hwwIUKoDtacl9LXDEAIdxBVXLF8 Kerajaan Mataram ~ Indonesian Persons

Sunday, 26 August 2012

Kerajaan Mataram

Candi Bima, peninggalan Kerajaan Mataram-Hindu.



Peta daerah kekuasaan Kerajaan Mataram-Hindu.



Candi Borobudur.



Kompleks Candi Dieng.



Patung Dewa Wisnu Naik Garuda yang disimbolkan sebagai patung Airlangga.


Oleh : Ajisaka Lingga Bagaskara

Sekitar abad ke-8 di Jawa Tengah berdiri Kerajaan Mataram. Munculnya kerajaan ini diterangkan dalam prasasti yang ditemukan di daerah Canggal, di barat daya Magelang. Dalam Prasasti Canggal diterangkan bahwa Raja Sanjaya telah mendirikan sebuah lingga di atas bukit Kunjarakunja (di Gunung Wukir) pada tahun 732 Masehi. Jawa (Mataram) yang kaya akan padi dan emas, mula-mula diperintah oleh Raja Sanna. Setelah Raja Sanna meninggal, negara pecah karena kehilangan pelindung. Penggantinya adalah Raja Sanjaya anak Sannaha, saudara perempuan Raja Sanna. Raja Sanjaya berhasil menaklukkan beberapa daerah di sekitarnya dan menciptakan kemakmuran bagi rakyatnya.

Riwayat berdirinya Kerajaan Mataram tersurat pula dalam kitab Carita Parahiyangan. Di dalam Carita Parahiyangan diceritakan bahwa Sanna terpaksa turun takhta karena dikalahkan Rahyang Purbasora di Galuh. Beliau dan para pengikutnya menyingkir ke lereng Gunung Merapi. Tidak lama, anak Sannaha, yaitu Sanjaya berhasil membalas kekalahan Raja Sanna. Beliau kemudian menguasai Galuh kembali dan menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil di Jawa Barat bagian timur dan Jawa Tengah. Setelah itu Sanjaya mendirikan Kerajaan Mataram yang beribukota di Medang ri Poh Pitu pada tahun 717 Masehi.

Kerajaan Mataram diperintah oleh raja-raja dari Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra. Dinasti Sanjaya adalah raja-raja keturunan Sanjaya yang menganut agama Hindu, sedangkan Dinasti Syailendra adalah raja-raja yang diduga berasal dari India Selatan atau Kamboja yang menganut agama Buddha Mahayana. Menurut beberapa ahli sejarah, antara kedua dinasti terjadi persaingan sehingga mereka secara bergantian memerintah di Mataram. Di dalam Prasasti Mantyasih (907 M) dan Prasasti Wanua Tengah III (908 M) disebutkan nama-nama Raja Mataram sebagai berikut.

1. Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya (717-746 M)
2. Sri Maharaja Rakai Panangkaran Dyah Sankhara (746-784 M)
3. Sri Maharaja Rakai Panunggalan/Dharanindra (784-803 M)
4. Sri Maharaja Rakai Warak Dyah Manara (803-827 M)
5. Sri Maharaja Dyah Gula (827-828 M)
6. Sri Maharaja Dyah Garung (828-847 M)
7. Sri Maharaja Rakai Pikatan Dyah Saladu (847-855 M)
8. Sri Maharaja Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala (885-885 M)
9. Sri Maharaja Dyah Tagwas (885 M)
10. Sri Maharaja Rakai Panumwangan Dyah Dewendra (885-887 M)
11. Sri Maharaja Rakai Gurunwangi Dyah Badra (887 M)
12. Sri Maharaja Rakai Watuhumalang Dyah Jbang (894-898 M)
13. Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung (898-913 M)

Raja Sanjaya meninggal pada tahun 746 M. Beliau diganti oleh Rakai Panangkaran. Pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran agama Buddha mulai berkembang di Mataram. Dalam Prasasti Sankhara (sekitar abad ke-8) yang ditemukan di Sragen (Jawa Tengah), tertulis bahwa Rakai Panangkaran telah berpindah dari agama Siwa ke agama Buddha. Beliau mendirikan Candi Kalasan untuk menghormati Dewi Tara. Beliau juga membangun biara untuk para bhiksu dan bhiksuni Buddha. Sejak saat itu, keluarga kerajaan ada yang beragama Hindu, ada pula yang beragama Buddha. Mereka yang beragama Hindu tinggal di Jawa Tengah bagian utara, dan mereka yang menganut agama Buddha berada di wilayah Jawa Tengah bagian selatan.

