Pages

Tuesday, 25 September 2012

Kerajaan Sunda

 Prasasti Canggal.



Candi Cangkuang.

Oleh : Ajisaka Lingga Bagaskara

Di wilayah Jawa Barat muncul Kerajaan Sunda yang diduga merupakan kelanjutan dari Kerajaan Tarumanegara yang telah runtuh pada abad ke-7 Masehi. Menurut kitab Carita Parahiyangan, sebenarnya lahirnya  Tarumanegara telah didahului oleh sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Salakanagara yang beribukota di Rajatapura. Kerajaan Salakanagara sebelum diperintah oleh Raja Dewawarman (Dharmalokapala) merupakan sekumpulan pedukuhan kecil-kecil yang dikuasai oleh Aki Tirem. Namun, sayang sekali sumber sejarah lain tidak ada yang mendukungnya maupun menguatkannya sehingga keberadaan kerajaan tersebut masih diragukan.

Berita pertama kemunculan Kerajaan Sunda diperoleh dari Prasasti Canggal (732 M). Prasasti Canggal menerangkan, Sanjaya (Raja Mataram) telah mendirikan tempat pemujaan di Kunjarakunja (daerah Wukir). Dia adalah anak Sannaha, saudara perempuan Raja Sanna.

Berkenaan dengan hal tersebut, kitab Carita Parahiyangan mengatakan bahwa Raja Sena berkuasa di Kerajaan Galuh. Suatu ketika terjadi perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh Rahyang Purbasora. Raja Sena berhasil dikalahkan dan melarikan diri ke Gunung Merapi bersama keluarganya. Selanjutnya, Sanjaya, putera Sannaha berhasil mengalahkan Rahyang Purbasora dan menduduki kembali tahta di Kerajaan Galuh. Beberapa waktu kemudian, Sanjaya pindah ke Jawa Tengah menjadi raja di Mataram, sedangkan Sunda dan Galuh diserahkan kepada puteranya, Rahyang Tamperan. Sampai saat ini para ahli masih berbeda pendapat mengenai keterkaitan antara tokoh Sanna dan Sanjaya di dalam Prasasti Canggal dengan Raja Sena dan Sanjaya di dalam kitab Carita Parahiyangan.

Dalam waktu yang cukup lama tidak diketahui perkembangan keadaan Kerajaan Sunda selanjutnya. Kerajaan Sunda baru muncul kembali pada tahun 1030 M ketika dipimpin oleh Maharaja Sri Jayabhupati. Nama Sri Jayabhupati terdapat pada Prasasti Sang Hyang Tapak yang ditemukan di daerah Cibadak (Sukabumi). Beliau bergelar Wikramottunggadewa, sebuah gelar yang sering digunakan oleh pemerintahan Airlangga di Mataram. Adanya gelar tersebut menimbulkan beberapa dugaan. Sri Jayabhupati mungkin raja taklukan Airlangga atau sebaliknya, musuh Airlangga, atau mungkin sama sekali tidak ada keterkaitan. Yang jelas, Sri Jayabhupati menegaskan dirinya sebagai Haji ri Sunda (Raja di Sunda). Pada masa pemerintahannya, ibukota Kerajaan Sunda adalah Pakuan Pajajaran.

Pengganti Sri Jayabhupati adalah Prabu Raja Wastu (Rahyang Niskala Wastu Kancana). Beliau memindahkan ibukota kerajaan dari Pakuan Pajajaran ke Kawali (Ciamis) dan membangun istana di Surawisesa. Setelah beliau meninggal, Prabu Raja Wastu diganti oleh anaknya, Rahyang Ningrat Kencana (Rahyang Dewa Niskala). Selanjutnya, tampuk kekuasaan jatuh kepada Sri Baduga Maharaja. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Sunda dirundung duka dengan terjadinya Peristiwa Bubat (1357 M). Dalam Peristiwa Bubat ini, hampir seluruh pasukan Sunda gugur di wilayah Kerajaan Majapahit. Keadaan ini tidak berarti bahwa Sunda tidak memiliki raja lagi.

Ketika Peristiwa Bubat terjadi, putera mahkota Kerajaan Sunda, Niskala Wastu Kencana masih sangat kecil sehingga untuk sementara waktu pemerintahan dipegang oleh Hyang Bunisora (1357-1371 M). Setelah menginjak dewasa, Niskala Wastu Kencana (1371-1474 M) menerima kembali tampuk kepemimpinan dari Hyang Bunisora. Beliau memerintah sangat lama, yakni sekitar 104 tahun lebih. Masa pemerintahan yang sangat panjang ini disebabkan karena Niskala Wastu Kencana menjalankan roda pemerintahan kerajaan dengan sangat baik, selalu menaati ajaran agama, dan sangat memperhatikan kesejahteraan rakyat. Berbeda jauh dengan penggantinya, Ningrat Kencana (1474-1482 M) banyak melanggar tradisi raja-raja Sunda. Akibatnya, ia kurang disenangi rakyat dan masa pemerintahannya relatif lebih pendek.

