Pages

Sunday, 26 August 2012

Kerajaan Kediri

 Oleh : Ajisaka Lingga Bagaskara

Lahirnya Kerajaan Kediri berkaitan dengan adanya pembagian kekuasaan di Kerajaan Mataram. Airlangga membagi kerajaan bertujuan untuk menghindari terjadinya perang saudara di Mataram. Setelah Mataram dibagi dua oleh Mpu Bharada, muncullah Panjalu dan Janggala yang dibatasi Gunung Kawi dan Sungai Brantas. Kerajaan Panjalu diberikan kepada Samarawijaya, iparnya, sedangkan Janggala diberikan kepada Mapanji Garasakan, anaknya yang kedua. Anak pertama Airlangga adalah seorang putri yang menjadi pertapa. Sumber sejarah yang menceritakan pembagian kerajaan terdapat dalam Prasasti Wurara (1289 M), Kitab Negarakertagama, dan Kitab Calon Arang.

Dalam perkembangan selanjutnya, ibukota Kerajaan Panjalu di Daha dipindahkan ke wilayah Kediri sehingga nama kerajaan lebih dikenal sebagai Kerajaan Kediri. Selama masa kekuasaan Samarawijaya, Kerajaan Kediri dan Kerajaan Janggala tidak pernah hidup berdampingan secara damai. Perebutan kekuasaan terus berlangsung sehingga pada tahun 1052, Mapanji Garasakan dapat mengalahkan Samarawijaya. Namun, Mapanji Garasakan tidak lama memimpin kerajaan. Tampuk pemerintahan lalu jatuh kepada Mapanji Alanjung Ahves, dan kemudian beralih lagi ke Samarotsaha. Setelah Samarotsaha berkuasa, selama kira-kira 60 tahun tidak ada berita mengenai keadaan Kerajaan Kediri dan Kerajaan Janggala. Mungkin selama itu terjadi perebutan kekuasaan di antara keduanya dan pihak yang memenangkan persaingan ini tidak begitu jelas beritanya.

Pada tahun 1117 Kerajaan Kediri dipimpin oleh Bameswara. Namun, masa pemerintahannya tidak banyak diketahui. Bameswara diganti oleh Jayabaya. Pada masa Jayabaya (1135-1157 M) Kerajaan Kediri mencapai puncak kejayaan. Jayabaya disebut sebagai penjelmaan Dewa Wisnu. Ketika beliau berkuasa, pertentangan dengan Kerajaan Janggala berakhir setelah beliau dapat menguasai kerajaan tersebut. Dua pujangga terkenal, Mpu Sedah dan Mpu Panuluh kemudian mengubah syair Bharatayudha sebagai peringatan atas peperangan antara Kerajaan Kediri dengan Kerajaan Janggala.

Sepeninggal Jayabaya, Kerajaan Kediri berturut-turut dipimpin oleh Sarweswara, Aryyeswara, Kroncaryyadipa, Kameswara, dan Kertajaya. Kertajaya (1185-1222 M) adalah raja terakhir Kerajaan Kediri. Dalam masa pemerintahannya, terjadi pertentangan antara dirinya dan para brahmana. Pertentangan itu disebabkan karena Kertajaya dianggap telah melanggar adat dan memaksa para brahmana menyembahnya sebagai dewa. Para brahmana kemudian meminta perlindungan kepada Ken Arok. Pada tahun 1222 M pecahlah pertempuran antara pasukan Ken Arok dan prajurit Kertajaya di Ganter. Dalam peperangan ini, Ken Arok dapat mengalahkan Kertajaya sehingga runtuhlah Kerajaan Kediri. Sejak saat itu, muncullah kerajaan baru, yakni Kerajaan Singasari.

Pada masa Kerajaan Kediri, seni sastra terutama Jawa Kuno tumbuh dengan amat pesat. Namun karya-karya sastra masa Kerajaan Kediri kurang mengungkap keadaan pemerintahan dan masyarakat pada zamannya. Gambaran kehidupan masa Kediri justru ditulis sumber asing, yaitu Cina. Misalnya, di dalam kitab Ling-wai-tai-ta (1178 M) karya Chou Ku-Fei yang menerangkan orang-orang Kediri memakai kain sampai lutut, rambutnya diurai, rumah-rumah telah teratur dan bersih, pertanian dan perdagangan telah maju, orang-orang yang salah didenda dengan emas, kecuali pencuri dan perampok yang dibunuh, telah digunakan mata uang perak, orang sakit tidak menggunakan obat tetapi memohon kesembuhan kepada para dewa atau kepada para Buddha, tiap bulan ke-5 diadakan pesta air, alat musik yang digunakan berupa seruling, gendang, dan gambang dari kayu.

