hwwIUKoDtacl9LXDEAIdxBVXLF8 Kerajaan Majapahit ~ Indonesian Persons

Tuesday, 11 September 2012

Kerajaan Majapahit

Patung Kertarajasa Jayawardhana.



Patung Tribhuwanattunggadewi.



Peta daerah kekuasaan Kerajaan Majapahit.



 Candi Panataran.



Silsilah keluarga Kerajaan Majapahit.





Oleh : SS-Hauptsturmf├╝hrer Ajisaka Lingga Bagaskara

Kerajaan Majapahit berdiri pada tahun 1293 M setelah Raden Wijaya berhasil memukul mundur tentara Mongolia dari Singasari. Sebelumnya, Majapahit merupakan kawasan hutan Tarik yang berada di sekitar delta Sungai Brantas (Mojokerto). Atas bantuan Arya Wiraraja, Bupati Sumenep, daerah Tarik kemudian berubah menjadi kawasan yang maju dan diberi nama Majapahit. Majapahit sebenarnya diambil dari nama buah Maja, yang ketika itu dalam melakukan penebangan hutan secara besar-besaran, orang-orang Raden Wijaya menemukan sebuah buah Maja. Kemudian buah Maja itu dimakan, dan terasa sangat pahit. Maka dari itu, negeri tersebut diberi nama Majapahit.

Raden Wijaya (1293-1308 M) dinobatkan menjadi Raja Majapahit pada tahun 1293 dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana. Raden Wijaya mengawini empat orang puteri Raja Kertanegara, yaitu Tribhuwaneswari, Narendraduhita, Prajnaparamita, dan Gayatri. Dari Tribhuwaneswari lahir Jayanegara. Dari Gayatri diperoleh dua anak perempuan, yakni Tribhuanattunggadewi Jayawisnuwardhani dan Rajadewi Maharajasa, sedangkan dari Narendraduhita dan Prajnaparamita tidak diperoleh seorang anak pun. Raden Wijaya melakukan perkawinan dengan tujuan untuk memperkuat kedudukan dan agar seluruh warisan Kerajaan Singasari berpindah kepadanya.

Raden WIjaya memerintah dengan baik serta bijaksana. Orang-orang yang dahulu membantunya diberi imbalan. Arya Wiraraja diberi tanah di Lumajang dan diangkat sebagai penasihat. Nambi dijadikan sebagai mahapatih. Lembu Sora diangkat sebagai patih di Daha. Ranggalawe menjadi adipati di Tuban. Kebo Anabrang yang berperan di dalam ekspedisi Pamalayu diangkat sebagai panglima perang. Akan tetapi, kebijakan Raden Wijaya menimbulkan rasa ketidakpuasan bagi Ranggalawe. Ranggalawe tidak menyetujui Nambi menduduki jabatan tinggi sebagai mahapatih. Ia beranggapan dirinyalah atau Lembu Sora yang pantas menjadi mahapatih karena lebih berjasa dan lebih gagah berani di medan pertempuran.

Munculnya pertentangan di antara para pejabat kerajaan kemudian dimanfaatkan oleh Mahapati, seorang tokoh yang berambisi menduduki jabatan tertinggi di Majapahit. Mahapati ternyata biang dari semua kerusuhan, sumber fitnah, dan adu domba. Kepada Raden Wijaya diisukan bahwa Ranggalawe akan memberontak sehingga berkobarlah peperangan antara Tuban dengan pasukan kerajaan pada tahun 1295 M. Dalam pertempuran itu, Ranggalawe gugur di tangan Kebo Anabrang. Namun, Kebo Anabrang dibunuh pula oleh Lembu Sora karena ia tidak tahan atas kematian sahabatnya itu. Rupanya peristiwa tersebut dijadikan alasan Mahapati untuk menyingkirkan Lembu Sora dengan menghasut raja untuk menghukumnya. Oleh karena itu, pertempuran pecah kembali antara Lembu Sora dan pihak kerajaan pada tahun 1298-1300 M. Lembu Sora terbunuh dalam peperangan tersebut, selanjutnya Mahapati tinggal menyingkirkan Nambi. Nambi yang mengetahui niat jahat Mahapati segera menyingkir dari Majapahit dengan alasan menengok ayahnya (Wiraraja) yang sedang sakit di Lumajang. Dengan demikian, cita-cita Mahapati tinggal selangkah lagi akan tercapai, namun Raden Wijaya wafat pada tahun 1309 M. Raden Wijaya dicandikan dalam Candi Sumberjati, di selatan Blitar.

xxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx
LACAK

Raden Wijaya mengangkat para pejabat di Majapahit menurut kitab Nawanatya. Di dalam kitab tersebut dikatakan bahwa seorang mahapatih bukan hanya harus gagah berani di dalam medan pertempuran saja, melainkan ia harus paham segala cabang ilmu pengetahuan, mementingkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi, dan tidak takut dikritik. Kepribadian tersebut tidak dimiliki oleh Ranggalawe yang lekas naik darah dan kasar tabiatnya.
xxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx

Menurut keterangan Prasasti Sukamerta dan Prasasti Balawi, raja yang memerintah Majapahit menggantikan Raden Wijaya adalah Jayanegara (1309-1328). Raja kedua Majapahit ini bergelar Sri Sundarapandyadewadhiswaranamarajabhiseka Wikramottungga-dewa. Dalam masa pemerintahannya, timbul berbagai pemberontakkan yang merupakan kelanjutan dari pemberontakan yang terjadi sebelumnya. Peristiwa pemberontakan ini pun disebabkan oleh fitnah Mahapati. Pada tahun 1316 Nambi yang tidak mau kembali ke Majapahit diserbu dan segenap keluarganya dibunuh. Kemudian pasukan Semi (1318 M) dan Kuti (1319 M) dapat ditumpas dan dibinasakan tokohnya. Sejak adanya peristiwa itu, Jayanegara baru menyadari akan kekeliruannya. Ternyata Mahapati seseorang yang berhati jahat dan tukang fitnah sehingga ia lantas ditangkap dan dibunuhnya. Dari beberapa pemberontakan yang terjadi di masa kekuasaan Jayanegara, serangan Kuti yang dianggap paling berbahaya. Hal ini dikarenakan serangan itu telah membuat Jayanegara terpaksa mengungsi ke Badander. Namun, ia dapat diselamatkan oleh pasukan pengawal raja (Bhayangkari) di bawah pimpinan Gajah Mada. Sebagai tanda terima kasih, Gajah Mada kemudian diangkat menjadi Patih Kahuripan.

xxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx
Persona

Gajah Mada

Tidak diketahui kapan dan dimana Gajah Mada dilahirkan. Ia muncul sebagai seorang pemuka kerajaan sejak masa Jayanegara. Karir Gajah Mada dimulai dengan menjadi Bhayangkari (pasukan pengawal raja) dan terus menanjak sejak Majapahit dilanda berbagai pemberontakan. Gajah Mada pernah menjabat Patih Daha, Patih Kahuripan sebelum akhirnya diangkat menjadi Mahapatih Majapahit.
xxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx

Di dalam kitab Pararaton dikatakan bahwa Jayanegara sama dengan Kalagemet, anak Raden Wijaya dari hasil perkawinan dengan selirnya. Berbagai pemberontakan yang terjadi umumnya dikarenakan mereka tidak menyetujui Jayanegara menjadi Raja Majapahit sebab ia bukan keturunan asli Majapahit. Ibunya yang bernama Dara Petak adalah seorang puteri Kerajaan Malayu. Jayanegara sendiri hanyalah anak angkat dari permaisuri Tribhuwaneswari.

Pada tahun 1328 M, Jayanegara wafat karena dibunuh oleh Tanca, tabib istana. Jayanegara tidak meninggalkan keturunan seorang pun. Pilihan pengganti raja pun jatuh ke tangan Gayatri. Akan tetapi, Gayatri memilih menjadi seorang biksuni daripada menjadi seorang ratu. Akhirnya, tahta Kerajaan Majapahit ke-3 jatuh kepada anak Gayatri, yaitu Tribhuwanattunggadewi Jayawisnuwardhani (1328-1350 M).

Pemerintahan Tribhuwanattunggadewi tidak lepas pula dari berbagai usaha-usaha pemberontakan. Pada tahun 1331 M Sadeng dan Keta (daerah Besuki) berupaya untuk melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit. Berkat tindakan Gajah Mada yang taktis, pemberontakan tersebut dengan mudah dapat dipadamkan. Sebagai balas jasa, Gajah mada diangkat menjadi mahapatih atau perdana menteri di Kerajaan Majapahit.

Hayam Wuruk (1350-1389 M) naik tahta menjadi Raja Majapahit ke-4 dan bergelar Rajasanegara. Ia adalah putera dari perkawinan Tribhuwanattunggadewi dengan Kertawardhana. Hayam Wuruk memerintah dengan didampingi oleh Mahapatih Gajah Mada. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk inilah Kerajaan Majapahit mencapai zaman keemasan. Banyak bukti yang memperlihatkan akan kebesaran Majapahit.

xxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx
LACAK

Pada saat pelantikan, Gajah Mada mengucapkan sumpah di hadapan para petinggi-petinggi kerajaan. Dalam sumpahnya, Gajah Mada berikrar “Sumpah Palapa” yang artinya tidak akan pernah berhenti berpuasa, juga tidak akan pernah memakan buah kelapa maupun memakan makanan yang mengandung buah kelapa, dan tidak akan pernah beristirahat sebelum seluruh Nusantara bersatu dipersatukan di bawah naungan Kerajaan Majapahit. Oleh karena itu, sumpah Gajah Mada terkenal dengan Sumpah Palapa. Untuk membuktikan kesungguhan sumpahnya, pada tahun 1343 M Gajah Mada mulai mengadakan serangan ke Bali. Upaya pertama Gajah Mada ini berhasil sehingga Bali ditundukkan. Namun, belum sempat Gajah Mada melaksanakan seluruh sumpahnya, Tribhuwanattunggadewi wafat terlebih dahulu pada tahun 1350 M.
xxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx



A. Wilayah Kekuasaan dan Sistem Pemerintahan

Seperti yang dipaparkan dalam kitab Negarakertagama, daerah-daerah yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit meliputi Sumatera, Semenanjung Melayu, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan juga Irian Jaya (Papua), bahkan beberapa daerah di daratan Asia Tenggara. Hayam Wuruk menerapkan politik yang berwawasan cakrawala mandala sama seperti yang dilakukan oleh Kertanegara.

Sebagai kerajaan yang besar, wilayah kekuasaan Majapahit mempunyai sistem ketatanegaraan yang sangat teratur. Raja Majapahit dan keraton dianggap sebagai pusat dunia yang memiliki kekuasaan tertinggi. Para anggota keluarga kerajaan yang berperan sebagai bhattara di negara-negara bagian, mengelilingi raja dari berbagai penjuru.

Raja Majapahit memerintah dengan dibantu oleh suatu dewan yang disebut Pahom Narendra atau Bhattara Saptaprabhu karena beranggotakan tujuh sesepuh kerajaan. Dewan itu bertugas memberikan saran kepada raja-raja Majapahit. Selain itu, raja juga dibantu oleh Yuwaraja atau Kumararaja (raja muda) dan Rakyan Mahamantri Katrini yang biasanya dijabat oleh para putera raja. Rakyan Mahamantri katrini terdiri dari tiga orang mahamenteri yang masing-masing bergelar i Hino, i Halu, dan i Sirikan. Sebagai pelaksana pemerintahan, raja menunjuk Rakyan Mantri ri Pakirakiran, yaitu sekelompok pejabat tinggi yang merupakan sebuah dewan menteri.


B. Kemajuan di Bidang Sastra dan Bangunan Candi

Bidangs sastra dan keindahan bangunan candi amat diperhatikan oleh pemerintahan Kerajaan Majapahit. Hal ini menyebabkan para pujangga rajin berkarya. Selain itu, karya-karya yang dihasilkan banyak berisi puji-pujian terhadap raja.

Candi-candi yang dibangun pada saat berdirinya Kerajaan Majapahit, misalnya Candi Panataran, Bajangratu, Sawentar, Sumberjati, Tigawangi, Surawana, Jabung, Pari, Tikus, Kedaton, dan Sukuh.

xxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx
LACAK

Beberapa buah kitab karya sastra yang dihasilkan pada masa pemerintahan Majapahit, yaitu:
1. Negarakertagama karya Mpu Prapanca,
2. Sutasoma karya Mpu Tantular,
3. Arjunawiwaha karya Mpu Tantular,
4. Pararaton, tidak diketahui nama pengarangnya (anonim), dan
5. Kunjarakunja, tidak diketahui nama pengarangnya (anonim.
xxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx


C. Toleransi Kehidupan Beragama

Penduduk Majapahit sebagian besar memeluk agama Hindu dan Buddha. Adanya perbedaan agama di Majapahit ternyata amat dihargai. Hal ini dapat dibuktikan dengan aktifnya pihak kerajaan dalam memperhatikan aspek kehidupan beragama yang berbeda tersebut. Pemerintah telah mengatur kehidupan beragama dengan membentuk Dharmadhyaksa ring Kasaiwan yang mengurus Siwaisme (Hindu pemuja Siwa) dan Dharmadhyaksa ring Kasogatan untuk agama Buddha. Selain itu, Hayam Wuruk yang memeluk agama Hindu dapat bekerja sama dengan Gajah Mada yang beragama Buddha. Rakyat bahu-membahu membangun kebesaran Kerajaan Majapahit. Perbedaan agama ternyata tidak menghalangi kerja sama di antara keduanya. Para pembesar Kerajaan Majapahit memberikan teladan yang baik sehingga rakyat bersikap taat.

Gambaran toleransi kehidupan beragama di Majapahit dipaparkan dalam kitab Sutasoma karya Mpu Tantular. Kitab ini berisi ajaran agama yang di dalamnya terdapat ungkapan Bhineka Tunggal Ika. Ungkapan ini sesungguhnya digunakan untuk menyatakan bahwa ajaran Hindu dan Buddha meskipun berbeda tetapi memiliki asas yang sama. Kini ungkapan tersebut menjadi semboyan bangsa Indonesia yang tertulis di atas pita dalam cengkeraman burung Garuda.


