hwwIUKoDtacl9LXDEAIdxBVXLF8 Kerajaan Sunda ~ Indonesian Persons

Tuesday, 25 September 2012

Kerajaan Sunda

 Prasasti Canggal.



Candi Cangkuang.

Oleh : Ajisaka Lingga Bagaskara

Di wilayah Jawa Barat muncul Kerajaan Sunda yang diduga merupakan kelanjutan dari Kerajaan Tarumanegara yang telah runtuh pada abad ke-7 Masehi. Menurut kitab Carita Parahiyangan, sebenarnya lahirnya  Tarumanegara telah didahului oleh sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Salakanagara yang beribukota di Rajatapura. Kerajaan Salakanagara sebelum diperintah oleh Raja Dewawarman (Dharmalokapala) merupakan sekumpulan pedukuhan kecil-kecil yang dikuasai oleh Aki Tirem. Namun, sayang sekali sumber sejarah lain tidak ada yang mendukungnya maupun menguatkannya sehingga keberadaan kerajaan tersebut masih diragukan.

Berita pertama kemunculan Kerajaan Sunda diperoleh dari Prasasti Canggal (732 M). Prasasti Canggal menerangkan, Sanjaya (Raja Mataram) telah mendirikan tempat pemujaan di Kunjarakunja (daerah Wukir). Dia adalah anak Sannaha, saudara perempuan Raja Sanna.

Berkenaan dengan hal tersebut, kitab Carita Parahiyangan mengatakan bahwa Raja Sena berkuasa di Kerajaan Galuh. Suatu ketika terjadi perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh Rahyang Purbasora. Raja Sena berhasil dikalahkan dan melarikan diri ke Gunung Merapi bersama keluarganya. Selanjutnya, Sanjaya, putera Sannaha berhasil mengalahkan Rahyang Purbasora dan menduduki kembali tahta di Kerajaan Galuh. Beberapa waktu kemudian, Sanjaya pindah ke Jawa Tengah menjadi raja di Mataram, sedangkan Sunda dan Galuh diserahkan kepada puteranya, Rahyang Tamperan. Sampai saat ini para ahli masih berbeda pendapat mengenai keterkaitan antara tokoh Sanna dan Sanjaya di dalam Prasasti Canggal dengan Raja Sena dan Sanjaya di dalam kitab Carita Parahiyangan.

Dalam waktu yang cukup lama tidak diketahui perkembangan keadaan Kerajaan Sunda selanjutnya. Kerajaan Sunda baru muncul kembali pada tahun 1030 M ketika dipimpin oleh Maharaja Sri Jayabhupati. Nama Sri Jayabhupati terdapat pada Prasasti Sang Hyang Tapak yang ditemukan di daerah Cibadak (Sukabumi). Beliau bergelar Wikramottunggadewa, sebuah gelar yang sering digunakan oleh pemerintahan Airlangga di Mataram. Adanya gelar tersebut menimbulkan beberapa dugaan. Sri Jayabhupati mungkin raja taklukan Airlangga atau sebaliknya, musuh Airlangga, atau mungkin sama sekali tidak ada keterkaitan. Yang jelas, Sri Jayabhupati menegaskan dirinya sebagai Haji ri Sunda (Raja di Sunda). Pada masa pemerintahannya, ibukota Kerajaan Sunda adalah Pakuan Pajajaran.

Pengganti Sri Jayabhupati adalah Prabu Raja Wastu (Rahyang Niskala Wastu Kancana). Beliau memindahkan ibukota kerajaan dari Pakuan Pajajaran ke Kawali (Ciamis) dan membangun istana di Surawisesa. Setelah beliau meninggal, Prabu Raja Wastu diganti oleh anaknya, Rahyang Ningrat Kencana (Rahyang Dewa Niskala). Selanjutnya, tampuk kekuasaan jatuh kepada Sri Baduga Maharaja. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Sunda dirundung duka dengan terjadinya Peristiwa Bubat (1357 M). Dalam Peristiwa Bubat ini, hampir seluruh pasukan Sunda gugur di wilayah Kerajaan Majapahit. Keadaan ini tidak berarti bahwa Sunda tidak memiliki raja lagi.

Ketika Peristiwa Bubat terjadi, putera mahkota Kerajaan Sunda, Niskala Wastu Kencana masih sangat kecil sehingga untuk sementara waktu pemerintahan dipegang oleh Hyang Bunisora (1357-1371 M). Setelah menginjak dewasa, Niskala Wastu Kencana (1371-1474 M) menerima kembali tampuk kepemimpinan dari Hyang Bunisora. Beliau memerintah sangat lama, yakni sekitar 104 tahun lebih. Masa pemerintahan yang sangat panjang ini disebabkan karena Niskala Wastu Kencana menjalankan roda pemerintahan kerajaan dengan sangat baik, selalu menaati ajaran agama, dan sangat memperhatikan kesejahteraan rakyat. Berbeda jauh dengan penggantinya, Ningrat Kencana (1474-1482 M) banyak melanggar tradisi raja-raja Sunda. Akibatnya, ia kurang disenangi rakyat dan masa pemerintahannya relatif lebih pendek.