Selain itu, Kitab Chu-fan-chi (1225 M) karya Chau Ju-kua mengatakan bahwa Su-ki-tan yang merupakan bagian dari She-po (Jawa) telah memiliki daerah-daerah taklukan. Para ahli memperkirakan Su-ki-tan adalah sebuah kerajaan yang berada di Jawa Timur, yang tak lain Kerajaan Kediri. Mungkin juga Su-ki-tan sebagai kota pelabuhan yang telah dikenal para pedagang dari luar negeri, termasuk Cina.

sources --> Buku "Kronik" Sejarah

Kerajaan Mataram

Candi Bima, peninggalan Kerajaan Mataram-Hindu.



Peta daerah kekuasaan Kerajaan Mataram-Hindu.



Candi Borobudur.



Kompleks Candi Dieng.



Patung Dewa Wisnu Naik Garuda yang disimbolkan sebagai patung Airlangga.


Oleh : Ajisaka Lingga Bagaskara

Sekitar abad ke-8 di Jawa Tengah berdiri Kerajaan Mataram. Munculnya kerajaan ini diterangkan dalam prasasti yang ditemukan di daerah Canggal, di barat daya Magelang. Dalam Prasasti Canggal diterangkan bahwa Raja Sanjaya telah mendirikan sebuah lingga di atas bukit Kunjarakunja (di Gunung Wukir) pada tahun 732 Masehi. Jawa (Mataram) yang kaya akan padi dan emas, mula-mula diperintah oleh Raja Sanna. Setelah Raja Sanna meninggal, negara pecah karena kehilangan pelindung. Penggantinya adalah Raja Sanjaya anak Sannaha, saudara perempuan Raja Sanna. Raja Sanjaya berhasil menaklukkan beberapa daerah di sekitarnya dan menciptakan kemakmuran bagi rakyatnya.

Riwayat berdirinya Kerajaan Mataram tersurat pula dalam kitab Carita Parahiyangan. Di dalam Carita Parahiyangan diceritakan bahwa Sanna terpaksa turun takhta karena dikalahkan Rahyang Purbasora di Galuh. Beliau dan para pengikutnya menyingkir ke lereng Gunung Merapi. Tidak lama, anak Sannaha, yaitu Sanjaya berhasil membalas kekalahan Raja Sanna. Beliau kemudian menguasai Galuh kembali dan menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil di Jawa Barat bagian timur dan Jawa Tengah. Setelah itu Sanjaya mendirikan Kerajaan Mataram yang beribukota di Medang ri Poh Pitu pada tahun 717 Masehi.

Kerajaan Mataram diperintah oleh raja-raja dari Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra. Dinasti Sanjaya adalah raja-raja keturunan Sanjaya yang menganut agama Hindu, sedangkan Dinasti Syailendra adalah raja-raja yang diduga berasal dari India Selatan atau Kamboja yang menganut agama Buddha Mahayana. Menurut beberapa ahli sejarah, antara kedua dinasti terjadi persaingan sehingga mereka secara bergantian memerintah di Mataram. Di dalam Prasasti Mantyasih (907 M) dan Prasasti Wanua Tengah III (908 M) disebutkan nama-nama Raja Mataram sebagai berikut.

1. Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya (717-746 M)
2. Sri Maharaja Rakai Panangkaran Dyah Sankhara (746-784 M)
3. Sri Maharaja Rakai Panunggalan/Dharanindra (784-803 M)
4. Sri Maharaja Rakai Warak Dyah Manara (803-827 M)
5. Sri Maharaja Dyah Gula (827-828 M)
6. Sri Maharaja Dyah Garung (828-847 M)
7. Sri Maharaja Rakai Pikatan Dyah Saladu (847-855 M)
8. Sri Maharaja Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala (885-885 M)
9. Sri Maharaja Dyah Tagwas (885 M)
10. Sri Maharaja Rakai Panumwangan Dyah Dewendra (885-887 M)
11. Sri Maharaja Rakai Gurunwangi Dyah Badra (887 M)
12. Sri Maharaja Rakai Watuhumalang Dyah Jbang (894-898 M)
13. Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung (898-913 M)

