalam soal ini,’ katanya. Karena semuanya telah diatur oleh pemerintahan Belanda di Den haag dan merupakan kebijakan resmi yang sengaja ditutup-tutupi demi menjaga jangan sampai ada gejolak dalam masyarakat.”


Dari artikel Esterik juga disampaikan sebuah memoranda dari sumber anonim :


“Pengambil keputusan tidak populer ini beralasan bahwa sesungguhnya kemampuan para mantan Waffen-SS ini akan lebih berguna bila diberdayakan kembali daripada menumpulkannya dengan cara memasukkan mereka ke dalam tahanan sampai berkarat. Ketika ditawari pilihan tersebut, kebanyakan para mantan Waffen-SS ini pun bersedia untuk mendarmabaktikan kemampuannya yang berharga demi tanah air Belanda tercinta. Mereka beralibi bahwa mereka masih tetap mencintai negaranya, dan tindakannya di masa lalu yang membela musuh negaranya semata karena kecintaan mereka pada agama kristen yang membuat mereka memerangi komunis Rusia. Cara satu-satunya adalah dengan bergabung dengan SS Nazi. Inilah saat yang tepat untuk merehabilitasi mereka dan memberi kesempatan untuk menebus kesalahan-kesalahan yang telah mereka lakukan. Cukup berikan senjata, latih secukupnya selama beberapa minggu dalam penggunaan senjata-senjata bekas Sekutu, dan kirimkan mereka untuk bertempur di Hindia Belanda. Perekrutan dilakukan secara sukarela, dan kita boleh berharap antara 15.000 sampai dengan 30.000 para prajurit terlatih dan berpengalaman dari SS ini yang mendaftar untuk bergabung dengan tujuan kita. Sebagian besar dari mereka akan berperan sebagai pasukan pelopor/serbu, sesuai dengan fungsi mereka di masa lalu.”


Dari ‘nada suara’ memoranda tersebut, bisa terlihat bahwa yang menulisnya adalah orang dalam sendiri yang tahu persis mengenai kebijakan yang diambil pemerintah Belanda, atau bahkan mungkin yang menjadi pencetusnya. Seorang mantan perwira intelijen Brine Wood malah yakin bahwa pihak yang berinisiatif untuk memakai jasa para mantan pasukan sukarelawan SS untuk bertempur di Indonesia adalah Gereja Katolik Roma! Kenyataannya tak akan pernah kita ketahui (setidaknya sampai saat ini), karena pengarang memoranda tersebut tetap meminta namanya untuk disamarkan.


Dalam artikelnya yang menggemparkan tersebut, Esterik menyimpulkan, yang diambil dari hasil observasinya selama ini :


“Tak ada satupun dari dokumen-dokumen yang kini telah menjadi arsip negara ini yang menyebutkan siapa penggagas kebijakan untuk menggunakan jasa militer para mantan Waffen-SS, bahkan tak secuilpun indikasi yang mengarah kesana. Yang jelas, siapapun pencetusnya maka dia pastilah orang yang mempunyai kuasa yang cukup besar sehingga mampu meloloskan kebijakan rehabilitasi para tahanan politik kontroversial ini dengan diam-diam setelah sebelumnya mendapat persetujuan dari Angkatan Bersenjata Belanda. Hanya sebatas inilah yang saya ketahui, sedangkan siapa dia, kapan dikeluarkannya, dalam level apa kebijakan ini keluar, masih berada dalam kabut gelap yang tak satupun yang mengetahuinya, atau diizinkan untuk mengetahuinya.”


Sampai hari ini, salah satu lembaran hitam sejarah Belanda ini masih tertutup selimut misteri yang tak terungkap...


Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2010/01/ratusan-orang-tentara-belanda-yang.html
www.forum.axishistory.com
www.zesde-eskadron.nl  

Sejarah Kapal-Kapal Monsun dan Pangkalan U-Boat Jerman Di Penang Dalam Perang Dunia II

Upacara para awak U-181 di Penang.



 Pangkalan Angkatan Laut Jerman di Malaya dan Indonesia, 1944-1945.



 Beginilah mungkin gambaran seorang pelukis tentang U-boat yang baru saja berlabuh di Penang.



 Dok Swettenham - dulu dan sekarang.



 Tim penyambutan Jerman di Dok Swettenham sedang bersiap-siap menunggu U-boat yang akan tiba sebentar lagi. Di sebelah kanan kita dapat melihat bengkel perbaikan yang dibangun oleh Jepang untuk keperluan personil Kriegsmarine. Orang kelima dari kiri dalam foto ini adalah Wilhelm Dommes, komandan pasukan Jerman di Asia Tenggara.