Ningrat Kencana digantikan oleh Sang Ratu Jayadewata (1482-1521 M). Sang Ratu Jayadewata memindahkan ibukota kerajaan kembali dari Kawali ke Pakuan Pajajaran. Pada saat itu pengaruh Islam mulai memasuki Kerajaan Sunda. Penduduk di wilayah utara sudah banyak yang menganut agama Islam, terutama di daerah Banten dan Cirebon. Dalam menghadapi situasi seperti ini, raja berusaha menjalin persekutuan dengan Negeri Portugis di Malaka. Pada tahun 1512 M dan 1521 M, dikirimlah utusan ke Malaka di bawah pimpinan Prabu Surawisesa (1521-1535 M), putera mahkota Kerajaan Sunda.

Prabu Surawisesa kemudian menggantikan tahta Sang Ratu Jayadewata. Di tengah-tengah masa kekuasaannya, pelabuhan terbesar Sunda Kelapa jatuh ke tangan Kerajaan Islam Banten. Negeri Portugis yang menjanjikan bala bantuannya ternyata tidak bisa berbuat apa-apa. Akibatnya, pusat Kerajaan Sunda terputus hubungan dengan daerah luar. Pengganti Surawisesa, Prabu Ratudewata (1535-1543 M) harus menjalani masa-masa kritis dengan adanya serangan tentara Islam secara bertubi-tubi. Akan tetapi, sejauh itu kedaulatan Kerajaan Sunda masih dapat dipertahankan.

Prabu Dewata dalam kesehariannya lebih berperan sebagai pendeta daripada sebagai raja, bahkan tidak menghiraukan kesejahteraan rakyat. Raja yang kemudian menggantikannya, yakni Ratu Saksi (1543-1551 M) ternyata seorang raja yang kejam dan selalu hidup bersenang-senang di atas penderitaan rakyatnya. Demikian pula penggantinya, Tohaan di Majaya (1551-1567 M) malah memperindah istana, suka mabuk-mabukan, suka main perempuan, berjudi, berfoya-foya, hingga melupakan semua tugas kerajaan. Keadaan ini diperparah dengan gencarnya serangan Islam dari sebelah utara. Akibatnya, pada masa pemerintahan Nusiya Mulya, negara sudah tidak lagi memiliki kekuatan sehingga pada abad ke-16 M, Kerajaan Sunda mudah sekali dikalahkan oleh tentara Islam Banten.

Pada masa kekuasaan raja-raja Sunda, aspek sosial-ekonomi rakyat cukup mendapat perhatian. Meskipun pusat Kerajaan Sunda berada di pedalaman, namun hubungan dagang dengan daerah luar maupun bangsa asing berjalan sangat baik. Kerajaan Sunda memiliki pelabuhan-pelabuhan penting, seperti Banten, Pontang, Cigede, Tamgara, Sunda Kelapa, dan Cimanuk. Di kota-kota tersebut diperdagangkan lada, beras, sayur-sayuran, buah-buahan, dan berbagai hewan ternak serta hewan piaraan. Di samping kegiatan perdagangan, pertanian merupakan kegiatan yang banyak digeluti rakyat. Cara bertani yang dilakukan umumnya berladang atau berhuma. Aktivitas berladang memiliki ciri kehidupan selalu berpindah-pindah. Hal ini ternyata menjadi salah satu tradisi sosial Kerajaan Sunda yang dibuktikan dengan seringnya memindahkan pusat kerajaan. Oleh karena itu, Kerajaan Sunda tidak banyak meninggalkan keraton yang permanen, candi, atau prasasti-prasasti. Candi yang paling dikenal di Jawa Barat hanyalah Candi Cangkuang yang berada di Leles, Garut.

Candi Cangkuan yang ditemukan pada tahun 1966 M susunan bangunannya bercorak Siwaistis. Keterkaitan Candi Cangkuan dengan Kerajaan Sunda kurang begitu jelas. Namun, karena lokasi dari candi itu sendiri berada di daerah kekuasaan Kerajaan Sunda, maka dapatlah diduga bahwa masyarakat Sunda lebih dipengaruhi oleh agama Hindu daripada agama Buddha.

sources ---> Buku "Kronik" Sejarah, terbitan Yudhistira

Tuesday, 11 September 2012

Kerajaan Majapahit

Patung Kertarajasa Jayawardhana.



Patung Tribhuwanattunggadewi.



Peta daerah kekuasaan Kerajaan Majapahit.



 Candi Panataran.



Silsilah keluarga Kerajaan Majapahit.