Raja Sanjaya meninggal pada tahun 746 M. Beliau diganti oleh Rakai Panangkaran. Pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran agama Buddha mulai berkembang di Mataram. Dalam Prasasti Sankhara (sekitar abad ke-8) yang ditemukan di Sragen (Jawa Tengah), tertulis bahwa Rakai Panangkaran telah berpindah dari agama Siwa ke agama Buddha. Beliau mendirikan Candi Kalasan untuk menghormati Dewi Tara. Beliau juga membangun biara untuk para bhiksu dan bhiksuni Buddha. Sejak saat itu, keluarga kerajaan ada yang beragama Hindu, ada pula yang beragama Buddha. Mereka yang beragama Hindu tinggal di Jawa Tengah bagian utara, dan mereka yang menganut agama Buddha berada di wilayah Jawa Tengah bagian selatan.

Agama Buddha mengalami perkembangan yang amat pesat pada masa pemerintahan Samaratungga, anak dari Rakai Panangkaran. Nama Samaratungga tidak tercatat dalam silsilah raja-raja yang tertuang dalam Prasasti Mantyasih. Beliau diketahui namanya dari Prasasti Nalanda dan Prasasti Kayumwungan (824 M). Pada tahun 824 M, Beliau berhasil membangun Candi Borobudur untuk para penganut agama Buddha. Bangunan ini terdiri atas 10 tingkat yang melambangkan makna bahwa kesempurnaan hidup akan dicapai setelah melampaui 10 tingkatan.

Candi Borobudur menjadi salah satu obyek wisata Indonesia yang potensial. Keunikan dari Candi Borobudur ini adalah dapat dilihat relief\, stupa, dan seni arsitektur yang menggunakan bahan tanpa semen, hanya tumpukan batu-batu besar.

Samaratungga mempunyai anak yang bernama Pramodhawardani dan Balaputeradewa. Samaratungga menikahkan Pramodhawardani dengan Rakai Pikatan. Balaputeradewa tidak menyetujui perkawinan tersebut karena terancam kedudukannya sebagai putera mahkota Syailendra. Oleh karena itu, timbullah perselisihan antara Balaputeradewa dan Pramodhawardani yang dibantu Rakai Pikatan. Dalam pertikaian itu, Balaputeradewa menderita kekalahan sehingga melarikan diri ke Sumatera. Kelak ia menjadi raja di Sriwijaya.

Semenjak Rakai Pikatan berkuasa, Kerajaan Mataram menjadi aman dan makmur. Umat Hindu dan Buddha hidup berdampingan dengan rukun dan damai. Toleransi kehidupan beragama terwujud dalam pembangunan dan pemeliharaan candi-candi secara bergotong royong.

Kerajaan Mataram Kuno mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Raja Balitung (898-910 M). Di masa kekuasaannya, daerah-daerah di sebelah timur Mataram berhasil ditaklukkannya. Oleh karena itu, daerah kekuasaan Mataram semakin luas, yang meliputi Bagelen (Jawa Tengah) sampai Malang (Jawa Timur).

Sepeninggal Raja Balitung, Kerajaan Mataram kuno diperintah oleh raja-raja, yakni Daksa (910-919 M), Tulodong (919-924 M), dan Wawa (924-929 M). Namun, tidak ada sumber berarti yang dapat menerangkan peran ketiga raja tersebut.

Pada tahun 929 pusat Kerajaan Mataram kuno dipindahkan ke Watugaluh (Jawa Timur) oleh Mpu Sindok. Beliau dianggap sebagai pendiri Dinasti Isyana. Menurut para ahli sejarawan, perpindahan pusat kerajaan itu dilakukan karena wilayah Mataram ditimpa bencana letusan Gunung Merapi. Masa pemerintahan Mpu Sindok berlangsung secara aman dan tenteram. Mpu Sindok seringkali memberikan bantuan bagi pembangunan tempat-tempat suci. Dalam bidang sastra muncul Kitab Suci Agama Buddha Tantrayana, yaitu Sang Hyang Kamahayanikan.