 Wilhelm Dommes (kedua dari kiri) berbincang-bincang dengan sekutu Jepangnya, ditemani oleh seorang anggota Kriegsmarine (penterjemah?)



 Pasangan yang berbahagia: Willi Hans Böhm dan Agnes Vaz. Seru juga kalau kisah cinta mereka difilmkan!




Oleh : Alif Rafik Khan

Salah seorang pembaca blog ini dari Singapura bernama Ibrahim Ahmad telah berbaik hati mengirimkan edisi e-book dari sebuah buku yang sangat bagus: "More Than Merchants, A History of the German-Speaking Community in Penang 1800s-1940" karya Khoo Salma Nasution (bingung juga saya sama nama pengarangnya, kayaknya campuran Cina, Melayu dan Medan!). Isinya benar-benar bagus, karena salah satu babnya ada yang khusus menceritakan tentang operasi U-boat di Asia Tenggara. Adalah tugas saya untuk menyebarluaskan informasi ini karena pada kenyataannya memang sangat sedikit sekali referensi dalam masalah ini. Terimakasih sebesar-besarnya pada saudaraku Ibrahim Ahmad!!

Langsung saja kita menuju TKP:

Setelah pecahnya Perang Dunia II tahun 1939, satuan U-boat Jerman langsung menjadi ancaman utama perdagangan internasional yang saat itu mengandalkan samudera sebagai sarana transportasinya. Para pelaut yang berlayar dari Penang ke arah barat selalu was-was kalau-kalau di jalan mereka kena apes bertemu dengan "Wolf Pack" Jerman. Berita tentang hal ini langsung menyebar dan ancaman U-boat telah menjadi legenda bagi orang Melayu sendiri, yang menyebut U-boat dengan sebutan "Kapal Yu/Hiu" (Shark Boat). Raja Shahabuddin, seorang Muslim dari Perak yang akan menunaikan ibadah haji dan berangkat dari pelabuhan Penang pada tahun 1940 telah menulis sebuah puisi mengenai hal ini:

Selamat tinggal tanah Melayu
Sahaya belayar berasa sayu
Umpama daun badanku layu
Takut berjumpa kapal 'Yu'

Yu kapal penyelam Dipunyai Jerman timbul tenggelam
Mengambat musuhnya di lautan dalam
Di waktu siang ataupun silam

Ketika Jepang menyerang Semenanjung Malaya, Inggris buru-buru mengungsikan pasukannya dan meninggalkan rakyat Malaka di bawah belas kasihan bangsa Dai Nippon (Desember 1941-1945). Bagi kebanyakan rakyat Melayu saat itu, Jepang dipandang sebagai penjajah baru yang lebih kejam dari Inggris, dan Jerman adalah sekutunya yang paling utama. Tapi Reich Hitler dan Perang Eropa dirasa begitu jauhnya di tanah seberang. Diam-diam Kriegsmarine (Angkatan Laut Jerman) mendirikan pangkalan bagi pasukan kapal selamnya (u-boat) di Penang untuk memudahkan patroli di perairan sekitar situ sekaligus sebagai basis pengangkutan bahan-bahan industri yang sangat dibutuhkan Berlin. Kerahasiaan tempatnya begitu terjaga, sehingga bahkan hanya sedikit saja penduduk lokal yang mengetahui keberadaannya!

Selama Perang Dunia II, Penang berfungsi sebagai pangkalan utama Jepang dan Jerman di Timur Jauh sekaligus menjadi "pengganggu" utama jalur perdagangan dan komunikasi Sekutu yang melintasi samudera Hindia/Indonesia.

Pada bulan Februari 1942, Jepang secara resmi menjadikan Penang sebagai tempat berkumpul pasukan kapal selamnya, dengan di bawah komando langsung Laksamana Uzuki. Kapal selam Jepang yang akan menuju Eropa sudah pasti mengisi bahan bakarnya sekaligus berangkat dari pelabuhan ini.

Pada awal tahun 1943, U-boat Jerman mulai beroperasi di Samudera Hindia. Pada akhir tahun tersebut pula, Angkatan Laut Jerman memutuskan untuk menggunakan Penang sebagai pangkalan bagi satuan kapal selamnya di Asia Tenggara, sama seperti Jepang. Dennis Gunton, yang telah mengarang buku "The Penang Submarines" (1970) memberi tanda bahwa ini adalah "satu-satunya contoh mengenai kerjasama operasional yang sebenarnya antara Jerman dengan Jepang dalam Perang Dunia II."