Oleh : SS-Hauptsturmf├╝hrer Ajisaka Lingga Bagaskara

Kerajaan Majapahit berdiri pada tahun 1293 M setelah Raden Wijaya berhasil memukul mundur tentara Mongolia dari Singasari. Sebelumnya, Majapahit merupakan kawasan hutan Tarik yang berada di sekitar delta Sungai Brantas (Mojokerto). Atas bantuan Arya Wiraraja, Bupati Sumenep, daerah Tarik kemudian berubah menjadi kawasan yang maju dan diberi nama Majapahit. Majapahit sebenarnya diambil dari nama buah Maja, yang ketika itu dalam melakukan penebangan hutan secara besar-besaran, orang-orang Raden Wijaya menemukan sebuah buah Maja. Kemudian buah Maja itu dimakan, dan terasa sangat pahit. Maka dari itu, negeri tersebut diberi nama Majapahit.

Raden Wijaya (1293-1308 M) dinobatkan menjadi Raja Majapahit pada tahun 1293 dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana. Raden Wijaya mengawini empat orang puteri Raja Kertanegara, yaitu Tribhuwaneswari, Narendraduhita, Prajnaparamita, dan Gayatri. Dari Tribhuwaneswari lahir Jayanegara. Dari Gayatri diperoleh dua anak perempuan, yakni Tribhuanattunggadewi Jayawisnuwardhani dan Rajadewi Maharajasa, sedangkan dari Narendraduhita dan Prajnaparamita tidak diperoleh seorang anak pun. Raden Wijaya melakukan perkawinan dengan tujuan untuk memperkuat kedudukan dan agar seluruh warisan Kerajaan Singasari berpindah kepadanya.

Raden WIjaya memerintah dengan baik serta bijaksana. Orang-orang yang dahulu membantunya diberi imbalan. Arya Wiraraja diberi tanah di Lumajang dan diangkat sebagai penasihat. Nambi dijadikan sebagai mahapatih. Lembu Sora diangkat sebagai patih di Daha. Ranggalawe menjadi adipati di Tuban. Kebo Anabrang yang berperan di dalam ekspedisi Pamalayu diangkat sebagai panglima perang. Akan tetapi, kebijakan Raden Wijaya menimbulkan rasa ketidakpuasan bagi Ranggalawe. Ranggalawe tidak menyetujui Nambi menduduki jabatan tinggi sebagai mahapatih. Ia beranggapan dirinyalah atau Lembu Sora yang pantas menjadi mahapatih karena lebih berjasa dan lebih gagah berani di medan pertempuran.

Munculnya pertentangan di antara para pejabat kerajaan kemudian dimanfaatkan oleh Mahapati, seorang tokoh yang berambisi menduduki jabatan tertinggi di Majapahit. Mahapati ternyata biang dari semua kerusuhan, sumber fitnah, dan adu domba. Kepada Raden Wijaya diisukan bahwa Ranggalawe akan memberontak sehingga berkobarlah peperangan antara Tuban dengan pasukan kerajaan pada tahun 1295 M. Dalam pertempuran itu, Ranggalawe gugur di tangan Kebo Anabrang. Namun, Kebo Anabrang dibunuh pula oleh Lembu Sora karena ia tidak tahan atas kematian sahabatnya itu. Rupanya peristiwa tersebut dijadikan alasan Mahapati untuk menyingkirkan Lembu Sora dengan menghasut raja untuk menghukumnya. Oleh karena itu, pertempuran pecah kembali antara Lembu Sora dan pihak kerajaan pada tahun 1298-1300 M. Lembu Sora terbunuh dalam peperangan tersebut, selanjutnya Mahapati tinggal menyingkirkan Nambi. Nambi yang mengetahui niat jahat Mahapati segera menyingkir dari Majapahit dengan alasan menengok ayahnya (Wiraraja) yang sedang sakit di Lumajang. Dengan demikian, cita-cita Mahapati tinggal selangkah lagi akan tercapai, namun Raden Wijaya wafat pada tahun 1309 M. Raden Wijaya dicandikan dalam Candi Sumberjati, di selatan Blitar.

xxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx
LACAK

Raden Wijaya mengangkat para pejabat di Majapahit menurut kitab Nawanatya. Di dalam kitab tersebut dikatakan bahwa seorang mahapatih bukan hanya harus gagah berani di dalam medan pertempuran saja, melainkan ia harus paham segala cabang ilmu pengetahuan, mementingkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi, dan tidak takut dikritik. Kepribadian tersebut tidak dimiliki oleh Ranggalawe yang lekas naik darah dan kasar tabiatnya.
xxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx

Menurut keterangan Prasasti Sukamerta dan Prasasti Balawi, raja yang memerintah Majapahit menggantikan Raden Wijaya adalah Jayanegara (1309-1328). Raja kedua Majapahit ini bergelar Sri Sundarapandyadewadhiswaranamarajabhiseka Wikramottungga-dewa. Dalam masa pemerintahannya, timbul berbagai pemberontakkan yang merupakan kelanjutan dari pemberontakan yang terjadi sebelumnya. Peristiwa pemberontakan ini pun disebabkan oleh fitnah Mahapati. Pada tahun 1316 Nambi yang tidak mau kembali ke Majapahit diserbu dan segenap keluarganya dibunuh. Kemudian pasukan Semi (1318 M) dan Kuti (1319 M) dapat ditumpas dan dibinasakan tokohnya. Sejak adanya peristiwa itu, Jayanegara baru menyadari akan kekeliruannya. Ternyata Mahapati seseorang yang berhati jahat dan tukang fitnah sehingga ia lantas ditangkap dan dibunuhnya. Dari beberapa pemberontakan yang terjadi di masa kekuasaan Jayanegara, serangan Kuti yang dianggap paling berbahaya. Hal ini dikarenakan serangan itu telah membuat Jayanegara terpaksa mengungsi ke Badander. Namun, ia dapat diselamatkan oleh pasukan pengawal raja (Bhayangkari) di bawah pimpinan Gajah Mada. Sebagai tanda terima kasih, Gajah Mada kemudian diangkat menjadi Patih Kahuripan.

xxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx
Persona

Gajah Mada

Tidak diketahui kapan dan dimana Gajah Mada dilahirkan. Ia muncul sebagai seorang pemuka kerajaan sejak masa Jayanegara. Karir Gajah Mada dimulai dengan menjadi Bhayangkari (pasukan pengawal raja) dan terus menanjak sejak Majapahit dilanda berbagai pemberontakan. Gajah Mada pernah menjabat Patih Daha, Patih Kahuripan sebelum akhirnya diangkat menjadi Mahapatih Majapahit.
xxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx

Di dalam kitab Pararaton dikatakan bahwa Jayanegara sama dengan Kalagemet, anak Raden Wijaya dari hasil perkawinan dengan selirnya. Berbagai pemberontakan yang terjadi umumnya dikarenakan mereka tidak menyetujui Jayanegara menjadi Raja Majapahit sebab ia bukan keturunan asli Majapahit. Ibunya yang bernama Dara Petak adalah seorang puteri Kerajaan Malayu. Jayanegara sendiri hanyalah anak angkat dari permaisuri Tribhuwaneswari.

Pada tahun 1328 M, Jayanegara wafat karena dibunuh oleh Tanca, tabib istana. Jayanegara tidak meninggalkan keturunan seorang pun. Pilihan pengganti raja pun jatuh ke tangan Gayatri. Akan tetapi, Gayatri memilih menjadi seorang biksuni daripada menjadi seorang ratu. Akhirnya, tahta Kerajaan Majapahit ke-3 jatuh kepada anak Gayatri, yaitu Tribhuwanattunggadewi Jayawisnuwardhani (1328-1350 M).

Pemerintahan Tribhuwanattunggadewi tidak lepas pula dari berbagai usaha-usaha pemberontakan. Pada tahun 1331 M Sadeng dan Keta (daerah Besuki) berupaya untuk melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit. Berkat tindakan Gajah Mada yang taktis, pemberontakan tersebut dengan mudah dapat dipadamkan. Sebagai balas jasa, Gajah mada diangkat menjadi mahapatih atau perdana menteri di Kerajaan Majapahit.

Hayam Wuruk (1350-1389 M) naik tahta menjadi Raja Majapahit ke-4 dan bergelar Rajasanegara. Ia adalah putera dari perkawinan Tribhuwanattunggadewi dengan Kertawardhana. Hayam Wuruk memerintah dengan didampingi oleh Mahapatih Gajah Mada. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk inilah Kerajaan Majapahit mencapai zaman keemasan. Banyak bukti yang memperlihatkan akan kebesaran Majapahit.

xxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx
LACAK

Pada saat pelantikan, Gajah Mada mengucapkan sumpah di hadapan para petinggi-petinggi kerajaan. Dalam sumpahnya, Gajah Mada berikrar “Sumpah Palapa” yang artinya tidak akan pernah berhenti berpuasa, juga tidak akan pernah memakan buah kelapa maupun memakan makanan yang mengandung buah kelapa, dan tidak akan pernah beristirahat sebelum seluruh Nusantara bersatu dipersatukan di bawah naungan Kerajaan Majapahit. Oleh karena itu, sumpah Gajah Mada terkenal dengan Sumpah Palapa. Untuk membuktikan kesungguhan sumpahnya, pada tahun 1343 M Gajah Mada mulai mengadakan serangan ke Bali. Upaya pertama Gajah Mada ini berhasil sehingga Bali ditundukkan. Namun, belum sempat Gajah Mada melaksanakan seluruh sumpahnya, Tribhuwanattunggadewi wafat terlebih dahulu pada tahun 1350 M.
xxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx



A. Wilayah Kekuasaan dan Sistem Pemerintahan

Seperti yang dipaparkan dalam kitab Negarakertagama, daerah-daerah yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit meliputi Sumatera, Semenanjung Melayu, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan juga Irian Jaya (Papua), bahkan beberapa daerah di daratan Asia Tenggara. Hayam Wuruk menerapkan politik yang berwawasan cakrawala mandala sama seperti yang dilakukan oleh Kertanegara.