Pengganti Mpu Sindok ialah Raja Dharmawangsa. Demi berbuat bagi kesejahteraan hidup rakyatnya, Dharmawangsa berupaya menguasai jalur perdagangan dan pelayaran yang saat itu dikuasai Kerajaan Sriwijaya. Pada tahun 990 M, beliau mengirim tentaranya ke Sumatera dan Semenanjung Malaka. Misi pasukannya berhasil menaklukkan beberapa daerah pantai di Sriwijaya. Upaya Dharmawangsa dianggap telah berhasil membawa kemajuan yang berarti bagi kerajaannya.

Pada tahun 1016 kekuasaan Dharmawangsa dilanda malapetaka yang sangat mengerikan. Ketika beliau sedang menikahkan puterinya dengan Airlangga (putera mahkota Kerajaan Bali), tiba-tiba istana kerajaan diserang oleh tentara Wurawari (raja bawahan Dharmawangsa yang dihasut Sriwijaya). Dalam peristiwa itu hampir semua petinggi-petinggi Kerajaan Mataram kuno gugur. Peristiwa penyerbuan Raja Wurawari terhadap kekuasaan Raja Dharmawangsa ini terkenal dengan sebutan Pralaya Medang.

Pada tahun 1019 Airlangga dinobatkan menjadi raja oleh para pendeta Buddha dan para brahmana dengan gelar "Sri Maharaja Rake Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramotunggadewa". Pada permulaan pemerintahannya, kerajaan diguncang berbagai peperangan yang hebat. Perang yang berkecamuk, misalnya perang menghadapi Raja Bhismaprabhawa, Raja Wengker, dan seorang ratu di daerah selatan Tulungagung. Semua peperangan ini dimenangkan oleh pihak Airlangga. Bahkan pada tahun 1033, Airlangga berhasil membalaskan kematian mertuanya dengan mengalahkan Raja Wurawari. Sejak saat itu, Airlangga mempersatukan Kerajaan yang telah terpecah-pecah untuk memulai upaya pembangunan negerinya.

Pada bidang pemerintahannya, Airlangga melakukan perombakan dengan mengangkat orang-orang yang berjasa kepadanya. Dalam bidang ekonomi, Airlangga memerintahkan membangun waduk di daerah Sungai Brantas. Di bidang sastra, muncul karya-karya bermutu, seperti Kitab Arjunawiwaha karangan Mpu Kanwa. Di bidang sosial, banyak dibangun tempat-tempat suci, pertapaan, dan asrama-asrama pendeta. Semua upaya pembangunan negeri hanya ditujukan demi kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya.

Airlangga merupakan seorang raja yang bijaksana. Tatkala puteri mahkota, Sanggramawijaya Dharma Prasadottunggadewi menolak menggantikan takhta kerajaan, Airlangga tidak lantas marah. Beliau justru membangun sebuah pertapaan di Pucangan karena puterinya itu memilih penghidupan sebagai pertapa. Selanjutnya, Airlangga menemui kesulitan yang disebabkan putera Dharmawangsa, Samarawijaya menuntut hak atas Kerajaan Mataram. Di lain pihak, putera Airlangga yang kedua, yaitu Mapanji Garasakan menginginkan pula takhta kerajaan. Hal ini mungkin akan berakibat timbulnya perebutan kekuasaan.

Pada tahun 1041 M, Airlangga memutuskan untuk membagi kerajaannya menjadi dua. Pembagian kerajaan itu dilakukan oleh seorang brahmana yang terkenal kesaktiannya, yakni Mpu Bharada. Dua kerajaan itu ialah Kerajaan Janggala dengan ibukotanya Kahuripan dan Kerajaan Panjalu dengan ibukotanya di Daha. Delapan tahun sesudah pembagian kerajaan, Raja Airlangga wafat. Rakyat kemudian membangun patung Airlangga yang mengendarai burung garuda sebagai kenang-kenangan dan pernghormatan atas jasa-jasa yang selama ini telah dilakukan oleh Airlangga terhadap kerajaan.

sources --> Buku "Kronik" Sejarah

Saturday, 25 August 2012

Kerajaan Kanjuruhan

Candi Badut.


Oleh : Ajisaka Lingga Bagaskara

Kerajaan yang pertama kali muncul di Jawa Timur adalah Kerajaan Kanjuruhan. Para ahli ada yang menduga bahwa Kerajaan Kanjuruhan merupakan kelanjutan dari Kerajaan Kalingga yang pusat kekuasaannya dipindahkan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Munculnya Kerajaan Kanjuruhan dapat diketahui dari Prasasti Dinoyo di daerah Malang yang berangka tahun 760, bertuliskan huruf Kawi, dan berbahasa Sansekerta.

