Pages

Friday, 24 August 2012

Kerajaan Melayu

 Arca Amoghapasha

Oleh : Ajisaka Lingga Bagaskara

Berita pertama kali yang menerangkan keberadaan Kerajaan Melayu di Sumatera, yaitu dari Dinasti Tang. Menurut catatan Dinasti Tang, utusan negeri Mo-lo-yeu (Melayu) pernah datang ke Cina pada tahun 644 dan 645 M. Mereka datang ke Cina dengan membawa hasil bumi. Hasil bumi yang dipersembahkan itu bukan merupakan upeti sebagai tanda takluk Melayu kepada Cina, melainkan sebagai upaya promosi barang hasil bumi Melayu di negeri Cina.

Banyak ahli yang berpendapat bahwa letak Kerajaan Melayu di daerah Jambi sekarang ini. Melayu terletak di dekat selat Malaka yang merupakan jalan perdagangan India-Cina. Oleh karena itu, banyak kapal asning yang berlabuh di Melayu sambil menunggu angin yang baik sebelum melanjutkan perjalanan. Selain itu, kapal-kapal asing tersebut dapat memperbaiki peralatan kapal, melakukan bongkar-muat barang, dan memperoleh perbekalan. Pada saat itu pelabuhan Melayu telah berperan sebagai tempat menimbun barang dagangan yang dihasilkan daerah-daerah sekitarnya. Barang komoditas itu di antaranya lada dan hasil hutan. Kondisi ini tentu saja sangat menguntungkan dan memakmurkan Kerajaan Melayu.

Seorang pendeta Cina yang bernama I-Tsing mengabarkan bahwa sejak tahun 692 Kerajaan Melayu telah ditaklukkan Kerajaan Sriwijaya. Setlah itu sampai permulaan abad ke-12 tidak ada keterangan sedikit pun mengenai negeri Melayu. Kerajaan Melayu baru muncul kembali semenjak adanya ekspedisi Pamalayu pada tahun 1275. Melalui ekspedisi Pamalayu, Kerajaan Singasari menjalin persahabatan dan mengakui kedaulatan Melayu. Untuk membuktikan persahabatan, Raja Kertanegara mengirimkan Arca Amoghapasha beserta keempat belas pengiringnya ke Melayu. Pada alas arca tersebut dituliskan bahwa Kertanegara menghadiahkan arca bagi Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa. Arca Amghapasha kemudian diletakkan di tempat suci Dharmasraya. Saat ini pada arca Amoghapasha berada di Padangroco (Sumatera) yang bertarikh 1286 Masehi.

Dalam perkembangan selanjutnya, Kerajaan Melayu mampu memainkan peran kembali di Sumatera pada pertengahan abad ke-14. Pada saat itu Melayu diperintah oleh seorang raja bernama Adityawarman. Nama Adityawarman disebutkan pada arca Manjusri di Candi Jago, Jawa Timur. Di dalam prasasti tersebut diterangkan bahwa Adityawarman bersama-sama Gajah Mada telah berhasil menaklukkan Pulau Bali.

Sebenarnya Adityawarman merupakan salah seorang putera Majapahit keturunan Melayu. Ia adalah putera dari perkawinan Raden Wijaya dengan Dara Jingga. Sebelum menjadi raja di Majapahit dengan gelar Aryadewaraja Pu Aditya. Setelah berkuasa di Melayu, ia menyusun kekuatan untuk melebarkan kekuasaan di Sumatera. Hasilnya, pada tahun 1347 Melayu dapat meluaskan wilayah sampai ke daerah Pagaruyung (Minangkabau). Adityawarman adalah seorang penganut agama Buddha Tantrayana. Ia menganggap dirinya sebagai penjelmaan Lokeswara Bhairawa. Masa pemerintahan Adityawarman berlangsung sampai tahun 1375 Masehi. Penggantinya ialah anaknya yang bernama Anangwarman. Masa pemerintahan Anangwarman tidak banyak diketahui oleh sumber sejarah.

sources --> Buku "Kronik" Sejarah

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.