Pages

Wednesday, 17 October 2012

Kesultanan Pajang


Oleh : SS-Hauptsturmführer Ajisaka Lingga Bagaskara

Pendiri Kesultanan Pajang ialah Adiwijaya (1568-1582 M). Beliau menduduki tahta Pajang dengan memindahkan mahkota dan segala kebesaran Kesultanan Demak. Demak sendiri hanya dijadikan sebagai daerah kadipaten yang dipimpin oleh seorang adipati. Sultan Adiwijaya menunjuk putera Pangeran Prawoto, yaitu Arya Pangiri sebagai Adipati Demak. Sebagai penguasa Pajang, Adiwijaya mendapat pengakuan dari Sunan Giri dan para adipati di seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Pada tahun 1582 M Sultan Adiwijaya meninggal dunia. Seharusnya Pangeran Benawa yang berhak menduduki tahta Pajang. Akan tetapi, beliau disingkirkan oleh Arya Pangiri. Pangeran Benawa hanya dijadikan sebagai adipati di Jipang. Arya Pangiri (1582-1586 M) banyak melakukan tindakan yang meresahkan rakyat. Ia memberikan sepertiga dari sawah-sawah rakyat untuk pengikutnya di Demak.

Tindakan Arya Pangiri memunculkan upaya-upaya perlawanan. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Pangeran Benawa untuk segera menghimpunnya. Bagi Pangeran Benawa, hal ini merupakan kesempatan emas untuk merebut kembali tahta Pajang. Beliau segera menjalin kerja sama dengan Mataram yang dipimpin oleh Sutawijaya. Arya Pangiri diserang dari dua jurusan. Namun, dalam menghadapi serangan ini Arya Pangiri tidak memiliki banyak tentara. Rupanya, pengikutnya hanya terdiri dari masyarakat Demak. Oleh karena itu, Arya Pangiri dapat dikalahkan dengan mudah oleh persekutuan Sutawijaya dan Pangeran Benawa pada tahun 1586 M. Setelah dijatuhkan dari kedudukannya, Arya Pangiri tidak dibunuh. Ia disuruh kembali ke Demak.

Setelah Arya Pangiri ditumbangkan, Pangeran Benawa yang sebenarnya berhak atas tahta Pajang justru menyerahkan tampuk kekuasaan Pajang kepada Sutawijaya. Pangeran Benawa bertindak demikian karena merasa tidak cukup cakap untuk memimpin Kesultanan Pajang yang begitu luas. Selain itu, Pangeran Benawa tidak sanggup bersaing dengan sahabatnya yang gagah berani dan mahir di dalam berperang. Sutawijaya menerima tawaran sahabatnya itu. Segeralah segala tanda kebesaran Kesultanan Pajang dipindahkan ke Mataram sehingga berakhirlah kekuasaan Pajang.

Sources -- > Buku “Kronik” Sejarah, terbitan Yudhistira.

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.