Dari sejak bulan November 1942 sebenarnya Jerman telah merasa perlunya membangun pangkalan Angkatan Laut di pelabuhan-pelabuhan yang dikuasai Jepang. Penggagas utama hal ini adalah atase militer Jerman di Tokyo, Laksamana Paul Wennecker. Jerman telah menegosiasikan pula dengan Jepang mengenai bolehnya mereka mensuplai dan memperbaiki u-boat yang rusak di Semenanjung Malaya. Pada bulan Desember, diputuskanlah Penang sebagai pangkalan kapal selam, sementara Singapura menjadi pusat perbaikan dan suplai.

Pada bulan April 1943, U-178 dikirim ke Penang untuk mempersiapkan pembangunan pangkalan yang dimaksud. Tapi kemudian U-boat pertama yang berlabuh di Penang pada tanggal 15 Juli 1943 justru adalah U-511 yang dikapteni oleh Fritz Schneewind. Ini adalah satu dari dua kapal selam yang dipersembahkan Jerman kepada Jepang untuk keperluan... penyontekan! Maksudnya, Jepang ingin membuat kapal selam yang lebih tangguh dari yang sudah dia punyai, dan sebagai bahan risetnya apalagi kalau bukan kapal selam dari negara yang dikenal paling top markotop dalam hal ini: Jerman.

Ketika kapal selamnya melanjutkan perjalanan ke Kobe, Schneewind sendiri tetap tinggal di Penang sebagai perwira senior sementara di sana.

U-178 akhirnya tiba di Penang di akhir Agustus 1943 setelah 152 hari menghabiskan perjalanan di lautan! Komandannya, Kapitänleutnant Wilhelm Dommes sang jagoan u-boat peraih Ritterkreuz, menggantikan Schneewind sebagai kepala operasi U-boat Jerman di Penang dengan fasilitas pendukung di Singapura, Jakarta, Surabaya dan Kobe. Dia ditugaskan untuk mempersiapkan pembentukan Monsumboote - unit U-boat yang beroperasi di Timur Jauh dan Samudera Hindia.

Gelombang pertama dari 11 'Kapal-kapal selam Monsun' berangkat ke Penang dari pangkalan-pangkalan Jerman di Norwegia, Prancis dan Jerman bulan Juni-Juli 1943. Hanya 4 yang sampai di Penang, Oktober-November 1943. Mereka adalah U-188 (dikomandani Kapitänleutnant Siegfried Lüdden), U-168 (dikomandani Kapitänleutnant Helmuth Pich), U-532 (dikomandani Fregattenkapitän Ottoheinrich Junker), dan U-183 (dikomandani Korvettenkapitän Heinrich Schäfer). Karena kelelahan berat setelah perjalanan yang amit-amit panjangnya, Schäfer digantikan oleh Schneewind sebagai komandan U-183.

Ukuran dari Flotilla Penang ini sendiri tidak pernah melebihi lima kapal dalam satu waktu. Bukan karena terbatasnya U-boat, melainkan karena ukuran pangkalannya sendiri yang memang hanya mampu memuat segitu. Dari permulaan, pihak Jerman telah menemui banyak hambatan. Kerjasama dengan mitranya Jepang sangat dipersulit oleh miskomunikasi yang sering terjadi. Bayangkan saja, komandan kapal selam Jepang disana berpangkat Laksamana, sedangkan komandan kapal selam Jerman jauuh di bawahnya: Kapitänleutnant! Sebenarnya pengganti Dommes sendiri telah dipersiapkan, yaitu Kapitänleutnant Herbert Kuppisch. Tapi kemudian Kuppisch dan kapalnya tenggelam di samudera Atlantik sehingga terpaksa jabatan Dommes diperpanjang.

Bulan Maret 1943, Korvettenkapitän Wolfgang Erhardt ditunjuk sebagai komandan semua pangkalan Kriegsmarine di Malaya dan Singapura, dengan berkantor di Singapura. Pada bulan April 1943, Instalasi Jerman di Penang (Stützpunkt Paul) kedatangan komandannya yang baru, yaitu Kapitänleutnant Konrad Hoppe. Januari 1944 posisi Hoppe digantikan oleh Dr. Hermann Kandeler. Tugas sebagai komandan ini mendapat bantuan dari Kapitänleutnant Waldemar Grützmacher, yang menjabat sebagai ajudan bagi setiap komandan pangkalan dari Oktober 1942 sampai dengan akhir perang.

