Pages

Saturday, 13 October 2012

Kesultanan Aceh Darussalam

Makam Sultan Ali Mughayat Syah.



Manuskrip kitab Bustanus Sulatin karya Nuruddin Ar Raniri.


Oleh : SS-Hauptsturmführer Ajisaka Lingga Bagaskara

Daerah yang menjadi inti dari Kesultanan Aceh Darussalam terletak di Aceh Rajeuk. Pusat kekuasaannya berada di Ramni, kemudian dipindahkan ke Darul Kamal. Kesultanan Aceh Darussalam sebenarnya telah berdiri sejak tahun 1204 M di bawah pemerintahan Sultan Jihan Syah, namun belum berdaulat karena berada di bawah pengaruh kekuasaan Kesultanan Pedir.

Kesultanan Aceh baru berdaulat semenjak tampilnya Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1528 M). Pada masa pemerintahannya, Aceh berhasil memperluas kekuasaannya dengan menyatukan kerajaan-kerajaan di sekitarnya, seperti Kesultanan Samudera Pasai, Perlak, Lamuri, Benua Temiang, dan Indera Jaya. Kesultanan Pedir yang menguasainya pun dapat ditaklukkan meskipun Pedir bersekutu dengan Bangsa Portugis.

Kesultanan Aceh Darussalam ternyata berambisi memperluas kekuasaannya ke pesisir timur Sumatera. Keberanian Aceh muncul disebabkan di wilayah itu sudah tidak ada lagi kerajaan besar. Aceh telah memiliki sejumlah senjata Portugis ketika menaklukkan Pedir dan sudah terjalin hubungan dengan Kesultanan Turki (Ottoman Empire).

Upaya penaklukkan daerah Sumatera Timur berlangsung lama karena wilayahnya amat luas. Di samping itu, Aceh mendapat tantangan keras dari Kerajaan Aru. Dalam sebuah peperangan, Kerajaan Aru dapat dikalahkan akhirnya. Untuk mengatur wilayah yang baru dikuasainya itu, Sultan Aceh mengirim panglima perang Gocah Pahlawan yang kelak menurunkan Sultan-Sultan Deri dan Serdang.

Munculnya Kesultanan Aceh Darussalam sebagai sebuah kerajaan besar diperkuat juga oleh peristiwa jatuhnya Kesultanan Malaka ke tangan Portugis pada tahun 1511 M. Akibat jatuhnya Malaka banyak orang Melayu yang pindah ke Aceh. Para pedagang muslim di Nusantara pun umumnya mengalihkan aktivitas perdagangannya ke Aceh melalui pantai barat Sumatera. Oleh karena itu, Kesultanan Aceh Darussalam menjadi kerajaan dagang yang amat maju. Hal ini tentu saja merugikan kedudukan ekonomis Bangsa Portugis di Malaka. Beberapa kali angkatan perang Bangsa Portugis berusaha menghancurkan dengan menngempur Aceh, namun Aceh senantiasa berjaya dan menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi Bangsa Portugis itu sendiri. Sultan Ali Mughayat Syah berhasil membebaskan seluruh bumi Aceh dari upaya penjajahan Bangsa Portugis.

Setelah Sultan Ali Mughayat Syah meninggal dunia, beliau digantikan oleh puteranya yang bernama Sultan Salahuddin (1528-1537 M). Pemerintahan Salahuddin amat lemah dan bahkan selalu memberikan peluang kerja sama kepada Portugis. Akibatnya, Salahuddin dijatuhkan oleh saudara kandungnya sendiri, Raja Ali. Raja Ali naik tahta Kesultanan Aceh Darussalam dengan nama Sultan Alauddin Syah (1537-1568 M). Dalam masa pemerintahannya, Kesultanan Aceh terus berusaha mengusir Portugis yang selalu berkeinginan menguasai wilayahnya. Aceh cukup berani menyerang Johor yang bersekutu dengan Bangsa Portugis. Sultan Johor pun dapat ditawan, tetapi Johor masih tetap berdiri sebagai sebuah kerajaan. Usaha membangun kebesaran Aceh lainnya adalah menjalin sebuah hubungan dengan Kesultanan Turki-Ottoman, Kesultanan Persia, India, dan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Aceh pun terus mengembangkan dakwah Islamnya di negeri sendiri dan ke tempat lain.

Kesultanan Aceh Darussalam mencapai puncak kejayaan di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M). Pada masa kekuasaannya, wilayah Aceh semakin luas, yaitu membentang dari pesisir barat Sumatera sampai Bengkulen, pesisir timur Sumatera sampai Siak, Johor, Pahang, dan Patani. Di bidang perekonomian, Sultan Iskandar Muda mengembangkan tanaman lada yang amat dibutuhkan oleh bangsa-bangsa Eropa dan Asia. Di bidang kebudayaan, muncul ahli-ahli sastra, seperti Nuruddin Ar Raniri dan Hamzah Fansuri. Banyak pula ahli di bidang ilmu pengetahuan dan agama yang mengunjungi Aceh, seperti ahli fisika dari Mesir dan ahli fikih dari Syria. Sultan Iskandar Muda memperhatikan pula kegiatan keagamaan, seperti membangun Masjid Raya Baiturrahman. Suasana kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh yang bernuansa Islam telah melahirkan sebuah julukan bagi Aceh itu sendiri, yakni Serambi Mekah.

Sultan-sultan Aceh amat menaruh perhatian dan kecintaan terhadap kehidupan agama Islam. Rakyat dan para pejabat negeri diperintahkan menjalani hidup sesuai dengan syariat Islam. Rakyat diajak pula meramaikan masjid dengan shalat berjamaah. Tujuannya, memperkuat keimanan dan ketaqwaan, memerkokoh persatuan umat, serta membina kehidupan demokrasi.

Sultan Iskandar Muda kemudian digantikan oleh Sultan Iskandar Thani (1636-1641 M). Pada saat itu Aceh masih dapat mempertahankan kebesarannya. Setelah Iskandar Thani meninggal dunia yang bersamaan waktunya dengan jatuhnya Malaka ke tangan VOC, Aceh mulai mengalami masa-masa kemunduran. Di bawah kekuasaan Sultan Safiatuddin (1641-1675 M) banyak daerah yang melepaskan diri dari Aceh, karena Bangsa Belanda berhasil mempraktikkan politik Devide et Impera.

Sources -- > Buku “Kronik” Sejarah, terbitan Yudhistira

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.