Agama Buddha mengalami perkembangan yang amat pesat pada masa pemerintahan Samaratungga, anak dari Rakai Panangkaran. Nama Samaratungga tidak tercatat dalam silsilah raja-raja yang tertuang dalam Prasasti Mantyasih. Beliau diketahui namanya dari Prasasti Nalanda dan Prasasti Kayumwungan (824 M). Pada tahun 824 M, Beliau berhasil membangun Candi Borobudur untuk para penganut agama Buddha. Bangunan ini terdiri atas 10 tingkat yang melambangkan makna bahwa kesempurnaan hidup akan dicapai setelah melampaui 10 tingkatan.

Candi Borobudur menjadi salah satu obyek wisata Indonesia yang potensial. Keunikan dari Candi Borobudur ini adalah dapat dilihat relief\, stupa, dan seni arsitektur yang menggunakan bahan tanpa semen, hanya tumpukan batu-batu besar.

Samaratungga mempunyai anak yang bernama Pramodhawardani dan Balaputeradewa. Samaratungga menikahkan Pramodhawardani dengan Rakai Pikatan. Balaputeradewa tidak menyetujui perkawinan tersebut karena terancam kedudukannya sebagai putera mahkota Syailendra. Oleh karena itu, timbullah perselisihan antara Balaputeradewa dan Pramodhawardani yang dibantu Rakai Pikatan. Dalam pertikaian itu, Balaputeradewa menderita kekalahan sehingga melarikan diri ke Sumatera. Kelak ia menjadi raja di Sriwijaya.

Semenjak Rakai Pikatan berkuasa, Kerajaan Mataram menjadi aman dan makmur. Umat Hindu dan Buddha hidup berdampingan dengan rukun dan damai. Toleransi kehidupan beragama terwujud dalam pembangunan dan pemeliharaan candi-candi secara bergotong royong.

Kerajaan Mataram Kuno mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Raja Balitung (898-910 M). Di masa kekuasaannya, daerah-daerah di sebelah timur Mataram berhasil ditaklukkannya. Oleh karena itu, daerah kekuasaan Mataram semakin luas, yang meliputi Bagelen (Jawa Tengah) sampai Malang (Jawa Timur).

Sepeninggal Raja Balitung, Kerajaan Mataram kuno diperintah oleh raja-raja, yakni Daksa (910-919 M), Tulodong (919-924 M), dan Wawa (924-929 M). Namun, tidak ada sumber berarti yang dapat menerangkan peran ketiga raja tersebut.

Pada tahun 929 pusat Kerajaan Mataram kuno dipindahkan ke Watugaluh (Jawa Timur) oleh Mpu Sindok. Beliau dianggap sebagai pendiri Dinasti Isyana. Menurut para ahli sejarawan, perpindahan pusat kerajaan itu dilakukan karena wilayah Mataram ditimpa bencana letusan Gunung Merapi. Masa pemerintahan Mpu Sindok berlangsung secara aman dan tenteram. Mpu Sindok seringkali memberikan bantuan bagi pembangunan tempat-tempat suci. Dalam bidang sastra muncul Kitab Suci Agama Buddha Tantrayana, yaitu Sang Hyang Kamahayanikan.

Pengganti Mpu Sindok ialah Raja Dharmawangsa. Demi berbuat bagi kesejahteraan hidup rakyatnya, Dharmawangsa berupaya menguasai jalur perdagangan dan pelayaran yang saat itu dikuasai Kerajaan Sriwijaya. Pada tahun 990 M, beliau mengirim tentaranya ke Sumatera dan Semenanjung Malaka. Misi pasukannya berhasil menaklukkan beberapa daerah pantai di Sriwijaya. Upaya Dharmawangsa dianggap telah berhasil membawa kemajuan yang berarti bagi kerajaannya.