Dommes mengisi pos sebagai komandan Flotilla secara de facto di Penang dari bulan Maret 1944. Bulan Desember, dia ditunjuk sebagai Chef im Südraum dan memegang kontrol semua pangkalan Kriegsmarine di 'wilayah Selatan' (markas besarnya, seperti biasa, di Singapura). Pangkatnya kemudian naik menjadi Fregattenkapitän di bulan Januari 1945.

Mengenai jabatannya ini, Lawrence Paterson (pengarang buku "Hitler's Grey Wolves: U-boats in the Indian Ocean" terbitan tahun 2004) menulis:

"Meskipun nama jabatannya begitu mentereng tapi tetap saja peran utama dipegang oleh Laksamana Wenneker, sehingga tidak jarang terjadi perbedaan kepentingan di antara kedua orang ini. Akibatnya, terjadi dualisme kepemimpinan dan perintah yang kadang tidak sinkron. Yang menderita tentu saja para prajurit di level bawah. Kurangnya stok perwira tinggi lapangan yang ahli dalam masalah strategi U-boat di Timur Jauh memberi pengaruh yang merugikan bagi Dommes dan juga bagi hubungannya dengan pejabat-pejabat Jepang yang berwenang."

Pada bulan Februari 1944 U-178 meninggalkan Penang menuju Eropa. Di lain pihak, empat lagi kapal selam Jerman yang akan menjadi 'Grup Monsun Kedua' telah berangkat dari pelabuhannya di Eropa akhir tahun 1943 menuju Asia Tenggara. Tiga dari mereka tidak pernah sampai di tujuan karena menjadi korban dari meningkatnya kekuatan udara Amerika di samudera Pasifik dan Atlantik. Satu-satunya U-boat yang berhasil mencapai Penang adalah U-510 (tipe IXC, berat 1.120 ton jarak jangkau 13.000 mil) dengan komandannya Kapitänleutnant Alfred Eick. Kapal selam ini langsung berlabuh di dok Swettenham bulan April 1944. Eick yang perkasa telah berhasil menenggelamkan lima buah kapal di Samudera Hindia dalam perjalanannya menuju Penang!

Selain menjadi pangkalan U-boat Jerman, Penang juga menjadi tempat berlabuh tiga buah UIT (kapal selam buatan Italia). Ketiganya adalah bekas kapal selam Angkatan Laut Italia yang dialihfungsikan oleh Jerman tanggal 10 September 1943 tak lama setelah menyerahnya Italia ke tangan Sekutu. Karena kemampuannya yang memang kalah jauh dibandingkan dengan U-boat Jerman sendiri, maka kebanyakan kapal-kapal ini digunakan hanya untuk keperluan transportasi barang-barang keperluan perang. Di bawah komando Oberleutnant zur See Werner Striegler, UIT-23 (ex-Giuliani) berangkat ke Eropa via Penang bulan Februari 1944. Baru saja keluar dari pelabuhan, Striegler kena sial dan ditorpedo oleh H.M.S. Tallyho sehingga tenggelam di Selat Malaka.

Krunya yang masih selamat dikirim kembali ke Penang dengan menaiki pesawat amfibi bermesin tunggal Arado Ar 196 yang dikirim untuk mencari mereka. Tercatat 26 awak kapal selam yang tewas dan 14 sisanya selamat dalam peristiwa ini. Ketika menerima permintaan tolong dari UIT-23, pangkalan Penang langsung mengirimkan tiga pesawat: dua Arado 196 yang diambil dari kapal dagang Jerman dan satu pesawat amfibi Reishiki buatan Jepang yang diterbangkan pilot Jerman dari pangkalan udara Kerajaan Jepang di Glugor.

Pada tahun-tahun akhir perang, tujuan kehadiran U-boat Jerman di semenanjung Malaya bukan lagi untuk bertempur melainkan hanya untuk transportasi, patroli dan pertahanan diri saja. Mereka menjadi kapal-kapal pengangkut yang bolak-balik Eropa-Asia dengan membawa bahan-bahan perang yang sangat dibutuhkan Jerman seperti karet, seng, tungsten dan pil kina. U-boat yang masih operasional dipaksa untuk menjadi kapal kargo sehingga kehilangan efektifitas tempurnya. Dengan dikomandani oleh jago U-boat Kapitänleutnant Lüdden, U-188 (salah satu dari kloter pertama Grup Monsun yang berpangkalan di Penang) adalah salah satu dari sedikit saja U-boat yang berhasil menjalankan misi transportasi jarak jauh yang dibebankan kepadanya. Mereka mensesaki ruang yang masih tersisa di kapalnya dengan lebih dari 100 ton seng dan material lainnya di Singapura dan kemudian membawanya ke pangkalan Jerman di Prancis.

