hwwIUKoDtacl9LXDEAIdxBVXLF8 Kerajaan Bali ~ Indonesian Persons

Monday, 1 October 2012

Kerajaan Bali

Kelompok Candi Padas di Gunung Kawi (Tampaksiring).




Oleh : SS-Hauptsturmf├╝hrer Ajisaka Lingga Bagaskara

Nama Bali ternyata telah dikenal pada masa kekuasaan Dinasti Tang di Cina. Mereka menyebut Bali dengan Po-li atau Dwa-pa-tan, yakni sebuah negeri yang terletak di sebelah timur Kerajaan Holing. Masyarakat Dwa-pa-tan mempunyai adat istiadat yang hampir sama dengan di Ho-ling. Pada saat itu penduduk telah pandai menulis di atas daun lontar. Mereka telah dapat menanam padi dengan baik. Setiap penduduk yang meninggal, mayatnya diberi perhiasan emas yang dimasukan ke dalam mulutnya, kemudian dibakar dengan bau-bauan yang harum.

Berita tertua mengenai Bali yang sumbernya berasal dari Bali sendiri, yakni berupa beberapa buah cap kecil dari tanah liat yang berukuran sekitar2,5 cm yang ditemukan di Pejeng. Cap-cap ini ditulisi mantra-mantra agama Buddha dalam bahasa Sansekerta yang diduga dibuat sekitar abad ke-8 M. Adapun prasasti tertua di Bali yang berangka tahun 882 M memberitakan perintah membuat pertapaan dan persanggrahan di Bukit Cintamani. Di dalam prasasti tersebut tidak tertulis nama raja yang memerintah pada waktu itu. Demikian pula prasasti yang berangka tahun 911 M, hanya menjelaskan pemberian izin kepada penduduk Desa Turunan untuk membangun tempat suci bagi pemujaan Bhatara Da Tonta.

Munculnya Kerajaan Bali dapat diketahui dari tiga prasasti yang ditemukan di Belonjong (Sanur), Panempahan, dan Maletgede yang berangka tahun 913 M. Prasasti-prasasti tersebut ditulis dengan huruf Nagari dan Kawi, sedangkan bahasanya ialah Bali kuno dan Sansekerta. Dari prasasti-prasasti tersebut tertulis Raja Bali yang bernama Kesariwarmadewa. Beliau bertahta di Istana Singhadwala (pintu istana negara Singha). Beliau adalah raja yang mendirikan Dinasti Warmadewa di Bali. Dua tahun kemudian Kesariwarmadewa diganti oleh Ugrasena. Raja Ugrasena yang bertahta di Istana Singhamandawa memerintah kerajaan hingga tahun 942 M. Masa pemerintahannya sezaman dengan pemerintahan Mpu Sindok di Kerajaan Mataram. Selama tujuh tahun berikutnya tidak diketahui penerus Raja Ugrasena. Setelah itu, muncul Raja Bali bernama Aji Tabenendra Warmadewa (955-967 M).


xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx
LACAK

Para ahli berpendapat bahwa Tabenendra pada akhir masa kekuasannya dikalahkan oleh Candrabhayasingha. Hal yang penting diketahui, Raja Candrabhayasingha berhasil membuat pemandian suci Tirta Empul yang letaknya di dekat Tampaksiring sekarang.
xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx


Di tengah-tengah masapemerintahan Tabenendra, pada tahun 960 M muncul Raja Bali lain, yaitu Indra Jayasingha Warmadewa (Candrabhayasingha Warmadewa). Pengganti Candrabhayasingha, yaitu Janasadhu Warmadewa (975-983 M), kemudian Wijaya Mahadewi (983-989 M). Setelah itu muncul Raja Bali yang bernama Udayana (989-1011 M) dan bergelar Sri Dharmoyana Warmadewa. Udayana memerintah Kerajaan Bali bersama-sama dengan permaisurinya, Gunapriya Dharmapatni yang dikenal dengan nama Mahendradarta. Dari perkawinan Udayana dengan Mahendradarta lahir tiga orang putra, yaitu AirlanggaMarakatapangkajaAnak Wungsu, Airlangga menjadi putra mahkota yang ternyata tidak pernah memerintah di Kerajaan Bali, sebab beliau pergi ke Jawa Timur dan menikah dengan putri Dharmawangsa, Raja Mataram. Oleh karena itu, pewaris tahta di Kerajaan Bali jatuh kepada Marakatapangkaja (1011-1022 M). Beliau dianggap sebagai kebenaran hukum yang selalu melindungi rakyatnya. Beliau juga memperhatikan kehidupan rakyat sehingga disegani dan ditaati. Masa pemerintahan Marakatapangkaja sezaman dengan Airlangga di Jawa Timur. Dari tahun 1022 sampai tahun 1049 tidak didapatkan berita mengenai raja-raja yang memerintah di Kerajaan Bali.

