Pages

Thursday, 18 October 2012

Kesultanan Cirebon

Keraton Kesultanan Cirebon.



Makam Sunan Gunung Jati.



Oleh : SS-Hauptsturmführer Ajisaka Lingga Bagaskara

Cirebon berasal dari kata caruban yang artinya campuran. Diperkirakan masyarakat Cirebon merupakan campuran dari kelompok pedagang pribumi dengan keluarga-keluarga Cina yang telah menganut Islam. Menurut buku Sadjarah Banten, satu rombongan keluarga Cina telah mendarat dan menetap di Gresik. Keluarga Cina itu kemudian masuk Islam. Seorang yang paling terkemuka ialah Cu-cu yang juga disebut Arya Sumangsang atau Prabu Anom. Keluarga Cu-cu ternyata dapat mencapai kedudukan dan kehormatan tinggi di Kesultanan Demak sehingga mendapat kepercayaan pemerintah untuk mendirikan perkampungan di daerah barat. Atas kesungguhan dan ketekunan mereka bekerja, maka berdirilah sebuah perkampungan yang disebut Cirebon. Dalam perkembangannya, Cirebon selalu menjalin hubungan erat dengan Demak, terutama dalam bidang perdagangan.

Kapan dan siapa pendiri Kesultanan Cirebon hingga kini masih belum jelas. Menurut sumber-sumber Portugis, pendiri Kesultanan Cirebon adalah Fatahillah atau Faletehan. Sebelumnya Fatahillah lebih dikenal sebagai Nurullah yang pergi ke Kesultanan Demak setelah daerahnya, yaitu Pasai dikuasai Portugis. Dengan seizing Sultan Demak, beliau pergi ke Banten untuk menyebarkan ajaran agama Islam kepada masyarakat Banten dan sekitarnya. Selain itu, beliau juga berusaha untuk membangun sebuah masyarakat muslim di sana. Setelah menetap di Banten untuk beberapa waktu, beliau kemudian berhasil mendirikan Kesultanan Cirebon pada tahun 1552 M. Fatahillah menikah dengan puteri Demak dan juga puteri Cirebon, yakni anak Sultan Gunung Jati. Beliau wafat pada tahun 1570 M dan dimakamkan di Gunung Sembung. Dalam Babad Cirebon, Fatahillah dikenal sebagai Wong Agung Sabrang (pembesar berasal dari luar Jawa) dan Ratu Bagus Pase (orang terhormat dari Pasai).

Berdasarkan Tjarita Tjaruban, Kesultanan Cirebon didirikan oleh Syarif Hidayatullah, cucu Raja Pakuan Pjajaran. Beliau naik tahta pada tahun 1482 M sekembalinya dari Mekah. Sebagai cucu raja ia memang berhak mendapat kekuasaan. Daerah Cirebonlah yang diberikan kepadanya. Dalam perkembangannya, Cirebon mengalami kemajuan yang cukup pesat. Selain sebagai penguasa kerajaan, Syarif Hidayatullah adalah seorang wali. Beliau mendapat persetujuan dari Walisanga, terutama Sunan Ampel untuk menyebarkan ajaran agama Islam di Jawa bagian barat dengan pusatnya di Cirebon. Munculnya Cirebon sebagai pusat kegiatan ekonomi dan agama Islam telah menyurutkan Kerajaan Pajajaran yang Hindu. Namun, Kerajaan Pajajaran tidak pernah berkonfrontasi dengan Cirebon, karena masih ada hubungan kekerabatan di antara keduanya.

Syarif Hidayatullah wafat di Cirebon dan dimakamkan di Bukit Gunung Sembung yang letaknya berdampingan dengan bukit Gunung Jati. Gunung Jati pernah berperan sebagai tempat kegiatan keagamaan dan perdagangan.

Hingga saat ini beberapa ahli sejarah berbeda pendapat mengenai tokoh Fatahillah dan Sunan Gunung Jati. Pendapat pertama, menyatakan Fatahillah sama dengan Gunung Jati. Artinya, orang satu tetapi mempunyai beberapa nama. Pendapat kedua mengatakan Fatahillah dan Sunan Gunung Jati adalah dua nama dari dua orang yang berbeda pula. Jadi, bagaimana komentar Anda ???

Sources --> Buku “Kronik” Sejarah, terbitan Yudhistira.

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.