Pages

Tuesday, 2 October 2012

Kesultanan Samudera Pasai

Peta daerah kekuasaan Kesultanan Samudera Pasai.



Oleh : SS-Hauptsturmführer Ajisaka Lingga Bagaskara

Kesultanan Samudera Pasai yang terletak di Aceh Utara dianggap sebagai kerajaan Islam yang pertama muncul di Indonesia. Kesultanan ini merupakan gabungan dari dua kerajaan yang bersebelahan, yaitu Kerajaan Samudera dan Kerajaan Pasai. Penggabungan dua kerajaan itu dilakukan oleh Meurah Silu. Setelah berhasil menggabungkan keduanya, beliau berganti nama menjadi Sultan Malik al-Shaleh (1290-1297 M).

Kesultanan Samudera Pasai pernah dikunjungi oleh Marco Polo, seorang saudagar dan penjelajah termashyur di dunia yang berasal dari Negeri Venesia (Italia). Pada tahun 1292 M beliau mendatangi Perlak dan tempat-tempat lain di bagian utara Aceh. Menurutnya, masyarakat Perlak telah menganut agama Islam, sedangkan penduduk di sekitar Perlak dan tempat-tempat di pedalaman masih menyembah berhala. Beliau juga mengatakan bahwa Perlak merupakan sebuah pusat perdagangan dan perniagaan yang sangat maju dan banyak para pedagang muslim yang giat-giat nya menyebarkan ajaran agama Islam.

Perlak merupakan kota pelabuhan yang amat maju dan ramai yang dimiliki Kesultanan Samudera Pasai. Sebelumnya, Perlak adalah sebuah kerajaan berdaulat yang menurut beberapa ahli diduga berdiri sekitar abad ke-9 M. Raja pertamanya ialah Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Aziz Shah. Sultan Perlak mampu mengangkat negerinya menjadi pusat pancaran sinar Islam di Nusantara. Kesultanan Perlak kemudian disatukan dengan Kesultanan Samudera Pasai pada tahun 1292 M.


xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx
LACAK

Pada tahun 1297 M Sultan Malik al-Shaleh diganti oleh puteranya yang bernama Muhammad Malik az-Zahir (1297-1326 M). Penggantinya berturut-turut adalah Mahmud Malik az-Zahir (1326-1345 M), Mansur Malik az-Zahir (1345-1346 M), Ahmad Malik az-Zahir (1346-1383 M), Zaid al-Abidin Malik az-Zahir (1383-1405 M), Nahrasiyah (1405-1412 M), Sallah ao-Din (1412-XXXX M), Abu Zaid Malik az-Zahir (XXXX-1455 M), Mahmud Malik az-Zahir II (1455-1477 M), Zain al-Abidin (1477-1500 M), Abdullah Malik az-Zahir (1501-1513 M), Zain al-Abidin (1513-1524 M).
xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx


Pada tahun 1345 seorang pengelana dari Negeri Maroko, Ibnu Battuta mengunjungi Kesultanan Samudera Pasai. Ibnu Battuta menceritakan bahwa Sultan sangat baik terhadap para ulama dan rakyatnya. Keraton dikelilingi oleh benteng-benteng yang tinggi. Kerajaannya sangat makmur dan menggunakan mata uang emas yang disebut deureuham. Selain itu, Ibnu Battuta mengatakan bahwa Kesultanan Samudera Pasai adalah kerajaan dagang yang amat maju. Di tempat ini beliau bertemu dengan para pedagang dari India, Cina, dan pedagang dari tanah Jawa. Banyak kapal yang singgah di pelabuhan karena Kesultanan Samudera Pasai merupakan tempat pengumpulan rempah-rempah, penjualan emas, dan barang-barang lain. Keberadaan Kesultanan Samudera Pasai di tepi Selat Malaka telah membuat kesultanan tersebut memperoleh kemajuan yang sangat pesat. Hal ini disebabkan Kesultanan Samudera Pasai menjadi pintu gerbang lalu lintas perdagangan internasional antara India dan Cina.

Pada abad ke-14 M Kesultanan Samudera Pasai berhasil mengangkat diri sebagai salah satu pusat studi agama Islam. Di Kesultanan Samudera Pasai berkumpul ulama-ulama dari berbagai negeri Islam untuk berdiskusi tentang masalah keduniawian dan keagamaan. Berkat perannya itu, Kesultanan Samudera Pasai dapat mengembangkan penyiaran agama Islam ke wilayah-wilayah lain, seperti Minangkabau, Jambi, Malaka, Jawa, dan bahkan Patani di Thailand. Akan tetapi, menjelang akhir abad ke-14 M Kesultanan Samudera Pasai diliputi suasana kekacauan dan perebutan kekuasaan. Setelah tahun 1524 M Kesultanan Samudera Pasai berada di bawah pengaruh Kesultanan Aceh Darussalam.

Sources -- > Buku “Kronik” Sejarah, terbitan Yudhistira

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.