hwwIUKoDtacl9LXDEAIdxBVXLF8 Kesultanan Demak ~ Indonesian Persons

Sunday, 14 October 2012

Kesultanan Demak

Peta daerah kekuasaan Kesultanan Demak. Warna biru adalah wilayah original Demak, sedangkan peta yang diarsir adalah kekuasaan taklukkan Demak. Sedangkan warna putih adalah Negara yang tidak dikuasai sama sekali.



 Meriam peninggalan Bangsa Portugis yang di tinggalkan di wilayah Kesultanan Demak. Lihatlah bentuk tangan menggenggam dengan ibu jari yang diselipkan di jari lainnya, yang konon jika suatu pasangan duduk di meriam ini maka kelak akan memiliki kesuburan yang tinggi. Anda Percaya ???




Oleh : SS-Hauptsturmf├╝hrer Ajisaka Lingga Bagaskara

Kesultanan Demak adalah kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kesultanan Demak didirikan oleh Raden Patah pada sekitar 1500 M setelah memutuskan hubungan dengan Kerajaan Majapahit. Lahirnya Kesultanan Demak mendapat dukungan dari ulama dan para pembesar di Jawa Timur, seperti Tuban, Gresik, Jepara dan tempat-tempat lain di pantai utara Pulau Jawa. Peranan Kesultanan Demak semakin besar di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur setelah Kesultanan Malaka ditaklukkan oleh Portugis pada tahun 1511 M. Banyak pedagang yang memutuskan untuk tidak berdagang lagi ke Malaka setelah kejatuhannya. Kebanyakan mereka pergi ke Demak atau Banten sebagai penggantinya. Sejak surutnya Malaka, Demak tampil menggantikan sebagai pusat perdagangan dan pusat penyebaran agama Islam di Nusantara.

Perluasan kekuasaan wilayah Portugis memang telah menimbulkan banyak kekhawatiran, tidak terkecuali Demak. Sebagai kerajaan Islam, Demak khawatir Portugis akan meluaskan kekuasaannya ke Pulau Jawa. Oleh karena itu, sebelum Portugis menyerang daerah-daerah di tanah Jawa, Demak berencana melakukan serangan terlebih dahulu. Pada 1513 M armada Demak yang dipimpin oleh putera Raden Patah, yaitu Pati Unus melancarkan sebuah serangan terhadap kedudukan Portugis di Malaka. Namun, upaya ini menemui kegagalan sebab jarak serangan yang dilakukan terhadap Portugis terlalu jauh. Selain itu, persenjataan yang dimiliki Demak amat kurang. Penyerangan memang mengalami kegagalan, tetapi hal ini tidak membuat penghargaan terhadap Pati Unus dibatalkan. Pati Unus tetap diberi gelar Pangeran Sabrang Lor, yang bermakna pangeran yang pernah menyeberangi lautan di sebelah utara Kesultanan Demak.

Pada tahun 1518 M Pati Unus menduduki tahta Kesultanan Demak sepeninggalan Raden Patah. Namun, Pati Unus menjadi sultan tidak lama (1518-1521 M). Beliau hanya tiga tahun memerintah. Setelah itu beliau digantikan oleh Trenggana (1521-1546 M). Sebagai sultan, Trenggana memperkokoh singgasana Demak dan menegakkan tiang-tiang ajaran agama Islam. Dengan masih bercokolnya Portugis di Malaka, Demak merasakan ancaman dan bahaya yang membayangi. Akan tetapi, Trenggana tidak mengirimkan pasukan ke Malaka untuk mengusir Portugis. Beliau lebih memilih untuk membendung Portugis dalam upaya menguasai Pulau Jawa daripada menyerang kekuatannya.

Kedatangan seorang ulama Pasai, Nurullah yang melarikan diri dari serangan Portugis telah membuat gembira Sultan Trenggana. Hal ini disebabkan ulama Pasai tersebut ternyata memiliki kecakaoan yang dapat digunakan oleh Trenggana dalam mewujudkan cita-citanya. Berkat kerja sama keduanya, Portugis gagal merebut pelabuhan-pelabuhan penting di Jawa Barat, seperti Banten, Cirebon, dan Sunda Kelapa. Bahkan gempuran-gempuran hebat pasukan Demak telah memaksa Portugis meninggalkan pantai Jawa Barat dengan tangan hampa dan penuh rasa malu.

Seusai mengusir Portugis, Trenggana berhasil menaklukkan sisa-sisa kekuatan Mataram Kuno (Jawa Tengah) dan Singasari (Jawa Timur). Namun, wilayah Pasuruan dan Panarukan luput dari upaya penaklukkan Demak. Demikian pula Blambangan yang tetap menjadi bagian dari Kerajaan Bali. Sultan Trenggana gugur setelah berusaha menaklukkan Pasuruan pada tahun 1546 M.

Gugurnya Sultan Trenggana menimbulkan pertikaian di antara kerabat-kerabat kerajaan, terutama antara Pangeran Sekar Seda ing Lepen (adik Trenggana) dengan Pangeran Prawoto (anak Trenggana). Pangeran Sekar Seda ing Lepen terbunuh di dekat jembatan sungai atas perintah Pangeran Prawoto. Alasan pembunuhan tersebut mudah diduga, yaitu menjadi Sultan Demak sebab pamannya itu merupakan calon pengganti Sultan Trenggana. Anak Pangeran Sekar Seda ing Lepen, Arya Panangsang yang menganggap dirinya sebagai orang yang paling berhak atas tahta Demak kemudian membinasakan Pangeran Prawoto dan juga keluarganya. Hal ini dilakukan sebagai balas dendam atas kematian ayahnya. Arya Panangsang (1546-1568 M) kemudian tampil menjadi Sultan Demak yang ke-4.

Masa pemerintahan Arya Panangsang dipenuhi berbagai kekacauan dan pembunuhan. Banyak orang yang tidak suka serta membenci Arya Panangsang. Ia terkenal kejam. Adipati Jepara, Pangeran Hadiri dibunuh karena dianggap merintangi kekuasaannya. Tindakan ini menyulut kemarahan para adipati. Issteri Pangeran Hadiri yang bernama Ratu Kali Nyamat segera mengangat senjata untuk membalas kematian suaminya. Beberapa adipati yang sepaham dengannya diajak pula untuk menghancurkan kekuasaan Arya Panangsang.

Seorang di antaranya adalah Adipati Pajang, Adiwijaya yang terkenal dengan sebutan Jaka Tingkir atau Mas Karebet. Beliau berhasil membinasakan Arya Panangsang pada tahun 1568 M sehingga mahkota dan segala kebesaran Demak berpindah ke tangannya.

Sources -- > Buku “Kronik” Sejarah, terbitan Yudhistira.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.