Di dalam Prasasti Dinoyo diceritakan bahwa Kerajaan Kanjuruhan diperintah oleh Raja Dewashimha. Setelah beliau meninggal, beliau digantikan oleh puteranya yang bernama Limwa yang kemudian beralih nama menjadi Gajayana. Gajayana beragama Hindu yang memuja Dewa Agastya. Beliau membangun sebuah candi yang indah untuk Sang Agastya. Beliau pun membuat arca yang melukiskan Agastya dari batu hitam yang sebelumnya dibuat dari kayu cendana. Bersamaan dengan pentasbihan tersebut, Gajayana menganugerahkan sebidang tanah, sapi dan kerbau, serta budak laki-laki dan perempuan sebagai penjaga kepada para pendeta. Selain itu, raja mengutuk bagi mereka yang tidak mau memelihara bangunan suci beserta kelengkapannya.

Pusat kekuasaan Kerajaan Kanjuruhan berada di Desa Kejuron sekarang ini. Di sebelah utara desa tersebut, terdapat bangunan purbakala peninggalan Kerajaan Kanjuruhan, yaitu Candi Badut. Letak Candi Badut tepatnya di Desa Badut sekitar 9 km dari Malang. Candi Badut tersebut merupakan candi tertua di Jawa Timur. Seni bangunan candi masih berlanggam Jawa Tengah karena memiliki serambi pada tubuh candi. Bangunan kuno keagamaan tersebut bersifat Siwaisme (Hindu yang memuja Dewa Siwa). Buktinya, di ruang tengah terdapat lingga yoni, di relung utara ada arca Durga, dan di bagian halaman bangunan terdapat arca Nandi.

Kerajaan Kanjuruhan tidak lama berkembang. Kerajaan ini mungkin ditaklukkan oleh Kerajaan Mataram dan para penguasanya menjadi raja bawahan dengan gelar Rakyan Kanuruhan. Para ahli berpendapat Rakai Watukura menaklukkan Kerajaan Kanjuruhan di sekitar awal abad ke-10.

sources --> Buku "Kronik" Sejarah

Friday, 24 August 2012

Kerajaan Melayu

 Arca Amoghapasha

Oleh : Ajisaka Lingga Bagaskara

Berita pertama kali yang menerangkan keberadaan Kerajaan Melayu di Sumatera, yaitu dari Dinasti Tang. Menurut catatan Dinasti Tang, utusan negeri Mo-lo-yeu (Melayu) pernah datang ke Cina pada tahun 644 dan 645 M. Mereka datang ke Cina dengan membawa hasil bumi. Hasil bumi yang dipersembahkan itu bukan merupakan upeti sebagai tanda takluk Melayu kepada Cina, melainkan sebagai upaya promosi barang hasil bumi Melayu di negeri Cina.

Banyak ahli yang berpendapat bahwa letak Kerajaan Melayu di daerah Jambi sekarang ini. Melayu terletak di dekat selat Malaka yang merupakan jalan perdagangan India-Cina. Oleh karena itu, banyak kapal asning yang berlabuh di Melayu sambil menunggu angin yang baik sebelum melanjutkan perjalanan. Selain itu, kapal-kapal asing tersebut dapat memperbaiki peralatan kapal, melakukan bongkar-muat barang, dan memperoleh perbekalan. Pada saat itu pelabuhan Melayu telah berperan sebagai tempat menimbun barang dagangan yang dihasilkan daerah-daerah sekitarnya. Barang komoditas itu di antaranya lada dan hasil hutan. Kondisi ini tentu saja sangat menguntungkan dan memakmurkan Kerajaan Melayu.

Seorang pendeta Cina yang bernama I-Tsing mengabarkan bahwa sejak tahun 692 Kerajaan Melayu telah ditaklukkan Kerajaan Sriwijaya. Setlah itu sampai permulaan abad ke-12 tidak ada keterangan sedikit pun mengenai negeri Melayu. Kerajaan Melayu baru muncul kembali semenjak adanya ekspedisi Pamalayu pada tahun 1275. Melalui ekspedisi Pamalayu, Kerajaan Singasari menjalin persahabatan dan mengakui kedaulatan Melayu. Untuk membuktikan persahabatan, Raja Kertanegara mengirimkan Arca Amoghapasha beserta keempat belas pengiringnya ke Melayu. Pada alas arca tersebut dituliskan bahwa Kertanegara menghadiahkan arca bagi Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa. Arca Amghapasha kemudian diletakkan di tempat suci Dharmasraya. Saat ini pada arca Amoghapasha berada di Padangroco (Sumatera) yang bertarikh 1286 Masehi.