Sebagai kerajaan yang besar, wilayah kekuasaan Majapahit mempunyai sistem ketatanegaraan yang sangat teratur. Raja Majapahit dan keraton dianggap sebagai pusat dunia yang memiliki kekuasaan tertinggi. Para anggota keluarga kerajaan yang berperan sebagai bhattara di negara-negara bagian, mengelilingi raja dari berbagai penjuru.

Raja Majapahit memerintah dengan dibantu oleh suatu dewan yang disebut Pahom Narendra atau Bhattara Saptaprabhu karena beranggotakan tujuh sesepuh kerajaan. Dewan itu bertugas memberikan saran kepada raja-raja Majapahit. Selain itu, raja juga dibantu oleh Yuwaraja atau Kumararaja (raja muda) dan Rakyan Mahamantri Katrini yang biasanya dijabat oleh para putera raja. Rakyan Mahamantri katrini terdiri dari tiga orang mahamenteri yang masing-masing bergelar i Hino, i Halu, dan i Sirikan. Sebagai pelaksana pemerintahan, raja menunjuk Rakyan Mantri ri Pakirakiran, yaitu sekelompok pejabat tinggi yang merupakan sebuah dewan menteri.


B. Kemajuan di Bidang Sastra dan Bangunan Candi

Bidangs sastra dan keindahan bangunan candi amat diperhatikan oleh pemerintahan Kerajaan Majapahit. Hal ini menyebabkan para pujangga rajin berkarya. Selain itu, karya-karya yang dihasilkan banyak berisi puji-pujian terhadap raja.

Candi-candi yang dibangun pada saat berdirinya Kerajaan Majapahit, misalnya Candi Panataran, Bajangratu, Sawentar, Sumberjati, Tigawangi, Surawana, Jabung, Pari, Tikus, Kedaton, dan Sukuh.

xxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx
LACAK

Beberapa buah kitab karya sastra yang dihasilkan pada masa pemerintahan Majapahit, yaitu:
1. Negarakertagama karya Mpu Prapanca,
2. Sutasoma karya Mpu Tantular,
3. Arjunawiwaha karya Mpu Tantular,
4. Pararaton, tidak diketahui nama pengarangnya (anonim), dan
5. Kunjarakunja, tidak diketahui nama pengarangnya (anonim.
xxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx


C. Toleransi Kehidupan Beragama

Penduduk Majapahit sebagian besar memeluk agama Hindu dan Buddha. Adanya perbedaan agama di Majapahit ternyata amat dihargai. Hal ini dapat dibuktikan dengan aktifnya pihak kerajaan dalam memperhatikan aspek kehidupan beragama yang berbeda tersebut. Pemerintah telah mengatur kehidupan beragama dengan membentuk Dharmadhyaksa ring Kasaiwan yang mengurus Siwaisme (Hindu pemuja Siwa) dan Dharmadhyaksa ring Kasogatan untuk agama Buddha. Selain itu, Hayam Wuruk yang memeluk agama Hindu dapat bekerja sama dengan Gajah Mada yang beragama Buddha. Rakyat bahu-membahu membangun kebesaran Kerajaan Majapahit. Perbedaan agama ternyata tidak menghalangi kerja sama di antara keduanya. Para pembesar Kerajaan Majapahit memberikan teladan yang baik sehingga rakyat bersikap taat.

Gambaran toleransi kehidupan beragama di Majapahit dipaparkan dalam kitab Sutasoma karya Mpu Tantular. Kitab ini berisi ajaran agama yang di dalamnya terdapat ungkapan Bhineka Tunggal Ika. Ungkapan ini sesungguhnya digunakan untuk menyatakan bahwa ajaran Hindu dan Buddha meskipun berbeda tetapi memiliki asas yang sama. Kini ungkapan tersebut menjadi semboyan bangsa Indonesia yang tertulis di atas pita dalam cengkeraman burung Garuda.


D. Keadaan Sosial Ekonomi

Sebagai negara agraris, Majapahit melaksanakan pembangunan ekonomi dengan baik. Sistem pertaniannya pun sudah sangat maju dengan pengairan yang sangat teratur serta pengolahan lahan yang cukup baik. Ada dua bendungan yang telah dibuat saat itu, yaitu Bendungan Jiwu untuk daerah persawahan Kalamasa dan Bendungan Trailokyapuri untuk mengairi daerah hilirnya. Semua ini tergambar pada prasasti dan relief-relief candi yang dibangun pada masanya.

Kerajaan Majapahit juga memiliki bandar-bandar dagang yang sangat besar, seperti Bandar Tuban, Surabaya, Ujung Galuh, Canggu, dan Gresik. Kapal-kapal yang tidak terlalu besar dapat berlayar hingga mendekati ibukota kerajaan sekalipun. Di bandar-bandar ini dijual beras dan rempah-rempah yang sangat dibutuhkan oleh konsumen. Wang Ta Yuan, seorang pedagang asing dari Cina pernah berkunjung ke Kerajaan Majapahit berkisah, bahwa lada, garam, kain, dan burung kakak tua banyak diperdagangkan di situ.


