Pages

Thursday, 25 December 2014

Indonesia di Masa Orde Baru – Bagian II




Ditulis Oleh    :  Ajisaka Lingga Bagaskara

"Silahkan kalau mau copy paste artikel atau pun membagikannya ke media lain, tetapi dimohon untuk selalu menyertakan penulis dan sumber. Hargailah penulis yang sudah bersusah payah membagikan ilmu pengetahuan kepada masyarakat luas. Hargailah juga karya orang lain, jika anda ingin dihargai oleh masyarakat luas! Terima kasih banyak atas partisipasinya"

A. REVOLUSI HIJAU DI INDONESIA DAN DAMPAKNYA



Revolusi Hijau adalah sebutan tidak resmi yang dipakai untuk menggambarkan perubahan fundamental dalam pemakaian teknologi budidaya pertanian yang dimulai pada tahun 1950-an hingga 1980-an di banyak negara berkembang, terutama di Asia. Hasil yang nyata adalah tercapainya swasembada (kecukupan penyediaan) sejumlah bahan pangan di beberapa negara yang sebelumnya selalu kekurangan persediaan pangan (pokok), seperti India, Bangladesh, Tiongkok, Vietnam, Thailand, serta Indonesia, untuk menyebut beberapa negara.
Adapun latar belakang munculnya revolusi hijau adalah hancurnya lahan pertanian akibat Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Pertambahan penduduk meningkat sehingga kebutuhan pangan juga meningkat. Adanya lahan tidur. Upaya peningkatan produksi pangan. Gagasan tentang revolusi hijau bermula dari hasil penelitian dan tulisan Thomas Robert Malthus (1766 – 1834) yang berpendapat bahwa “Kemiskinan dan kemelaratan adalah masalah yang dihadapi manusia yang disebabkan oleh tidak seimbangnya pertumbuhan penduduk dengan peningkatan produksi pertanian. Pertumbuhan penduduk sangat cepat dihitung dengan deret ukur (1, 2, 4, 8, 16, 32, 64, 128, dst.) sedangkan peningkatan produksi pertanian dihitung dengan deret hitung (1, 3, 5, 7, 9, 11, 13, 15, dst.)”.
Norman Borlaug, penerima penghargaan Nobel Perdamaian 1970, adalah orang yang dipandang sebagai konseptor utama gerakan ini. Revolusi hijau diawali oleh Ford dan Rockefeller Foundation, yang mengembangkan gandum di Meksiko (1950) dan padi di Filipina (1960).Konsep Revolusi Hijau yang di Indonesia dikenal sebagai gerakan Bimas (bimbingan masyarakat) adalah program nasional untuk meningkatkan produksi pangan, khususnya swasembada beras. Tujuan tersebut dilatarbelakangi mitos bahwa beras adalah komoditas strategis baik ditinjau dari segi ekonomi, politik dan sosial. Gerakan Bimas berintikan tiga komponen pokok, yaitu penggunaan teknologi yang sering disabut Panca Usaha Tani, penerapan kebijakan harga sarana dan hasil reproduksi serta adanya dukungan kredit dan infrastruktur.Gerakan ini berhasil menghantarkan Indonesia pada swasembada beras.
Sebagai Orde Pembangunan, modernisasi terus diupayakan. Salah satunya adalah modernisasi di bidang pertanian dan industri. Modernisasi pertanian di Indonesia pada masa Orde Baru dikenal dengan sebutan Revolusi Hijau.
Perkembangan Revolusi Hijau di Indonesia mengalami pasang surut karena faktor alam maupun kerusakan ekologi. Hal ini tentunya memengaruhi persediaan beras nasional. Pada tahun 1972 produksi beras di Indonesia terancam oleh musim kering yang panjang. Usaha peningkatan produksi beras nasional sekali lagi terganggu karena serangan hama yang mencakup wilayah yang sangat luas di tahun 1977.
Produksi pangan mengalami kenaikan ketika program intensifikasi khusus (insus) dilaksanakan pada tahun 1980. Hasilnya, Indonesia mampu mencapai tingkat swasembada beras dan tidak lagi mengimpor beras pada tahun 1984, yang mana antara tahun 1977 dan 1979 Indonesia adalah negara pengimpor beras terbesar di dunia.