Dalam perkembangan selanjutnya, Kerajaan Melayu mampu memainkan peran kembali di Sumatera pada pertengahan abad ke-14. Pada saat itu Melayu diperintah oleh seorang raja bernama Adityawarman. Nama Adityawarman disebutkan pada arca Manjusri di Candi Jago, Jawa Timur. Di dalam prasasti tersebut diterangkan bahwa Adityawarman bersama-sama Gajah Mada telah berhasil menaklukkan Pulau Bali.

Sebenarnya Adityawarman merupakan salah seorang putera Majapahit keturunan Melayu. Ia adalah putera dari perkawinan Raden Wijaya dengan Dara Jingga. Sebelum menjadi raja di Majapahit dengan gelar Aryadewaraja Pu Aditya. Setelah berkuasa di Melayu, ia menyusun kekuatan untuk melebarkan kekuasaan di Sumatera. Hasilnya, pada tahun 1347 Melayu dapat meluaskan wilayah sampai ke daerah Pagaruyung (Minangkabau). Adityawarman adalah seorang penganut agama Buddha Tantrayana. Ia menganggap dirinya sebagai penjelmaan Lokeswara Bhairawa. Masa pemerintahan Adityawarman berlangsung sampai tahun 1375 Masehi. Penggantinya ialah anaknya yang bernama Anangwarman. Masa pemerintahan Anangwarman tidak banyak diketahui oleh sumber sejarah.

sources --> Buku "Kronik" Sejarah

Kerajaan Sriwijaya







Peta daerah pengaruh Kerajaan Sriwijaya dari abad ke-10 hingga abad ke-11. Pada masa kejayaannya Kerajaan Sriwijaya meliputi wilayah Singapura dan Malaysia.



Prasasti Telaga Batu ditemukan di daerah Ilir Timur, Palembang. Terbuat dari batu andesit, pada bagian atasnya terdapat hiasan tujuh kepala naga.



Candi Muara Takus di Kabupaten Kampar Riau salah satu bukti besarnya pengaruh Hindu-Buddha di wilayah Sumatera pada masa Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-8 Masehi.



Oleh : Ajisaka Lingga Bagaskara

Di dalam catatan sejarah Dinasti Tang dikatakan bahwa pada abad ke-7 di pantai timur Sumatera Selatan telah berdiri Kerajaan Sriwijaya (dalam bahasa cina yaitu Shih-li-fo-shih). Sumber sejarah yang berasal dari Kerajaan Sriwijaya sendiri diperoleh dari enam buah prasasti yang tersebar di Sumatera bagian selatan dan Pulau Bangka. Dalam sejarah Indonesia klasik, Kerajaan Sriwijaya selalu disebut-sebut sebagai kerajaan yang megah dan jaya yang melambangkan kejayaan bangsa Indonesia di masa lalu.

Sumber-sumber asing yang menerangkan Kerajaan Sriwijaya cukup banyak. Sumber-sumber itu, antara lain prasasti Ligor (775 M) di pantai timur Thailand Selatan, prasasti Nalanda (pertengahan abad ke-9), dan prasasti Tanjore (1030 M) di India.

I. Faktor-Faktor Yang Mendorong Perkembangan Kerajaan Sriwijaya
Beberapa faktor yang mendorong perkembangan Kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan besar antara lain sebagai berikut.
1.) Letaknya yang strategis di Selat Malaka yang merupakan jalur pelayaran dan perdagangan internasional.
2.) Kemajuan kegiatan perdagangan antara India dan Cina yang melintasi Selat Malaka sehingga membawa keuntungan yang sangat besar bagi Sriwijaya.
3.) Keruntuhan Kerajaan Funan di Vietnam Selatan akibat serangan Kerajaan Kamboja memberikan kesempatan bagi perkembangan Sriwijaya sebagai negara maritim (sarwajala), yang selama abad ke-6 dipegang oleh Kerajaan Funan.