Tiga kesulitan utama dihadapi Jerman dalam mengoperasikan pangkalannya di Penang ini. Ancaman utama datang dari kekuatan anti kapal selam Sekutu yang makin meningkat saja dari waktu ke waktu. Kini Samudera Hindia bukan hanya berbahaya untuk kapal dagang Sekutu saja, melainkan untuk kapal selam Jepang dan Jerman pun sama pula.

Kesulitan kedua terletak dalam hal kurangnya persediaan material dan juga manusia. Pelumas, bahan bakar, baling-baling, poros mesin, peralatan listrik, torpedo, pompa dan perlengkapan diesel - semuanya harus didatangkan langsung dari Jerman melalui, apa lagi kalau bukan U-boat. Dua bengkel perbaikan di dok Swettenham tak mampu mengimbangi besarnya permintaan dan tugas yang dibebankan terhadap mereka demi menjamin tetap mulus dan bekerjanya peralatan modern yang terdapat di U-boat Jerman.

Akhirnya, kurangnya operasi pengintaian udara rutin dan patroli kapal-kapal anti kapal selam terbukti memberi akibat yang fatal. Jerman hanya mempunyai tiga buah pesawat saja dan tanpa kapal laut, sedangkan Jepang gagal mengorganisasikan tugas pengintaian udara yang semestinya dilakukannya. Dua kapal selam Jepang dan dua lagi dari Jerman menjadi korban karena kurangnya perhatian akan hal ini.

Di bulan Maret 1944, kondisi kurangnya torpedo cadangan telah membuat Wilhelm Dommes begitu stresnya. U-1062 dengan komandan Oberleutnant zur See Karl Albrecht telah memberi nafas untuk sementara ketika dia tiba dari Eropa dengan membawa 39 buah torpedo yang diidamkan. Albrecht balik kembali ke Benua Biru dengan sarat membawa karet, seng dan tungsten. Dalam perjalanan dia dipergoki Sekutu sehingga tenggelam bersama dengan seluruh awaknya.

Empat lagi U-boat tiba di Penang medio Agustus-September 1944. Mereka adalah U-181 (Fregattenkapitän Kurt Freiwald), U-196 (Korvettenkapitän Eitel-Friedrich Kentrat), U-861 (Kapitänleutnant Jürgen Oesten), dan U-862 (Kapitänleutnant Heinrich Timm). Diberitakan bahwa kedatangan U-862 tanggal 9 September 1944 disambut secara besar-besaran dengan dihadiri langsung oleh Kapitänleutnant Wilhelm Dommes dan Laksamana Madya Uozumi Jisaku bersama dengan stafnya. Tidak ketinggalan orkes tanjidor eh sebuah marching band yang nongkrong sambil memainkan lagu kebangsaan Jepang dan Jerman.

U-852 ditangkap Sekutu bulan Mei 1944 dalam perjalanannya ke Penang untuk bergabung dengan Flotilla Monsun. Komandannya, Kapitänleutnant Heinz Eck, yang dituduh telah dengan tanpa perasaan menembaki para awak yang selamat dari kapal uap Yunani Peleus, menjadi satu-satunya kapten U-boat yang masuk pengadilan militer atas tuduhan sebagai penjahat perang dalam Perang Dunia II!

U-862 adalah U-boat Jerman terakhir yang masih operasional yang meninggalkan Eropa dan mencapai Penang. Di bawah komandan Kapitänleutnant Heinrich Timm, kapal ini melakukan perjalanan dengan cepat dan mulus tanpa hambatan. Berangkat dari pangkalannya di Eropa bulan Juni 1944, U-862 berhasil bergabung dengan U-boat lainnya di Penang tanggal 9 September 1944 setelah sebelumnya menenggelamkan tiga buah kapal dagang dan satu kapal pengangkut amunisi Sekutu hanya dalam waktu enam hari di Selat Mozambik! Dia juga tercatat dalam buku primbon sebagai satu-satunya U-boat yang beroperasi di perairan Australia, ketika pada bulan Desember 1944 berhasil menenggelamkan sebuah kapal uap Amerika berbobot 7.180 ton di lepas pantai benua tersebut.