Revolusi Hijau bertujuan mengubah petani-petani gaya lama (peasants) menjadi petani-petani gaya baru (farmers). Revolusi Hijau telah berperan memodernisasi gaya lama untuk memenuhi industrialisasi ekonomi nasional. Perubahan ini dilakukan melalui usaha intensifikasi pertanian dengan programnya yang dikenal dengan nama Panca Usaha Tani yang meliputi unsur-unsur sebagai berikut.
a. Pemilihan bibit unggul,
b. Pengolahan tanah yang baik,
c. Pemupukan,
d. Irigasi, dan
e. Pemberantasan hama.
Dalam program Panca Usaha Tani, petani dihimbau untuk menggunakan bibit padi unggul hasil pengembangan Institut Penelitian Padi Internasional (IRRI atau International Rice Research Instiute) yang bekerja sama dengan pemerintah Indonesia. Penggunaan bibit unggul tersebut telah berperan mengubah pola pertanian subsistensi menuju pertanian berbasis kapital atau komersialisasi.
Untuk memperluas dasar kapital pertanian padi, negara membuka investasi melalui pembangunan sistem irigasi modern dan pembangunan industri pupuk nasional. Di samping itu, pemerintah juga mendirikan koperasi-koperasi yang dikenal dengan KUD (Koperasi Unit Desa).
Selain itu, upaya peningkatan produktivitas pertanian Indonesia dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut.
a. Intensifikasi Pertanian. Intensifikasi pertanian yaitu upaya peningkatan produksi pertanian dengan menerapkan formula pancausaha tani (pengolahan tanah, pemilihan bibit unggul, pemupukan, irigasi, dan pemberantasan hama).
b. Ekstensifikasi Pertanian. Ekstensifikasi pertanian yaitu upaya peningkatan produksi pertanian dengan memperluas lahan pertanian, biasanya di luar Pulau Jawa.
c. Diversifikasi Pertanian. Diversifikasi pertanian yaitu upaya peningkatan produksi pertanian dengan cara penganekaragaman tanaman, misal dengan sistem tumpang sari (di antara lahan sawah ditanami kacang panjang, jagung, dan sebagainya).
d. Rehabilitasi pertanian. Rehabilitasi pertanian yaitu upaya peningkatan produksi pertanian dengan cara pemulihan kemampuan daya produktivitas sumber daya pertanian yang sudah kritis.
Revolusi Hijau pada awalnya mendatangkan keuntungan yang tinggi. Hasil pertanian negara kita meningkat bahkan Indonesia mencapai swasembada pangan pada tahun 1984. Revolusi Hijau yang dinyatakan sebagai sebuah sukses dan keajaiban di bidang pertanian yang berhasil melipatgandakan hasil panen. Revolusi Hijau juga membawa dampak positif bagi sektor lapangan kerja, baik bagi para petani maupun buruh pertanian. Namun, seiring dengan berkembangnya individualisasi hak-hak atas tanah dan komersialisasi produksi pertanian ternyata mengakibatkan pola hubungan antar lapisan masyarakat terpisah dan menjadi satuan sosial yang berlawanan kepentingan. Sistem kekerabatan yang pada awalnya menjadi pengikat hubungan antar hubungan di antara lapisan masyarakat kini kian memudar.
Revolusi Hijau telah menyebabkan suatu ketergantungan petani pada proses produksi pertanian seperti pupuk kimia, insektisida, pestisida, fungisida, dan herbisida.  Padahal bahan-bahan tersebut dapat berperan dalam merusak lahan pertanian mereka. Rusaknya lahan pertanian dapat menurunkan produktivitas pertanian.
Penggunaan zat kimia secara berlebihan dapat mengakibatkan lahan pertanian menjadi tidak subur lagi, meledaknya hama bahkan yang resisten, serta terganggunya kesehatan, hilangnya keanekaragaman hayati, dan ketergantungan petani. Bahkan bukti terakhir menunjukkan bahwa beberapa kawasan revolusi hijau hasil panennya cenderung menurun.

