hwwIUKoDtacl9LXDEAIdxBVXLF8 Kerajaan Tarumanegara ~ Indonesian Persons

Tuesday, 26 June 2012

Kerajaan Tarumanegara

 Peta perkiraan wilayah kekuasaan Kerajaan Tarumanegara.


 Peta Prasasti Kerajaan Tarumanegara.



 Prasasti Ciaruteun.



Oleh : Ajisaka Lingga Bagaskara


Dalam kurun waktu yang hampir bersamaan, yaitu sekitar tahun 450 Masehi, di sekitar wilayah Jawa Barat dan Banten muncul Kerajaan Tarumanegara yang beribukota di Jayasinghapura. Nama Tarumanegara diduga berdasar kata taruma yang berarti nila. Para ahli belum dapat memastikan keterkaitan nama Tarumanegara dengan nama sebuah sungai, yakni Citarum yang mengalir di Jawa Barat.

Keberadaan Tarumanegara diketahui dari tujuh buah prasasti, dua arca Wisnu, dan berita Cina. Lima prasasti ditemukan di Bogor, sedangkan sisanya masing-masing berada di Jakarta dan Banten. Prasati-prasasti yang terdapat di Bogor adalah sebagai berikut :
  1. Prasasti Ciaruteun yang terletak di pinggir Sungai Ciaruteun dan bermuara di dekat Sungai Cisadane. Prasasti ini sebelumnya dikenal dengan nama Prasasti Ciampea.
  2. Prasasti Jambu atau Prasasti Pasir Koleangkak, terletak di daerah perkebunan jambu, berjarak 30 km sebelah barat Kota Bogor.
  3. Prasasti Kebon Kopi terletak di Kampung Muara Hilir, Cibungbulang.
  4. Prasasti Pasir Awi di Muara Cianten.
  5. Prasasti Muara Cianten di Muara Cianten.

Prasasti yang terdpat di Banten, yaitu Prasasti Cidanghiang, atau Prasasti lebak. Prasasti Cidanghiang ditemukan di pinggir Sungai Cidanghiang, Pandeglang. Adapun prasasti yang terdepat di Jakarta adaalah Prasasti Tugu. Prasasti Tugu merupakan prasasti terakhir yang ditemukan. Prasasti ini memiliki berita paling panjang dibanding prasasti-prasasti lain yang berkisah tentang Kerajaan Tarumanegara.


Dalam Prasasti Tugu dikatakan bahwa Raja Purnawarman telah menggali Sungai Gomati dalam masa pemerintahannya yang ke-22. Panjang sungai 6122 busur (sekitar 12 kilometer) yang dikerjakan dalam jangka waktu 21 hari. Sungai ini dibuat setelah sebelumnya masyarakat selesai melakukan penggalian Sungai Chandrabhaga. Pada akhir pekerjaan penggalian, Raja Purnawarman kemudian memberikan hadiah 1000 ekor lembu kepada para brahmana.

Sungai Gomati digali untuk mengantisipasi bahaya banjir di aliran Sungai Chandrabhaga. Upaya Purnawarman ini menyiratkan betapa penuh perhatian raja kepada rakyatnya. Pekerjaan menggali sungai dilakukan secara bergotong-royong dan sama sekali tidak ada unsur paksaan. Hal ini memberi arti Raja Purnawarman telah berhasil menciptakan suasana damai dan tenteram di kerajaannya.

Prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara ditulis dengan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta. Bentuknya syair. Agama yang menentukan corak pikiran sang raja adalah agama Hindu. Buktinya, pada prasasti Ciaruteun terdepat lukisan dua tapak kaki raja seperti kaki Wisnu. Wisnu ialah dewa pemelihara alam dalam agama Hindu. Di dalam Prasasti Kebon Kopi terdapat pula gambar tapak kaki gajah yang disamakan dengan tapak kaki gajah Airawata, yaitu gajah Indra.