Anak Wungsu (1049-1077 M) kemudian melanjutkan kekuasaan Marakatapangkaja. Beliau dikenal raja yang penuh belas kasihan terhadap rakyatnya. Beliau pun senantiasa memikirkan kesempurnaan dunia yang dikuasainya. Selama masa kekuasaannya, beliau telah berhasil mewujudkan negara yang aman, damai, dan sejahtera. Penganut agama Hindu dapat hidup berdampingan dengan agama Buddha. Anak Wungsu sempat pula membangun sebuah kompleks percandian di Gunung Kawi (sebelah selatan Tampaksiring) yang merupakan peninggalan terbesar di Kerajaan Bali. Atas perannya yang gemilang itu, Anak Wungsu kemudian dianggap rakyatnya sebagai penjelmaan Dewa Hari (Dewa Kebaikan).


xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx
LACAK

Semenjak pemerintahan Anak Wungsu, masyarakat Bali dibagi ke dalam dua kelompok besar, yaitu Golongan Caturwana dan golongan para budak yang disebut Jaba. Kelompok Jaba tidak mau dianggap sebagai golongan yang paling rendah dan merasa sangat terhina apabila disebut Sudra. Oleh karena itu, Golongan Jaba mendirikan suatu organisasi sendiri dengan nama Suryakanta pada tahun 1925 M. Di lain pihak, Kelompok Caturwana (Caturwangsa) mendirikan Bali Adnyana pada tahun 1926 M.
xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx


Anak Wungsu tidak meninggalkan seorang putra pun. Raja yang memerintah sesudah Anak Wungsu adalah Walaprabhu dan Bhatara Mahaguru Dharmotungga Warmadewa. Setelah itu tidak ada lagi raja yang berkuasa dari Dinasti Warmadewa. Raja dari dinasti lain yang muncul ialah Sri Jayasakti (1133-1150 M). Masa pemerintahan Sri Jayasakti sezaman dengan Raja Jayabaya di Kerajaan Kediri. Pada saat ini agama Buddha, Siwaisme, dan Waisnawa berkembang dengan baik. Sri Jayasakti disebut sebagai penjelmaan Dewa Wisnu. Sebagai raja yang bijaksana, beliau memerintah kerajaan berdasarkan pedoman hukum yang didasari rasa keadilan dan kemanusiaan. Kita undand-undang yang berlaku ialah Uttara-widhi-balawan dan Rajawacana.

Raja Bali yang terkenal lainnya adalaj Jayapangus (1177-1181 M). Di dalam kitab Usana Bali disebutkan bahwa Jayapangus memerintah setelah Jayakusunu. Dari 43 prasasti yang ditinggalkannya, Jayapangus banyak menyebut dua orang permaisurinya, yaitu Arkajalancana dan SasangkajacihnaArkaja bermakna putri matahari, sedangkan Sasangka berarti putri bulan. Dengan demikian, perkawinan raja melambangkan perpaduan antara matahari dan bulan. Setelah Jayapangus meninggal, Raja-Raja Bali yang memerintah tidak begitu terkenal, karena sumber sejarahnya tidak begitu diketahui.

Masyarakat Kerajaan Bali menerima pengaruh Hindu-Buddha melalui daerah Jawa Timur. Hal ini dapat diketahui karena Bali pernah dikuasai kerajaan-kerajaan di Jawa Timur, yaitu pada abad ke-10 oleh Kerajaan Singasari dan abad ke-14 oleh Kerajaan Majapahit. Selain itu, ketika Majapahit runtuh banyak penduduk yang tidak mau beragama Islam lantas menyeberang ke Bali. Dalam perkembangan kerajaan-kerajaan di Bali, ternyata jumlah pedanda (pendeta) agama Siwa yang bergelar Dang Acaryya lebih banyak daripada pedanda Buddha yang bergelar Dang Upadhyaya. Hal ini menunjukkan bahwa agama Hindu pengaruhnya lebih besar daripada agama Buddha. Namun, afama Hindu yang berkembang di Bali telah bercampur dengan adat istiadat setempat sehingga Hindu khas Bali saat ini disebut Hindu Dharma.

Dari keterangan prasasti-prasasti di Bali, diketahui bahwa umumnya masyarakat Bali telah dapat bercocok tanam di sawah, parlak (sawah kering), gaga (ladang), kebwan (kebun), dan mmal (ladang daerah pegunungan). Jenis tanaman yang sudah dikenal antara lain padi gaga, kelapa, bambu, enau, kemiri, bawang merah, jahe, wortel, dan lain-lain. Selain itu, rakyat telah mampu beternak itik, kambing, sapi, kerbau, anjing, kuda, ayam, babi, dan burung. Rupanya, binatang yang paling berharga pada saat itu adalah kuda. Kuda merupakan binatang yang paling cocok untuk membawa barang dagangan yang melintasi daerah pegunungan. Kegiatan perdagangan pun sudah sangat maju. Di beberapa desa terdapat golongan saudagar yang disebut wanigrama (saudagar laki-laki) dan wanigrami (saudagar perempuan). Mereka memiliki kepala atau pejabat yang mengurus kegiatan perdagangan yang disebut banigrama atau banigrami. Setiap kegiatan penduduk telah dikenakan semacam pajak atau iuran yang digunakan untuk penyelenggaraan pemerintahan di Kerajaan Bali.

Sources --- > Buku “Kronik” Sejarah, terbitan Yudhistira
Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.