Ningrat Kencana digantikan oleh Sang Ratu Jayadewata (1482-1521 M). Sang Ratu Jayadewata memindahkan ibukota kerajaan kembali dari Kawali ke Pakuan Pajajaran. Pada saat itu pengaruh Islam mulai memasuki Kerajaan Sunda. Penduduk di wilayah utara sudah banyak yang menganut agama Islam, terutama di daerah Banten dan Cirebon. Dalam menghadapi situasi seperti ini, raja berusaha menjalin persekutuan dengan Negeri Portugis di Malaka. Pada tahun 1512 M dan 1521 M, dikirimlah utusan ke Malaka di bawah pimpinan Prabu Surawisesa (1521-1535 M), putera mahkota Kerajaan Sunda.

Prabu Surawisesa kemudian menggantikan tahta Sang Ratu Jayadewata. Di tengah-tengah masa kekuasaannya, pelabuhan terbesar Sunda Kelapa jatuh ke tangan Kerajaan Islam Banten. Negeri Portugis yang menjanjikan bala bantuannya ternyata tidak bisa berbuat apa-apa. Akibatnya, pusat Kerajaan Sunda terputus hubungan dengan daerah luar. Pengganti Surawisesa, Prabu Ratudewata (1535-1543 M) harus menjalani masa-masa kritis dengan adanya serangan tentara Islam secara bertubi-tubi. Akan tetapi, sejauh itu kedaulatan Kerajaan Sunda masih dapat dipertahankan.

Prabu Dewata dalam kesehariannya lebih berperan sebagai pendeta daripada sebagai raja, bahkan tidak menghiraukan kesejahteraan rakyat. Raja yang kemudian menggantikannya, yakni Ratu Saksi (1543-1551 M) ternyata seorang raja yang kejam dan selalu hidup bersenang-senang di atas penderitaan rakyatnya. Demikian pula penggantinya, Tohaan di Majaya (1551-1567 M) malah memperindah istana, suka mabuk-mabukan, suka main perempuan, berjudi, berfoya-foya, hingga melupakan semua tugas kerajaan. Keadaan ini diperparah dengan gencarnya serangan Islam dari sebelah utara. Akibatnya, pada masa pemerintahan Nusiya Mulya, negara sudah tidak lagi memiliki kekuatan sehingga pada abad ke-16 M, Kerajaan Sunda mudah sekali dikalahkan oleh tentara Islam Banten.

Pada masa kekuasaan raja-raja Sunda, aspek sosial-ekonomi rakyat cukup mendapat perhatian. Meskipun pusat Kerajaan Sunda berada di pedalaman, namun hubungan dagang dengan daerah luar maupun bangsa asing berjalan sangat baik. Kerajaan Sunda memiliki pelabuhan-pelabuhan penting, seperti Banten, Pontang, Cigede, Tamgara, Sunda Kelapa, dan Cimanuk. Di kota-kota tersebut diperdagangkan lada, beras, sayur-sayuran, buah-buahan, dan berbagai hewan ternak serta hewan piaraan. Di samping kegiatan perdagangan, pertanian merupakan kegiatan yang banyak digeluti rakyat. Cara bertani yang dilakukan umumnya berladang atau berhuma. Aktivitas berladang memiliki ciri kehidupan selalu berpindah-pindah. Hal ini ternyata menjadi salah satu tradisi sosial Kerajaan Sunda yang dibuktikan dengan seringnya memindahkan pusat kerajaan. Oleh karena itu, Kerajaan Sunda tidak banyak meninggalkan keraton yang permanen, candi, atau prasasti-prasasti. Candi yang paling dikenal di Jawa Barat hanyalah Candi Cangkuang yang berada di Leles, Garut.

Candi Cangkuan yang ditemukan pada tahun 1966 M susunan bangunannya bercorak Siwaistis. Keterkaitan Candi Cangkuan dengan Kerajaan Sunda kurang begitu jelas. Namun, karena lokasi dari candi itu sendiri berada di daerah kekuasaan Kerajaan Sunda, maka dapatlah diduga bahwa masyarakat Sunda lebih dipengaruhi oleh agama Hindu daripada agama Buddha.

sources ---> Buku "Kronik" Sejarah, terbitan Yudhistira
Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.