II.Prasasti-Prasasti Kerajaan Sriwijaya
Kebesaran Kerajaan Sriwijaya antara lain diberitakan dalam enam buah prasasti peninggalannya.
1.) Prasasti Kedukan Bukit
Prasasti ini ditemukan di Kedukan Bukit, dekat Palembang, berangka tahun 605 Saka (±683 Masehi) menceritakan perjalan suci yang dilakukan oleh Dapunta Hyang dengan perahu. Ia berangkat dari Minangtamwan dengan membawa 20.000 tentara. Ia berhasil menaklukan beberapa daerah sehingga Sriwijaya menjadi makmur.
2.) Prasasti Talang Tuo
Prasasti Talang Tuo (dekat Palembang) yang berjangka tahun 684 Masehi berisi berita tentang pembuatan taman riksetra atas perintah Dapunta Hyang Sri Jayanegara untuk kemakmuran semua makhluk.
3.) Prasasti Kota Kapur
Prasasti yang berangka tahun 686 Masehi ini ditemukan di Kota Kapur, Pulau Bangka. Prasasti ini menyebutkan adanya ekspedisi Sriwijaya ke daerah seberang lautan (Pulau Jawa) untuk memperluas kekuasaannya dengan menundukkan kerajaan-kerajaan di sekitarnya, seperti Melayu, Tulangbawang, dan Tarumanegara.
4.) Prasasti Telaga Batu
Prasasti ini tidak berangka tahun. Isinya mengenai kutukan-kutukan yang seram terhadap siapa saja yang melakukan tindak kejahatan serta tidak mentaati Sang Raja.
5.) Prasasti Karang Berahi
Prasasti ini ditemukan di daerah Karang Berahi, Jambi Hulu. Berangka tahun 686 Masehi dengan isi permintaan kepada dewa yang menjaga Sriwijaya dan untuk menghukum setiap orang yang bermaksud jahat terhadap Sriwijaya.
6.) Prasasti Ligor
Prasasti berangka tahun 775 Masehi ini ditemukan di Tanah Genting Kra, Ligor. Menceritakan bahwa Raja Dharmasetu berhasil mengembangkan sayap kerajaan sampai ke Semenanjung Melayu. Hal ini juga dibuktikan dengan adanya pangkalan di Semenanjung Melayu, di daerah Ligor.

Kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Balaputradewa. Beliau mengadakan hubungan dengan Raja Dewapadadewa dari India. Dalam Prasasti Nalanda yang berasal dari sekitar tahun 860 M disebutkan bahwa Balaputradewa mengajukan permintaan kepada Raja Dewapaladewa dari Benggala untuk mendirikan biara bagi para mahasiswa dan pendeta Sriwijaya yang belajar di Nalanda. Para pemuda Sriwijaya yang belajar agama Buddha tinggal di wihara tersebut untuk beberapa tahun lamanya. Seusai menempuh pendidikan di sana, mereka kembali ke Sriwijaya dan kemudian menyebarluaskan pengetahuan agama Buddha kepada masyarakat di Tanah Sriwijaya. Balaputradewa putra Samaratungga dari Dinasti Syailendra yang memerintah di Jawa Tengah tahun 812-824 M.

Kerajaan Sriwijaya ternyata juga menjalankan politik ekspansif (perluasan wilayah kekuasaan). Pada abad ke-9 Masehi  Raja Balaputradewa dapat memperluas wilayah Sriwijaya. Wilayah itu meliputi Sumatera, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Bangka, Belitung, Malaysia, Singapura, dan Thailand Selatan. Oleh karena itu, Sriwijaya dapat dikatakan sebagai negara nasional pertama Indonesia.

Kerajaan Sriwijaya terletak pada wilayah yang strategis, yaitu di jalur pelayaran India-Cina. Letak strategis di tepi selat Malaka ini memberi peluang untuk meningkatkan kemajuan di sektor ekonomi, terutama bidang perdagangan. Banyaknya kapal-kapal asing yang singgah menyebabkan Sriwijaya maju pesat. Untuk menjamin keamanan kawasan, Sriwijaya membangun armada laut yang sangat kuat. Hal ini membuat kapal-kapal asing yang lewat merasa aman dari gangguan perompak. Penguatan armada laut Sriwijaya di laut tersebut semula untuk tujuan melindungi kepentingan para pedagang. Lambat laun Sriwijaya berkembang menjadi sebuah kerajaan yang amat memperhatikan aspek bahari atau kelautan. Kondisi ini telah mewujudkan Sriwijaya sebagai negara maritim yang sangat kuat.