Kemunduran Kerajaan Majapahit diawali terjadinya Peristiwa Bubat (1357 M) yang menimbulkan perselisihan antara Hayam Wuruk dengan Gajah Mada. Ketika itu Hayam Wuruk berkeinginan untuk memperistri Dyah Pitaloka, seorang puteri dari kerajaan di tanah Sunda. Beserta keluarganya, sang puteri menempuh perjalanan yang sangat jauh hingga akhirnya tiba di Kerajaan Majapahit untuk melangsungkan perkawinan. Mereka berkemah di Lapangan Bubat. Namun, disinilah terjadi perselisihan antara Gajah Mada dengan utusan dari Kerajaan Sunda. Masing-masing pihak bersikeras dengan keputusannya sendiri.

Rupanya perselisihan tersebut tidak dapat dihindari, dan menjadi pertentangan yang keras. Peperangan sudah tidak dapat dihindari lagi. Namun, peperangan itu juga berlangsung tidak seimbang karena pihak Kerajaan Sunda hanya membawa sedikit pasukan dan sedikit persenjataan dan peralatan untuk pesta perkawinan. Akhirnya, Raja Sunda beserta seluruh keluarganya tewas di Lapangan Bubat dalam peperangan tersebut. Mendengar kejadian tersebut, Hayam Wuruk menjadi sangat menyesal dan sangat kecewa. Beliau kemudian memberhentikan Gajah Mada dari jabatan Mahapatih. Namun, Beliau juga memberikan tanah sima di Madakaripura kepada Gajah Mada sebagai pensiun.

xxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx
LACAK

Beberapa hal yang menyebabkan kemunduran Kerajaan Majapahit yakni:
1. Tidak ada tokoh pengganti yang profesional dan berwibawa setelah wafatnya Gajah Mada (1364 M) dan Hayam Wuruk (1389 M).
2. Perang Paregreg (1401-1406 M), yakni perang saudara di antara para pewaris-pewaris kerajaan (Bhre-Wirabumi dan Wikrama-wardhana) telah melemahkan Kerajaan Majapahit secara keseluruhan.
3. Banyak negeri-negeri bawahan Kerajaan Majapahit yang berusaha melepaskan diri.
4. Berkembangnya agama Islam di pesisir pantai utara Jawa telah mengurangi dukungan terhadap Kerajaan Majapahit.
xxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx


Masa sesudah Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada merupakan masa-masa kemunduran Kerajaan Majapahit. Keruntuhan Kerajaan Majapahit namun hingga kini masih diperdebatkan. Candrasengkala yang berbunyi sirna-ilang-kertaning-bumi (1478 M) sebagai bukti keruntuhan Kerajaan Majapahit masih berbeda penafsirannya. Hal ini disebabkan dalam Prasasti Jiwu I yang bertarikh 1486 M disebutkan bahwa Girindrawardhana Dyah Ranawijaya masih sebagai Sri Paduka Maharaja Wilwatikta Pura Janggala Kadiri Prabhunata. Hal ini mempunyai makna, pada saat itu Prabu Girindrawardhana masih berkuasa secara berdaulat di Kerajaan Majapahit (Wilwatikta).

Sources --> Buku “Kronik” Sejarah, terbitan Yudhistira

Sunday, 9 September 2012

Kerajaan Singasari

 Candi Kidal.



Candi Jago, tempat di mana Wisnuwardhana dicandikan.



Candi Singasari.



Oleh : Ajisaka Lingga Bagaskara

Kerajaan Singasari didirikan oleh Ken Arok pada tahun 1222 M. Para brahmana menobatkan Ken Arok menjadi raja dengan gelar Sri Rajasa Sang Amuewabhumi. Ken Arok merupakan pendiri Dinasti Rajasa atau Girindra yang menurunkan para penguasa di Kerajaan Singasari dan Majapahit.

xxxxxxxxxx  xxxxxxxxxx  xxxxxxxxxx  xxxxxxxxxx
Persona

Menurut kitab Pararaton, Ken Arok adalah anak Dewa Brahma yang dititiskan lewat seorang perempuan Desa Pangkur bernama Ken Endok. Pada saat dilahirkan, tubuh Ken Arok bersinar. Dewa Brahma sempat menyampaikan pesan sebelumnya bahwa suatu saat bayi itu akan tumbuh menjadi seorang raja. Tanpa diketahui alasannya, bayi yang baru lahir itu ternyata dibuang oleh ibunya di sebuah kuburan. Namun beruntung, seorang pencuri yang bernama Lembong menemukan dan menjadikannya sebagai anak angkat.