B. INDUSTRIALISASI DI INDONESIA DAN DAMPAKNYA




Industrialisasi adalah suatu proses perubahan sosial ekonomi yang mengubah sistem pencaharian masyarakat agraris menjadi masyarakat industri. Industrialisasi juga bisa diartikan sebagai suatu keadaan dimana masyarakat berfokus pada ekonomi yang meliputi pekerjaan yang semakin beragam (spesialisasi), gaji, dan penghasilan yang semakin tinggi. Industrialisasi adalah bagian dari proses modernisasi dimana perubahan sosial dan perkembangan ekonomi erat hubungannya dengan inovasi teknologi.
Dalam Industrialisasi ada perubahan filosofi manusia dimana manusia mengubah pandangan lingkungan sosialnya menjadi lebih kepada rasionalitas (tindakan didasarkan atas pertimbangan, efisiensi, dan perhitungan, tidak lagi mengacu kepada moral, emosi, kebiasaan atau tradisi). Menurut para peniliti ada faktor yang menjadi acuan modernisasi industri dan pengembangan perusahaan. Mulai dari lingkungan politik dan hukum yang menguntungkan untuk dunia industri dan perdagangan, bisa juga dengan sumber daya alam yang beragam dan melimpah, dan juga sumber daya manusia yang cenderung rendah biaya, memiliki kemampuan dan bisa beradaptasi dengan pekerjaannya.
Negara pertama yang melakukan industrialisasi adalah Inggris ketika terjadi revolusi industri pada abad ke 18.
Industrialisasi merupakan suatu fenomena modernisasi. Industrialisasi ditandai oleh pemikiran ekonomi rasional. Pemikiran yang mengarah pada kapitalisasi. Industrialisasi dapat pula dilihat sebagai proses budaya. Dalam proses ini dibangun masyarakat dari suatu pola hidup atau berbudaya agraris tradisional menuju masyarakat berpola hidup sektor industri. Industrialisasi muncul sebagai akibat banyaknya tenaga kerja yang terserap ke dalam sektor-sektor industri. Terjadinya perubahan pola-pola perilaku lama menuju pola-pola perilaku baru bercirikan industri modern dilatarbelakangi oleh faktor-faktor pendukung yang meliputi hal-hal sebagai berikut.
a. Rasionalitas,
b. Meningkatnya pendapatan perkapita masyarakat di berbagai daerah, khususnya kawasan industri, dan
c. Meningkatnya kebutuhan masyarakat yang memanfaatkan hasil-hasil industri, baik sandang, pangan, maupun alat-alat untuk mendukung kebutuhan hidup lainnya.
Dari hal diatas, pemerintah Indonesia mulai tertarik akan perkembangan industrialisasi di Indonesia. Untuk itu pemerintah berupaya untuk meningkatkan industrialisasi di Indonesia, upaya yang dilakukan pemerintah diantaranya yaitu:
a. Meningkatkan perkembangan jaringan informasi, komunikasi, transportasi untuk memperlancar arus komunikasi antarwilayah di Nusantara.
b. Mengembangkan industri pertanian
c. Mengembangkan industri non pertanian terutama minyak dan gas bumi yang mengalami kemajuan pesat.
d. Perkembangan industri perkapalan dengan dibangun galangan kapal di Surabaya yang dikelola oleh PT.PAL Indonesia.
e. Pembangunan Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) yang kemudian berubah menjadi PT. Dirgantara Indonesia.
f. Pembangunan kawasan industri di daerah Jakarta, Cilacap, Surabaya, Medan, dan Batam.
Dengan adanya tekhnologi baru dan revolusi industri, masyarakat dunia sekarang ikut menikmati segala macam barang dan jasa yang bermutu dan jumlahnya pun semakin meningkat. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang turut menikmati kemajuan dari perkembangan industri.

I. Industri Pertanian

Industri pertanian merupakan suatu upaya untuk mengolah sumber daya hayati dengan bantuan tekhnologi industri. Tekhnologi industri itu dapat menghasilkan berbagai macam hasil yang mempunyai nilai lebih tinggi. Bentuk bentuk industri pertanian meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Industri pengolahan hasil tanaman pangan termasuk hortikultura.
2. Industri pengolahan hasil perkebunan seperti industri minyak kelapa, industri barang-barang karet dan sebagainya.
3. Industri pengolahan hasil perikanan seperti industri pengolahan udang, rumput laut, ubur-ubur dan lain sebagainya.
4. Industri pengolahan hasil hutan seperti pengolahan kayu, pengolahan pulp, kertas dan ranyon, serta industri pengolahan rotan.
5. Industri pupuk, yaitu dengn memanfaatkan gas alam, serta eksploitsi sumber-sumber yang baru.
6. Industri pestisida yang dikembangkan terutama untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun ekspor.
7. Industri mesin dan peralatan pertanian.
Upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan industri pertanian agar lebih baik yaitu:
1. Melakukan panca usaha tani
2. Penanganan pascapanen
3. Menentukan harga yang layak bagi produsen dan konsumen.
4. Penyediaan sarana dan prasarana
5. Pengembangan dan pemanfaatan tekhnologi.
6. Pemanfaatan lahan kering, pekarangan dan rawa.
Pada dasarnya perekonomian Indonesia bersifat agraris, bahkan hamper 80% wilayah Indonesia merupakan daerah pertanian dan sebagian besar penduduk Indonesia bekerja di sektor pertanian.
Hasil hasil pertanian yang meliputi hasil produksi pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, dan kehutanan merupakan bahan mentah untuk kegiatan industri, seperti industri furniture, tekstil, kertas, rokok, dan lain sebagainya. Sudah tentu, pengolahan hasil produksi pertanian itu ditempuh melalui proses industri pabrik. Beberapa pabrik industri pengolahan hasil pertanian itu antara lain pabrik ban mobil goodyear di Bogor, pabrik kina di Bandung, pabrik kertas di Leces dan Padalarang, pabrik pengolahan udang di Semarang dan lain sebagainya.

