Pages

Thursday, 18 October 2012

Kesultanan Banten

Masjid Agung Banten.



Oleh : SS-Hauptsturmführer Ajisaka Lingga Bagaskara

Dasar-dasar terbentuknya Kesultanan Banten mulai dirintis oleh Nurullah pada tahun 1525 M atas perintah dan kesepakatan dengan Sultan Demak. Nurullah adalah seorang tokoh yang saleh dan cakap dalam bidang politik hingga mampu menguasai Banten. Selain itu, beliau juga dipandang mampu menghalangi Portugis yang berambisi menguasai pelabuhan-pelabuhan di Jawa Barat.

Pada tahun 1522 M Portugis menandatangani perjanjian dengan Pajajaran untuk mendirikan benteng di Sunda Kelapa. Sebelum Portugis melaksanakan niatnya, Nurullah telah merebut Sunda Kelapa dari tangan Pajajaran pada tahun 1527 M. Atas kemenangan ini, Sultan Trenggana memberikan gelar kepadanya, yakni Fatahillah (kemenangan Allah).

Orang-orang Portugis yang tidak mengetahui Sunda Kelapa telah diduduki Banten segera mendirikan kantor dagang di sana. Kedatangan ini disambut dengan gemparan oleh laskar Banten. Akibatnya, Portugis terdesak dan terpaksa angkat kaki dari Sunda Kelapa.

Fatahillah memimpin Banten sampai tahun 1552 M. Tampuk pemerintahan Banten kemudian diserahkan kepada putera keduanya, yaitu Hasanuddin. Pada masa kekuasaan Hasanuddin, Banten dinyatakan lepas dari kekuasaan Demak dan berdiri sebagai sebuah negara. Karena itu, Hasanuddin (1552-1570 M) dianggap sebagai Sultan Banten pertama sebab beliau telah berani menyatakan lepas dari kekuasaan Demak, Beliau kemudian berusaha meluaskan wilayahnya. Lampung dan sekitarnya dijadikan daerah incaran pertama untuk melaksanakan ambisinya.

Kesultanan Banten ramai dikunjungi pedagang dari luar karena kesultanan ini terkenal sebagai pemasar lada. Untuk memasok kebutuhan lada, Banten harus menguasai daerah produsen lada. Lampung merupakan daerah yang banyak menghasilkan lada sehingga daerah itu dikuasainya.

Hasanuddin wafat pada tahun 1570 M. Beliau digantikan putranya, yaitu Panembahan Yusuf atau Maulana Yusuf (1570-1580 M). Pada tahun 1579 M Maulana Yusuf menyerang Kerajaan Pajajaran. Dengan bantuan penduduk Kerajaan Pajajaran sendiri, yang telah beragama Islam, akhirnya Pajajaran dapat ditaklukkan. Raja Pajajaran beserta keluarganya segera menyingkir dari kerajaan. Sejak saat itu, banyak bangsawan dan penduduk Pajajaran yang masuk ke dalam agama Islam. Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan kerajaan Hindu di Jawa Barat.

Sources -- > Buku “Kronik” Sejarah, terbitan Yudhistira.

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.