D. Keadaan Sosial Ekonomi

Sebagai negara agraris, Majapahit melaksanakan pembangunan ekonomi dengan baik. Sistem pertaniannya pun sudah sangat maju dengan pengairan yang sangat teratur serta pengolahan lahan yang cukup baik. Ada dua bendungan yang telah dibuat saat itu, yaitu Bendungan Jiwu untuk daerah persawahan Kalamasa dan Bendungan Trailokyapuri untuk mengairi daerah hilirnya. Semua ini tergambar pada prasasti dan relief-relief candi yang dibangun pada masanya.

Kerajaan Majapahit juga memiliki bandar-bandar dagang yang sangat besar, seperti Bandar Tuban, Surabaya, Ujung Galuh, Canggu, dan Gresik. Kapal-kapal yang tidak terlalu besar dapat berlayar hingga mendekati ibukota kerajaan sekalipun. Di bandar-bandar ini dijual beras dan rempah-rempah yang sangat dibutuhkan oleh konsumen. Wang Ta Yuan, seorang pedagang asing dari Cina pernah berkunjung ke Kerajaan Majapahit berkisah, bahwa lada, garam, kain, dan burung kakak tua banyak diperdagangkan di situ.


Kemunduran Kerajaan Majapahit diawali terjadinya Peristiwa Bubat (1357 M) yang menimbulkan perselisihan antara Hayam Wuruk dengan Gajah Mada. Ketika itu Hayam Wuruk berkeinginan untuk memperistri Dyah Pitaloka, seorang puteri dari kerajaan di tanah Sunda. Beserta keluarganya, sang puteri menempuh perjalanan yang sangat jauh hingga akhirnya tiba di Kerajaan Majapahit untuk melangsungkan perkawinan. Mereka berkemah di Lapangan Bubat. Namun, disinilah terjadi perselisihan antara Gajah Mada dengan utusan dari Kerajaan Sunda. Masing-masing pihak bersikeras dengan keputusannya sendiri.

Rupanya perselisihan tersebut tidak dapat dihindari, dan menjadi pertentangan yang keras. Peperangan sudah tidak dapat dihindari lagi. Namun, peperangan itu juga berlangsung tidak seimbang karena pihak Kerajaan Sunda hanya membawa sedikit pasukan dan sedikit persenjataan dan peralatan untuk pesta perkawinan. Akhirnya, Raja Sunda beserta seluruh keluarganya tewas di Lapangan Bubat dalam peperangan tersebut. Mendengar kejadian tersebut, Hayam Wuruk menjadi sangat menyesal dan sangat kecewa. Beliau kemudian memberhentikan Gajah Mada dari jabatan Mahapatih. Namun, Beliau juga memberikan tanah sima di Madakaripura kepada Gajah Mada sebagai pensiun.

xxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx
LACAK

Beberapa hal yang menyebabkan kemunduran Kerajaan Majapahit yakni:
1. Tidak ada tokoh pengganti yang profesional dan berwibawa setelah wafatnya Gajah Mada (1364 M) dan Hayam Wuruk (1389 M).
2. Perang Paregreg (1401-1406 M), yakni perang saudara di antara para pewaris-pewaris kerajaan (Bhre-Wirabumi dan Wikrama-wardhana) telah melemahkan Kerajaan Majapahit secara keseluruhan.
3. Banyak negeri-negeri bawahan Kerajaan Majapahit yang berusaha melepaskan diri.
4. Berkembangnya agama Islam di pesisir pantai utara Jawa telah mengurangi dukungan terhadap Kerajaan Majapahit.
xxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx


Masa sesudah Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada merupakan masa-masa kemunduran Kerajaan Majapahit. Keruntuhan Kerajaan Majapahit namun hingga kini masih diperdebatkan. Candrasengkala yang berbunyi sirna-ilang-kertaning-bumi (1478 M) sebagai bukti keruntuhan Kerajaan Majapahit masih berbeda penafsirannya. Hal ini disebabkan dalam Prasasti Jiwu I yang bertarikh 1486 M disebutkan bahwa Girindrawardhana Dyah Ranawijaya masih sebagai Sri Paduka Maharaja Wilwatikta Pura Janggala Kadiri Prabhunata. Hal ini mempunyai makna, pada saat itu Prabu Girindrawardhana masih berkuasa secara berdaulat di Kerajaan Majapahit (Wilwatikta).

Sources --> Buku “Kronik” Sejarah, terbitan Yudhistira
Reactions:

1 comments:

Powered by Blogger.