Pada tahun 1016 kekuasaan Dharmawangsa dilanda malapetaka yang sangat mengerikan. Ketika beliau sedang menikahkan puterinya dengan Airlangga (putera mahkota Kerajaan Bali), tiba-tiba istana kerajaan diserang oleh tentara Wurawari (raja bawahan Dharmawangsa yang dihasut Sriwijaya). Dalam peristiwa itu hampir semua petinggi-petinggi Kerajaan Mataram kuno gugur. Peristiwa penyerbuan Raja Wurawari terhadap kekuasaan Raja Dharmawangsa ini terkenal dengan sebutan Pralaya Medang.

Pada tahun 1019 Airlangga dinobatkan menjadi raja oleh para pendeta Buddha dan para brahmana dengan gelar "Sri Maharaja Rake Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramotunggadewa". Pada permulaan pemerintahannya, kerajaan diguncang berbagai peperangan yang hebat. Perang yang berkecamuk, misalnya perang menghadapi Raja Bhismaprabhawa, Raja Wengker, dan seorang ratu di daerah selatan Tulungagung. Semua peperangan ini dimenangkan oleh pihak Airlangga. Bahkan pada tahun 1033, Airlangga berhasil membalaskan kematian mertuanya dengan mengalahkan Raja Wurawari. Sejak saat itu, Airlangga mempersatukan Kerajaan yang telah terpecah-pecah untuk memulai upaya pembangunan negerinya.

Pada bidang pemerintahannya, Airlangga melakukan perombakan dengan mengangkat orang-orang yang berjasa kepadanya. Dalam bidang ekonomi, Airlangga memerintahkan membangun waduk di daerah Sungai Brantas. Di bidang sastra, muncul karya-karya bermutu, seperti Kitab Arjunawiwaha karangan Mpu Kanwa. Di bidang sosial, banyak dibangun tempat-tempat suci, pertapaan, dan asrama-asrama pendeta. Semua upaya pembangunan negeri hanya ditujukan demi kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya.

Airlangga merupakan seorang raja yang bijaksana. Tatkala puteri mahkota, Sanggramawijaya Dharma Prasadottunggadewi menolak menggantikan takhta kerajaan, Airlangga tidak lantas marah. Beliau justru membangun sebuah pertapaan di Pucangan karena puterinya itu memilih penghidupan sebagai pertapa. Selanjutnya, Airlangga menemui kesulitan yang disebabkan putera Dharmawangsa, Samarawijaya menuntut hak atas Kerajaan Mataram. Di lain pihak, putera Airlangga yang kedua, yaitu Mapanji Garasakan menginginkan pula takhta kerajaan. Hal ini mungkin akan berakibat timbulnya perebutan kekuasaan.

Pada tahun 1041 M, Airlangga memutuskan untuk membagi kerajaannya menjadi dua. Pembagian kerajaan itu dilakukan oleh seorang brahmana yang terkenal kesaktiannya, yakni Mpu Bharada. Dua kerajaan itu ialah Kerajaan Janggala dengan ibukotanya Kahuripan dan Kerajaan Panjalu dengan ibukotanya di Daha. Delapan tahun sesudah pembagian kerajaan, Raja Airlangga wafat. Rakyat kemudian membangun patung Airlangga yang mengendarai burung garuda sebagai kenang-kenangan dan pernghormatan atas jasa-jasa yang selama ini telah dilakukan oleh Airlangga terhadap kerajaan.

sources --> Buku "Kronik" Sejarah
Reactions:

3 comments:

  1. Thanks a lot. This is very useful to get information about the kingdom in Indonesia country.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alright, my friend. :-)

      I will keep up my work, so you could get more information and aknowledgements about it.

      ;-)

      Delete

Powered by Blogger.