II. Industri Non-Pertanian.

Industri non-pertanian adalah industri yang aktivitasnya di luar bidang pertanian, meliputi industri maritim, industri elektronika, industri pariwisata, industri pertambangan dan energi, industri semen, besi baja, perakitan kendaraan bermotor. Berbagai macam industri telah didirikan untuk meningkatkan produksinya. Pabrik semen di Gresik, Padang, Cibinong, dan Ujung Pandang. Untuk memperkuat struktur industri Indonesia yang masih lemah, mulai tahun 1984 pemerintah menyusun suatu langkah strategis yang disebut “Peta Rangka Landasan” bidang industri dengan sistem “Pusat Pertumbuhan Industri (Industrial GrowthCenter) “sebuah proyek percontohan di Lhok Seumawe sebagai suatu wilayah terpadu dari pusat industri petrokimia, pupuk Urea, semen, kertas, dan sebagainya. Upaya yang sama dilaksanakan di Palembang, Gresik, Kupang, dan Kalimantan Timur.

1.) Industri Pertambangan dan Energi
Industri pertambangan dan industri diarahkan pada pemanfaatan danpenyediaan bahan baku bagi industri dalam negeri, dan meningkatkan ekspor.
Contohnya adalah:
a. Industri tambang batu bara di Sawahlunto;
b. Industri tambang emas di Irian Jaya;
c. Industri tambang minyak bumi di Balikpapan, Palembang;
d. Industri tambang timah di Belitung;
e. Industri semen di Gresik, Padang, Cibinong, Ujung Pandang
2.) Industri Elektronika
Perkembangan elektronika di Indonesia semakin maju seiring bermunculan perusahaan elektronika Maspion, Polytron, LG, Panasonic (sekarang National dan Panasonic bergabung menjadi Panasonic).
3.) Industri Pariwisata
Indonesia (Pulau Bali) termasuk peringkat 5 setelah Hawai pada pariwisata
internasional. Wilayah Indonesia termasuk wisata alam, budaya, dan teknologi. Adapun keuntungan industri wisata adalah:
a. mendatangkan devisa Negara
b. memperluas lapangan kerja
c. memacu pembangunan daerah
d. meningkatkan rasa cinta tanah air
e. mengembangkan kerajinan rakyat.
Menurut UU No. 5 Tahun 1984, Departemen Perindustrian secara nasional membagi industri menjadi 4 kelompok,yaitu:
a. Industri mesin dan logam dasar (industri hulu);
b. Industri kimia dasar (industri hulu);
c. Kelompok aneka industri (industri hilir);
d. Industri kecil termasuk industri rumah tangga.
Perkembangan industri pertanian dan nonpertanian telah membawa hasil yang cukup menggembirakan. Hasil-hasilnya telah dapat dirasakan dan dinikmati saat itu oleh masyarakat Indonesia, antara lain sebagai berikut.
a. Swasembada Beras
b. Kesejahteraan Penduduk
c. Perubahan Struktur Ekonomi
d. Perubahan Struktur Lapangan Kerja
e. Perkembangan Investasi
Tidak dipungkiri bahwa industrialisasi yang diterapkan di Indonesia yang didukung oleh teknologi modern telah memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat Indonesia. Walaupun demikian, kegiatan dan hasil industrialisasi juga membawa dampak negatif yang dapat menganggu kehidupan manusia antara lain sebagai berikut.
a. Terjadinya arus urbanisasi dari desa ke kota-kota yang dijadikan tujuan kaum urban untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
b. Meningkatnya jumlah penduduk di beberapa kota besar sebagai akibat dari arus urbanisasi menimbulkan penurunan kualitas lingkungan.
c. Kepadatan jumlah penduduk juga menimbulkan persoalan penyediaan air bersih, sedangkan sebagian air bersih yang terdapat di kota telah tercemar.
d. Terjadinya pencemaran udara, air, dan tanah sebagai ekses negatif dari proses produksi.
Besarnya perhatian terhadap masalah lingkungan hidup membuat pemerintah Indonesia sejak tahun 1970-an membentuk sebuah kementerian negara yang bertugas mengawasi masalah lingkungan hidup di Indonesia dalam Kabinet Pembangunan III yang dilantik pada tahun 1978.

Sumber :
- Mustopo, Prof. Dr. M. Habib (2011). "Sejarah 2 SMA Kelas XI Program IPA". Penerbit Yudhistira
- http://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi_Hijau
- https://donipengalaman9.wordpress.com/2014/10/01/revolusi-hijau-di-indonesia/
- http://ianmaulana13037.blog.teknikindustri.ft.mercubuana.ac.id/
- special thanks : for Ophthal (deviantArt user) for the picture
Powered by Blogger.