Banyak U-boat yang diberangkatkan ke Timur Jauh tidak pernah sampai ke tujuannya: Satu di antaranya tenggelam hanya 10 mil sebelum mencapai pantai Penang. U-859 yang sedang menuju Penang dengan santai muncul ke permukaan di tengah hari tanggal 23 September 1944, untuk menunggu pertemuan dengan kapal pengawal Jepang yang sedianya akan muncul. Sebelumnya pihak berwenang Jepang telah memperingatkan Kapitänleutnant Johann Jebsen bahwa ada kabar kalau kapal selam Inggris diketahui berada di sekitar situ, hanya saja tidak berhasil terdeteksi oleh kapal patroli yang disebarkan Jepang. Kenyataannya, tanpa diduga sebelumnya, kapal selam yang dicari-cari itu (H.M. Trenchant) tiba-tiba menghantam U-859 dengan torpedo. Setelah dipastikan mangsanya hancur dan tenggelam, Trenchant muncul ke permukaan dan mengambil 11 orang awak U-boat Jerman yang berhasil selamat (beberapa di antaranya berhasil melakukan usaha penyelamatan luar biasa dari kabin kapal yang sedang meluncur ke dasar laut!). Beberapa lainnya terlihat berpegangan di puing-puing kapal yang mengambang, hanya saja Trenchant terpaksa meninggalkannya karena mendeteksi datangnya bala bantuan kapal dan pesawat Jepang yang mendekat. 20 orang selamat, sedangkan 47 orang hilang termasuk komandannya.

Adalah sebuah keberuntungan ketika U-861 tiba di Penang tanggal 22 September, sehari sebelum U-859. Di bawah komandan Kapitänleutnant Jürgen Oesten, dia adalah salah satu dari hanya sedikit saja U-boat yang berhasil mengadakan perjalanan bolak-balik Eropa-Penang tanpa pernah tersentuh!

Perairan di sekitar Penang dan Selat Malaka tetap menjadi wilayah yang "mengerikan" karena menjadi ajang utama penenggelaman kapal-kapal yang melintas, utamanya dilakukan oleh kapal-kapal selam Sekutu. Begitu parahnya ancaman di sekitar tempat ini, sehingga pada bulan Januari 1945 jalur Singapura-Rangoon ditutup. jalur Selat Selatan menuju Penang yang sempit dan lebih mendatangkan kesulitan ditanami ranjau oleh pihak Axis dan mereka lebih memilih menggunakan Jalur Selat Utara dimana secara rutin kapal-kapal Jepang mengadakan patroli.

U-843 (Kapitänleutnant Oskar Herwartz) meninggalkan Eropa bulan Februari 1944. Meskipun sempat menderita kerusakan setelah diserang pesawat patroli Sekutu di Atlantik, tapi dia berhasil mencapai Penang bulan Mei 1944. Pada tanggal 1 Desember 1944, dia adalah U-boat Jerman terakhir yang menyelinap keluar dari Dok Swettenham.

Semua kapal selam, baik kepunyaan Jerman maupun Jepang, diperintah untuk meninggalkan Penang. Dari 14 U-boat yang berpangkalan di Penang, tercatat hanya 4 saja yang berhasil kembali ke Eropa dengan selamat. Kisah heroik para awak kapal selam Jerman di Timur Jauh ini telah digambarkan dengan begitu baiknya oleh A.M. Saville dari US Naval Institue:

"Para kader terbaik U-boat Jerman ini telah menjalankan tugas yang dibebankan kepada mereka dengan begitu baiknya dan gagah berani, walaupun mereka menderita kekurangan dukungan yang parah, selalu dicurigai oleh Sekutu terdekatnya, dan juga menghadapi lawan yang tak kepalang tangguhnya..."

Faktor lain tak kalah pentingnya: Penang sendiri bukanlah tempat yang ideal sebagai pangkalan kapal selam. Tak pernah dalam sejarahnya Penang menjadi basis angkatan laut, sehingga ketika diputuskan untuk jadilah ia seperti itu, dibutuhkan banyak sekali buruh terlatih untuk membangun fasilitas dok, gudang torpedo, arsenal, mess dan sebagainya. Sebagai tambahan dari Gunton:

"Kondisi serba terbatas seperti ini tentu saja membuat pencapaian para awak U-boat jauh dari maksimal. 50 orang personil darat Jerman kadangkala harus langsung mengadakan perbaikan dan perawatan tak lama setelah sebuah kapal selesai dari menjalankan patroli perangnya yang melelahkan. Hanya tukang kayu dan pandai besi sederhana yang ditinggalkan untuk mengelola pelabuhan. Jangan dikata pengamanan dari sabotase yang kemungkinan muncul, hampir-hampir tidak ada!"