Sriwijaya pernah pula menjadi pusat pendidikan dan pengembangan agama Buddha. Seorang biksu Buddha dari Cina yang bernama I-Tsing tahun 671 berangkat dari Kanton ke India untuk bejalar agama Buddha. Beliau singgah di Sriwijaya selama enam bulan untuk belajar bahasa Sansekerta. Di Sriwijaya mengajar seorang guru agama Buddha terkenal bernama Sakyakirti yang menulis buku berjudul Hastadandasastra. Para biksu Cina yang hendak belajar agama Buddha ke India dianjurkan untuk belajar di Sriwijaya. selama satu atau dua tahun. Berikutnya pada tahun 717 dua pendeta Tantris bernama Wajrabodhi dan Amoghawajra datang ke Sriwijaya. Kemudian, antara tahun 1011-1023 M datang pula pendeta dari Tibet bernama Attisa untuk belajar agama Buddha kepada mahaguru di Sriwijaya bernama Dharmakirti. Salah satu peninggalan kerajaan Sriwijaya adalah Candi Muara Takus.

Kebesaran Kerajaan Sriwijaya mulai surut sejak abad ke-11 Masehi. Kemunduran itu bermula dari serangan besar-besaran yang digencarkan oleh Kerajaan Cola (India) di bawah pimpinan Raja Rajendra Coladewa pada tahun 1017 dan tahun 1025. Sebelum serangan itu terjadi, sebenarnya antara Sriwijaya (di masa pemerintahan Cudamaniwarmadewa) dan Cola telah terjalin hubungan persahabatan yang sangat baik. Namun, semenjak Sriwijaya menerapkan aturan yang sangat ketat di perariran Selat Malaka, perahu-perahu asing yang melewati wilayah itu mendapat perlakuan kurang baik. Perahu-perahu yang lewat dipaksa singgah di Pelabuhan Jambi. Perahu-perahu yang tidak mau singgah akan dikepung dan diserang. Perlakuan Sriwijaya tersebut dianggap oleh Kerajaan Cola sebagai permusuhan sebab telah menghambat kegiatan perdagangannya dengan Negeri Cina. Dalam serangan tersebut, Kerajaan Cola berhasil menawan Raja Sriwijaya, Sanggramawijayatunggawarman. Serangan Cola ternyata tidak dimaksudkan untuk menjadikan Kerajaan Sriwijaya sebagai negara bawahan. Oleh karena itu, Sriwijaya masih menyandang kedudukan sebagai negara merdeka, namun tetap mengalai kemunduran dan semakin melemah. Peristia serangan Kerajaan Cola dapat diketahui dari Prasasti Tonjore (1030).

Selain serangan Kerajaan Cola, kemunduran Sriwijaya juga disebabkan oleh ekspedisi Pamalayu dari Kerajaan Singasari pada tahun 1275. Ekspedisi Pamalayu merupakan misi Kerajaan Singasari di bawah Raja Kertanegara yang ingin melemahkan Sriwijaya dengan cara menjalin hubungan persahabatan dengan Melayu. Ekspedisi Pamalayu ternyata berhasil membangun kerja sama di antara kedua negara sehingga Melayu lepas dari Kerajaan Sriwijaya dan muncul sebagai kekuatan baru di Sumatera. Akibat ekspedisi Pamalayu, Sriwijaya terpotong wilyah kekuasaannya di sebelah utara dan timur. Dengan demikian, peranan Sriwijaya sebagai negara maritim dan pusat perdagangan semakin tenggelam akibat ekspedisi Pamalayu.

Selain itu, munculnya sebuah kerajaan baru di Sumatera, yakni Kerajaan Islam Samudera Pasai yang mengambil alih posisi Kerajaan Sriwijaya. Dengan demikian, menyebabkan semakin menyempitnya wilayah dan memperkecil pengaruh Kerajaan Sriwijaya.

Serangan Kerajaan Majapahit, di bawah komando Adityawarman atas perintah Mahapatih Gajah Mada pada tahun 1477 M yang mengakibatkan Sriwijaya menjadi taklukan Majapahit.

sources ---> Buku Kronik Sejarah, Buku Sejarah Yudhistira.
Powered by Blogger.