Pages

Wednesday, 17 October 2012

Kesultanan Mataram


Bendera milik Kesultanan Mataram. Lihatlah lambang Bulan dan Keris tersebut yang berarti perpaduan antara kebudayaan Jawa yang berpadu dengan kebudayaan Islam. Warna merah itu sendiri mencirikan akan keberanian yang dimiliki oleh prajurit-prajurit Kesultanan Mataram bahkan rakyat nya sekalipun.


Oleh : SS-Hauptsturmf├╝hrer Ajisaka Lingga Bagaskara

Kemunculan wilayah Mataram tidak lepas dari Ki Ageng Pamanahan. Hal ini dikarenakan beliau telah amat sangat berjasa dalam membantu Adiwijaya menaklukkan Arya Penangsang. Daerah Mataram sendiri merupakan hadiah yang diberikan Adiwijaya sebagai balas jasa dan kesetiaan Ki Ageng Pamanahan. Di bawah kepemimpinan Ki Ageng Pamanahan, Mataram menjadi daerah yang cukup maju. Namun, belum sempat menikmati hasil kemajuannya, beliau meninggal pada tahun 1575 M. Usaha memajukan Mataram dilanjutkan puteranya, Sutawijaya.

Sutawijaya diangkat Sultan Adiwijaya menjadi Adipati Mataram pada tahun 1575 M. Beliau diberi gelar Senopati ing Alaga Sayidiu Panatagama yang bermakna panglima perang dan pembela agama. Sutawijaya tidak begitu puas dengan kedudukan sebagai adipati. Beliau berharap suatu saat bisa menjadikan Mataram sebagai kesultanan tersendiri, terpisah dari Kesultanan Pajang. Oleh karena itu, Sutawijaya memperkuat kedudukan di Mataram dengan membangun benteng di sekeliling istananya. Ketika Kesultanan Pajang diperintah Arya Pangiri, Sutawijaya sengaja mengabaikan kewajiban terhadap Sultan dengan tidak menghadiri pertemuan tahunan. Beliau juga berhasil membujuk penguasa Kedu dan Bagelen untuk tidak membayar upeti kepada Pajang. Tindakan pembangkangan ini memaksa Sultan Pajang menggunakan cara kekerasan terhadap Mataram. Namun, Sutawijaya yang jauh-jauh hari telah menyiapkan serangan merebut Pajang berhasil menjalin hubungan kerja sama dengan Pangeran Benawa sehingga Arya Pangiri dapat dikalahkan pada tahun 1586 M.

Masa pemerintahan Panembahan Senopati di Kesultanan Mataram (1586-1601 M) dipenuhi dengan konflik dan bentrokan. Hal ini disebabkan Senopati telah mengangkat dirinya sebagai Sultan Mataram. Padahal pengangkatan dan pengesahan sebagai sultan di wilayah Jawa biasanya dilakukan oleh wali. Senopati juga menjalankan politik ekspansi yang bertujuan menguasai seluruh wilayah di Pulau Jawa. Surabaya merupakan salah satu daerah yang menentang pengangkatan Senopati. Akibatnya, pertempuran terjadi pada tahun 1586 M. Pertempuran sengit ini dapat dihentikan berkat bantuan Sunan Giri. Surabaya tidak berhasil ditaklukkan meskipun akhirnya daerah ini mengakui kekuasaan Senopati.

Senopati juga menghadapi perlawanan yang hebat dari Madiun dan Ponorogo. Berkat kecakapan dan strategi yang jitu kedua daerah tersebut dapat ditaklukkan. Senopati menggempur pula Pasuruan, Panarukan, dan Blambangan pada tahun 1587 M. Perlawanan Pasuruan dan Panarukan dapat dipatahkan, tetapi daerah Blambangan tidak dapat dikuasai. Hal ini dikarenakan Blambangan selalu mendapat bantuan dari Kerajaan Bali. Akhirnya, tentara Mataram ditarik mundur.