Sebuah U-boat yang tiba dari Eropa rata-rata memerlukan 50 hari perawatan sebelum siap untuk berangkat kembali: membersihkan kapal memakan waktu 3 hari; perawatan utama 20 hari; bersandar di dok kering Singapura 3 hari; pembersihan ulang dan pemeriksaan bagian terluar U-boat 14 hari; pengisian bahan bakar, amunisi dan makanan 14 hari; dan terakhir adalah tes menyelam. Seorang warga Cina lokal bernama Tang Theam Chye adalah salah satu di antara warga sekitar yang diperbantukan oleh Jepang untuk pekerjaan pengisian torpedo ke dalam kapal di Penang. Anaknya kemudian bercerita:

"Pekerjaan ini benar-benar pekerjaan yang 'berbau' dalam arti yang sebenarnya. Ayahku dipekerjakan karena dia mampu berbahasa Inggris dan menggunakannya dalam berkomunikasi dengan para perwira U-boat Jerman yang meminta bantuan untuk dapat mengambil persediaan dari tangan Jepang. Ayahku menceritakan betapa tanpa harapan dan merananya para awak orang Eropa tersebut, yang harus hidup dalam kondisi menyedihkan dan jauh dari kampung halaman. Demi melihat begitu sempitnya ruang 'kerja' mereka di dalam U-boat, ayahku mengatakan bahwa betapa dia merasa bersyukur tidak menjadi seperti mereka. Di lain pihak, dia juga merasa kagum terhadap teknologi bangsa Jerman yang lebih superior dibandingkan dengan semua apa yang dimiliki Jepang pada masa itu. Kadangkala dia melihat dengan mata kepala sendiri pesawat-pesawat pembom Sekutu yang datang untuk membombardir pangkalan Jerman dan Jepang di Penang."

Pangkalan Jerman, Stützpunkt Paul, bermarkas di bangunan utama yang terletak di Northam Road. Bangunan pendukung dan sarana akomodasi lainnya bertempat di Elysee Hotel dan vila-vila yang disewakan di Bell Road. Rumah bagi para perwira disediakan khusus di Rose Road. Untuk keperluan rekreasi, setiap kru U-boat Jerman dapat bermain golf, tenis, latihan menembak, memancing, atau berenang di Springtide Hotel, Penang Swimming Club atau Mount Pleasure. Mereka juga diperbolehkan untuk "cari angin" di Penang Hill, Fraser's Hill dan Cameron Highlands. Otto Giese, Perwira Pengawas Kedua di U-181 mengenang hal ini:

"Hanya sedikit saja orang yang diizinkan dalam satu waktu untuk mengambil cuti ke resort yang luar biasa indah, Penang Hill... Dengan sedikitnya kebebasan yang kami miliki dalam tugas sehari-hari, berada di sana bagaikan berada di surga dunia."

Komando Tinggi Angkatan Laut (Oberkommando der Kriegsmarine) menerbitkan sebuah buklet informasi yang disusun oleh Erhardt. Buku kecil ini dibagikan kepada setiap personil U-boat yang baru menginjakkan kakinya di Penang. Salah satunya berisi himbauan seperti ini:

"Selalu memakai pakaian sipil bila berjalan-jalan di kota. Seragam khusus untuk ini yang berwarna putih telah disediakan oleh Departemen Pelayanan Jerman. Untuk membuat anda semua mudah teridentifikasi oleh polisi lokal, bawalah selalu pin dengan tambahan simpul pita berwarna hitam, putih dan kuning."

Buklet tersebut juga menjelaskan sikap yang harus diperlihatkan oleh orang Jerman terhadap kompatriot Jepang mereka. Intinya, mereka diharuskan untuk selalu 'penuh toleransi dan adaptasi' karena Jepang adalah 'satu-satunya sekutu kita yang loyal dan paling kuat'. Pengingat ini kadang tidak ada artinya di lapangan dimana banyak terjadi kesalahpahaman di antara kedua bangsa tersebut. Padahal Jepang pun telah mendapat instruksi serupa untuk memperlihatkan sikap penuh persahabatan terhadap orang-orang Jerman:

"Para pelaut Nordik muda itu mungkin akan menjadi sedikit noda bagi filosofi Kemakmuran Asia Timur Raya. Mereka seringkali berkeliaran ketika berada di daratan Penang, dan tak menganggap setiap militer Jepang yang mereka temui. Beberapa kali terjadi perselisihan antara petugas yang berwenang dengan para pelaut ini, yang diperparah lagi dengan ketiadaannya bahasa yang dapat dimengerti bersama. Untunglah hal-hal ini tidak berlaku seterusnya dan dapat ditekan ke angka minimum."