Ken Arok kemudian menjadi anak yang nakal. Ia suka berkelahi dan mencuri, serta mengganggu orang lain. Setelah dewasa, Ken Arok mengembara hingga sampai di sekitar Gunung Kawi. Ia bertualang sebagai pencuri, perampok, pembunuh, dan pengganggu wanita. Kejahatan Ken Arok semakin hari semakin merajalela sehingga ia diburu oleh rakyat dazn pasukan Kediri. Akan tetapi, Ken Arok selalu dapat meloloskan diri. Pada suatu saat ia bertemu dengan seorang brahmana yang bernama Lohgawe. Ken Arok diakui sebagai anak angkatnya. Berkat bimbingan Lohgawe, perilaku Ken Arok lambat laun berubah. Ia menjadi sosok yang cakap, berani, dan dikagumi.

Sebelum menjadi raja, Ken Arok telah memangku jabatan Akuwu (semacam bupati) Tumapel. Kedudukan ini diperoleh setelah ia menyingkirkan Tunggul Ametung, sang akuwu. Semula Ken Arok merupakan hamba setia Tunggul Ametung. Kecerdasan, Kepatuhan, dan Kerajinan dalam bekerja telah mengantarkannya menjadi tangan kanan Akuwu. Akan tetapi, sikap Ken Arok berubah manakala timbul keinginan dalam dirinya untuk memperistri Ken Dedes, istri Tunggul Ametung. Ken Arok akhirnya dapat mewujudkan keinginannya setelah menghabisi Tunggul Ametung dengan perantaraan "tangan" Kebo Ijo. Ken Arok berhasil menduduki jabatan Akuwu Tumapel dan memperistri Ken Dedes.

Rupanya, Ken Arok juga tidak puas dengan hanya menjadi Akuwu Tumapel. Ia berkeinginan menjadi raja yang besar. Kesempatan itu muncul tatkala para brahmana Kediri meminta perlindungan dari kesewenang-wenangan Raja Kertajaya. Pada tahun 1222 M, terjadilah bentrokan antara keduanya yang dimenangkan oleh kubu Ken Arok sehingga Kediri dapat dikuasainya.
xxxxxxxxxx  xxxxxxxxxx  xxxxxxxxxx  xxxxxxxxxx

Ken Arok menjadi Raja Singasari selama lima tahun. Riwayatnya tidak panjang karena ia dibunuh oleh seseorang atas perintah Anusapati , putra dari perkawinan Ken Dedes dengan Tunggul Ametung. Pembunuhan ini dilatarbelakangi perasaan dendam atas kematian ayahnya oleh Ken Arok. Tohjaya, putra dari perkawinan Ken Arok dengan Ken Umang berusaha membalas kematian ayahnya. Pada tahun 1248 M, Anusapati berhasil dibunuh ketika sedang menyabung ayam. Tohjaya naik tahta. Namun, ia hanya berkuasa beberapa bulan sebab terbunuh dalam serangan yang dilancarkan oleh para pengikut Ranggawuni. Ranggawuni (putra Anusapati) kemudian dinobatkan menjadi Raja Singasari dengan gelar Sri Jayawisnuwardhana.

Sejarah Kerajaan Singasari diwarnai oleh peperangan dan saling bunuh-membunuh di antara sesama saudara. Pemicunya adalah keinginan untuk membalas dendam, perebutan kekuasaan, pengkhianatan, dan serangkaian pembunuhan telah menjatuhkan korban seperti Ken Arok (1222-1227 M), Anusapati (1227-1248 M), Tohjaya (1248 M), dan korban-korban lainnya. Menurut kitab Pararaton, peristiwa itu terjadi sebagai buah dari sumpah Mpu Gandring.

Sejak dipimpin oleh Ranggawuni, segenap kerusuhan di Singasari mulai berhasil dipadamkan. Ranggawuni menjalankan pemerintahan didampingi saudara sepupunya, Mahisa Campaka. Mahisa Campaka diberi kedudukan sebagai Ratu Angabhaya (raja yang berkuasa atas daerah tertentu). Kedua orang tersebut memerintah sebagai raja bersama yang melambangkan Dewa Wisnu dan Dewa Indra. Hasil usaha kedua tokoh ini mengantarkan Kerajaan Singasari mencapai puncak kejayaan di bawah pimpinan Kertanegara (1268-1292 M). Kertanegara berusaha memperluas wilayah kekuasaan Kerajaan Singasari melalui cakrawala mandala, yaitu politik penaklukkan kerajaan-kerajaan di luar Jawa. Pada tahun 1275 M, ia mengirim Ekspedisi Pamalayu ke Kerajaan Malayu sehingga kerajaan tersebut menyatakan berada di bawah naungan Singasari. Setelah itu, ekspedisi ke daerah lain segera dilancarkan. Ekspedisi itu dilakukan ke Bali, Pahang (Malaysia), Sunda, Bakulaputra (Kalimantan), dan Gurun (sebelah selatan Bali). Strategi politik ini berhasil membawa Kerajaan SIngasari menjadi kerajaan besar di seluruh Nusantara.