Perhatian Senopati beralih ke wilayah Jawa Barat. Pada tahun 1595 M beliau berhasil memaksa Cirebon dan Priangan sampai Sungai Citarum untuk tunduk kepada Mataram. Hanya Kesultanan Banten yang tidak mau mengakui kekuasaan Mataram. Banten tetap dapat mempertahankan diri sebagai negara yang berdaulat di wilayah Jawa bagian barat. Ketika Senopati meninggal pada tahun 1601 M hampir seluruh wilayah Pulau Jawa sudah menjadi kekuasaan Mataram, bahkan termasuk Blambangan (Jawa Timur) yang sebelumnya bersikeras tidak mau tunduk kepada Mataram. Meskipun Senopati mencapai kesuksesan dalam perluasan wilayah, ternyata beliau tidak berhasil mendapat pengakuan dari raja-raja Jawa lain sebagai raja yang sejajar dengan mereka.

Mas Jolang (1601-1613 M) naik ke tahta Mataram menggantikan Senopati. Beliau mendapat gelar Panembahan Seda Krapyak. Pada masa kekuasaannya timbul pemberontakan dari Pangeran Puger di Demak (1602-1605 M) dan Pangeran Jayaraga di Ponorogo (1608 M). Kedua wilayah tersebut dapat dilumpuhkan, namun pemberontakkan di Surabaya (1612 M) belum dapat dipadamkan sampai beliau wafat di tahun 1613 M.

Pengganti Mas Jolang adalah Mas Rangsang (1613-1645 M) yang bergelar Sultan Agung Senopati ing Alaga Ngabdar Rachman. Sultan Agung segera melanjutkan cita-cita leluhurnya untuk menciptakan kekuasaan Mataram meliputi seluruh Jawa. Sejak tahun 1614 M, Sultan Agung mulai bergerak menaklukkan kembali daerah-daerah di pesisir utara Jawa. Balatentara Mataram berhasil menaklukkan Lumajang, Pasuruan, Kediri, Tuban, Pajang, Lasem, Madura, Surabaya, dan Sukadana. Semenjak menaklukkan Surabaya, seluruh Jawa bagian tengah dan timur serta Sukadana di Kalimantan menjadi bagian wilayah kekuasaan Mataram. Di Pulau Jawa, hanya tinggal Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten yang belum berhasil dikuasai. Sultan Agung beranggapan kedua kesultanan tersebut merupakan bagian dari Demak, maka Mataram yang menjadi penerus Demak berhak atas wilayah itu. Jadi, tinggal Batavia (Jakarta) yang harus ditaklukkan. Pada tahun 1628 M dan 1629 M Mataram menyerang Batavia, namun tidak memperoleh hasil yang diharapkan.

Setelah gagal menundukkan Batavia, Sultan Agung mengalihkan perhatian terhadap bidang budaya. Pada tahun 1633 M Sultan Agung menciptakan tarikh Jawa-Islam yang dimulai 1 Muharam 1043 Hijriah. Beliau juga menelurkan karya Sastra Gending yang berisi ajaran filsafat-filsafat mengenai kesucian jiwa. Kemudian beliau membuat buku undang-undang hokum pidana dan perdata yang diberi nama Surya Alam. Sultan Agung wafat pada tahun 1645 M dan beliau dikenang sebagai sultan yang berjasa membawa Mataram ke puncak kejayaan.

Sources -- > Buku “Kronik” Sejarah, terbitan Yudhistira.

2 comments:

  1. sangat menarik pembahasannya, komentar balasan dong di blog saya www.goocap.com

    ReplyDelete
  2. bendera itu sebenarnya menunjukkan hubungan yang dekat dengan kesultanan ottoman, coba lihat pakian sultan agung hanyokrokusumo yang mirip banget sama baju perangnya turki

    ReplyDelete

Powered by Blogger.