Kondisi yang nyaman dan menyenangkan yang dialami oleh setiap pelaut Jerman di Penang telah menimbulkan kecemburuan bagi Sekutu Jepang mereka yang notabene merupakan pemegang kendali di sana. Meskipun secara umum penduduk sekitar menderita kekurangan makanan yang akut, orang-orang Jerman tak pernah mengalami masalah semacam ini. Sehari-hari mereka menerima ransum makanan yang cukup, termasuk roti yang terbuat dari gandum hitam yang diproduksi oleh pabrik khusus; daging dari tukang daging lokal yang kebetulan sama-sama bule Jerman; dan juga sayur-sayuran semacam kentang dan kol. Makan sembarangan di warung-warung pinggir jalan dilarang keras karena dikhawatirkan akan terkena wabah penyakit tifus dan kolera yang berasal dari makanan yang tidak terjamin higienisnya, begitu pula alkohol produksi lokal yang tidak diperbolehkan untuk diminum para pelaut Jerman, kecuali bir.

Orang Jerman merasa seperti diulangtahunkan lebih-lebih lagi ketika kapal uap S.S. Nanking yang dilengkapi ruang pendingin berhasil ditangkap utuh bersama muatannya yang penuh oleh kapal patroli Jerman Thor dalam perjalanannya dari Australia ke Birma bulan Mei 1942. Di dalam ruang penyimpanan dan freezernya didapati 42.000 kardus daging kaleng, 28.000 bungkus buah-buahan dan sayuran, 800 ton terigu, plus mentega juga daging sapi dan babi yang masih segar! Sampai akhir perang, kapal ini ditambatkan di Pelabuhan Penang dan berfungsi sebagai gudang makanan!

Seperti semua saga lainnya, tak lengkap rasanya kalau kita tidak mengetengahkan kisah romantis yang terselip dalam artikel ini. Di tengah kecamuknya perang, terjalin kisah cinta yang indah antara perwira Jerman Willi Hans Böhm dengan Agnes Vaz, gadis lokal yang masih mempunyai darah Portugis.

Böhm mendapati dirinya 'terdampar' di Jepang ketika kapal tanker yang ditumpanginya, Uckermark, meledak di Pelabuhan Yokohama akibat sabotase dari orang yang tidak diketahui. Komandan kapal Walther von Satorski ditransfer ke Singapura sementara Böhm sendiri dikirim ke Penang. Disana dia bertemu dan kemudian menjalin kasih dengan Agnes Vaz, seorang perawat. Ketika makanan makin susah didapat, Böhm biasa menyelundupkan makanan dari messnya ke rumah pacarnya di Sungai Nibong dengan mengendarai sepeda. Anaknya Willi Goya mengatakan bahwa dalam masalah ini Böhm telah mengambil resiko yang tidak alang kepalang besarnya:

"Ayahku harus sangat berhati-hati karena saat itu hubungan antara wanita lokal dengan 'musuh' (orang-orang Jerman) dilarang dengan keras."

Ketika perang berakhir pada tahun 1945, Böhm diinternir bersama dengan orang-orang Jerman lainnya di Changi. Setelah dibebaskan setahun kemudian, yang pemuda ini lakukan adalah menikah dengan kekasih tercintanya, Agnes Vaz. Mereka dikaruniai tiga anak di Jerman pasca-perang dan tiga lagi di Penang sebelum bermigrasi ke Australia tahun 1973. Tahun 2004, ketika Willi Böhm meninggal di Perth karena kanker paru-paru dalam usianya yang ke-86 tahun, kisah cinta mereka menarik perhatian dunia internasional. Kesehatannya yang terus memburuk membuat dia tidak dapat melaksanakan keinginan terakhirnya, yaitu mengunjungi Penang untuk terakhir kalinya. Masyarakat Malaysia menanggapi dengan hangat permohonan melalui internet dari keluarga Böhm untuk mengirimkan bendera Penang ke Australia. Dan ketika pada akhirnya peti jenazah Willi Hans Böhm diturunkan ke liang lahat, dua buah bendera dibentangkan di atasnya, dua bendera yang sangat dia cintai: bendera Jerman dan bendera Penang.


Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2010/03/sejarah-kapal-kapal-monsun-dan.html
Buku "More Than Merchants, A History of the German-Speaking Community in Penang 1800s-1940" karya Khoo Salma Nasution
www.gmic.co.uk
www.kaskus.us
www.singapore-ww2-militaria.com
www.subsim.com
Powered by Blogger.