Selain prasasti, berita Kerajaan Tarumanegara juga diperoleh dari Cina. Orang-orang Cina menyebut Kerajaan Tarumanegara dengan sebutan To-lo-mo. Pada masa Dinasti Sui dan Dinasti Tang, beberapa kali Kerajaan Tarumanegara mengirimkan utusan ke negeri Cina. Hal ini menyiratkan bahwa keberadaan Tarumanegara telah diakui oleh Kekaisaran Cina dan hubungan diplomatik telah terjalin. di antara keduanya. Demikian juga Fa Hien, seorang pendeta Cina yang pernah singgah di Kerajaan Tarumanegara selama lima bulan pada tahun 414 Masehi. Menurutnya, agama yang dianut masyarakat Tarumanegara bukan hanya Hindu, melainkan juga agama Buddha dan agama "kotor". Penganut agama Buddha jumlahnya sedikit sekali. Demikian pula agama Hindu yang baru bisa mempengaruhi kalangan istana belaka. Berbeda halnya dengan agama "kotor" yang dianut oleh bagian terbesar dari masyarakat Tarumanegara. Menurut para ahli, agama "kotor" tersebut adalah kepercayaan masyarakat yang menyembah ataupun memuja roh nenek moyang (Animisme).

Pada awal abad ke-5 Masehi penduduk Kerajaan Tarumanegara telah mampu mengusahakan pertanian, peternakan, perikanan, perburuan binatang, pelayaran, perdagangan, dan pertambangan. Pertanian yang dikerjakan terutama padi yang merupakan makanan pokok para penduduk. Peternakan yang dilakukan misalnya lembu, terbukti dengan adanya upacara menghadiahkan 1000 ekor lembu kepada para brahmana. Kegiatan perikanan berupa produksi kulit penyu. Perburuan binatang bukan hanya terhadap binatang yang diambil dagingnya, melainkan juga badak dan gajah yang dapat diambil cula dan gadingnya sebagai komoditas ekspor. Usaha pertambangan dapat diketahui dari berita Cina yang mengatakan negaranya mendapatkan emas, perak, dan benda-benda perunggu dari Tarumanegara.

Kerajaan Tarumanegara ternyata menaruh perhatian juga pada bidang kesenian, khususnya seni patung. Hal ini diketahui dari penemuan dua arca Wisnu di Desa Cibuaya, Karawang. Bentuk kedua arca memperlihatkan aliran seni di Jawa Barat pada saat itu. Arca ini ternyata mempunyai persamaan dengan langgam seni patung dari India pada abad ke-7 Masehi. Beberapa ahli menyimpulkan bahwa Tarumanegara sempat menjadi salah satu pusat seni  pada abad tersebut.

Akhir dari keberadaan Kerajaan Tarumanegara tidak begitu jelas. Berita Cina hanya menyebutkan bahwa utusan terakhir Tarumanegara yang datang ke negaranya, yaitu pada tahun 666 dan 669 Masehi. Oleh sebab itu, beberapa ahli menduga Kerajaan Tarumanegara runtuh pada abad ke-7 Masehi.

++++++++++  ---------------  ++++++++++
Fakta Terselubung 1 :
Dimanakah letak Sungai Chandrabhaga?
Sungai Chandrabhaga diperkirakan terletak di Bekasi. Hal ini berkaitan dengan nama Chandrabhaga yang diduga berasal dari kata candra dan bhaga. Candra bermakna sasi (bulan) sehingga karena adanya perubahan kata menjadi bhagasasi. Pada perkembangan bhagasasi berubah menjadi Bekasi.

Fakta Terselubung 2 :
Pada masa Kekaisaran Cina kuno, Cina hanya memberi hak kepada negara merdeka untuk mengirimkan utusan ke negaranya. Jika suatu negara telah kehilangan kemerdekaannya, maka negara tersebut akan menghentikan mengirim utusan ke Cina.
++++++++++  ---------------  ++++++++++

"Silahkan kalau mau copy paste artikel, tetapi dimohon untuk selalu menyertakan penulis dan sumber. Hargailah penulis yang sudah bersusah payah membagikan ilmu pengetahuan kepada masyarakat luas. Hargailah juga karya orang lain, jika anda ingin dihargai oleh masyarakat luas! Terima kasih banyak"

sources ----> Buku "Kronik Sejarah", terbitan Yudhistira.
Reactions:

2 comments:

  1. Kita perlu belajar sejarah Pra Penjajahan untuk
    mengenal jati diri bangsa. mengenal leluhur kita,
    dan kita bagaimana?.

    ReplyDelete

Powered by Blogger.