Bersamaan dengan masa pemerintahan Kertanegara, di Cina, berkuasalah Kubilai Khan, raja dari Dinasti Mongolia. Kubilai Khan sangat berambisi untuk menguasai seluruh wilayah Asia Tenggara, termasuk Singsari. Pada tahun 1280 dan 1281 M Kubilai Khan mengirimkan utusan ke Singasari guna meminta Kertanegara mengakui kekuasaan Mongolia. Namun, Kertanegara selalu menolak. Utusan yang terakhir, tiba di Singasari tahun 1289. Oleh karena kesal, utusan Kubilai Khan yang bernama Meng-Chi dikirim kembali setelah dilukai mukanya dan dipotong salah satu telinganya oleh Kertanegara sendiri. Tindakan ini membuat Kubilai Khan sangat marah. Sebagai pembalasan atas penghinaan itu, ia menyiapkan puluhan ribu pasukan untuk menyerang Singasari. Pada akhir tahun 1292 M, dikirimlah pasukan besar tersebut ke Jawa di bawah pimpinan tiga orang panglima besar, yaitu Shihpi, Iheh-mi-shih, dan Kau Hsing.

xxxxxxxxxx  xxxxxxxxxx  xxxxxxxxxx  xxxxxxxxxx
Persona

Kubilai Khan
Kubilai Khan lahir di suatu sempat di Asia Tengah pada sekitar tahun 1215 M. Kubilai Khan adalah cucu dari Genghis Khan, penguasa Imperium raksasa di Asia Tengah.

Ketika berusia 18 tahun, Kubilai Khan bertempur di atas kuda dalam peperangan kakeknya yang terakhir. Sewaktu dewasa, ia menaklukkan seluruh Cina dan mendirikan ibukotanya di Khanbalik (kini: Beijing). Dia memasukkan Korea dan Myanmar ke dalam Imperiumnya yang terbentang dari Laut Hitam hingga Laut Cina.

Seperti Gengis Khan, Kubilai Khan terkenal sangat kejam, ambisius dan tamak. Meski begitu, ia adalah pemimpin yang jenius dalam mengatur siasat perang. Tak ada sumbangan abadi bagi peradaban yang ditinggalkan olehnya. Kubilai Khan meninggal pada tahun 1294 M pada usia 79 tahun.
xxxxxxxxxx  xxxxxxxxxx  xxxxxxxxxx  xxxxxxxxxx


Kerajaan Singasari tidak tinggal diam dalam menghadapi kemungkinan serbuan bansa Mongolia tersebut. Kertanegara berusaha memperkuat pasukannya dengan menambah jumlah pasukannya, terutama di daerah luar dan perbatasan Singasari. Selain itu, ia juga menjalin hubungan persahabatan dengan kerajaan-kerajaan lain di luar guna menambah dukungan kekuatan juga perbekalan pasukan. Persahabatan itu antara lain dilakukan dengan Kerajaan Champa di Vietnam. Namun, di dalam negeri sendiri Kertanegara sedang mendapat rongrongan dari Jayakatwang, seorang keturunan Raja Kertajaya (Raja Kediri) yang ingin membangun kembali negerinya. Dengan memanfaatkan keberadaan sebagian pasukan Singasari yang sedang berada di Malayu, Jayakatwang berusaha menyerang Singasari. Kertanegara yang saat itu sedang melakukan upacara dengan para brahmana, karena tidak memiliki cukup pasukan karena sebagian besar pasukan dikirim dalam menghadang gerak laju pasukan Mongolia, akhirnya terbunuh. Menantunya, Raden Wijaya berhasil menyelamatkan diri ke Madura. Akhirnya, runtuhlah Kerajaan Singasari.

Raja Kertanegara adalah seorang pengikut setia agama Siwa-Bhairawa dan Buddha Tantrayana. Setelah meninggal ia dicandikan di Candi Singasari. Candi Singasari dihiasi dengan tiga buah arca sebagai perwujudan Siwa-Buddha dan juga melambangkan perpaduan kepercayaan rakyat Singasari, yaitu Hindu dan Buddha.

Ketika tentara Mongolia datang ke tanah Jawa pada awal tahun 1293 M, ternyata yang mereka hadapi adalah bukan tentara Singasari. Tentara Mongolia tersebut harus berhadapan dengan tentara Jayakatwang. Raden Wijaya yang mengetahui akan hal itu, segera menjalin hubungan kerja sama dengn pasukan Mongolia untuk menyerang Jayakatwang. Tentara Mongolia yang kemudian diakui kekuasaannya oleh Raden Wijaya menyetujui aksi itu serangan itu. Akibatnya, pasukan Jayakatwang tidak mampu menahan serangan koalisi Raden Wijaya dengan pasukan Mongolia, dan akhirnya Jayakatwang tewas dalam serangan tersebut. Setelah berhasil mengalahkan Jayakatwang, Raden Wijaya segera berbalik melancarkan serangan terhadap pasukan Mongolia yang tengah mabuk kemenangan.

sources ---> Buku "Kronik" Sejarah
Powered by Blogger.